"Aku ini orangnya lembut jadi kita mainnya pelan-pelan saja," Henry Von Gabriel.
🦋🦋🦋
Henry POV
===========
2 Minggu semenjak kejadian dimana kami membunuh orang b*ngsat berserta komplotannya. Benar-benar menyenangkan! Yaah walaupun kak Carl tidak menyukainya tapi tidak masalahkan yang penting aku menikmatinya.
Sudah beberapa hari ini kami tidak berburu dan hal itu membuat dadaku sesak. Oh God! Aku sudah tidak tahan lagi! Aku ingin melihat jus merah itu lagi, membayangkannya saja sudah membuatku bergairah. Aku ingin membunuh lagi. Tapi pastinya kedua sahabatku itu pasti tidak akan setuju dengan ku sekarang.
Mereka lebih memilih untuk bertaut dengan tumpukan kertas yang membuatku mual, mencium baunya saja membuatku ingin muntah. Aku mendesah lelah sambil menangkup wajahku ke meja. Sekarang kami berada di perpustakaan sekolah untuk belajar, mereka berdua lebih tepatnya.
"Baca buku kek, apa kek sono!" suara Ciel membuatku semakin lelah saja.
Aku langsung membalasnya, "Kamu tahu sendiri kan aku ini orangnya anti yang begituan!"
Ciel tertawa hambar, "Kamu ini berlebihan sekali, setidaknya buku bisa membuatmu pintar," sindirnya membuatku kesal.
Aku tahu kalau diriku ini tidak suka belajar tapi nilaiku tidak jelek-jelek amat aku masih dapat peringkat teratas ya walaupun sering pindah-pindah posisi kadang pertama kadang kedua kadang ketiga dan begitu terus seperti siklus saja.
Tentunya mereka sendiri adalah saingan ku dalam akademik. Walaupun tidak suka belajar setidaknya otakku masih lancar, "Jangan sombong seperti itu, lihat saja akan ku rebut posisimu!" ujar Ciel seakan tahu apa yang aku pikirkan.
Aku menatapnya sebal, "Terserah kamu saja!"
"Kenapa aku bisa memiliki sahabat sepertinya?" rutukku dalam hati.
Pandanganku beralih ke Arion yang lebih asik dalam dunianya sendiri ketimbang bergabung dengan kami. Tidak ada yang tahu dengan pikiran prince of ice satu ini.
Aku menatap mereka satu-persatu, "Hei ...,"
Belum juga aku menyelesaikan kalimatku, Ciel sudah memotongnya, "Tidak," Ciel menatapku tajam, "Kendalikanlah harsatmu itu Henry, hawa membunuhmu itu membuatku sesak."
Aku mengerucutkan bibirku, "Iya."
Kecewa? Oh tentu saja!
"Sudahlah lebih baik aku kembali ke kelas," aku menggeser kursi dan pergi meninggalkan mereka.
Ku tutup pintu dengan kasar dan mengundang perhatian semua orang di sana. Dapat terlihat dari wajahku kalau sekarang aku sedang badmood. Aku terus menggerutu dan tanpa sengaja menyenggol seseorang. Aku segera menahan tangannya agar tidak bersentuhan dengan lantai. Kan sakit. Tunggu kok aku peduli ya?
Aku terdiam, menatap gadis dengan rambut coklatnya itu dan dia terlihat sangat kesal, "Hei kalau jalan tuh pakai mata!" teriaknya emosi.
Huumm ... sepertinya pergi ke kelas aku tunda saja.
"Dimana-mana orang kalau jalan itu pakai kaki," celetuk ku dan berhasil membuatnya terbawa emosi.
Ingin rasanya aku tertawa melihat ekspresinya itu, "Kamu ...." dapat dilihat kalau dia tampak sangat gregetan. Oke aku tidak tahan lagi! Aku ingin tertawa sekarang.
Dia melotot padaku, "Kamu gila ya?"
"Yang gila disini adalah kamu, Bella," kataku santai.
Isabelle menatapku garang seolah-olah tatapannya itu bisa menelanku hidup-hidup. Aku langsung merangkul bahunya, "Santailah Bella, jangan marah nanti kamu cepat tua loh," godaku.
"Yang tua itu kamu," tunjuknya tepat dia wajahku, segera ku turunkan jarinya itu sebelum aku mematahkannya.
Aku tertawa lirih, "Bagaimana kalau kita ke kantin saja?" usulku dan menariknya tanpa persetujuan darinya.
Saat kami di kantin langsung ku dudukkan dia kursi disampingku, "Pesanlah sesuatu, aku yakin kamu lapar. Tenang aku yang bayar kok," ujarku mengeluarkan senyuman andalanku.
Dia tampak ragu dan masih diam tidak meresponku, "Aku tidak akan lari kok, pesanlah."
"Aku ... aku tidak mau!" Isabelle langsung berdiri dan berniat untuk meninggalkan ku jika aku tidak menahan tangannya.
"Jangan begitu dong ... anggap saja sebagai ucapan permintaan maafku," kataku sedikit memaksa, "Ayo duduklah," dengan sangat terpaksa Isabelle pun duduk.
"Nah gitu dong," aku tersenyum lebar, "Maafkan aku oke? Jadi ... kamu mau makan apa?"
Isabelle menatapku benci, "Aku tidak butuh permintaan maafmu," ketusnya dingin.
Aku memainkan rambut coklatnya itu, "Kenapa tidak? Ayolah Bella, kamu tahukan kalau aku ini pemaksaan," godaku.
Isabelle membuang muka, "Aku mau minum jus saja."
Aku mengangguk, "Bi, aku pesan jus mangga dua sama bakso dua ya."
Manik birunya langsung menatapku, "Aku kan tidak bilang ingin makan," katanya kasar.
Aku mencoba untuk sabar, "Bella sayang ... aku tahu kamu itu lapar jadi apa pun yang aku pesan harus dimakan, kamu mengerti?" aku memainkan rambutnya.
"Aku tidak mau kamu gila!" hardiknya kasar.
Kalau saja disini bukan tempat umum mungkin sudah ku jahit mulutnya itu, "Sayang, kenapa kamu mengatai ku begitu?"
"Berhentilah memanggilku begitu, kamu membuat telingaku iritasi!" teriaknya kasar.
Ku remas tangannya, "Sayang," panggilku lagi kali ini dengan nada yang tidak bisa, Isabelle pun memalingkan wajahnya dariku.
"Kenapa kamu masih saja menganggu ku padahal hubungan kita sudah berakhir," ucapnya sedikit terisak.
Aku membelai rambutnya, "Kamu benar, kenapa ya ... balas dendam mungkin," dia menatapku ngeri dan sedikit menjauh, aku tertawa lirih, "Bella sayang ... inikan salahmu juga, coba kamu tidak selingkuh dibelakangku mungkin kejadian Minggu lalu tidak akan pernah mempermalukanmu," ujarku memangku dagu dan tersenyum padanya.
Aku teringat Minggu lalu saat-saat dimana aku menyebar foto naked Isabelle dengan kekasih gelapnya, aku benar-benar kecewa saat itu jadi ku sebarkan saja. Hampir seluruh warga di sekolah mengetahuinya. Dan ekspresi mereka berdua saat itu benar-benar sangat lucu!
Tidak lama pesanan kami datang, "Bella sayang sekarang ayo dimakan," ku sodorkan sendok yang berisi bakso didalamnya dia malah mendorong tanganku dan membuat sendok itu jatuh mengenai serangamku.
"Ah!" aku menatapnya datar.
Dia melotot padaku, "Aku tidak tahan lagi! Jangan dekati aku. Kita sudah tidak ada hubungan lagi! Kamu juga bukan siapa-siapa jadi jangan dekati aku!" bentaknya kasar.
Lalu meninggalkan ku sendirian, "Kamu mengambil keputusan yang salah ... Bella sayang," seringai jahat kembali terukir padaku.
"Bi, uangnya aku letakan di meja!" aku segera keluar dari kantin.
"Sial seragamku jadi kotor," gerutuku melihat cairan kuning di seragam putihku. Sebaiknya aku mengantinya, seingatku Ciel membawa seragam cadangan.
.
.
Aku berhenti di loker Ciel, "Hummmm ... Ciel bilang seragamnya ada di lokernya."
Aku membuka loker itu, aku sedikit tertawa ternyata dia maniak kebersihan juga, "Di mana sih?!" acara memilah-milah ku terhentikan karena sebuah tepukan di bahuku.
"Mau maling ya?" segera ku alihkan pandanganku dan menemukan sahabat masa kecilku selain Ciel dan Arion yaitu Lily Azalea Monica.
"Enak saja. Aku sedang mencari seragam cadangannya Ciel, seragamku kotor," ujarku menunjukkan noda kuning di seragamku.
Lily termangut-mangut, "Kenapa bisa kotor, kamu kan bukan anak-anak kok bisa belepotan makannya?" dia tampak menahan tawa.
Aku memutar mataku malas, "Ini tidak seperti yang kamu duga."
Aku kembali memilah-milah lokernya Ciel dan sekarang terlihat berantakan karena ulahku.
"Aku yakin Ciel akan membunuhmu jika melihat lokernya yang seperti kapal pecah," celetuk Lily melihat isi loker Ciel, memang tidak salah sih, selain maniak buku dia juga maniak kebersihan.
"Hei kalau kamu mencarinya begitu engga bakalan ketemu. Minggir biar aku saja!" Lily sedikit mendorong tubuhku dan memperbaiki isi loker Ciel dan mengambil sebuah seragam putih lalu memberikannya padaku.
"Cari yang begini aja engga becus," ujarnya membuatku cemberut.
Tapi diam-diam aku tersenyum padanya dia memang sahabatku yang baik. Lily menatapku, "Apa?" tanyanya galak. Sebenarnya aku tidak takut sama sekali dengan tatapannya itu malah lucu bagiku.
Aku menggeleng, "Tidak."
"Ohya," Lily menunjuk seragam kotor yang masih aku kenakan dan membuatku bingung, "Nanti berikan padaku, biarku cuci," ujarnya.
"Huumm ... pengen jadi istri baik nih ceritanya?" godaku yang membuat wajahnya memerah.
"Sembarangan, aku kan cuma pengen bantu lagian kamu juga engga becus mengurus yang begituan!" ujarnya menahan malu.
Aku tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi malu-malunya, "Iya iya."
Lily cemberut padaku, "Kamu ini menyebalkan sekali. Kalau begitu aku pergi sebentar lagi mau masuk cepat ganti bajumu sana!" lalu meninggalkan ku.
Mood ku mendadak naik setelah berbicara dengannya dan kulihat beberapa laki-laki di sekitar kami menatap Lily. Ku tatap mereka dengan tatapan mematikan andalanku dan membuat mereka menjauh.
Berani sekali mereka! Ingin ku congkel rasanya mata mereka karena berani mencuri perhatian dari sahabatku!
Oke sekarang aku jadi kesal lagi.
.
.
Sekarang aku sudah mengenakan seragam Ciel dan pergi ke kelas, agak telat sih dikit tapi untungnya kelas kami free jadi tidak perlu repot-repot harus meladeni guru.
Aku segera masuk dan menghampiri dua sahabatku, "Aku kembali," sapa ku kembali dengan ceringai khasku.
Mereka hanya menatapku tanpa ada minat untuk membalasnya.
"Jahat! Setidaknya sambutlah aku!" rengekku mewek. Ciel hanya diam dan kembali fokus pada buku yang memang sejak tadi dia baca sedangkan Arion lebih memilih menikmati pemandangan di luar.
Aku duduk disamping Ciel dengan cemberut karena terabaikan. Tentu saja di abaikan itu sakit! Dapat aku dengar Ciel menghembuskan nafasnya pelan, "Ada apa?" tanyanya tanpa menatapku.
"Setidaknya perhatiakanlah aku!" teriakku gemes dengan malas Ciel menatapku. Dengan tatapan yang seolah mengatakan 'Ada apa sih?'
"Tadi aku bertemu mantan," Ciel menaikan salah satu alisnya, aku menghela nafas, "Dia membentak ku dan menumpahkan sup bakso ke seragamku," ujarku kesal.
"Jadi?"
Ingin ku gantung rasanya sohip ku yang satu ini.
Aku mengerucutkan bibirku dan memperhatikan kesekitar memastikan tidak ada yang menguping, "Bagaimana kalau kita bermain dengannya sedikit," Ciel menatapku datar.
"Kamu ini tidak pernah bisa menahan keinginanmu," ujarnya seperti sangat ingin mencekikku kemudian menghela nafas pelan, "Baiklah tapi hanya kali ini saja, kita harus fokus dengan ujian kenaikan kelas!" aku sangat senang sekarang.
Hai mantan let's play the game.
"Jadi ... kapan kamu ingin bermain dengannya?" tanya Ciel kembali fokus ke bukunya, aku memangku dagu di meja dan berpikir sejenak.
"Sabtu ini?" Ciel tampak mempertimbangkan usulan ku itu.
"Kamu engga sibuk kan Sabtu ini Ciel?" tanyaku.
"Huft, ah sepertinya kamu akan bermain sendirian Henry," ujarnya menatapku datar.
What?!
"Kenapa?" tanyaku agak kecewa.
"Aku harus menemani Liza Sabtu ini," jawabnya, "Kan kamu bisa bermain sendiri, kalau kamu mainnya bersih polisi tidak akan pernah mengetahuinya," lanjutnya.
Aku mengangguk, "Lalu kamu Arion bagaimana?"
Arion menatapku, "Aku ada acara keluarga," jawabnya dingin.
"Baiklah," aku menghela nafas kecewa.
"Jangan kecewa begitu, kata Carl bermain sendiri itu lebih menyenangkan ketimbang ramai-ramai," tuding Ciel.
Benar juga ya, senyumku kembali mengambang.
Tunggu aku Isabelle sayang. Aku terkikik memikirkan ide gila di otakku. Tapi tunggu aku bermain dengannya dimana? Apa di tempat itu saja ya? Humm tidak buruk.
.
.
Author POV
=========
Waktu yang ditunggu-tunggu Henry pun datang, ya pulang sekolah. Kini dirinya berdiri di depan kelas Lily. Menunggu gadis itu keluar, tidak lupa dirinya menenteng seragam putihnya yang kotor. Telinga seakan tuli, mengabaikan teriakan para kaum hawa yang meneriakkan namanya.
Tidak lama Lily pun keluar dan dikejutkan oleh keberadaan Henry kemudian menghampirinya, "Pantas saja tempat ini tiba-tiba jadi kayak pasar, berisik," ujar Lily membuatnya terkekeh.
Henry tersenyum, "Abaikan saja," membuat Lily cemberut, "Jangan cemberut begitu dong ... cemburu yaa?" goda Henry membuat Lily melayangkan tinju dengan cepat Henry menahan kepalan tangannya.
Perempatan tercipta di kepala Lily, "Mati sana!"
Henry tertawa terbahak-bahak, "Duh jangan malu-malu begitu dong Lily sayang," goda Henry lagi membuat Lily gemes sendiri.
"Dih jijik," sindir Lily meninggalkan Henry sambil menghentakkan kakinya.
Henry berlari menyusul Lily, "Woeee tungguin aku!" Lily mengabaikannya dengan cepat Henry mengimbanginya dan menyerahkan seragamnya, "Nih katanya mau mencucinya kan?" Lily merampasnya dari tangan Henry.
Lily menggembungkan kedua pipinya kesal membuat Henry tidak tahan untuk tidak menarik gemas pipi sahabatnya itu, "Akh ... sakit tahu!" Lily mengusap pipinya yang habis jadi korban.
"Jangan marah dong, aku kan cuma bercanda," kata Henry sambil terkikik.
Lily masih mengerucutkan bibirnya, "Kamu menyebalkan sekali."
Henry kembali menggodanya, "Itu bibir minta dicium ya?"
Seketika wajah Lily memerah, "Mati sana!" teriaknya berlari meninggalkan Henry yang tertawa terbahak-bahak.
Memang nih Henry minta di gampar.
Tawanya terhenti ketika melihat mantan yang kini bersama pacar barunya, seringai jahat tercipta di wajah tampannya, "Sampai kapan kamu akan tertawa begitu sayangku. Andai kamu tidak berbuat seperti itu padaku mungkin aku tidak akan begini, huft ...."
.
.
.
Sabtu pukul 01.00 PM
Henry duduk di kafe sambil menikmati kopi yang dia pesan. Manik keemasannya tidak pernah lepas pada sosok lain di depannya yang tampak gelisah.
Karena tidak tahan dengan keheningan orang itu pun membuka suaranya, "Apa yang kamu inginkan dari ku Henry?" tanyanya kasar.
Henry hanya tersenyum, "Jangan kasar begitu dong Bella sayang," Isabelle tampak risih saat Henry memanggilnya begitu.
"Lalu apa yang kamu inginkan dariku?!" tanyanya lebih terdengar membentak, Henry menatapnya tajam.
"Aku kesini hanya ingin mengajakmu bermain denganku, aku bosan tahu," kata Henry.
"Bermain? Apa maksudmu?!"
"Sudah aku bilang beberapa kali kan jangan tinggikan suaramu ketika berbicara padaku," ujar Henry dingin sangat dingin malah.
Isabelle bungkam tetapi sorotan matanya memandang Henry antara benci dan jijik sekaligus takut. Henry tertawa lirih, "Jangan memandang ku seperti itu dong," Isabelle memalingkan wajahnya kesal.
"Ohya bagaimana kalau kita jalan-jalan?" Henry berdiri dan menarik tangan Isabelle keluar kafe.
Isabelle berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Henry, bisa gawat jika kekasihnya melihat dirinya jalan-jalan berdua dengan mantan pacarnya.
"Lepaskan tanganku Henry!" bentak Isabelle.
Bukannya melepaskan Henry malah semakin mengeratkan genggaman tangannya, "Sttt ... jangan bentak-bentak begitu dong kamu tahu kan aku tidak suka dibentak," Isabelle menatap Henry takut, Henry menyeringai bak iblis, "Bella sayang, ayo masuk," Henry membuka kan pintu mobil hitamnya.
"T-tidak mau! Lepaskan aku dasar kamu gila!" teriaknya berusaha melepaskan tangannya.
"Bella sayang jangan teriak-teriak nanti ada yang salah paham. Aku kan cuma ingin mengajakmu jalan-jalan," kata Henry dengan nada sedih yang dibuat-buat.
Dengan kasar Henry mendorong Isabelle masuk ke dalam mobilnya lalu menguncinya, "Sayang jangan diketuk-ketuk begitu, kalau kaca mobilku pecah kamu tidak akan mau menggantinya kan?" Isabelle berhenti melakukannya, "Jadilah gadis yang baik," Henry tersenyum licik.
Selama diperjalanan hanya ada keheningan di sana, manik keemasan Henry menatap Isabelle yang meringkuk ketakutan di balik kaca spion. Henry tersenyum tipis, "Sayang jangan takut, aku hanya ingin mengajakmu ke tempat dimana kita pertama kali menjalin hubungan."
Tidak ada sahutan dari Isabelle membuat seringai Henry semakin lebar, "Bagus jadilah gadis yang baik," gumam Henry namun masih bisa didengar Isabelle.
Henry menghentikan mobilnya di depan sebuah villa dan membuka pintu mobilnya. Henry menghampiri mantan kekasihnya itu dan membukakan pintu. Isabelle keluar dan melihat sekelilingnya tanpa dia sadari Henry mengeluarkan sebuah sapu tangan dan membungkam mulutnya.
Henry menggenggam kedua tangan Isabelle yang terus memberontak. Tidak lama tubuh Isabelle kehilangan keseimbangannya, "Waktunya bermain," Henry menyeringai mengerikan.
.
.
Isabelle menggeliat dan dia dapat merasakan remuk di seluruh tubuhnya, manik birunya terbelalak saat melihat dirinya terikat di kursi.
"Kamu pingsannya lama sekali," pandangannya beralih menatap benci pemuda itu yang tidak lain adalah Henry. .
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" teriak Isabelle tampak panik.
Henry menghampirinya dan menatap lekat manik biru itu, "Sttt ... jangan berisik sayang," meletakan jarinya ke bibirnya sendiri sambil menyeringai yang mengerikan menurut Isabelle.
"Apa yang akan kamu lakukan padaku?" cicit Isabelle ketakutan.
Henry tertawa terbahak-bahak membuat keadaan menjadi horor, "Tentu saja mengajakmu bermain!"
"Jangan sentuh aku!" teriak Isabelle panik.
Henry membelai rambut Isabelle lembut membuat gadis itu merinding, "Tenanglah Bella sayang, aku tidak pernah tertarik kepada tubuhmu itu."
Henry berjalan mendekati sebuah lemari dan membukanya. Manik biru Isabelle tidak tahan lagi untuk tidak menangis, "Sayang, kamu sukanya yang mana? Yang besar atau yang kecil?" tanya Henry sambil menunjukan sebuah pisau daging dan pisau buah.
Isabelle tidak menjawabnya.
"Kalau kamu tidak menjawab maka aku yang akan memilihnya, aku ini orangnya lembut jadi kita pilih yang ini saja," ujarnya kegirangan menunjukan sebuah pisau buah.
Henry menempelkan pisau buah itu ke pipi Isabelle yang tampak ketakutan, "Sayang kenapa kamu jadi bisu begini?" tanya Henry sambil sedikit menekan pisau itu cukup membuat cairan merah itu keluar.
Isabelle meringis kesakitan dan menangis terisak, "Sttt ... jangan menangis dong kamu membuatku terlihat seperti orang jahat," ujarnya menghapus air mata Isabelle.
"Sayang bagaimana kita mulai dari jari saja?"
.
.
Beberapa hari kemudian, berita tentang kematian Isabelle pun menjadi berita hangat di sekolah mereka. Isabelle ditemukan dengan keadaan yang sangat mengenaskan sebagian dari tubuhnya menghilang.
Keluarganya terus meminta kepada polisi untuk segera menangkap pelaku namun hasilnya nihil, tidak ada jejak sama sekali dalam kasus ini. Benar-benar bersih.
"Kamu benar jika kita mainnya bersih maka tidak akan ketahuan," ujar Henry memangku dagunya dimeja. Sekarang dia bersama kedua sahabatnya di perpustakaan.
"Kamu ini gegabah sekali. Belajarlah untuk menahan hasratmu itu," tuding Ciel kesal.
Henry tertawa hambar, "Iya iya."
***
Fin.
Terimakasih sudah membaca cerita bucin author👌🏻
@Haru_