Selepas shalat Ashar dan berdo'a seperlunya, Tardi menatap hamparan sawah selepas mata memandang di hadapannya, dari teras mushala yang terletak di antara petakan sawah, terbelenggu pada lamunannya, berulang kali Tardi menarik napas panjang, mendesah seolah kecewa akan penglihatannya yang tidak jauh dari dirinya.
"Pak Tardi, sudah selesai shalatnya??"
Tardi terjingkat kaget, kala menyadari tiba-tiba seorang pria berperawakan tinggi, dengan menggunakan baju koko dan kain sarung yang cukup bersih, tidak lupa peci putih bertengger di kepalanya, tengah menatapnya dalam.
"Oh, sudah. Dari tadi saya menunggu jema'ah yang lain, tapi tidak ada yang datang, bahkan waktu shalat sebentar lagi akan berakhir" desahnya dengan nada kecewa.
"Iya pak, kebetulan saya hari ini menjadi buruh di tempat yang agak jauh, jadi baru sempat menunaikan shalat dzuhur" ucapnya dengan nada mengeluh.
"Tidak apa-apa, silahkan shalat dulu, sebelum waktunya habis" Tardi kembali menatap pemandangan di hadapannya setelah pria tadi masuk ke dalam mushala.
Pesawahan luas sejauh mata memandang, di sana terdapat banyak petani yang tengah memanen padi, suasana sawah begitu hiruk-pikuk, dari mulai orangtua, anak-anak, laki-laki, perempuan ada di sana, karung-karung gabah berjejer di pinggir pematang sawah siap di angkut truk yang biasa memuat gabah tersebut di kala panen raya tiba.
Tardi lagi-lagi mendesah berat, di antara banyaknya orang yang tengah bekerja, tapi tidak ada satu-pun dari mereka yang mengingat waktu shalat.
"Saya duluan ya Pak Tardi, saya akan melanjutkan pekerjaan saya, yang tadi sempat tertunda" tiba-tiba saja pria tadi sudah ada di samping Tardi.
Tardi tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya perlahan, memberikan izin pada pria yang tengah berpamitan padanya.
"Tumben Pak Tardi ada di sini, biasanya di jam segini Pak Tardi sedang melakukan dzikir di dalam mushala" pria tadi menoleh pada Tardi yang terlihat masih betah memperhatikan pemandangan sekitar.
"Iya, kebetulan saya ingin menghirup udara segar dulu, nanti saya akan melanjutkan dzikir dan tadarus saya sebentar lagi" ucap Tardi dengan nada bangga.
Pria tadi tersenyum lembut "Bahagia-nya jadi Pak Tardi, usia masih muda, tapi sudah bisa istiqamah, beda dengan saya, usia sudah mulai lanjut, tapi masih saja di kejar-kejar rasa bingung mencari nafkah, maklum Pak Tardi, saya hanya lulusan sekolah rendah, pekerjaan hanya bisa menjadi buruh, jadi untuk bisa beribadah sekental Pak Tardi, rasanya begitu susah, untuk bisa menunaikan kewajiban yang lima waktu saja, saya sudah bersyukur"
Tardi memanggutkan kepalanya berulangkali, tersenyum, lalu kembali berjalan menuju mushala untuk melanjutkan tadarus-nya yang tadi sempat tertunda.
'Bagaimana mungkin, orang-orang bisa lalai dengan kewajibannya sedemikian rupa, sementara Allah sudah memberikan segalanya, bagaimana mungkin Allah akan memberikan cahaya kehidupannya, jika manusia hanya terus fokus pada dunia, mereka semua sama saja dengan Karunia istriku' batin Tardi bergumam.
Sekelebat bayangan Karunia istri Tardi terlintas di benak Tardi, Karunia yang sering melaksanakan shalat tanpa terlewatkan, tapi hanya sekedarnya, sekedar shalat, setelah mengucap salam, langsung ngacir melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
***
Tiga hari sudah berlalu, Tardi berada di mushala tersebut, letak mushala yang jauh dari jalan raya, dan di kelilingi pesawahan, membuat Tardi merasa nyaman dan damai ketika melakukan ibadahnya.
Dahulu kala, mushala tersebut di dirikan oleh seorang sesepuh kampung yang memiliki sawah paling luas di sana, beliau seorang Haji, tujuannya mendirikan mushala di sana, adalah agar memudahkan para petani yang tengah bekerja di sawah untuk melakukan shalat, jika mereka tidak sempat pulang ke rumah masing-masing.
Namun, semenjak Pak Haji meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, mushala tersebut menjadi sepi, sudah tidak ada lagi yang mengingatkan mereka untuk sekedar istirahat dari urusan dunia, dengan cara shalat.
"Silahkan saja, jika Bapak mau beribadah di tempat ini, tidak perlu meminta izin, mushala ini rumah Allah, selama Bapak berada di sini untuk niat ibadah, maka warga di sini tidak ada yang keberatan" ujar salah satu pengurus mushala saat Tardi meminta izin untuk menginap di mushala tersebut.
"Jika Bapak ingin beribadah dengan damai, insya Allah, suasana mushala ini sangat mendukung" ujarnya lagi.
Dan benar saja, beberapa hari berada di mushala tersebut, Tardi sungguh merasakan betapa sepi-nya mushala tersebut, apalagi kala malam tiba, rasa sepi juga dingin menyelimuti tubuh kekar Tardi.
Namun, sejatinya tempat tersebut begitu damai dan sejuk, tapi pikiran Tardi masih saja belum bisa fokus seratus persen dengan ibadahnya, sesekali kelebatan bayang Karunia terlintas di benaknya.
Sungguh, anak dan istri adalah ujian terberat kala Tardi tengah menunaikan ibadahnya, begitu fikir Tardi.
Jika sedikit saja Tardi bisa memfokuskan dirinya tanpa harus mengingat urusan dunia, maka Tardi yakin hidupnya akan di hujani cahaya yang terang benderang oleh yang maha kuasa, begitu keyakinan Tardi.
Di rumah, bagaimana mungkin Tardi bisa fokus ibadah, jika baru saja Tardi telah melakukan shalat shubuh dan sedang berdzikir, tiba-tiba saja istrinya yang tengah mengupas sayuran terdengar begitu berisik di dapur, Karunia yang berprofesi sebagai pedagang gorengan keliling harus bangun shubuh menyiapkan jualannya.
"A! Kenapa sih shalatnya lama banget?? Sini bantuin Nia gorengin bakwan!!" teriakan Karunia terdengar begitu nyaring dari arah dapur, membuat Tardi yang tengah berdzikir merasa terganggu.
"Apa sih?? Kamu ganggu banget!! Baru juga Aa mau dzikir, kamu sudah berisik!! tunggu nanti siang saja! Setelah Aa selesai dzikir!" ucap Tardi dengan nada meninggi.
"Lah?? Kalau nunggu siang kapan jualannya atuh A??!! Nia kan harus buru-buru, ngejar pelanggan yang mau berangkat kerja!" Karunia berkata tak kalah sarkis.
"Kamu tuh, gak ada habisnya ngejar dunia, dunia tuh gak akan di bawa mati, yang penting dalam hidup itu ibadah!! Biar kamu mendapatkan cahaya dari Nabi, cahaya dari Allah, biar bisa menerangi hidup kamu yang gelap gulita!!"
"Halah! Kebiasaan kamu A!! Yang kamu bahas setiap hari, cahaya, cahaya, cahaya!! Cahaya apa A?? Percuma kamu ibadah setiap waktu, tapi gak bisa menghasilkan uang sepeserpun! Kamu gak kerja A! Tiap hari kamu duduk di atas sajadah, tapi kamu membuat hidup anak orang menderita!!!"
"Istri durhaka!!! Yang ada di kepala kamu itu, cuman duit, duit, duit, dan duit!!! Terserah kamu mau apa, yang penting Aa sudah ngajak kamu pada jalan kebaikan! Kamu di lahirkan atas kebaikan Allah, setidaknya saat nanti kamu mati juga harus membalas kebaikan Allah!! Kamu itu harus terus ibadah! Biar apapun yang kamu inginkan bisa terwujud!!" Tardi meninggikan nada suaranya.
"Aa suami durhaka!! Aa gak pernah tahu, anak Aa tiap hari nangis cuman gara-gara kita gak bisa bayar uang sekolahnya!! Anak kita malu A! Di bully teman-temannya karena serba gak punya!!" Karunia sudah berang.
"Memangnya bayar apalagi?? Bukannya sekolah sekarang gratis?? Heran, apa-apa mesti bayar, kemaren harus bayar buat uang ujian, uang seragam, sekarang buku-buku"
"Makanya perhatiin anaknya atuh A!! Tanya ke sekolah, keperluan anak apa saja, dana dari pemerintah tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan anak sekolah!!"
"Dasar manusia serakah, apa-apa mesti di jadiin duit, itu pasti efek pemerintah yang tidak mau beribadah, manusia yang tidak di beri cahaya kehidupan ya begitu" Tardi melengos.
"Heh!! Aa kenapa protes terus?? Aa lupa?? Memang yang bayar seluruh kebutuhan anak dan seluruh kebutuhan rumah tangga ini siapa?? Nia A! Nia!!! Nia bela-belain minjem sana-sini, jualan gak inget waktu, yang penting kebutuhan kita terpenuhi, memangnya Aa!! Cuman bisa protes sambil diem-diem aja!! Mikir atuh A! Mikiiirrrrr!!!" Karunia yang mulai kalap, bicara dengan nada paling tinggi. Meluapkan segala kesalnya pada suami yang sudah beberapa tahun ini hidup dengannya.
"Ngomong apa kamu?? Kamu gak tahu aja Nia!! Aa ini lagi nyari cahaya Allah, kalau Allah mengizabah semua do'a-do'a Aa, bukan cuman Aa yang bahagia, tapi kamu juga pasti ikut kecipratan hasilnya" ujar Tardi tak mau kalah.
"Setreeeesssss!!!!"
Karunia diam seribu bahasa, bukan karena dia tak mampu lagi bicara, tapi bicara dengan suami yang di anggapnya egois tentu saja hanya akan membuang waktu berharganya, dengan sigap Nia membawa semua barang dagangannya, lalu bergegas keluar dari rumah untuk menjajakan dagangannya. Dengan cara mendatangi dari rumah ke rumah, namun jika jualannya tersisa, Nia menitipkannya di warung sebelah.
***
"A, shalat dhuha-nya cepetan yaaa, bantuin Nia metik daun kangkung di kebun, lumayan buat jajan adek sekolah" Nia berteriak dari arah dapur, tahu suaminya di jam pulang Nia jualan pasti sedang melaksanakan shalat dhuha di kamarnya.
"Kamu tuh kenapa sih??? Berisik!! Aa lagi ibadah Nia, Aa gak ngerti sama kamu!! Yang kamu fikirin cuman duit, duit, duiiitttt terus!!!"
Nia hanya bisa termangu, tak ingin lagi berdebat dengan suaminya, Nia langsung berangkat ke kebun sendirian.
***
"A!! Adek sakit, badannya demam tinggi!!" teriak Nia di suatu malam.
"Kompres aja, nanti juga sembuh" ucap Tardi melanjutkan dzikirnya.
Malam kian larut, tapi anak Tardi dan Nia tak kunjung sembuh, badannya kian panas, membuat Nia langsung panik dan kalangkabut.
"A! Bawa ke Dokter atuh si Adek!! Nia gak tega lihatnya" Nia mengiba, mendatangi suaminya yang masih anteng di atas sajadahnya.
"Kompres lagi aja, Aa tanggung lagi dzikir, sebentar lagi mau shalat tahajud" jawab Tardi tanpa menoleh ke arah istrinya yang tengah panik.
"Aa!!! Nia sudah kompres si Adek dari tadi siang, tapi demamnya masih saja belum turun juga!!! Lagian Aa ini kenapa sih?? Terus aja dzikir, tapi anak kamu sekarat di biarin!!! A! Aa bisa dzikir sambil melakukan banyak aktifitas, gak mesti harus sambil duduk di atas sajadah, Aa bisa dzikir sambil kerja, sambil duduk, atau sambil melakukan kegiatan lainnya A!!" Nia semakin kalap.
"Heleh!! Dasar istri setresss!! Di mana-mana yang namanya dzikir itu harus fokus, biar Aa secepatnya mendapatkan cahaya dari Allah, biar do'a-do'a Aa secepatnya di kabul Allah" Tardi tak terima.
"Aa yang setresss!!! Aa gak lihat gimana Nia banting tulang buat kelangsungan hidup keluarga ini?? Aa tiap hari cuman duduk santai di rumah tanpa melakukan apapun!!!"
"Dasar istri durhaka!!! Gak faham juga kalau suami lagi nyari cahaya Allah!!!"
"Astagfirullah Aa!!!!" Nia hanya bisa menangis sesenggukan, seolah kehabisan kata, perempuan itu kembali masuk kedalam kamar anaknya.
Dan semenjak kejadian itu pula, Tardi meninggalkan rumahnya, dan memilih untuk tinggal di sebuah mushala kecil yang kini di tempatinya, dengan alasan ingin fokus ibadah.
***
Di tengah malam yang begitu hening, setelah melakukan dzikir seperti biasa, Tardi keluar dari dalam mushala, fikirannya kembali tertuju pada anak dan istri yang beberapa hari ini di tinggalkannya begitu saja.
Sekelebat Tardi melihat ada kilatan cahaya di ufuk timur, dengan ternganga Tardi langsung mengikuti arah cahaya tersebut, tidak peduli dengan kaki tanpa alas, yang penting Tardi bisa menggapai cahaya tersebut.
"Apa ini cahaya yang selama ini aku cari??" gumam Tardi, dengan tatapan terus tertuju pada sebuah cahaya yang seolah sedang menuntun dirinya, untuk tetap mengejarnya.
Tanpa Tardi sadari, dia sudah berjalan cukup jauh, melewati pematang sawah, sebuah sungai, lalu beberapa ladang yang di tanami singkong, semakin jauh cahaya tersebut semakin berkilau menuju pada sebuah rumah, dengan tergesa Tardi terus mengikutinya.
"Alangkah bahagianya rumah yang bisa di jatuhi cahaya itu" gumam Tardi, kepalanya masih mendongak mengikuti cahaya tersebut sementara kakinya tidak ia indahkan, menginjak apa saja yang ada di tanah.
Cahaya tersebut menuju pada sebuah rumah yang semakin jauh Tardi berjalan, maka semakin terlihat jelas rumah tersebut, cahaya yang Tardi ikuti berhenti, kemudian meredup dan menghilang, di gantikan oleh lampu rumahan yang hanya remang-remang.
Deg!!
Tardi termangu, terdiam seribu bahasa kala melihat keadaan yang ada di hadapannya.
Tardi memasuki rumah tersebut, suasana terasa dingin, tangisan pecah di mana-mana, lagi-lagi Tardi terpaku.
Pak Rt, Pak Rw, dan beberapa tetangga dekat menatap kedatangan Tardi, sementara istrinya Karunia tengah menangis pilu di pojokan sedang di tenangkan oleh beberapa tetangga lainnya.
"Ada apa ini???" Tardi bertanya tergesa, semua orang menatap Tardi, tidak ada jawaban apapun.
Tardi mendorong pintu ruang tengah, menghampiri orang-orang yang tengah berkerumun.
Deg!!!
Seketika, kaki Tardi terasa melemah, kala netranya menangkap sebuah pemandangan yang sangat menyakitkan.
Harumi, putri Tardi satu-satunya sudah terbujur kaku, dengan di bungkus kain kafan.
23-04-2021