Berjalan seirama menyusuri trotoar perkotaan. Tasya menenteng sebuah kantong berisikan peralatan lukis seperti kuas, pewarna, dan lainnya. Sementara Ardi membawa sebuah kanvas yang berukuran lumayan besar. Keduanya melangkah menuju sebuah halte yang tidak jauh dari tempat mereka berbelanja tersebut.
"Bawaanmu berat sekali ya?" tanya Tasya lada Ardi
"Lumayan. Tapi aku bisa kok membawanya." balas Ardi sambil tersenyum.
Sesampainya di halte, Tasya dan Ardi duduk bersebelahan dan istirahat sejenak sebelum bus datang.
"Kali ini kita menghabiskan uang cukup banyak untuk benda-benda seperti ini." kata Tasya.
"Benar. Tapi kamu tetap senang kan?"
"Iya. Aku tetap senang karena ini adalah bagian dari hobiku." Tasya melihat isi dari kantong yang ada di pangkuannya.
Beberapa saat kemudian, Ardi berdiri dan berkata bahwa telah melihat bus dari jarak jauh yang segera mendekat ke halte mereka. Tasya pun bangkit dari duduknya dan bersiap untuk memasuki bus. Bus datang di hadapan keduanya, lalu mereka pun masuk ke dalam.
Di perjalanan mereka berdua mengisi waktu dengan mengobrol.
"Kanvas itu cukup besar. Tapi tidak apa-apa kan? apalagi membawanya ke dalam bus seperti ini. Pasti akan terasa sempit." ujar Tasya.
"Iya sih. Mau bagaimana lagi kan? Kita hanya bisa menaiki transportasi ini saja. Ini hanya sebentar juga." jawab Ardi.
Di satu sisi Tasya tengah bergumam di dalam hatinya ketika melirik Ardi di sebelahnya.
"Dia mau membantuku dalam berbelanja peralatan lukis. Dia orang yang sangat baik."
Lirikan mata itu, mengundang pandangan Ardi yang seketika membuat Tasya beralih pandang ke arah lain.
"Dia hampir saja melihat lirikanku. Jangan sampai ketahuan." gumamnya.
Perjalanan berlangsung selama beberapa menit, dan mereka pun akhirnya sampai di sebuah halte tujuan.
"Akhirnya sampai juga. Mari langsung saja kita taruh benda-benda ini ke rumahmu." ajak Ardi.
Tasya membalas dengan anggukan kepala.
Tasya dan Ardi berjalan menuju rumah, lalu sesampainya disana keduanya langsung meletakkan barang-barang belanjaan tersebut di atas meja dan sudut ruangan.
"Sudah beres. Terimakasih sudah mau membantuku, Ardi." Tasya berterimakasih.
"Sama-sama. Senang bisa membantumu." balas lelaki itu.
"Kamu boleh pulang kalau begitu jika kamu mau."
"Kenapa begitu cepat? Bukankah kamu sebelumnya berkata bahwa kamu akan melukis setelahnya? Dan apakah aku tidak boleh melihatnya?" tanya Ardi yang seketika membuat Tasya terdiam.
"Hmm bukan begitu. Maksudku karena kamu mungkin lelah kan usai pergi berbelanja tadi dan membawa benda berat, lebih baik aku menyuruhmu pulang untuk beristirahat gitu." ungkap Tasya.
"Kamu ini haha. Aku tidak selemah itu. Hanya karena membawa kanvas sebesar ini, bukan berarti membuatku langsung capek begitu."
"Baiklah kalau kamu tidak merasa demikian." lanjut Tasya.
Kemudian perempuan itu mulai mengeluarkan barang belanjaannya dan menatanya sebaik mungkin. Dan setelah itu jadilah tempat lukis milik Tasya tersebut. Ardi dan Tasya bertepuk tangan usai tempat lukis itu berhasil ditatanya.
"Bagus. Sekarang kamu sudah bisa melukis mulai sekarang." kata Ardi sembari memegang pundak perempuan disebelahnya itu.
"Uhm.. Ya." Tasya sedikit terkejut dengan sentuhan di pundaknya.
Atas keinginan Ardi yang mau melihat aksi melukis darinya, Tasya pun langsung mengambil posisi dan mulai mengambil sebuah kuas. Mengoleskan ujung kuas pada pewarna yang tersedia, kemudian menggerakkannya diatas sebuah lembaran kanvas yang cukup besar itu.
Ardi memperhatikannya dari dekat serta diselingi dengan sebuah senyum.
Terlihat Tasya sangat serius dalam melakukan kegiatan itu. Ardi sebisa mungkin tidak ingin mengganggu orang didekatnya kala sedang serius dalam menekuni suatu hal..
"Aku melukis tepat di hadapannya. Ini membuatku sedikit gugup sebenarnya. Tapi atas kemauan dia... Aku akan melakukan yang terbaik." gumam Tasya.
Disaat lukisan itu sudah mencapai setengah bagian, Tasya berhenti dan menatap Ardi yang ada di dekatnya.
"Sebaiknya aku harus membuat suasana di sekitar sini lebih hidup lagi." kata Tasya dalam hatinya.
Ardi yang melihat tatapan seorang Tasya itu, langsung bertanya heran.
"Ada apa Tasya?"
"Kamu harus ikut melukis bersamaku." balasnya.
"Tapi aku tidak pandai melukis."
"Aku akan mengajarimu. Sebenarnya aku juga gugup bila ada orang yang memperhatikanku sedari tadi dalam melakukan hal ini. Jadi aku ingin kamu ikut berpartisipasi di dalamnya."
ujar Tasya sekaligus mengajaknya.
Ardi mulai mendekat ke arah kanvas dan memegang sebuah kuas. Tasya dengan senang hati mengajari lelaki itu cara melukis dengan berbagai instruksi darinya. Ardi mengikuti arahannya dengan hati-hati sebab dia tidak ingin menghancurkan karya dari seorang Tasya tersebut.
Melukis dalam waktu yang cukup lama, akhirnya mereka berdua dapat menyelesaikan dengan keringat yang sudah membasahi wajah.
"Akhirnya selesai juga. Leganya!" kata Ardi mengangkat kedua tangannya.
"Iya. Melelahkan bukan? haha." Tasya tertawa kecil.
"Benar. Sangat melelahkan. Apalagi berjam-jam duduk dan fokus pada satu objek seperti ini."
"Dan hasil akhirnya juga memuaskan." Tasya memandang lukisan yang ada di depannya.
"Terimakasih Tasya."
"Terimakasih untuk apa?" tanya Tasya pada Ardi.
"Karena sudah mau mengajariku mengenai hal baru dan juga sudah mau menjadi teman yang baik untukku." balasnya.
Tasya diam sejenak, kemudian dirinya mulai mengukir senyuman tipis di wajahnya.
"Sama-sama Ardi. Aku juga berterimakasih padamu kalau begitu. Karena sudah mau menemaniku hingga saat ini." Tasya menundukkan kepala.
"Ya. Hari yang menyenangkan. Sudah saatnya aku pulang. Sampai jumpa lagi, Tasya."
Ardi membalikkan badan dan melangkah menuju pintu keluar.
Melihat lelaki itu pergi, membuat Tasya seketika bergerak cepat dan...
"Ardi !"
Terdengar suara panggilan dari belakangnya. Langkah terhenti, lalu memandang ke arah suara tersebut.
"Maaf bila ini mendadak. Tapi aku rasa sudah saatnya aku mengatakan ini. Apalagi sudah sampai di titik semacam ini. Membuatku tidak bisa menahannya lebih lama lagi." kata Tasya yang membuat Ardi masih belum mengerti maksudnya.
"Apa maksudmu, Tasya?"
Mengganti lembaran kertas kanvas dengan sebuah gambar yang baru saja dibuatnya tadi.
Ardi terperangah ketika melihat apa yang ditunjukkan oleh Tasya tersebut.
"Kamu tahu kan ini apa?"
"Hati." jawab lelaki itu dengan nada rendah.
"Ya. Istilah lainnya adalah..Cinta. Disini aku bermaksud untuk...Menyatakan sesuatu terkait hal ini."
"Selama ini aku menyukaimu, Ardi." lanjut Tasya.
Situasi menjadi sedikit canggung untuk beberapa saat, sebelum Tasya melanjutkan pernyataannya.
"Aku ingin kita tidak hanya menjadi sekedar teman semata. Sebab aku sudah merasa bahwa di titik seperti ini, tidak cocok lagi rasanya masih dalam status bernama teman. Apalagi kita telah menjalani banyak hari bersama bukan? Jadi..."
"Jadi kamu sudah memiliki rasa sebab banyaknya keseharian yang kita jalani berdua selama ini?" Ardi memotong ucapan Tasya.
Tasya merespon dengan anggukan.
Ardi membalikkan badan dan bergerak menuju pintu.
"Terimakasih sudah menyatakaan perasaanmu padaku. Aku senang mendengarnya. Ngomong-ngomong ada satu hal yang tertinggal di dekatmu. Carilah itu."
Ardi pergi setelahnya dengan akhiran tutupan pintu.
Tasya mencari tahu apa yang dimaksud oleh perkataan Ardi sebelumnya. Terlihat di dekat tempat pewarna, sebuah kertas terselip di bagian bawahnya.
Tasya mengambil, lalu melihat kertas tersebut.
Dirinya seketika diam tak menyangka.
"Ini beneran terjadi padaku?" Tasya dengan perasaan tak menduga.
Di lain tempat, Ardi tersenyum dan berkata.
"Aku sudah lama mencintaimu, jauh sebelum kamu memiliki perasaan itu padaku. Bahkan sejak pandangan pertama."
-----SELESAI-----