-(Dia itu...)
Aku terus menatap ke depan, dihadapanku terlihat sosok gadis dengan rambut sepanjang pinggang yang dibiarkan terurai, di tangannya terlihat beberapa lembar poster.
"Kau benar-benar tidak ingin dibantu?" Tanyaku, oke aku mulai bosan melihatnya berjuang.
Ya...dia sedang berjuang untuk menempelkan posternya di mading sekolah.
Kenapa sampai harus berjuang seperti itu?
Karena, mading sudah lumayan penuh, dan satu-satunya tempat yang kosong, berada di pojok kanan atas, dan dia tidak bisa mencapainya.
"Kita sudah disini dari sekitar 30 menit yang lalu, kau tidak lelah?" Tanyaku lagi, ayolah...biarkan aku membantu, dan urusanmu dengan poster itu akan selesai.
Gadis itu berbalik, dapat kulihat raut wajahnya menunjukan kekesalan, Hey... bukan salahku kau tidak bisa menempelkan poster itu disana, salahkan saja tinggi badanmu yang tidak pas untuk anak kelas 3 SMA itu.
"Jadi...menyerah?" Tanyaku sekali lagi, ku pastikan jika dia masih bersikeras untuk menolak bantuanku, aku akan mengambil paksa poster itu.
"Nih...bantu aku" jawabnya sambil menyerahkan poster itu padaku.
Aku menghela nafasku, mengambil poster itu dari tangannya, memberi sedikit lem pada 4 sudut kertas itu, dan menempelkannya, ditempat yang dari tadi dituju oleh gadis pendek didekatku ini.
"Oke selesai, ayo pulang" ujarku, sambil menarik tangannya.
Kegiatan sekolah sudah berakhir cukup lama, salahkan gadis ini, karena dia, kami berdua akhirnya pulang terlambat.
Jarak sekolah, dan rumah kami tidak terlalu jauh, jadi kami selalu berjalan kaki, di perjalanan bisa kurasakan gadis yang tangannya kugenggam ini tiba-tiba berhenti, dan hal itu membuatku ikut berhenti.
"Vin, kita mampir ke toko itu bentar yuk, aku mau beli jajan" ujar gadis itu.
Tanpa menunggu persetujuan dariku, gadis itu langsung pergi ke toko, mau tak mau aku pun mengikutinya.
"Kau minum susu setiap hari, tapi kenapa tinggimu tetap nggak bertambah?" Ledek ku begitu melihat benda yang ia beli.
"Apa sih, dasar tiang!" Balasnya tidak terima.
Selesai membayar susu kotak, dan lolipopnya, gadis itu pergi, meninggalkanku di toko itu, oh...dia ngambek.
"Oi Arin, tunggu!" Aku segera menyusulnya.
Tak terlalu sulit sih, tubuhnya yang mungil itu, membuat langkahnya ikut mungil, tentu saja aku bisa dengan mudah menyusulnya.
Begitu aku tiba disampingnya, dia langsung menyodorkan lolipop yang tadi dia beli padaku.
"Apa?" Tanyaku bingung.
"Buat kamu, makasih udah mau nungguin, dan bantuin aku ngurus poster tadi" jawab Arin.
Aku menerima lolipop itu, dan langsung melahapnya.
"Sama-sama, lain kali pendek ya pendek aja, nggak usah ngotot, kalau nggak nyampe langsung bilang" oke meledeknya adalah hal kesukaanku.
"Aku nggak pendek yaa, tinggi mu aja yang nggak normal!" Balas Arin, Hoo dia tidak terima.
"Tinggiku normal ya, tinggimu itu yang tidak normal untuk anak SMA yang sebentar lagi akan lulus" tentu aku tidak mau kalah debat dengan gadis ini.
"Tinggi 155,2 cm, catat itu, setidaknya 1,2 cm lebih tinggi dari tahun lalu" dia juga tidak ingin kalah ya?
"Tinggiku 188,5" jawabku santai.
"Dasar tiang" gerutunya.
"Hoi!"
(Pendek...Benar kan?)
•••••••
-(saat aku badmood...)
"Stop, jangan gelud disini" suara Dito sang kapten voli mulai terdengar
"Salahin Gavin, gara-gara dia gua gagal ngelakuin serve tadi" balas Putra sambil menunjuk ku.
Mendengar kata-kata orang ini membuatku benar-benar ingin menenggelamkannya ke laut.
"Salah gua? Lo yang nggak becus servis kok nyalahin gua? Lo servis bukannya ngelewatin net, malah lurus kena kepala gua, harusnya gua yang marah!" Balasku kesal.
"Ya Elo yang ketinggian!" Putra masih tak ingin kalah.
"Dasar pendek!" Ledek ku, ayolah kepalaku terkena bola karena ulahnya, itu sakit, dan aku harus mendengarkan ocehan nya?
"APA LO BILANG??!!"
Oh dia mulai ngegas.
"Udah Woi!" Dito kembali bersuara.
"Bodo, gua mau keluar dulu" ujarku, dan meninggalkan ruang olahraga.
Mood ku benar-benar rusak sekarang, apa ini adalah hari sialku?
Di mulai dari tadi pagi, aku bangun kesiangan, jadi tak sempat sarapan, aku tak berangkat dengan Arin, karena hari ini dia harus datang lebih pagi gara-gara kegiatan eskul musiknya.
Untung saja aku tidak terlambat sampai sekolah, tapi aku lupa bawa uang saku, yang benar saja? Hari ini sekolah sampai jam 2, dan langsung dilanjutkan dengan kegiatan eskul, aku harus menahan lapar selama itu? Untung ada Arin.
Belum cukup, lagi-lagi aku tertimpa kesialan, di kantin, saat aku akan membeli makanan, dengan uang Arin tentunya.
Seseorang tanpa sengaja menumpahkan minumannya kearahku, membuat bajuku basah, dan aku harus menggunakan baju voli ku, hanya itu yang aku punya sekarang, dan akhirnya aku harus mendengar ceramah dari guru, karena pakaian yg kupakai.
Dan terakhir, insiden bola yang menghantam kepalaku, ditambah ocehan tak berbobot dari Putra.
Aku berjalan menyusuri sekolah, aku berniat untuk menenangkan pikiran, dan mencari cara agar moodku membaik, kalau tidak, semua orang akan menjadi sasaran kekesalan ku.
Aku hanya berjalan tanpa tujuan, lalu Indra pendengaran ku menangkap suara...piano? dan pada akhirnya aku berjalan menuju ruang musik.
Begitu membuka pintu ruang musik, pandanganku langsung fokus ke satu titik.
Kearah Arin yang tengah memainkan pianonya sambil menyanyikan sebuah lagu, ah...Arin memang pintar memainkan piano, suaranya juga bagus.
Merasa diperhatikan, Arin menghentikan permainannya, dan menoleh kearahku.
Aku hanya menggaruk tengkuk ku yang tak gatal, merasa canggung karena tertangkap basah tengah memperhatikannya.
"Gavin? Nggak main voli?" Tanya Arin.
Aku hanya menggeleng, dan Arin hanya diam, mungkin karena dia sudah hafal dengan kelakuan ku, lalu Arin tersenyum, dan melanjutkan permainannya yang sempat tertunda karena aku.
Aku hanya diam, mengambil kursi, dan duduk disebelahnya.
Dapat aku rasakan, perasaanku mulai tenang, rasanya juga hangat, dan nyaman, Arin pintar memilih lagu.
Selesai menyanyikan lagunya, Arin tersenyum kearahku, ia berdiri, lalu mengelus puncak kepalaku.
"Udah, kamu cuma lagi sial aja hari ini, jangan badmood lagi ya" ujarnya lembut.
Aku tersenyum tipis, senang dapat perlakuan seperti ini, tapi baru saja aku ingin membalas perkataannya, tiba-tiba Arin menempelkan kedua telapak tangannya, pada kedua sisi pipiku, oh... bisa kalian bilang menampar.
"Sakit Woi!!!! Ada dendam atau gimana sih?"
Melihatku kesakitan, Arin hanya tertawa, tapi tangannya belum berpindah.
"Kamu jelek kalo lagi badmood" jawab Arin dengan wajah tanpa dosa andalannya.
"Haha kau nggak bisa ngelakuin ini kalo aku berdirikan?" Ledek ku.
Aku berdiri, membuat tangan Arin, terlepas dari pipiku, aku hanya menatapnya dengan tatapan mengejek.
"Hmpp!!! Kalo udah good mood, langsung nyebelin deh" keluh Arin.
Aku hanya tertawa mendengar keluhannya itu.
"Ayo ke ruang olahraga, kamu masih harus latihan voli kan?" Ajak Arin.
Aku hanya mengangguk, dan pada akhirnya, Arin menemani, dan menonton ku latihan.
(Pastinya dia moodbooster terbaik ku)
•••••••
(Cemburu?...)
Beberapa hari ini Arin sibuk dengan eskulnya, karena dia akan ikut lomba.
Arin akan memainkan piano untuk mengiringi teman satu eskulnya yang memainkan biola.
Aku merasa sedikit kesal, kenapa? Karena temannya yang akan memainkan biola itu adalah...Andra.
Dari awal aku memang tidak pernah akur dengan Andra, aku tidak suka sifatnya yang ganjen, yaa...dia ganteng, eitss aku bukan merasa kalah ganteng ya, aku tidak sudi jika harus dibandingkan dengan cowok macam Andra.
Aku cuma takut, Arin terbuai gombalan basi dari mulut Andra, karena aku tidak mau sahabatku disakiti oleh pria buaya macam dia.
"Bro, lo jadi kurang fokus, kenapa sih?" Tanya Dito.
Sekarang kami sedang istirahat, kami baru saja selesai latih tanding dengan SMA tetangga, dan hasilnya kami kalah dengan selisih 3 angka.
"Iya, gua emang kesel dengerin mulut lo yang nggak habis-habis ngeledek orang, tapi kalo lo diem, serem juga bro" Putra ikut bersuara.
"Lagi mikirin sesuatu" jawabku singkat.
Sepertinya Dito, dan Putra tidak puas mendengar jawabanku.
"Sesuatu itu...Arin kan?" Goda Putra.
"Apaan sih?" Ughh...tumben otak makhluk ini cepat nalar.
"Ohhh...gara-gara Arin lagi deket sama Andra toh, siap-siap ketikung aja lo bro" sambung Dito.
Deg...
Whoa, kenapa tiba-tiba rasanya sesak waktu Dito bilang begitu?
"Iya, Andra kan most wanted disekolah, banyak cewek yang suka sama dia, jadi mustahil Arin nggak kepincut kalo udah sedeket itu"
Mendengar celotehan Dito, dan Putra tentang cowok yang paling nggak aku suka, membuat telingaku panas.
Apa hebatnya sih Andra itu? nilai mata pelajarannya aja rata-rata dibawah KKM semua, cuma modal tampang doang kok dibangga-banggain.
Waktu berlalu, jam menunjukan pukul 5 sore, eskul selesai, dan kami boleh pulang.
Begitu tiba di gerbang, aku melihat Arin, dan Andra.
Samar-samar kudengar Arin bilang "tidak" tapi sepertinya telinga Andra tidak berfungsi dengan baik, sehingga ia masih terus menawarkan hal yang sama.
"Ayo, pulang bareng gua aja, enak naik motor dari pada jalan kaki" ujar Andra.
"Nggak, aku jalan kaki aja, lagian rumahku dekat kok" tolak Arin.
"Ayolah" Andra benar-benar keras kepala.
"Kalo dia bilang nggak mau, ya jangan dipaksa dong" ujarku sambil meletakan daguku, ke atas kepala Arin.
Dapat kulihat Andra terdiam, dan menatap sinis kearahku, oho dengan senang hati kubalas tatapannya dengan tatapan mengejek kebanggaan ku.
"Cih, Yaudah gua duluan"
Haha wajah kesal Andra benar-benar membuatku terhibur.
Andra pergi dengan motornya, dan begitu ia hilang dari pandangan kami...
"Jadi...sampe kapan kamu mau nempelin dagu kamu? Berat tau" ujar Arin.
"Udah ditolong bukannya makasih, malah ngomel, ayo pulang" balasku.
Hening, selama di perjalanan, kami terlarut dalam pikiran masing-masing, aku tidak tahu apa yang ada dipikiran Arin, tapi yang jelas di pikiranku, aku nggak mau ngeliat Arin diganggu Andra lagi.
"Oi cebol" panggilku.
Ughh kadang aku kesal dengan mulutku sendiri.
"Apa sih, dasar tiang?!" Ohh Arin kelihatannya kesal dengan kata-kataku tadi.
Hening lagi.
"Arin" panggilku.
"Apaaaa Gavin?"
Aku berhenti berjalan, dan membuatnya ikut berhenti, Arin menatapku bingung.
"Apa sih?" Tanya Arin.
"Lo tau nggak kalo air itu benar-benar berguna?" Aku balik bertanya.
Arin mengerutkan dahinya, oke dia benar-benar bingung dengan pertanyaanku yang aneh?
"Kenapa begitu?" Tanya Arin
"Ya kalau kau haus, kau minum air, mandi kau pakai air, kalau kau kesal dengan orang...
Aku menjeda perkataanku.
"Kalau kesal dengan orang?" Arin mengulangi perkataanku.
"Tenggelamkan saja orang itu" balasku enteng.
Arin sedikit kaget mendengar kata-kataku.
"Gavin, lo sehatkan?" Tanya Arin cemas.
"Gua pengen ngelempar Andra ke laut, dan ngebiarin dia tenggelam" jawabku.
"Gavin...?"
Aku mengalihkan pandanganku kearah lain.
"Kalo cuma sebatas sahabat, lo bisa diambil orang, jadi lo jadi pacar gua aja ya" ujarku.
Sial, pernyataan cinta macam apa ini? Nggak ada romantis-romantis nya sama sekali.
"Gavin...lo? Serius?" Tanya Arin.
"Iya" jawabku singkat.
Hening lagi...ughhh apa aku bakal ditolak?
"I...iya aku mau jadi pacar kamu" ujar Arin pelan, bahkan suaranya bisa saja tertiup angin.
Tapi aku mendengarnya dengan jelas, dia bilang iya, Arin bilang Iyaa, astaga jantungku mulai berdetak kencang.
"Beneran?" Tanyaku tak percaya.
Arin hanya mengangguk.
Aku senang bukan main, dan langsung menggandeng tangan mungilnya itu.
"Mulai sekarang, si pendek ini jadi pacar ku" ujar ku sambil terus berjalan.
"Bisa nggak sih stop ngebahas tinggi badan" gerutu Arin.
Aku hanya terkekeh, dan Arin balas tersenyum manis, aku senang, ini adalah perjalanan pulang terbaik yang pernah aku rasakan.
(Mana mungkin aku cemburu, Arin kan selalu bersamaku).