“Apa yang lebih membahagiakan dari perjalanan melewati hujan bersama teman?”
Menuruni dan menanjaki jalan-jalan tanah bebatuan, dikelilingi rimbunan pohon, semak-semak ilalang menggerayangi tumit-tumit kaki, serta hujan yang memperlambat jalan. Apakah ada yang lebih membahagiakan dari itu?
Lamunanku buyar, ketika tanganku ditarik Lisa ke depan. Serta telingaku seakan-akan copot, ketika mereka bertiga yang sudah berteduh memanggilku bersamaan. Aku baru sadar, ternyata sedari tadi di tengah hujan yang lebat berdiri di tengah jalan sambil mendongakkan kepala, merasakan tetesan air yang menyentuh seluruh wajah dan tubuhku. Tidak terasa dingin maupun sakit karena guyuran hujan.
Kata Halya, “Kamu kalau mau merenungi hidup jangan saat situasi gini dong. Tunggu kita turun gunung dulu. Kebiasaan ih, kamu mah baik-baik aja, kitanya khawatir.”
“Pinter baca arah, bisa survival, tapi kok sering melamun. Tapi Alhamdulillah sih gak ada yang nyamperin.” sambung Reno dengan gelak tawanya yang menggelegar. Kami berlima tertawa.
Namun tiba-tiba terdengar suara auman keras mengagetkan kami dari arah seberang jalan semak-semak belukar yang tinggi dan rimbun. Walau saat itu hujan masih turun dengan derasnya dan jarak suara itu dari kami ada sekitar 1 km, tapi kami tetap bisa mendengarnya.
Spontan, ketua tim penjelajah, Jun, menyuruh kami untuk waspada dan membaca-baca ayat-ayat suci untuk perlindungan. Entah itu hewan liar ataupun sesuatu yang gaib, kami tidak boleh sembrono. Itulah tim ahli penjelajah, harus siap sedia dalam situasi dan kondisi apapun.
Reno sigap maju ke depan dengan membawa tongkat yang ujungnya dililit pisau kecil, langkahnya pelan tapi mantap, percaya dan berani, sikap positif andalannya. Tongkatnya mengayun ke arah bawah semak-semak, settt … settt.. seett…
Tidak ada tanda-tanda muncul sesuatu, Reno pun mendekati dan memeriksa ke dalam. Namun nihil, tidak ada apapun kecuali rumput-rumput liar itu. Kami yang masih di bawah tempat teduh, yang sudah melingkar melindungi Halya pun agak melonggar. Tumit Halya yang sedikit berdarah, bahkan perbannya masih berwarna kemerahan, sedikit menurun kecemasannya.
Selepas kejadian singkat itu, Jun memerintah kami untuk segera salat Zuhur. Jun dan Reno mendahului, lalu aku menunggu barang-barang dan melihat-lihat sekitar sembari menunggu Halya yang diganti perban lukanya oleh Lisa. Lisa kebetulan non-muslim, aku akan salat bersama Halya begitu perbannya selesai diganti.
Kami sudah dua hari di dalam gunung tersebut atau lebih tepatnya bukit, bukit yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Bukit ini masih dalam lingkup Gunung Lawu, ketinggiannya sekitar setengah dari gunung itu sendiri.
Seharusnya siang itu kami sudah turun, tapi hujan deras menghambat kami. Walau tidak terlalu tinggi, pohon-pohon di bukit itu sangat lebat, sinyal telepon genggam kami hilang dan muncul sesaat.
Begitu pula sinyal radio HT dan Rig, tapi radio kami untungnya tidak terlalu buruk dibandingkan sinyal telepon genggam. Setidaknya masih ada komunikasi dengan tim yang di bawah, walau sesaat.
Tim jelajah ini terbagi menjadi dua, kami yang berjalan dan menyusuri jalan-jalan setapak, sedangkan tim lainnya menggunakan motor pada jalanan kendaraan.
Kami yang sudah lelah apalagi Halya yang terluka, sangat bersyukur adanya hujan di siang hari itu. Karena membuat kami istirahat sejenak. Survei penjelajahan kali ini cukup berat. Warga sekitar yang sesekali kami jumpai di jalan, selalu mengingatkan untuk berhati-hati.
Setelah satu jam istirahat, dibersamai hujan yang sedikit mereda, akhirnya kami bergerak kembali. Meninggalkan misteri suara dan memulai perjalanan yang masih panjang.
Setidaknya ada 2-3 jam untuk turun gunung, menuju titik temu untuk bertemu tim survei lainnya yang mengendarai motor. Bahkan harus turun lagi ke dataran rendah atau kota untuk pulang, bisa mencapai 1-2 jam perjalanan. Perkiraan waktu Magrib atau Isya, bisa sampai di rumah masing-masing.
“Lihat Ray, lihat! Sekarang kita bermasalah lagi.” Reno yang sedikit geram menunjuk dan menyalahi diriku.
“Hei Ren, bisa gak sih tenang sedikit. Kamu juga kan yang ngeyel , jadi salah gini jalannya. Terus kita mau ke mana lagi, coba? Apa kita harus berputar lagi? Kan Ray udah bilang kalau tadi itu belok ke kiri,” tukas Lisa.
Aku yang memeluk pundak Halya, mencoba tersenyum dengan keadaan ini. Jun tiba-tiba menggenggam tanganku dengan tangan kanan dan tangan kirinya menggenggam Reno. Dengan helaan napasnya, Jun mulai berbicara.
“Cukup udah cukup. Kalau kita salah-menyalahkan begini, solusi gak bisa datang. Lis, tolong cek telepon, apakah ada sinyal dan hubungi mereka yang di bawah."
"Reno, kamu tolong cek sinyal radio ada atau tidak. Kita hubungi mereka kalau kita tersesat di persimpangan setelah air terjun lawas itu," imbuh Jun.
Mata Jun menatapku dengan lembut, senyumku merekah. Lalu aku kepikiran sesuatu. Jun yang sedang menatapku, mengernyitkan mata, kedua mata kami saling kode satu sama lain.
“Gimana kalau kita jalan terus aja, lihat di sana ada aliran sungai, kemungkinan aliran itu bisa membantu kita menuju perkampungan." Aku mengusulkan saran dengan percaya diri sambil melirik teman-temanku.
"Kalau kita memutari air terjun tadi, satu jam terbuang dan akan lama menuju ke titik temu," sambungku.
“Ayo! Kita bergegas, jangan kelamaan berhenti. Sebentar lagi azan Asar berkumandang. Kita harus bisa mencapai perkampungan sebelum azan lalu kita makan, hahaha.” Semangat Halya membara dan berjalan mendahului.
Kami memasuki perkampungan ketika azan masih berkumandang.
“Halyaaa, dengar gak tuh azannya? Kita sampai sini udah azan, bukan sebelum azan. Huhhh.” Reno sedikit menggoda Halya yang wajahnya memancarkan kebahagiaan.
Lima menit berjalan setelah memasuki kampung, kami akhirnya menemukan musala sekaligus warung kecil. Kami salat tetap bergiliran, yang menunggu giliran membelikan camilan pengganjal lapar.
Aku yang melambaikan tanganku berisikan camilan kepada Jun yang berada di halaman musala, Jun membalasnya dengan tawa manis. Ketika Jun dan Reno selepas salat hendak menghampiri kami, mata mereka menuju arah belakang kami dengan sorotan terkejut dan tidak percaya.
“Woi woii tengokkk!!” pekik Reno sambil berlari dan menunjuk arah belakang kami.
Aku, Lisa dan Halya langsung membalikkan badan dan melihat sekitar. Seketika itu kami bertiga jatuh sujud syukur melihat tim survei yang membawa motor akhirnya datang.
Kami menangis bahagia, aku yang membawa camilan pun spontan menyodorkan ke mulut salah satu temanku yang mengendarai motor. Lalu tertawa bersama. Warga sekitar yang melihat kejadian mengharu biru di sore hari itu pun bingung.
Tenyata tim survei motor juga ada kendala, salah satunya juga tersesat. Pesan kami yang mengatakan bahwa kami tersesat, tiba tidak sesuai waktunya. Pesan itu muncul setelah mereka sudah sampai di pertigaan tugu masuk kampung itu, yang mana seharusnya tugu tersebutlah menjadi titik temu kami.
Mereka menunggu sekitar 15 menit di tugu tersebut, dan memutuskan setelah 15 menit untuk menyusul kami. Pukul 16.30 kami pulang dengan mengendarai motor, seperti perkiraanku, teman-teman yang rumahnya berada di bawah gunung akan sampai Magrib atau Isya.
Rumahku yang hanya berjarak setengah jam dari titik temu kusarankan untuk menginap saja, kalau dirasa tidak kuat lagi untuk berkendara. Tapi teman-temanku tidak mau dan mengatakan mereka masih sanggup menuju rumah.
“Rayyy, kami tidak mau menganggu quality timemu dengan Jun hahaha,” ujar Lisa sembari melambaikan tangan tanda berpisah.
Setelah para tim berpisah, aku bertanya pada Jun sambil melingkarkan tanganku ke sela-sela kantong jaketnya. “Mas Jun, apa malam ini aku harus masak?”
Dengan senyum manisnya, ia menjawab. “Beli aja di depan rumah, di kulkas masih ada buah kan? Makan itu dulu sambil nunggu nasgornya jadi.”
“Heh Mas, yang tadi suara apa ya? Apakah patut aku mengingatnya terus?” tanyaku.
“Pantulan sepertinya, entah pantulan suara apa. Terbawa hujan deras, lagian di gunung kan suara apapun bisa terdengar. Itu mungkin tanda,” jawab Jun.
“Tanda untuk menyegerakan salat Zuhur ya, hihihi,” sambungku.