"Ayaaaaahhhh... ayahhhh jangan tinggalkan Kinanti ayah!"
"Kinanti? Kinanti?" Ibu Kinanti mencoba membangunkan Kinanti dari mimpi buruknya.
"Ibu?" Kinanti memeluk erat tubuh ibunya ia mengingat kembali saat ayahnya pergi meninggalkan nya untuk selamanya.
Ayahnya adalah sosok yang sangat menyayangi Kinanti karena ia adalah putri semata wayangnya. Apapun yang diinginkan oleh Kinanti pasti ia penuhi. Tapi setelah usaha ayahnya bangkrut karena ditipu oleh rekan bisnisnya, ayah Kinanti pun mendadak terkena serangan jantung dan setelah dirawat berhari-hari akhirnya ayah Kinanti menghembuskan nafas terakhir nya di rumah sakit.
"Sayang, kamu harus pergi ke kampus kan hari ini?"
"Iya, Bu. Kinanti siap-siap dulu ya?"
"Iya sayang, ibu juga sudah siapkan sarapanku."
"Terima kasih, Bu."
Kinanti mengecup pipi ibunya lalu ia segera pergi ke kamar mandi dan bersiap-siap. Setelah sarapan ia lalu pergi menuju kampus nya.
Kinanti mengendarai pelan Vespa tua milik almarhum ayahnya. Menyusuri setiap jalanan yang asri nan teduh oleh pepohonan di pinggiran. Hanya Vespa itu kendaraan satu-satunya yang ia miliki karena keadaan ekonomi keluarganya saat ini yang semakin memburuk. Tapi Kinanti adalah mahasiswa teladan dan berprestasi ia mendapat beasiswa hingga akhir semester di kampusnya.
Dia memiliki seorang sahabat laki-laki bernama Dodo. Dodo dikenal sebagai laki-laki culun yang selalu memakai kaca mata besar dan kerah baju yang di kancing kan.
Dodo selalu menunggu Kinanti di depan gerbang kampusnya. "Hmmm... tumben Kinanti datang terlambat. Apa dia bangun kesiangan ya?"
Di tengah perjalanan tiba-tiba Kinanti terjatuh dari Vespa tuanya karena ada batu di depan nya.
"Ahhh! Sakit sekali."
"Hahaha... dasar bodoh!"
"Bodoh? Siapa yang dia maksud?"
Kinanti membuka helmnya dan memperhatikan wajah laki-laki yang mengatakan bodoh. Ia melihat ke kanan dan ke kiri jalanan itu tapi hanya ada dia dan laki-laki itu di sana. Itu artinya laki-laki itu memang berbicara kepada nya.
"Apa kamu mengenal ku? Mengapa kamu seperti tidak menyukai ku? Apa salahku padamu?"
"Cih! Apa perlu aku mengungkapkan teori kebodohan mu itu? Hahaha."
Laki-laki itu kemudian menghidupkan mesin motor ninjanya dan sengaja menyalakan mesin itu dengan keras agar Kinanti terganggu oleh ulahnya. Laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan Kinanti yang kesakitan karena sikut dan lututnya berdarah.
Kinanti mengamati dari belakang laki-laki yang bertubuh besar dan tinggi itu. "Sombong!" ujar Kinanti keras sambil menyumpahinya terjatuh juga dari motor ninjanya itu.
Dengan tertatih dan perih Kinanti mencoba menghidupkan kembali mesin motor Vespa tuanya itu, tapi sayangnya mesin itu tidak kunjung hidup. Terpaksa Kinanti mendorong nya hingga sampai di kampusnya.
"Kinanti? Apa yang terjadi?" tanya Dodo yang sudah lama menunggu Kinanti di depan gerbang.
"Aku mengalami kesialan hari ini. Aku jatuh dan mesin motor ini tidak mau hidup."
"Yasudah, ayo kita masuk ke kelas dan Dodo akan mengobati lukamu. Nanti Dodo juga akan menemanimu ke bengkel ya?"
"Terima kasih banyak Dodo?"
"Iya, Kinanti."
Dodo dan Kinanti pun masuk ke kelasnya. Untunglah hari ini tidak banyak mata pelajaran di kampus yang harus Kinanti ikuti, ia jadi bisa pulang lebih awal untuk pergi ke bengkel.
"Kinanti, bagaimana kalau kita pergi ke bengkel milik teman baikku. Dia sangat ahli dalam memperbaiki mesin motor tua seperti ini," ujar Dodo.
"Baiklah, terserah padamu, Do. Aku sudah menyerah dengan motor ini."
"Hei... jangan putus asa, bagaimana pun juga kamu harus tetap menjaga dan merawat peninggalan satu-satunya dari ayahmu ini."
"Hmmm... ia kau benar."
Dodo membantu Kinanti mendorong Vespa itu menuju bengkel milik teman nya.
"Do kamu haus gak?"
"Iya Kinanti."
"Berhenti dulu yuk, itu ada tukang es kelapa muda di sana, aku beli dulu ya? Kamu tunggu di sini!"
"Baiklah."
Kinanti pun berjalan menuju tukang es kelapa muda dan membeli dua bungkus untuknya dan untuk Dodo.
"Ini untukmu, Do!"
"Terima kasih Kinanti?"
"Sama-sama."
Setelah hilang dahaga, mereka pun melanjutkan perjalanan nya.
"Hah! Akhirnya sampai juga," ujar Dodo.
"Do, ini benar bengkel milik teman mu?" tanya Kinanti penasaran.
"Ya benarlah Kinan. Sepertinya kamu tidak percaya kepadaku."
"Iya aku percaya kok."
"Sebentar ya aku mau panggil temanku dulu. Nah, itu dia orang nya. Ren... Rendra?"
Laki-laki itu tersenyum kepada Dodo. Saat melihat sosok laki-laki itu seperti nya Kinanti pernah bertemu dengan nya.
"Laki-laki itu kan?"
"Hai Dodo, ada perlu apa kemari?" tanya Rendra ramah kepada Dodo.
"Kenapa dia ramah sekali kepada Dodo, sedangkan kepadaku dia terlihat sangat benci," batin Kinanti.
Kinanti kemudian menunduk dan mencoba menyembunyikan wajahnya.
"Ren, mesin motor teman ku rusak dan tidak mau hidup. Apa kamu bisa memperbaiki nya?"
"Temanmu? Aku kira motor milikmu."
"Oh iya ini kenalkan teman sekampus Dodo, namanya Kinanti!"
Kinanti pun menatap tajam ke arah Rendra yang membuat Rendra terkejut dan semakin membencinya karena ternyata teman Dodo adalah wanita yang ia temui tadi pagi.
"Kinanti!" ujar Kinanti yang terpaksa memberikan senyuman palsu dan melambaikan tanganya kepada Rendra karena tidak enak kepada Dodo.
Rendra hanya diam dan langsung memperbaiki mesin motor milik Kinanti tanpa menghiraukan lambaian tangan Kinanti.
"Dodo, kamu yakin dia bisa memperbaikinya?" tanya Kinanti ragu dan cemas jika motor nya akan semakin parah kerusakan nya.
"Tenang saja Kinanti, Dodo yakin dia bisa memperbaikinya."
Rendra memperbaiki mesin motor itu sambil sesekali melirik ke arah Kinanti dan memberikan tatapan yang tidak suka kepadanya. Kinanti kebingungan dengan sikap aneh yang ditunjukkan oleh Rendra, karena ia merasa tidak pernah punya salah apapun kepada laki-laki itu.
Setelah menunggu selama satu setengah jam akhirnya motor tua itu pun hidup kembali.
Dodo menepuk bahu Rendra dan memujinya berkali - kali di depan Kinanti. "Wah kamu memang hebat Ren, aku sangat beruntung memiliki teman sepertimu."
"Terima kasih, Do."
"Jadi berapa biayanya?"
"Ahh tidak usah, Do. Kamu ini seperti kepada orang asing saja. Tapi aku harap kamu berhati-hati dan jangan terlalu dekat dengan wanita manapun karena mereka bisa saja berkhianat!" ujar Rendra sambil menatap tajam kepada Kinanti.
Kinanti bagaikan di sambar petir disiang bolong saat mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Rendra yang lagi-lagi membuat nya kebingungan.
"Hahaha... Rendra kamu ini ada-ada saja. Tidak mungkinlah aku hanya dekat dengan Kinanti, dan Kinanti ini adalah wanita yang sangat baik hati dan suka menolong orang."
"Baiklah, terserah padamu saja."
"Yasudah kalau gitu kita pamit ya Ren, sekali lagi terima kasih?"
"Sama-sama."
Dodo dan Kinanti pun meninggalkan bengkel milik Rendra dan pulang ke rumahnya.
Di perjalanan Kinanti kembali bertanya kepada Dodo. "Do, kamu kenal di mana sama laki-laki itu?"
"Dia itu teman sekelas ku waktu SMA. Dia sangat pintar dan berbakat dibidang mesin makanya dia langsung di beri kepercayaan oleh orang tua nya untuk mengelola bengkel besar itu."
"Oh, begitu! Lalu kenapa ya dia seperti membenci wanita?"
"Masalah itu Dodo juga kurang tahu, karena dia sangat tertutup soal cinta."
"Hmm... baiklah. Ehh gak kerasa udah mau nyampe di rumah mu. Dodo makasih ya udah nganterin ke bengkel?"
"Dodo yang harusnya berterima kasih karena sudah mau mengantar sampai rumah. Oh ia hati-hati ya Kinanti, jangan sampai jatuh lagi!"
"Iya, Do. Aku akan hati-hati. Sampai jumpa?"
"Sampai jumpa."
Kinanti pun kembali mengendarai motor nya menuju rumahnya. Tapi di tengah perjalanan tiba-tiba hujan lebat yang membuatnya harus berhenti di tengah jalan dan berteduh di dekat pohon besar.
Saat ia sedang berteduh ia melihat ninja milik Rendra dari kejauhan. Rendra pun melihat motor milik Kinanti dan tidak memperhatikan jalan. Tiba-tiba saja Rendra terserempet mobil yang sedang melaju kencang di depan nya yang membuatnya terpental jauh hingga menabrak pembatas jalan.
Kinanti yang melihat kejadian itu langsung saja berlari menghampiri Rendra dan tidak memperdulikan bajunya yang basah terkena air hujan.
Mobil yang menyerempet Rendra pun sudah tak terlihat lagi. Kinanti segera membuka helm Rendra dan melihat darah yang mengalir di kepala Rendra.
"Rendra apakah kamu masih bisa melihatku? Rendra! Sadarlah! Tolooongggg... toloooong!"
Kinanti membuka jaket tipis miliknya kemudian ia gunakan untuk mengelap darah yang keluar dari kepala Rendra.
Kinanti pun segera berlari untuk meminta bantuan kepada warga di sekitar. Setelah mendapat pertolongan Rendra pun segera di larikan ke rumah sakit.
Kinanti menunggu selama Rendra berada di rumah sakit karena dia tidak tahu harus menghubungi siapa. Kinanti menunggu Rendra sadar agar Rendra bisa memberi tahu nomor telepon orang tua nya.
Setelah mendapat perawatan malam harinya Rendra pun sadar dan melihat Kinanti disampingnya. Kinanti menggigil kedinginan karena hujan yang membasahi tubuh dan pakaian nya.
Rendra mencoba duduk dan meraih tangan Kinanti untuk menghangatkan tubuh gadis itu.
"Maafkan aku?" ujar Rendra.
Kinanti terkejut saat mendengar kata-kata maaf dari mulut Rendra.
"Maaf? Seharusnya aku yang meminta maaf, aku sudah menyumpahimu sehingga kamu mengalami kecelakaan."
"Tidak! Kamu memang pantas menyumpahiku. Aku membencimu karena wajahmu mengingatkan ku pada mantan kekasih ku. Wajahmu sangat mirip dengannya hingga dendam ku kembali muncul saat melihat wajahmu pertama kali. Dia mengkhianati ku dan bermesraan dengan laki-laki lain di depan mataku padahal aku sudah berencana untuk meminang nya."
"A-aku tidak tahu soal itu. Aku turut prihatin dengan masalah pribadimu."
"Sekarang aku yakin bahwa kamu memang bukanlah dia. Dia tidak akan mungkin menolong ku dan rela berkorban untukku."
Rendra pun semakin kencang memegang tangan Kinanti yang membuat jantung gadis itu semakin berdebar. Inilah kali pertama ia merasakan getaran cinta dalam hatinya.
Rendra kemudian memeluk tubuh Kinanti yang menggigil kedinginan. Setelah kejadian itu Rendra semakin dekat dengan Kinanti. Setiap hari Rendra mengantar dan menjemput Kinanti dari kampus.
Dodo pun merasa heran mengapa mereka bisa menjadi sedekat itu karena Kinanti tidak cerita apapun kepadanya.
Bekas pengkhianatan yang dialami Rendra kini sudah sirna sejak kehadiran Kinanti disisinya. Rendra pun tak ingin berpacaran dengan Kinanti. Ia segera mengenalkan Kinanti kepada orang tua nya sebagai calon istrinya.
.
.
.
Tamat.