Jessica POV...
Namaku adalah Jessica, umurku 22 tahun. Aku mempunyai 3 adik. 2 adik laki-laki dan 1 adik perempuan, usia adik pertamaku aku 15 tahun. usia adik keduaku 13 tahun, dan adik terkecil ku berusia 10 tahun.
Ibuku meninggal 5 tahun yang lalu, ayahku tiba-tiba pergi dengan alasan mencari nafkah untuk membiayai kami semua. Waktu itu usiaku masih 17 tahun.
Aku harus menjadi pengganti ibu dan ayah. Aku membanting tulang untuk membiayai kehidupan adik-adikku. 17 tahun.. waktu itu aku masih kelas 3 SMA. Aku harus bekerja sekaligus sekolah, hingga suatu ketika saat akan memasuki akhir semester. Aku harus memutus sekolah karena biaya yang terlalu tinggi, apalagi sekolah adik-adikku harus terus berlanjut.
Aku memutuskan untuk tdk melanjutkan sekolah ku, aku lebih memilih untuk menyekolahkan ketiga adik-adik ku.
Terasa berat beban yang harus aku jalani, hingga suatu ketika..aku harus terjerumus di dunia gemerlap malam. Karena tuntutan hidup untuk membiayai kehidupan adik-adikku.
Malam kelam itu terjadi, saat aku harus menjual kehormatan ku kepada seorang pria yang tak kukenal. Demi membiayai adikku yang terkecil di rumah sakit. saat ada seseorang menabrak adikku dan meninggalkan nya koma.
Saat itulah kehancuranku dimulai. Beban yang harus aku tanggung karena kebodohan ku. di tambah aku hamil karena kejadian itu.
Berat. begitu berat beban yang harus aku hadapi. Usiaku 19 tahun, namun aku harus memiliki seorang putri, dan menghidupi ke 3 adik-adik ku.
Aku harus menerima hinaan di setiap langkahku. Aku harus menerima semua ejekan karena kesalahanku. Ingin aku mengakhiri hidupku yang terasa berat ini. Namun, suatu ketika kulihat wajah ke-4 bocah yang sangat memilukan di hadapanku. Adikku masih harus melanjutkan kehidupannya. Sedangkan aku baru melahirkan seorang putri dari hasil Aku menjual tubuhku untuk menyelamatkan hidup adikku.
3 tahun kemudian...
Saat ini usiaku 22 tahun. Putriku berusia 3 tahun, adikku yang pertama berusia 15 tahun, yang kedua 13 tahun dan yang terkecil 10 tahun.
Aku telah menjual rumahku dan memilih untuk membeli rumah kecil di suatu tempat yang tidak ada orang mengenaliku.
Aku takut masa laluku akan berdampak pada adik-adikku dan putri kecilku.
"Celamat pagi, Bunda!" ucap putri kecilku. Memang dia cadel kalau berbicara..
Putriku bernama Amaira. adik per tamaku bernama Bagus. yang kedua Raditya yang ketiga Almira. Adik adikku sangat menyayangi putriku, aku membuka usaha rumah makan kecil di tempat baru kami.
Memang tidak terlalu besar, namun sedikit demi sedikit empat tahun berjalan membuat usaha aku sedikit berkembang. saat pulang sekolah, ketiga adik-adikku selalu membantuku. Sedangkan putri kecilku ya.... karena dia masih kecil, terkadang dia selalu rewel dan suka mengganggu saat aku bekerja.
Rumah makan ku mempunyai 2 pelayan yang bertugas memasak dan menyajikan, karena aku tidak mampu untuk menggaji banyak orang. karena saat pulang sekolah adik-adikku selalu membantu di rumah makan ku, aku selalu menerima pesanan apapun. Bahkan menerima pesanan membuat kue, menjahit baju dan sebagainya. Aku tidak pernah menolak rezeki yang diberikan oleh Tuhan kepadaku.
"Jessi, bulan ini pesanan kita sangat banyak. Apakah tidak kewalahan jika tidak meminta bantuan seseorang," ucap Mbak Dina. tetanggaku yang selalu membantu di rumah makan ku.
"Entahlah Mbak. Tapi, kalau dia dipakai cuma beberapa hari kan kasihan," jawab ku.
"Tapi kan Jessie.. kita juga membutuhkan orang-orang beberapa untuk membantu pesanan kita satu bulan ini. Kan lumayan mereka ada pemasukan," ucap Mbak Darti yang membawa beberapa loyang makanan kering pesanan untuk beberapa toko.
"Apa mereka mau Mbak? kalau cuma 1 bulan saja kan kasihan," jawabku.
Aku merasa tidak enak, jika harus memakai jasa seseorang hanya untuk sebulan. Mungkin mereka membutuhkan untuk jangka waktu yang panjang.
"Kita berdoa saja, semoga pesanan ini semakin lama semakin banyak. jadi kita bisa menerima pegawai baru," ucap Mbak Darti.
"Benar, Jessie! semoga warung makan mu yang juga jadi tumpuan hidup kami ini, semoga berjalan lancar dan bisa berkembang. Sehingga kita bisa selalu bekerja untukmu," ucap Mbak Dina. yang kemudian tersenyum menatapku.
Aku selalu berterima kasih kepada mbak Darti dan Mbak Dina yang selalu menolongku, Mereka berdua adalah orang-orang yang terbaik.
** bersambung ***