Adi dan Dino adalah saudara kembar mereka selalu bertengkar dan tidak pernah akur mereka duduk di bangku kelas empat, hobi mereka adalah makan. Setiap hari mereka akan bertengkar tak lain adalah karena makanan, ayah dan ibu mereka pergi keluar kota untuk memenuhi tugas kantor, Adi dan Dino di titipkan bersama kakek dan neneknya di kampung, dan kebetulan saat itu mereka libur akhir semester.
“Udaranya sangat sejuk di sini, gak seperti dikota sangat panas dan tidak ada pohon-pohon seperti disini” ucap Dino pada kakeknya.
“Itulah mengapa kakek dan nenek tinggal disini, bukan?” sambung Adi.
“benar sekali, dikota sangatlah berisik dan kakek sangat tidak suka dengan kebisingan” jawab sang kakek.
Pagi yang cerah itu tiba-tiba menjadi mendung seakan hujan akan turun
“kek, sepertinya akan turun hujan” ujar Dino menatap langit yang menjadi gelap.
“Syukurlah kalau akan hujan, disini sudah beberapa bulan hujan tidak turun”.
“Kek, nenek dimana?”Tanya Adi celingukan mencari sosok nenek nya. “Nenekmu lagi di dapur sedang menggoreng pisang buat sarapan kita” jawab sang kakek.
"Horaaaa, kita akan makan pisang goreng” ucap serempak kedua kembar itu. “Sudah lama aku tidak makan pisang goreng buatan nenek, pokoknya aku yang paling banyak”ucap Dino girang.
"Akulah yang paling banyak, aku kan kaka disini” ujar Adi gak mau kalah.
"Sudah, sudah semuanya pasti sama”tutur kakeknya sambil melihat kearah luar butiran-butiran air berjatuhan dari langit hingga deras.
"Humm bau hujan sangat wangi kek, dan aromanya sangat khas” ucap Adi.
“iya mengapa hujan disini baunya sangat khas berbeda dengan dikota baunya tidaklah sedap” sambung Dino mengendus-ngendus hidungnya.
“Sangatlah berbeda, antara kota dengan di desa, dikota banyak sekali polusi udara, sedang didesa tidak. Di desa memiliki banyak sekali tumbuhan dan pohon-pohon yang besar. Aroma yang kalian cium barusan bernama petrichor “jelas kakenya yang dulu adalah sarjana pendidikan kimia.
“Petrichor ini adalah sebutan bagi aroma hujan yang sangat khas setelah musim kemarau panjang"Jelasnya lagi.
"Oh seperti itu yah kek.
Terus kek, dari mana petrichor itu berasal?” tanya kedua cucunya serempak.
“Petrichor itu berasal dari adanya reaksi kimia dari minyak alami yang di produksi oleh beberapa jenis tumbuhan yang dilepas ke udara, kemudian ada senyawa bernama goesmin yang diproduksi oleh bakteri yang tinggal di dalam tanah. Belum selesai kakek menjelaskan nenek sudah bersuara dari arah dapur.
“pisang goreng telah siap” ucap sang nenek dari arah dapur menuju keruang depan.
“Hmmmm,,,, ini sangatlah wangi daripada aroma hujan tadi.” Canda Adi.
Kakeknya hanya tersenyum melihat tingkah cucu-cucunya itu.
“pokoknya aku yang paling banyak” ujar Dino”.
“Sudah-sudah kenapa kalian malah ribut, kalian ini kan saudara kembar seharusnya kalian tidak boleh bertengkar apalagi soal makanan” jelas neneknya melerai perdebatan cucu-cucunya itu.
Sang kakek melihat kearah semut yang saling menyapa satu sama lain. “Lihatlah semut-semut itu!” tunjuk kakek kearah sekumpulan semut yang bekerja sama dalam mencari makanan.
“Ada apa dengan semut-semut itu kek?” tanya kedua cucunya itu.
“Tidakkah kalian lihat, semut-semut itu bukanlah saudara kembar seperti kalian tapi mereka masih menyapa semut-semut yang lain dan hidup rukun tidak ada pertengkaran di antara mereka, bahkan mereka bahu-membahu dalam berbagi” jelas kakeknya panjang lebar. Kedua kembar itu hanya terdiam merenungi perkataan kakeknya itu sambil menyantap gorengan yang ada di tangan mereka.
"Jadilah seperti semut-semut itu yang hidup rukun cucu-cucuku”ucap neneknya membelai rambut kedua cucunya.
“Coba kalian lihat para semut itu, mereka adalah binatang dan kita adalah manusia yang lebih baik daripada mereka, maka kita harus malu jika kita kalah dengan kehidupan mereka” tutur neneknya menasehati kedua cucunya.
“Maafkan kami kakek, nenek” ucap kedua anak kembar itu mereka mengahambur dalam pelukan nenek dan kakeknya. “Kami janji kami tidak akan bertengkar lagi”ujar keduanya berjanji.
“Ini baru cucu kakek” kata kakenya tersenyum. "Makasih kek, nek, kami mendapatkan ilmu yang sangat berharga yang tidak akan pernah kami lupakan".
“Sudahlah sekarang nikmati lagi pisang gorengnya”. Ucap sang nenek tersenyum lebar.
Mereka pun tersenyum bahagia dan kembali menyantap pisang goreng raja itu.
“Nek” panggil Dino. “iya, ada apa cucuku?” tanya sang nenek menatap kearah Dino sambil tersenyum.
“Nenek bilang, nenek akan menceritakan kisah seorang ibu yang menjadi putri duyung, ayuk ceritain nek, Dino pengen mendengarnya” jelas Dino sambil memasang wajah memohon dan lucu itu.
“iya nek ayok ceritakan, kenapa ibu itu bisa berubah menjadi putri duyung” Adi memohon dan merayu neneknya yang sudah tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah lucuh milik Adi dan Dino.
“Kau bahagia sekali Siti, menggoda Adi dan Dino” ucap kakek Dalang pada istrinya. Yah nama kakek dan nenek itu adalah kakek Dalang dan nenek Siti.
“Iya, iya, tapi kalian habisin dulu makanan di mulut kalian, tuh wajah kalian sampai belepotan”
“Hahahhahahahahah” ketawa nenek siti dan suaminya pun ikut tertawa melihat kegaduhan cucu-cucunya. “Kami sudah selesai, sekarang nenek harus menceritakannya pada kami, ok” pinta Adi dan Dino sambil berlagak seperti preman.
“Sepertinya kedua cucu kita benar-benar habis kesabarannya, cepat kamu ceritakan atau kamu pasti akan...” belum sempat selesai, Dino memotong pembicaraan kakeknya. “Ayoklah nek, ceritakanlah, aku dan Adi sudah tidak sabar lagi nih” Dino menggoyang-goyang lengan neneknya yang sudah berkeriput itu.
"Ok, ok nenek akan bercerita tentang kisah Putri duyung”. Nenek Siti menarik napas panjang lalu dihembuskan secara perlahan.
Dino, Adi dan kakek serius menatap wajah nenek Siti tak sabar mendengarkan kisah sang putri duyung.
“Pada suatu hari, seorang ibu bernama Mina meminta anak-anaknya untuk tidak memakan makanan ayahnya di meja. Mina memiliki anak dua orang satu berumur sebelas tahun dan yang satunya lagi masih berumur dua tahun anak pertamanya bernama Lina, Lina sering menjaga adiknya, sedang ayahnya bernama Darsono ia bekerja di sawah. Mina yang waktu itu sedang pergi ke pasar untuk membeli sayuran” jelas nenek Siti.
"Apakah nantinya ibu Mina akan menjadi putri duyung?” Tanya Adi dan Dino begitu penasaran.
“Huuuuum”nenek Siti bergumam. “jadi adik Lina itu menangis karena sudah lapar, dan tidak ada lagi makanan selain makanan ayahnya dengan terpaksa Lina mengambil makanan itu untuk adiknya. Ayahnya yang sudah lapar pulang dan tidak ada makanan Darsono pun marah, ia melihat Mina baru saja masuk ke rumah. Darsono benar-benar muak kepada Mina sampai ia menyuruh Mina untuk mencari ikan di laut. Mina tidak bisa pulang ke rumah sampai ia menemukan ikan untuk suaminya.
Nenek Siti tersenyum melihat wajah suaminya dan cucu-cucunya yang begitu antusias mendengar ceritanya, dan sangat terlihat lucu.
“Setelah itu apa yang terjadi pada Mina Nek?” kali ini kakek Dalang angkat bicara.
"Kemudian Mina pergi ke laut, ia terus menangis sejadi-jadinya, sesampainya di laut Mina mencari ikan tapi tidak dapat juga. Berhari-hari, berminggu-minggu, dan tubuh Mina sudah di tumbuhi sisik-sisik ikan sampai pada akhirnya Mina pun berubah menjadi putri duyung. Darsono sangat menyesali perbuatannya, anak-anaknya terus menangis merindukan ibunya. Mina pun lalu pergi ke laut Cina Selatan meninggalkan kampung halamannya dan keluarga kecilnya.
"Kasihan Lina dan adiknya, mereka pasti sangat sedih sekali" ujar Adi dengan wajah sedihnya.
“Nek, apakah cerita itu nyata?” tanya Dino.
“itu hanya mitos sayang, tapi kita bisa mengambil hikmah dari cerita tersebut" jelas nenek Siti.
“Itulah akibat dari kemarahan, jadi kalian berdua jangan sekali-kali mengambil keputusan dalam keadaan marah” kata kakek Dalang menasehati. “Benar kata kakek kalian, Jangan melakukan sesuatu hal dalam keadaan marah jika kau tidak ingin hal yang buruk menimpamu". Sambung nenek Siti tersenyum kearah kedua cucunya itu.
“iya kek, nek, kami berdua akan selalu mengingat kisah ini, kami akan selalu menyelesaikan masalah dalam keadaan baik dan berhati sehat terimakasih nek, kek, kami menyayangi kalian" tutur keduanya dan langsung berhambur ke pelukan sang nenek dan kakek.