Putusnya hubungan asmara Sela dan Denis, membuat hati Sela sangat sakit, terlebih putusnya hubungan ini karena terhalang restu Orang Tua. Sela yang selalu mengurung diri di Kamar membuat hati Ibunya hancur, melihat anak gadisnya yang tak berhenti menangis.
"Sela, ayo makan dulu, kamu belum makan hari ini" Dengan nada lembutnya, Ibu sembari mengetuk pintu kamar Sela.
"Aku tidak ingin makan bu" suara lemas yang keluar dari mulut Sela, membuat sang Ibu semakin tidak tega.
kring... kring... kring...
Suara ponsel berdering, ternyata Denis mengirim pesan pada Sela.
" Sayang, maafkan aku jika aku menyakitimu, ini bukan keinginanku untuk berpisah denganmu. Aku akan menyayangimu sampai kapanpun, jaga diri baik-baik ya, jaga dirimu untukku" Isi pesan Denis untuk Sela.
"Aku selalu menyayangimu sampai kapanpun" Sela hanya mampu menjawab dalam hati.
Sela semakin tidak kuat menahan air matanya, suara tangisnya terdengar sampai luar kamar, Ibu yang mendengar suara tangis Sela, semakin ikut merasakan kesedihannya.
2 tahun hubungan mereka berjalan baik-baik, Ibu sudah anggap Denis seperti anak sendiri, Lelaki sopan, baik tingkah laku dan tutur katanya, tiba-tiba Orang tua Denis tidak merestui hubungannya, karena merasa Sela dan Denis beda kasta.
Tok... Tok... Tok...
"Sela, ini aku Rani, ayo lah kita main, mantan harus dilupakan, jangan sedih terus dong" Teriakan Rani dari luar kamar Sela.
Rani adalah sahabat dekat Sela dari kelas 1 SMP, dia yang selalu mengerti keluh kesah Sela tentang dunia percintaannya.
Sela membuka pintu kamarnya dan menyuruh Rani masuk ke Kamar.
"Rani, aku gak kuat kaya gini, Aku sangat mencintai Denis, karena Kita putus bukan karena orang ketiga, bukan juga karena perselingkuhan, ini karena Restu Orang tua" Curhatan Sela tentang kisah percintaannya.
"Iya Aku tau kok, tapi mau gimanapun kalau tidak berjodoh mau gimana?, udah lah sel lupakan, diluar sana banyak kok Cowo yang lebih dari Denis"
"Diluar sana memang banyak lelaki, tapi aku ingin yang seperti Denis"
Mencurahkan hatinya kepada Rani membuat hati Sela semakin tenang, Sela hanya butuh teman untuk melampiaskan kesedihannya dengan begitu Sela semakin iklas melepas Denis.
3 Bulan berlalu, Hati Sela sudah semakin iklas dengan keadaannya tanpa ada Denis, dan Sela memutuskan untuk pergi ke luar Kota untuk bekerja.
Banyak rekan kerja Sela yang iseng untuk menjodohkannya dengan lelaki di Tempat kerjanya, dan lagi Sela belum bisa membuka hatinya.
Setiap malam Sela masih sering membaca screenshot chat lamanya dengan Denis, Sela tersenyum ketika ada chat lucu bersama Denis, dan tersadar sekarang Denis bukan siapa-siapa lagi,
Sela kembali sedih.
Masa kontrak kerja Sela habis, dan hari ini genap 1 Tahun berpisahnya dengan Denis. Sela tidak melanjutkan kontrak kerjanya, Sela memilih kerja di kampung saja karena lebih dekat dengan keluarga.
Baru 1 hari di Rumah, Sela kembali teringat Denis, tiba-tiba perasaan Sela tidak enak tentang Denis, pikiran aneh muncul dipikiran Sela.
Sela langsung menghubungi Rani sahabatnya lewat telefon untuk bercerita, siapa tahu bisa mengurangi rasa cemasnya.
"Rani, hari ini aku rindu sekali pada Denis, perasaanku juga tidak enak, apakah Denis sakit ya?"
"Alah, palingan itu cuma rasa rindumu yang berlebihan, makanya jangan memikirkan hal yang berlebihan nanti kamu sendiri yang sakit loh"
"Tapi Ran, udah 3 hari ini aku kepikiran Denis, perasaanku juga gak enak, aku takut"
"Ran, kamu cuma belum iklas, Denis gak papa kok, kamu percaya sama aku yah"
Sela lega mendengar jawaban Rani yang selalu menenangkan.
Waktu menunjukan pukul 22.35, ada pesan masuk ketika Sela sudah sedikit tidur, Sela menyempatkan untuk mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang mengirim pesan.
"Hai cantik, aku baik-baik saja disini, kamu juga baik-baik disana ya, aku selalu ada disini untukmu"
Sela menangis membaca pesan singkat itu yang ternyata dari Denis, Sela langsung membalas pesannya untuk Denis, tapi selalu gagal mengirim.
"Kenapa sih keadaan seperti ini malah pulsa habis, baru aja aku isi kemarin" Dengan nada kesal bercampur sedih Sela mengecek pulsanya untuk memastikan.
"loh pulsa masih ada kenapa kirim pesan ke Denis gak bisa sih, oh Tuhan apa Denis langsung menonaktifkan ponselnya?"
Sela berpikir mungkin sedang terjadi gangguan, Sela berniat membalas pesannya besok Pagi.
Pagi Hari.
"Sela, Ibu mau pergi ke Kota, kamu jaga Rumah sendiri ya, Ibu sudah siapkan sarapan dimeja"
Suara teriakan Ibu dari lantai bawah.
Sela lalu turun ke lantai bawah untuk sarapan, selesai sarapan tiba-tiba ada suara sepeda motor berhenti didepan Rumah Sela.
"Siapa sih pagi-pagi gini udah main aja"
Nada kesal Sela setelah mendengar seperti ada orang didepan Rumahnya.
"Sela...ini aku Denis"
Sela sangat terkejut dan tidak menyangka bahwa Denis akan memberi kejutan seperti masa-masa pacaran dulu. Denis selalu memberi kejutan dengan datang tanpa memberi tahu dulu.
"Denis, kok kamu kesini gak bilang dulu, padahal aku mau balas pesanmu yang tadi malam, soalnya tadi malam ada gangguan" Suara girang Sela saat melihat Denis sudah didepan mata.
"Aku sengaja gak ngasih tahu kamu biar kejutan aja kaya dulu lagi" Suara Denis yang sudah berbeda dari yang dulu.
"Aku sangat rindu kamu, oh ya kamu dari mana kok tiba-tiba gini"
"Aku juga sangat rindu sama kamu, aku gak dari mana-mana kok, aku kesini cuma mau bilang ke kamu, bahwa aku selalu ada untukmu walaupun kita udah gak bersama lagi kaya dulu, kamu baik-baik ya"
"Iya aku tau itu, kamu selalu ada di hatiku sampai kapanpun, kamu sekarang kurusan ya, wajahmu kok pucat banget, kamu sakit" Tanya Sela saat melihat Denis tidak seperti dulu lagi, wajahnya pucat seperti orang sakit, tubuhnya pun terlihat lemas.
"Aku gak papa sayang, aku cuma banyak tidur aja jadi lemas" Denis menjawab dengan tertawa ringan.
"Tapi kamu pucat banget, kalau kamu sakit bilang dong jangan paksain ke sini" Sela khawatir kalau Denis benar-benar sedang sakit.
"Engga sayang, aku gak papa, aku kesini cuma ingin lihat wajahmu yang terakhir, sebelum kamu jadi milik orang, aku juga sebentar aja kok, ini langsung pulang" Denis tersenyum dan mengelus rambut Sela.
"Hah, kamu langsung pulang? kamu gak mau ajak main aku dulu? dulu kamu kesini pasti ajak aku jalan" Sela bertanya dengan raut wajah sedih setelah mendengar perkataan Denis yang hendak pergi lagi
"Aku gak bisa sayang, aku kesini cuma ingin bilang Terimakasih sudah mau bersamaku saat suka dan duka, terimakasih juga sudah mau menemaniku, sudah mau menerimaku tulus, aku sayang kamu sampai kapanpun dan aku selalu ada untukmu, pokoknya jaga diri baik-baik ya"
"Kamu tau? 1 tahun aku gak bisa move on dari kamu, aku gak bisa tanpamu" Sela menangis didepan Denis, kemudian Denis memeluk.
"Kamu pasti bisa sayang, maaf ya aku gak bisa sama kamu lagi, tapi yakinlah aku selalu ada untukmu, aku pulang dulu ya"
Sela menangis dan memlambaikan tangan pada Denis.
Sela seperti mimpi hari ini, melihat Denis datang ke Rumah secara tiba-tiba seperti waktu berpacaran dulu, tapi kali ini beda, Denis datang seperti berpamitan jauh pada Sela.
Sela tidak berkata apapun pada Ibu tentang Denis yang datang ke Rumah, karena takut Ibunya menyuruh untuk melupakan Denis lagi.
Sela lagi-lagi menghubungi Rina untuk memberi tahu kedatangan Denis ke Rumah.
"Rani, kamu tahu?? Denis kemarin ke Rumah, aku juga gak tau, tiba-tiba Denis udah didepan Rumah, haha jadi teringat dulu waktu pacaran, ah gimana aku bisa move on kalo kaya gini terus"
"Denis main ke Rumah kamu?? yakali udah 1 tahun masih sama belum bisa move on juga ya kalian haha, terus gimana??"
"Tapi anehnya Denis datang ke Rumah cuma kaya berpamitan gitu, apa dia mau nikah ya?"
"Nah gitu deh, Denis udah punya cewe baru lagi dan langsung nikah, makanya jangan senang dulu deh, kamu kapan mau nyusul? haha" Sambil tertawa Rani mengejek Sela yang sedang bingung.
"Eh serius Ran, wajah dia juga pucat banget apa dia tertekan karena gak nikah sama aku ya?"
"Udah udah Sel, mending kamu do'akan yang terbaik untuk Denis kedepannya"
Sudah sepekan Sela di rumah, kegiatan Sela sekarang membantu Ibunya berdagang, sembari bermain ponsel, mendengarkan musik untuk hiburan dikala sepi, tiba-tiba ada pesan masuk lewat Facebook.
"Siapa sih, kok kaya kenal ya, bukannya ini temannya Denis?"
"Sela, ini aku Bayu, kamu kenal aku kan, aku temannya Denis, aku mau ngabarin kamu, Denis sakit dan sekarang kritis di Rumah Sakit, kamu bisa kesini?, kalau bisa nanti aku jemput kamu di Rumah" Bayu teman dekat Denis, dia sangat tahu tentang hubungan percintaan Denis dan Sela.
"Denis kenapa? sakit apa?, Iya aku bisa, nanti kamu kesini aja"
"Ya Tuhan, apa benar waktu Denis kesini dia lagi sakit?, kenapa gak jujur aja sih" Sela menangis dan bersiap untuk ke Rumah Sakit.
Sela tidak lupa untuk menghubungi Rani lagi.
"Rani, Denis lagi sakit, sekarang kritis di Rumah sakit, apa benar kemarin waktu dia kesini lagi sakit tapi Denis maksa ke sini, aku jadi ngerasa bersalah Ran, ini aku mau ke Rumah Sakit" Suara tangis Sela mulai terdengar keras.
"Hah, kok bisa dalam waktu seminggu Denis langsung kritis, apa dia udah sakit dari lama Sel, tapi gak bilang ke kamu? yaudah kamu hati-hati Sel, Kalo ada apa-apa kabarin aku"
"Mana mungkin Denis cerita masalah kaya gitu ke aku Ran, iya Ran aku pergi dulu ya"
Tidak lupa juga Sela berpamitan pada Ibu, seperti biasa Ibu tak kuasa jika mendengar tentang Aku dan Denis.
Sesampainya di Rumah Sakit, Keluarga Denis semuanya berkumpul di lorong Rumah sakit, Sela melihat wajah keluarga Denis, yang dulu pernah menolak dia sebagai kekasih Denis, tapi sekarang Sela sudah tak mau mengingat kejadian itu lagi, sekarang harapan Sela adalah melihat Denis sadar dari Kritisnya.
"Sela, Ibu minta maaf tentang kejadian dulu, Ibu sadar Ibu salah, Ibu tak pernah memberikan kebahagiaan untuk anak Ibu, kebahagiaan anak Ibu ada di kamu Sela" Ucap Ibu Denis dengan menggenggam tangan Sela, suara tangis Ibu Denis membuat tak kuasa semua Keluarga yang mendengar.
"Sela, kakak juga minta maaf udah ngelarang kamu sama Denis, padahal kamu wanita yang sangat di cintai Denis, kakak nyuruh kamu kesini karena udah 2 Minggu ini Denis Koma karena sakit jantungnya kambuh dan disaat koma Denis selalu manggil nama kamu, tapi makin kesini kondisi Denis makin memburuk, Denis kritis kata Dokter, kita tinggal menunggu waktu kepergian Denis, dan yang di tunggu tinggal kamu Sel, kamu yang selalu di panggil Denis dalam komanya" Ucap kak Sofi dengan menangis didepan Sela.
"Hah, Denis koma 2 Minggu kak?, gak mungkin, ini pasti salah hitung kak" Sela menjawab dengan rasa bingung, karena Sela merasa waktu bertemu Denis belum genap seminggu.
"Benar Sel, Denis koma sudah 2 Minggu, cuma kamu yang dia cari, aku juga sudah cari kamu dimana pun tapi susah" Ungkap Bayu.
"Tapi yu, hari Sabtu kemarin Denis menghubungiku lewat pesan dan Pagi harinya Denis ke Rumahku, dia datang ke Rumahku, tanpa mengabariku" Sela menjelaskan ke ganjilan yang di alaminya.
"Denis Ke Rumahmu? gak mungkin, jelas-jelas Denis berbaring di Rumah Sakit sudah 2 Minggu lebih Sel, kita semua berganti jaga, gak mungkin juga Denis Kabur, ini ICU pengawasannya juga ketat" Sangkal Bayu.
"Tapi aku bersumpah yu, kak, bu, Denis Ke Rumahku waktu itu, dia memang seperti berpamitan, wajahnya pucat, kurus kering, suaranya pun beda" Sela mulai merasa ada yang tidak beres.
Semua di tempat terkejut mendengar penjelasan Sela, tiba-tiba perawat memanggil Sela untuk bertemu Denis. Sela langsung berganti pakaian medis berwarna hijau, karena Sela masuk ke Ruang ICU.
Sela mulai menggenggam tangan Denis yang berbaring di ranjang.
"Denis, ini apa-apaan? tolong jelaskan, kemarin kamu ke Rumahku kan? Aku sayang kamu juga Denis, aku baik-baik aja kok, aku juga janji akan jaga diri baik-baik, tapi tolong sadarlah Denis aku mohon" Sela menangis di Ruang ICU di temani salah satu perawat di sampingnya.
Tut... Tut... Tut...
Monitor jantung Denis tiba-tiba lemah, perawat bergegas memanggil Dokter.
"Denis kamu kenapa? aku udah di sini , aku juga selalu ada buat kamu Denis, katanya kamu janji selalu ada untukku selamanya, mana buktinya Denis, ayo bangun" Sela menangis dengan memukul lengan Denis, berharap Denis Bangun Kembali.
Dokter menangani Denis yang detak jatungnya mulai menghilang, monitor jantung Denis mulai bergaris lurus dan terdengar suara, Tuutt............
"Deniss........." Sela menangis kencang, dan terjatuh di lantai, Sela di bawa perawat keluar bersama keluarga Denis.
"Ibuu ... Denis bu, Denis Pergi" Sela semakin lemas tak berdaya. Bayu menenangkan Sela dan memindahkan Sela ke tempat duduk.
3 Jam berlalu, Denis di bawa keluar dari Ruang ICU, Denis sudah di tutupi kain putih, semua keluarga menangis melihat Denis sudah tiada, Sela yang sudah tidak mampu menangis lagi, hanya melihat jasad Denis dengan mata rasa kehilangan.
Sela mulai mendekati jasad Denis.
"Denis, apa kemarin kamu datang hanya berpamitan ini padaku? dan kamu bilang rindu padaku ternyata kamu hanya menunggu aku kesini menemuimu?" Masih dengan bersuara nangis, Sela masih tak menyangka siapa yang kemarin datang ke Rumah, apa benar Denis berpamitan?.
Sela sudah berada di Rumah Denis, Denis sudah di selimuti kain kafan, dan sudah banyak orang berdatangan. Tak lupa Sela memberi kabar pada Ibu dan Rani.
"Buu, Denis meninggal bu waktu Sela datang, bu maaf sela gak cerita ke ibu, hari Minggu kemarin Denis main ke Rumah tapi hanya berpamitan ke Sela lalu pergi lagi, lebih anehnya ternyata Denis sudah koma 2 Minggu lebih bu" Rasa ganjil Sela mulai di ceritakan pada ibunya.
"Sela kamu yang sabar ya nak, mungkin waktu itu arwah Denis mencoba menemuimu untuk berpamitan, dan Denis mengalami koma lama, karena dia hanya menunggu kamu datang" Ibu menjelaskan tentang arwah Denis yang datang menemui Sela waktu itu.
Rani menghubungi Sela dengan nada syok, karena Rani sangat mengerti kejadian waktu Denis main ke Rumah waktu itu.
"Sela, kamu menginap disini dulu ya semalam, untuk Tahlilan bersama , mendoakan Denis." ucap kak Sofi.
Tahlilan selesai menunjukkan pukul 23.15, Sela masuk ke kamar Denis melihat banyak foto berdua saat Sela dan Denis masih berpacaran ada di sudut kamar Denis. Sela memutuskan untuk tidur di kamar Denis, sembari menangis Sela memeluk bantal yang baunya khas wangi Denis dan Sela mulai terlelap Tidur.
Jam 01.58 Sela terbangun karena udara sangat dingin, Sela merasa ada yang mengawasi di pojok kamar, Sela mendengar ada yang memanggilnya.
"D..dd...ddenis, aku pasti mimpi, kamu ngapain disini" Sela melihat wujud arwah Denis mengawasinya di Kamar, melihat Denis tersenyum padanya, membuat Sela merinding sekujur tubuh.
"Sela, aku selalu ada untukmu selamanya"
Sela keluar kamar dan langsung mencari kak sofi.
"Kak tadi ada Denis di kamar kak" suara terengah-engah Sela jelas seperti orang ketakutan.
"Mana mungkin Sela, Denis sudah tenang di sana, sudah sana kamu tidur lagi" kak Sofi mengantar Sela ke kamar kembali.
Pagi hari Sela berpamitan untuk pulang, dengan wajah sembab Sela masih saja menangis.
Sela pulang di antar Bayu kembali, mereka bertiga memang dekat sekali, Aku dan Bayu sangat dekat karena Denis.
Lagi- lagi di perjalanan pulang Sela melihat Denis duduk di bangku belakang mobil, Sela teriak membuat Bayu terkejut.
"Ada apa Sel??" Tanya Bayu kebingungan
"Ini udah kedua kalinya aku melihat Denis, seperti biasa Denis berkata, akan selalu ada untukku, apa karena Denis benar-benar menyayangi aku?" Sela semakin tidak jelas perasaannya
"Udah ya kamu tenang, itu halusinasi aja kok, kamu jangan mikirin Denis terus ya" Ucap Bayu menenangkan Sela.
Sesampainya di Rumah, Sela mulai seperti orang linglung karena kejadian yang menimpanya.
Sela kembali tidur karena dia tidak bisa tidur karena kejadian semalam.
Sela terbangun sore hari, dan mendengar ada yang memanggil di lantai bawah, Sela bergegas turun kebawah.
"D... dd..ddeniss??" lagi-lagi Sela melihat Denis di jendela dengan berkata "Aku selalu ada untukmu selamanya"
Tiba- tiba.. "aa..aaaaaa" Sela terjatuh dari tangga, dan kepalanya membentur lantai.
Sela langsung di larikan ke Rumah Sakit.
"Bagaimana Dok keadaan anak saya?" Ibu menanyakan keadaannya dan menangis karena melihat kepala Sela di perban banyak.
"Anak ibu mengalami benturan yang cukup keras, dan anak ibu mengalami sedikit gangguan kejiwaan, anak Ibu belum bisa di ajak bicara, apakah ada masalah pada anak ibu"
"Iya Dok, kemarin mantan kekasih anak saya meninggal dunia, dan mereka memang masih saling mencintai, apakah itu menggaggu dok?"
"Iya bisa saja bu, anak Ibu mengalami depresi dan sedikit gangguan jiwa mungkin karena masalah itu, nanti kita bawa Sela terapi untuk memulihkan kejiwaannya"
Sela di bawa dengan kursi roda, di temani Rani yang mengajak jalan-jalan Sela untuk memulihkan kesehatannya.
"Sela, kamu belum bilang apa-apa gitu ke aku, kamu gak kangen aku?" Ejekan Rani yang biasa membuat tertawa Sela, sekarang tidak ada respon sama sekali dari Sela.
Tatapan Sela sangat kosong, wajahnya pucat sekali.
"Kamu lihat apa Sel?" Tanya Rani, melihat tatapan Sela seperti orang ketakutan.
Tubuh Rani seketika merinding, merasa ada yang tidak beres yang di alami Sela.
"Sayang... Aku kan sudah janji akan selalu ada untukmu"
................................ (Arwah Denis berdiri tepat disamping Sela)..
Tamat.