Aku membuka mata dan langsung disambut dengan bau anyir dan linangan darah. Ruangannya terasa tidak asing. Aku juga melihat mayat seorang wanita yang sudah terkapar. Aku berusaha sebisa mungkin mengalihkan pandangan dari pemandangan mengerikan tersebut.
Kepalaku terasa pusing sekali. Aku bahkan tidak bisa mengingat apapun hal yang telah terjadi. Sekarang aku berusaha berdiri, dan melangkah dengan gontai.
Ceklek!
Aku mencoba membuka pintu, tetapi tidak bisa. Apakah seseorang telah menculikku?
Ceklek! Ceklek! Ceklek!
Aku kembali mencoba memainkan gagang pintu. Namun hasilnya tetaplah nihil.
"Tolong! siapapun kumohon!" pekikku dengan gidikkan ngeri di sekujur tubuh.
Dug! Dug! Dug!
Kali ini aku mencoba membuat keributan dengan terus menggedor pintu. Hingga suara langkah kaki dari luar mulai terdengar mendekat.
"Hei aku di sini!" desakku, berharap orang itu mendengar suaraku. Benar saja, dia membukakan pintunya.
Dahiku langsung mengernyit tatkala menyaksikan sosok mengerikan di hadapanku. Dia mengenakan topeng dengan tubuh yang dipenuhi bercak darah.
"Hei kau ja--"
Bruk!
Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, sosok misterius tersebut langsung melayangkan pukulannya. Aku pun sontak tidak sadarkan diri.
***
Aku membuka mata dengan pelan, dan menyaksikan pemandangan yang sama seperti sebelumnya. Kali ini aku berusaha menggunakan benda yang bisa membantuku membuka pintu. Aku memilih linggis yang tergeletak di dekat mayat wanita. Tanpa pikir panjang, aku berusaha membuka pintu sekuat tenaga.
Trak! Bruk!
Pintu seketika tumbang. Aku bergegas berlari sebisa mungkin. Rumahku berubah menjadi lautan darah, ada banyak mayat dimana-mana. Sebelum aku mencapai pintu keluar, lagi-lagi aku bertemu dengan sosok bertopeng. Sekarang aku tidak ingin kalah, dan berusaha menyerangnya sebisa mungkin. Aku lempari benda-benda yang ada di dekatku ke arahnya.
Sosok bertopeng tersebut tampak santai. Dia malah berjalan semakin mendekat.
"Tidak! jangan mende--"
Bruk!
Lagi-lagi aku terkena pukulannya, dan kembali pingsan.
***
Aku terbangun lagi, tetapi kali ini dengan rasa pusing yang semakin menusuk di kepala. Aku berusaha mengusap mata agar penglihatanku lebih jelas.
Betapa terkejutnya aku, kala menyaksikan diriku mengenakan pakaian yang sama dengan sosok misterius tadi. Bahkan ada topeng yang sama tepat di hadapanku. Kali ini aku berada di dalam kamar mandi. Aku sekarang menatap pantulan diriku di cermin.
"Apa yang telah terjadiiiii!!!!" teriakku histeris sembari mengacak-acak rambut sendiri.
Aku semakin terkejut ketika menyadari tangan dan badanku dipenuhi dengan darah!
"Aaaaarrghhhh!!!!" pekikku lantang. Aku mencoba mengingat semuanya, tetapi tidak bisa. Apakah aku yang telah melakukan hal mengerikan ini?
Aku benar-benar frustasi. Hingga suara dobrakan pintu mengalihkan atensiku. Aku langsung melangkah mundur dan mengambil pisau yang kebetulan tergeletak di atas wastafel. Kali ini aku tidak akan kalah dengan sosok bertopeng itu. Eh tunggu, tetapi topengnya ada di sini kan?
Bruk!
Pintu terbuka, dan bukan sosok misterius yang ku-lihat, melainkan pasukan polisi yang mengarahkan senjatanya ke arahku.
"Saudara Eric! menyerahlah sekarang!" titahnya, yang langsung membuatku mengangkat kedua tangan ke atas. Mereka pun dengan sigap memborgol tanganku.
Aku dibawa ke kantor polisi dan menjalani beberapa pemeriksaan. Salah satunya adalah pemeriksaan jiwa.
"Apa tuan Eric mengetahui kalau anda sedang mengidap dua penyakit kelainan jiwa?" tanya Dokter dengan nama Casey itu. Aku merespon pertanyaannya dengan gelengan kepala.
Casey tersenyum iba dan berkata, "Anda menderita kepribadian ganda dan juga amnesia secara bersamaan. Dan itu sangatlah berbahaya untuk orang-orang disekitarmu!"
Aku hanya bisa diam dan tidak bisa berkata-kata lagi. Toh aku tidak bisa mengingat apapun yang telah terjadi.
"Tetapi, amnesia yang kau derita baru saja terjadi baru-baru ini. . ." gumam Casey dengan dahi berkerut. Dia menilik bagian dahi dan kepalaku. Mata Casey membulat sempurna seolah telah menyaksikan sesuatu yang mengerikan. Setelahnya aku pun dimasukkan ke dalam sel.
"Ed! ada yang mencurigakan dari Eric, aku rasa bukan dia yang melakukan pembantaian di rumahnya sendiri!" aku bisa mendengar percakapan Casey dan salah satu detektif yang bernama Edwin.
"Bagaimana bisa begitu? semua bukti mengarah kepadanya!" tegas Edwin.
"Tetapi amnesia-nya baru terjadi. Aku juga melihat luka dibagian kepalanya. Luka tersebut dijahit dengan rapi," tutur Casey yang mencoba meyakinkan Edwin.
"Sudahlah Case, kasus ini telah mendapat kesimpulan penuh. Jangan mengungkitnya lagi!" ujar Edwin yang segera beranjak pergi. Casey menoleh ke arahku dan menatap dengan nanar.
***
●EPILOG
[Author PoV]
Seorang lelaki berjalan dengan santai melalui pekarangan rumah Eric. Dia melangkahkan kaki menuju rumahnya yang berjarak tidak begitu jauh.
"Hei Nick! kau baru pulang kerja?" sapa seorang lelaki paruh baya kepadanya.
"Iya Uncle Tony!" balas Nichol ramah. Dia sekarang memasuki rumahnya. Perlahan dia mengeluarkan flasdisk dari saku jaketnya dan mencoloknya ke komputer.
Tayanglah video CCTV tentang dirinya yang telah melakukan pembantaian terhadap semua keluarga Eric. Nichol tersenyum puas, dilanjutkan dengan tawa gelinya.
"Hahahaha!"
Tepat di belakang Nichol terdapat lemari dengan laci yang banyak. Laci tersebut berisi puluhan flasdisk lainnya.
~TAMAT~