Penulis : Just Vly
Hari demi hari berlalu dengan cepat. Semua yang Rani lakukan tidak ada hasilnya. Rencana dan usaha yang ia lakukan semuanya tetap sia – sia. Semua terjadi karena seseorang telah menghancurkannya. Seorang yang kembali muncul dihidupnya. Dia adalah Rio.
“ARGHH!!! Kenapa dia harus muncul lagi di hidupku!?!?! KENAPA!?!?” terpaksa seraya memukul sofan yang ia duduk.
Ia tak habis pikir, apa yang membuat orang itu menghancurkan acara yang telah ia rencanakan jauh – jauh hari? Apa yang melatarbelakang Rio menggagalkan acaranya? Padahal Rani sudah sangat lama menantikan acara tersebut. Tanpa ia sadari ia pun terlelap di sofa. Mungkin otaknya sudah lelah untuk memikirkan jawaban yang selalu Rani tanyakan.
***
Drrttt... Drrttt....
Rani terbangun karena handphone-nya berbunyi. Sebelum menjawab ia melihat nama seorang yang meneleponnya.
“sely? Ada apa sely meneleponku jam segini?” ujarnya dalam hati.
“Halo, ada apa sely?”
“Halo, Rani. Hari ini bisa ke kantor gak ada yang mau ketemu sama kamu,” kata Sely dengan suara cemas.
“Baiklah saya ke sana tiga puluh menit lagi, dah” jawab Rani kemudian segera bersiap ke kantor.
***
“Ada apa ya? Siapa yang mau bertemu dengan ku?Apa yang ingin dibicarakan ya?” pertanyaan demi pertanyaan terus muncul dibenaknya. Secepat mungkin ia melajukan kendaraannya agar dapat menjawab semua pertanyaan ini.
Hingga akhirnya ia sampai di kantornya, walaupun tadi sempat terjebak macet. Ia langsung menuju ruang Sely. Tetapi di ruangan itu hanya terdapat ruang kosong tanpa penghuninya. Tanpa menunggu lagi ia segera bertanya dengan staf yang ada di lobby.
“Permisi Mas, Em.. Sely sekarang lagi dimana ya?” tanya Rani
“Oh, bu Sely – nya lagi diruang meeting bu,” ujar staf tersebut. Setelah mendengar jawaban dari staf tersebut ia hanya membalas dengan anggukan. Dan langsung pergi ke ruangan tersebut.
Ceklek..
Perlahan Rani membuka pintu tersebut dan yang ia temukan adalah Sely dan dua karyawan serta seorang pria yang memiliki aura yang sangat berwibawa. Tak menunggu lama lagi, ia segera memasuki ruangan tersebut sambil menarik senyumnya.
“Selamat pagi bu Rani,” sapa Sely lalu mempersilahkan – nya duduk. Kemudian seorang pria itu memperkenalkan diri serta menjelaskan tujuan ia datang hari ini.
“Dan, ini adalah surat dari atasan saya untuk ibu Rani. Baiklah saya permisi dulu, terimakasih untuk semuanya.” Kata Agung sambil memberikan sebuah amplop yang berwarna putih itu dan pamit duluan.
Setelah orang yang bernama Agung itu pergi, Rani menanyakan beberapa hal mengenai orang tersebut.
“Dia dari perusahaan apa? Apakah tujuannya hanya ingin menyampaikan surat ini? Kenapa tidak di tinggalkan di lobby saja surat ini?” tanya Rani beruntun. Sedangkan Sely hanya tersenyum mendengar semua pertanyaan yang diajukan oleh Rani.
“Jadi sebenarnya dia dari perusahaan Di daerah timur, tujuannya hanya ingin menyampaikan amanah dari atasannya yaitu surat tadi, dan dia tidak ingin mengecewakan atasannya makanya dia sangat ingin menemui – mu, “ jelas Sely.
Setelah mendengarkan semua jawaban dari Sely, ia memutuskan untuk pamit ke ruangannya dan membaca surat yang di berikan Agung tadi. Ia membuka perlahan surat itu dan mulai membacanya.
Untuk Rani,
Apakah kamu masih ingat dengan ku? Kalau iya datang lah ke bukit yang ada di perbatasan kota Timur dan selatan hari ini. Aku akan menunggumu di jam 7 malam.
See u
Your Friend
***
Gemerlap lampu – lampu menghiasai taman bukit ini. Suasana yang tenang meskipun ada beberapa orang yang menikmati suasana malam ini. Rembulan yang bulat sempurna mengkombinasikan suasana menjadi sangat damai.
“Rembulan yang indah,”kata Rani dalam hatinya.
Walaupun masih bingung dengan maksud dari surat tersebut, Rani tetap mau menemui orang tersebut. Apalagi di surat itu ia mengaku sebagai temannya. Tapi teman yang mana? Temannya terlalu banyak semenjak ia memasuki dunia kerja.
Ketika sudah sampai di tujuan, Rani celingak – celinguk mencari orang tersebut.
“Mana sih orangnya? Katanya jam 7, tetapi sekarang bahkan sudah jam 7.18 batang hidungnya tetap tidak kelihatan,” gerutu Rani. Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu di ujung bukit bagian kanan. Karena lumayan sepi jadi ia gunakan untuk menikmati keindahan yang ada sambil bernyanyi.
Tanpa ia sadari dari tadi, sudah ada orang yang memperhatikan gerak – geriknya. Orang itu menggunakan baju kaos polos berwarna biru tua dan celana jeansnya. Dengan sepatu kets dan jaket hitamnya ia berjalan perlahan mendekati Rani. Tetapi tetap menjaga jarak dua meter. Untuk jaga – jaga, siapa yang tau kalau – kalau Rani kaget spontan memukul orang yang ada didepannya.
“Ternyata kamu masih ingat pada – ku?” kata orang itu dan seperti yang ia prediksikan tadi, hampir saja ia terkena pukulan dari tangan mungil Rani.
“Reza?! Kamu ngapain ke sini?! Apakah belum puas kamu menghancurkan semuanya hari itu?! Hah?!” mendengar semua kekesalan Rani justru membuat Reza hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Jawab pertanyaan – ku? Kenapa kamu melakukan itu semua?Kenapa? Kenapa harus hari itu?” Kata Rani melemah dan setetes mutiara kecil jatuh di pelupuk matanya. Ia tak sanggup jika harus mengingat kejadian di malam itu. Sangat buruk. Dan sungguh sesuatu yang diluar dugaannya. Ia kira orang yang mengirimkan surat itu adalah perusahaan yang ingin melakukan kerja sama. Tetapi, sekarang malah orang yang telah membuatnya terpuruk beberapa minggu ini.
Karena suasana menjadi buruk, Reza tidak bisa melakukan apapun lagi selain memeluknya. Sedangkan Rani yang sudah tidak berdaya hanya bisa pasrah dan sesekali memukul Reza.
“sebenarnya aku juga tidak berniat untuk menggagalkan acara itu. Tetapi ada seorang yang sedang merencanakan sesuatu yang lebih buruk jika acara itu selesai dengan sempurna. Aku tau kamu sangat menantikan acara itu, tapi konteks dari acara itu saja sudah berbeda di mata mereka,” jelas Reza sambil mempererat pelukannya.
“Tapi kenapa Reza?” tanya Rani lagi karena tidak bisa menerima jawaban dari Reza.
“Karena kamu adalah sahabat kecil – ku. Aku tidak mau kalau kamu kenapa – napa. Kamu kira aku sesuka hati melakukan itu semua?”
“No, Rani. Hati aku juga gak bisa terima ngehancurin acara itu. Itu semua karena aku sangat sayang pada – mu,” lanjut Reza dan itu berhasil membuat Rani kaget dan memberonta untuk melepaskan diri dari pelukan Reza. Sedangkan Reza hanya bisa pasrah dan melepaskan pelukannya.
“Maksud kamu apa berbicara seperti itu?” tanya Rani disela – sela tangisnya yang mulai mereka.
“Because, I love you Rani. Sekarang kamu jangan memikirkan lagi masalah itu karena aku akan membantumu untuk menyiapkan event yang baru. Dengan adanya bantuan dari perusahaan aku yakin event yang baru pasti bisa dilaksanakan tanpa ada pengganggu. Oke?” jelas Reza, sedangkan Rani hanya bisa mematung mendengarkan ungkapan suka dari Reza dan event baru? Sepertinya menarik.
“Apakah aku bisa memegang omongan mu itu?” tanya Rani dan sekarang ia sudah lebih tenang dari yang tadi.
“Tentu, yaudah ayo aku antar kamu pulang,” ujar Reza. Hari sudah larut malam dan udara juga semakin menusuk tubuh. Melihat Rani yang kedinginan Reza memakaikan jaketnya ke Rani.
“Terimakasih, “ kata Rani lalu mereka berdua memasuki mobil milik Reza. Karena jarak yang lumayan jauh membuat Rani tertidur dahulu. Dan Reza hanya bisa tersenyum melihat sahabat kecilnya bisa berada di sisinya.
Setelah sampai di apartemen Rani, Reza justru bingung bagaimana caranya agar bisa membawa Rani ke atas tanpa harus membangunkannya. Dan lagi ia tidak tahu kunci apartemen Rani disimpannya di mana.
***
Setelah hari itu mereka kembali menjadi seperti dulu. Menjadi sahabat yang sangat dekat. Sehingga tak sedikit orang yang menganggap bahwa mereka sepasang kekasih.
Sempat terlintas di kepala Rani bahwa ia sama sekali belum memberikan pernyataan tentang malam itu. Apakah ia mengatakan hal yang sama dengan Reza.
Karena sekarang mereka sedang sibuk mempersiapkan event akhir tahun, jadi Rani memilih untuk mengabaikanya saja. Apalagi ini adalah event yang besar yang akan di adakan di aula kantor Rani, sungguh sangat di sayangkan jika ada sedikit cela yang kurang sempurna.
***
Tepat dimalam puncaknya, Rani dan Reza membuka secara resmi acara tersebut dan mempersilahkan Tamu undangan untuk menikmati makanan yang telah di sediakan.
“Oh iya selagi kalian menikmati hidangan, izinakan saya untuk menyampaikan sesuatu kepada Rani,” kata Reza dan membuat Rani bingung. Tapi ia membalasnya dengan senyum simpul.
“Rani, Aku tau ini terlalu cepat. Tapi aku tidak ingin fitnah tentang kita selalu di bicarakan orang lain. Jadi Will you marry me?” ujar Reza sambil mengeluarkan sebuah cincin yang sangat indah. Rani tidak bisa berkata – kata lagi, pertanyaan Reza sangatlah mendadak.
Tak kuasa menahan kebahagiaan – nya ia hanya bisa menganggukkan kepala yang berarti “Ya”. Lalu Rani memeluk Reza sambil mengatakan yang sama seperti dibukit malam itu.
~SELESAI~