Di luar hujan.
Sudah kukatakan berkali-kali kalau aku tidak suka hujan. Tidak suka. Bukan benci. Setiap hujan semua agenda yang kubuat pasti batal. Setiap hujan rencanaku dengan Lars selalu gagal. Sekarang aku harus duduk menunggu sampai hujan itu reda.
Baru kemarin sore kami—lebih tepatnya dia—membuat janji untuk makan spaghetti bolognese sama-sama di restauran ala itali seberang apartemennya.
"Di luar hujan," Dice masuk dengan dua gelas cokelat hangat buatannya.
"Aku tahu."
"Di luar hujan."
Kali ini aku tidak menjawab. Dice selalu suka membuatku kesal karena mengulang perkataan. Menurut Dice aku menggemaskan kalau sedang kesal, Lars saja tidak pernah bilang begitu.
Kali ini aku sudah kesal duluan karena hujan, Lars berjanji mengajakku makan malam bersama sore tadi. Tapi, seolah dia selalu bisa menebak kapan hujan datang, dia selalu membuat janji sebelum hujan.
Dia tahu aku tidak suka hujan. Kalau biasanya gadis-gadis suka bermain hujan agar kelihatan romantis seperti di film-film, menurutku itu norak. Karena dia tahu aku tidak suka hujan (dan sepertinya dia bisa meramal datangnya hujan) maka dia selalu membuat janji sehari atau beberapa jam sebelum hujan dan simsalabim agenda gagal dan tinggal wacana.
Minggu lalu dia mengajakku lari pagi di sekitar apartemennya, hujan turun. Aku merasa wajar saja hujan turun tapi karena masalah janji-janji itu aku jadi jengkel. Intinya, alasan batalnya semua kencan kami hanya karena hujan.
"Di luar hujan," Dice mengulang lagi.
Dice selalu suka kalau aku kesal, seperti sekarang. Padahal sudah berkali-kali kukatakan kalau aku tidak suka ada yang sembarangan masuk ke kamar tapi dia selalu masuk dan berulang mengingatkanku, "di luar hujan."
"Cokelat hangat?"
Aku mengesah, "Lars sepertinya memang peramal, deh."
Dice tertawa, tangannya masih memegang mug berisi cokelat. Dia selalu membuat cokelat hangat setiap hujan, menyelinap ke kamarku dengan kunci cadangan dan membuatku kesal. Selalu begitu. Katanya dia ingin melihatku kesal.
"Memangnya kenapa, sih? Toh, nanti berhenti," ia tersenyum tipis. Hanya aku yang tahu maksudnya.
Aku menggeleng keras. "Hujan. Artinya jalanan becek dan rencana gagal."
"Kalau begitu nggak perlu mikirin Lars."
"Dia suamiku."
"Masa? Tapi kalian bahkan tinggal di apartemen yang berbeda. Berapa kali kalian ketemu tiap bulan? Sekali? Dua kali? Kadang nggak sama sekali? Eits, aku hapal polanya, kok. Tiap kalian mau janjian keluar bareng hujan turun, kadang dia harus ke luar kota—"
"Dia suamiku!" Aku mendengus. Menggoyangkan gelas dan menciptakan riak kecil, seperti melihat genangan lumpur di jalan becek setia habis hujan.
Oh, God! I hate rain!
"Kenapa kalian nggak tinggal bareng? Dia nggak mau?" Dice tersenyum lagi. Sekarang aku mulai malas melihat senyumnya.
"Kenapa kesannya kayak kamu kamu memojokkan aku? Aku cuma kesal gara-gara acara jalanku gagal," aku menggantung kalimat. Diam sebentar kemudian melanjutkan, "dia selalu pergi. Maksudku pekerjaannya memang nggak bisa dilakukan di rumah. Daripada tinggal berdua tapi selalu sendiri lebih baik dari awal kita pisah."
Dice mengangguk. Entah dia mengerti atau tidak, yang jelas senyumnya itu masih belum hilang. Dia ingin membuatku kesal lagi. "Jadi, kalian bukan suami-istri lagi?"
"Dia suamiku!"
"Kalian pisah kamar. Bahkan gedung apartemen kalian beda. Kapan terakhir kali kamu kirim surel? Chat? Atau posting foto berdua? Kurasa nggak ada." Ia mengangkat bahu. Makin membuatku kesal. "Intinya kamu kesepian, kan?"
"Nggak! Aku cuma kesal."
"Terus? Aku dilupakan? Bagaimana malam kemarin?"
Aku bergidik. Senyum Dice masih terkembang.
Aku bukan kesepian. Aku cuma kesal. Sekarang tiap malam selalu hujan, semua rencana batal dan Lars nggak pernah datang. Dice yang selalu menyelinap ke dalam kamarku dan naik ke atas ranjang. **