Ketika diri sudah dikuasai nafsu dunia. Apa pun pasti dilakukan tak terkecuali untuk hal di luar nalar sekalipun dan bersekutu dengan iblis.
--------------------------------------------------------------------
“Diam! Cepat ikat dia. Jangan sampai dia kabur lagi.”
Sudah tiga kali gerombolan itu datang ke area permakaman yang berbatasan dengan hutan. Orang-orang itu datang dengan gadis yang sama—gadis berambut coklat dengan poni melengkung. Matanya bengkak sebelah. Beberapa goresan tertoreh tak beraturan di pelipisnya. Sementara di sudut bibirnya, warna merah menetes bekas terkoyak.
“Lepaskan aku!” pinta gadis itu . Gadis itu meronta seperti tiga hari yang lalu. Namun, usahanya kali ini tak akan berhasil lagi. Sia-sia usaha untuk melarikan diri. Dia dikelilingi oleh empat orang, termasuk lelaki botak yang sepertinya bos mereka.
Suara jangkrik bersahut-sahutan. Sesekali burung gagak ikut memberi teror kepada siapa saja yang mendengarnya. Angin bertiup kencang menggoyangkan tubuh ranting-ranting pohon di kompleks permakaman. Daun-daun layu dan kering ikut gugur bersamanya. Semerbak wangi bunga menguar mengikuti embusan angin. Terlihat empat orang tadi sedang mengelilingi pusara kayu yang hampir rapuh.
Suara rintihan dari mulut gadis itu sungguh memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya. Sayangnya, meski ia menjerit sekali pun, tidak akan ada orang yang mendengar. Letak permakaman yang jauh dari pemukiman warga, ditambah waktu dini hari adalah waktu orang-orang beristirahat dalam belaian mimpi.
“Terimalah persembahanku ini, Nyai,” ujar lelaki berkepala botak. Dia bersimpuh di hadapan pusara, mengangkat dan menurunkan tangannya. Sebuah nama dielukan dengan lantang.
“Nyai Banowati, bangkitlah. Jemputlah darah perawan yang kau inginkan,” ucap lelaki itu.
Petir menggelegar tanpa mendung. Sang bayu bertiup sangat kencang, menggoyang-goyangkan semua tanaman di sekitarnya. Kelopak bunga kamboja ikut jatuh berguguran bersama dedaunan kering.
Sinar yang menyilaukan keluar dari tengah pusara dekat pohon beringin besar. Tanahnya terbelah menjadi dua. Kemudian seorang perempuan bergaun putih muncul dari celah tanah tersebut. Dia berjalan mendekati gadis muda yang menangis terguguk itu.
Ia menggerakkan tangan kanannya, membentuk bulatan cahaya keperakan. Setelah itu, ia meniupnya perlahan. Cahaya itu mengenai gadis di hadapannya. Gadis itu memegang leher, matanya membelalak, mulutnya menganga. Napasnya mulai tercekat lantas ia menggelepar ke tanah. Tubuh gadis itu diselimuti asap yang bergulung, kemudian musnah. Perempuan yang dipanggil Nyai Banowati pun ikut menghilang. Tanah yang tadinya membelah itu menutup kembali seperti semula.
Kejadian seperti itu sudah lama terulang. Terlalu banyak, tak terhitung. Hanya saja orang yang ke tempat itu adalah orang yang berbeda setiap tiga tahun. Sebelum lelaki botak itu, ada juga perempuan muda yang telah mengabdi pada Nyai Banowati.
Di samping pintu makam, ada sepasang bola mata yang mengawasi dari balik rerimbunan tanaman bambu. Dalam pekatnya malam, sosok itu bergumam, “Kau sungguh semakin menggila dikuasai oleh iblis. Tak kusangka aku harus turun tangan sendiri untuk menghentikanmu."
*****
-Kamis Malam-
“Aaargh!” pekik perempuan dengan rambut lurus sebahu.
“Sudahlah, tutup mulutmu,” bentak lelaki itu.
“Tak ada yang akan mendengarkanmu di sini. Permakaman ini jauh dari perkampungan. Percuma saja kau lari, lihatlah di belakangmu hanya ada pohon-pohon yang menertawakanmu,” lanjutnya.
“Saya mohon, jangan sakiti saya, Pak.” Gadis itu memohon dengan suara serak. Sudah terlalu lama ia menangis. Tangannya terikat tali tambang lusuh. Kali ini, gadis yang ia bawa tanpa luka sedikt pun. Ia sungguh cantik, walau hanya terlihat dari kejauhan.
“Pak, sudah cukup! Keserakahanmu mematikan hatimu.” Seorang wanita paruh baya tiba-tiba muncul dari arah samping pohon beringin.
“Istriku, kau tak usah ikut campur dengan urusanku. Nikmati saja limpahan materi yang selama ini kuberikan padamu,” tegasnya.
“Eling, Pak. Dia itu gadis yang dicintai Ridwan, anak kita. Kenapa Bapak tega merenggut kebahagiaan anak kita satu-satunya, Pak.” Mata wanita itu menatap suaminya nanar.
“Sudah, jangan menghalangiku, Bu. Biarlah Ridwan mencari gadis lain lagi. Masih ada gadis cantik selain gadis ini. Ia sudah menjadi milik Nyai Banowati."
“Baiklah, jika itu maumu!” Sorot mata wanita itu berubah tajam. Ia menangkupkan kedua tangannya, membalik telapak tangan ke arah luar, mendorong tangan kirinya ke depan.
Telapak tangan itu mengeluarkan cahaya putih, lalu ia menggerakkannya. Cahaya itu menyerang ketiga anak buah suaminya. Mereka jatuh tersungkur. Saat suaminya lalai, wanita itu menarik lengan gadis berambut pendek, mengajaknya berlari meninggalkan makam.
“Sialan kamu, Prapti. Wanita tak tahu diuntung!” umpat suaminya.
Prapti terus berlari menggandeng gadis itu. Suara ranting kering berpadu dengan langkah keduanya. Mereka berlari tanpa memperhatikan jalan. Napas mereka ngos-ngosan. Keringat mengucur deras membasahi pakaian. Rok panjang Prapti tersangkut di duri tanaman liar. Daun-daunnya bergesekan dengan kulit juga akan menyebabkan rasa gatal. Namun, Prapti dan gadis itu tak peduli. Mereka terus melangkah, meninggalkan suami Prapti.
“Kejar mereka, jangan sampai lolos!" perintah suami Prapti kepada ketiga anak buahnya. Pria itu melotot, napasnya memburu karena gemuruh di dalam dada. Ia tak menyangka jika istrinya sendirilah yang mencoba menggagalkan ritual persembahan tumbal perawan.
Akar pohon asam jawa menjegal langkah mereka. Mereka terjatuh, sementara anak buah suami Prapti sudah semakin dekat. Malangnya, mereka akhirnya tertangkap. Tangan Prapti dan gadis itu dibekuk hingga tak berkutik.
Prapti tak bisa mengeluarkan kekuatannya lagi, ia terlalu lemah. Ia melihat mawar merah yang tumbuh di depan area permakaman lantas berkata lirih. “Bunga mawar yang indah, maafkan aku. Aku terpaksa memetikmu karena aku memerlukanmu.
Prapti meraih bunga mawar itu, mematahkan batang beserta mahkota bunga. Ia memasukkannya ke kantong baju tanpa sepengetahuan anak buah suaminya.
“Sudah kubilang, jangan pernah melawanku. Kau tak akan bisa, Prapti,” ejek lelaki botak.
“Kau akan menyesal, Karto—Sukarto Wijadi,” ucap Prapti lantang. Tak ada raut ketakutan di wajahnya.
Ia menginjak kaki kedua anak buah suaminya bergantian di kanan dan di kirinya. "Sudah kuberitahu untuk menghentikan semua ini, kamu akan melihatnya sendiri," sergah Prapti.
"Apa maksudmu? Jangan pernah menghalangi jalanku!" bentak Karto—suami Prapti.
"Nduk, pegang ini!" pinta Prapti kepada gadis berambut pendek di depannya. Gadis itu menuruti perintah Prapti setelah kedua tangannya dilepaskan oleh kedua pria yang tadi membekuk tangannya.
Gadis itu menerima bunga mawar pemberian Prapti. Ia memegang tangkai bunga. Sekuntum bunga mawar itu tiba-tiba bergoyang sendiri lantas mengepulkan asap. Warna kelopak merah berganti menjadi hitam dan menghangus.
“Kau … kau ….” ucap Karto terbata.
*******
-Rabu Pagi-
“Bu, jadi syarat menjadi persembahan untuk Nyai Banowati adalah gadis yang masih perawan?" tanya Ridwan.
"Iya."
“Ibu tak usah khawatir lagi kalau begitu.” Ridwan tersenyum simpul.
“Maksudmu?" Prapti terperangah mendengar penuturan anaknya.
TAMAT