(Sreekk... srekk) suara langkah itu menghampiri Rino
"Ayah pergi dulu dan kamu jaga rumah ya" Ucap ayahnya dengan suara lemah.
Rino mengagguk dengan wajah penuh melas.
3 jam berlalu Rino makin tidak betah tinggal di rumah saja, Rino harus menyusul Ayahnya yang sedang berdagang untuk membantu.
Di perjalanan Rino melihat segerombol anak seumurannya baru pulang sekolah bersama ibunya, Rino terdiam mengingat seumurannya yang seharusnya sekolah malahan Rino harus menanggung nasib tidak beruntung.
Dari ke jauhan Rino melihat dagangan Ayahnya sudah tinggal sedikit.
"Rino.. Ngapain kamu disini?"(uhuk..uhuk) tanya Ayahnya dengan suara batuk yang makin parah.
"Ayah.. Apakah kamu sakit?" Rino bertanya dengan mata berkaca-kaca seakan takut kehilangan sosok ayah
"Ayah tidak sakit, mungkin ayah kurang istirahat saja, mari kita pulang nak"
Rino membantu Ayahnya mengemasi dagangannya dan membantu membawa dagangannya.
Di perjalanan Rino selalu memandangi Ayahnya "Ayah.. Apa kamu lelah?"
"Tidak Rino, ayah tidak lelah jika bersamamu". Pertanyaan itulah yang sering Rino lontarkan sewaktu ayahnya pulang berdagang.
Sore hari, Ayahnya pasti akan memasak untuk Rino. Rino ya selalu membantu apapun yang di kerjakan Ayahnya memperlihatkan bagaimana Rino sangat berbakti kepada Ayahnya.
.
Asap tungku mulai keluar melalui celah-celah genting, masakan ayahnya memang selalu enak di lidah Rino, terlebih jika Ayahnya sedang masak banyak.
(Uhukk..uhukk) suara batuk itu terdengar lagi, Ayahnya semakin lemas
"Ayah.. Apa kamu baik-baik saja?" Rino semakin cemas memikirkan ayahnya.
"Ayah baik-baik saja nak, ayah ingin tidur lebih awal, dan beristirahat lebih dulu" Sambil memegang bantal, Ayahnya mulai membaringkan tubuhnya di kasur, menatap wajah Rino dan mengusap kepalanya dengan tersenyum.
"Ayah.. Apakah aku menyusahkanmu selama ini?" Rino bertanya seakan sakit ayahnya adalah kesalahan Rino
"Kamu memang menyusahkan ayah, kamu selalu di pikiran ayah jadinya ayah selalu memikirkan mu" Sambil tertawa renyah didengarnya Rino pun tersenyum dibuatnya.
Pagi hari, Rino melihat Ayahnya masih berbaring di kasur, tidak seperti biasanya yang sudah bergegas berangkat berdagang.
"Ayah.. Apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu sakit?" Rino menangis memeluk Ayahnya yang sedang berbaring lemah.
"Ayah hanya butuh istirahat, hari ini ayah tidak berdagang dulu" Ucap ayahnya sambil mengusap kepala Rino.
"Ayah.. Aku saja yang berangkat berdagang, ayah istirahat saja di rumah, nanti Rino bawakan obat untuk ayah" Rino berpamitan untuk berdagang menggantikan ayahnya dan mencium kening ayahnya
"Terimakasih ya Rino, kamu hati-hati di jalan, jika sudah waktunya pulang kamu langsung pulang tidak usah menunggu dagangan habis"
.
Sudah setengah hari dagangan Rino hanya laku sedikit, Rino bingung harus berbuat apa untuk bisa membeli obat Ayahnya, tapi Rino mengingat pesan Ayahnya yang harus pulang tepat waktu.
.
Di perjalanan pulang, Rino melamun memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang.
Tiba di rumah Rino mendengar ada yang memanggil dari belakang, ternyata tetangga sebelah yang sering memberi makan Rino jika ayahnya belum memasak.
"Rino.. Ini ibu kasih kamu sayur asem dan nasi untuk kamu dan ayahmu, di makan yah" Suara lembut Ibu yanti yang selalu membantu Rino dan ayahnya sangat bersyukur
"Terimakasih bu yanti" Dengan muka sumringah Rino langsung bergegas masuk ke Rumah
"Rino sudah pulang kamu nak" Suara Ayahnya semakin lirih dan lemah
"Sudah ayah, kita makan dulu yah tadi ibu yanti memberi kita sayur asam dan nasi untuk kita makan"
.
.
"Ayah.. Hari ini dagangan laku sedikit Rino belum bisa beli obat untuk ayah" Dengan menggegam tangan ayahnya Rino menangis.
"Tidak apa nak, besok pasti lebih baik, semoga allah melancarkan rezekimu" Nasihat yang sering di lontarkan Ayahnya untuk Rino sesekali Rino mengeluh.
Pagi sekali, Rino sudah bersiap berangkat dan menghapiri Ayahnya untuk berpamitan, mengingat hari ini harus mendapatkan uang untuk membeli obat Ayahnya.
"Ayah.. Rino berangkat dulu, hari ini pasti dagangan Rino laku semua dan pasti Rino akan bawa obat untuk ayah" Suara semangat yang di ucapkan Rino membuat ayahnya tersenyum lebar "Iya nak, hari ini pasti kamu beruntung"
Setibanya di tempat Rino sudah menggelar dagangannya di bawah pohon beringin.
Jam menunjukan pukul 12 siang, ternyata dagangan Rino sudah bersih terjual, Rino langsung berkemas dan bergegas ke Apotek untuk membeli obat Ayahnya.
2 kilometer perjalanan pulang di tempuh dari Apotek ke Rumah, nafasnya ter engah-engah , langkah cepatnya mengantarkan obat untuk ayahnya
Masih 20 meter menuju rumah, langkah Rino tiba-tiba terhenti, Rino melihat bendera kuning tertancap di depan rumahnya dan orang-orang berdatangan ke rumahnya.
Dalam hatinya terucap sedih "Ayah.. Apakah hari ini hari kemerdekaan, mengapa ada bendera di depan rumah kita?"
Kaki kecilnya mulai melangkahkah lagi mendekati Rumah, orang yang pertama menghampiri Rino adalah Bu Yanti yang berpakaian serba hitam di hari itu bukan untuk memberi sayur dan nasi lagi tetapi memberi kabar duka untuk Rino.
"Rino.. Kamu yang sabar ya nak, Ibu selalu ada untukmu" Sambil mengusap pipi Rino yang hanya berdiri diam dengan tangan masih menggegam bikisan plastik berisi obat untuk ayahnya.
Rino mulai masuk ke Rumah, tubuhnya bergetar pipinya mulai di basahi air matanya.
"Ayah.. Aku sudah janji bawakan obat untukmu hari ini"
Tangan kecilnya menjatuhkan bingkisan plastik berisi obat untuk ayahnya, suara sengguk tangisnya mulai terdengar dari mulut Rino setelah melihat Ayahnya sudah tertutup kain putih.