Bagaimana sih ketika sesuatu yang tidak pernah terpikirkan, malah terjadi pada diri kita?
Begitulah nasib seorang gadis kecil, bernama Alissa. Sejak kecil ia sudah aneh, memiliki seorang peri kecil yang cantik dan memiliki kekuatan.
Alissa sebenarnya bingung, apa yang terjadi padanya?
Kenapa hanya dia yang bisa melihatnya?
"Apa sih yang sebenarnya terjadi?" gumamnya pelan, tidak pokus pada pelajaran.
"Hei, pokus lah," bisik seseorang di telinga Alissa.
Alissa menoleh dengan kasar, menatap sebuah benda berterbangan di dihadapannya, siapa lagi jika bukan peri kecil, Lyra.
"Diam, aku sedang mencoba fokus," ujar Alissa sewot.
Pelajaran selesai, Alissa pulang dengan sepeda kesayangannya. Disepanjang perjalanan Alissa tampak tidak fokus pada jalanan, hanya terbenam dengan pikirannya.
Tin! Tin!
Sebuah mobil melaju kencang hampir menabrak Alissa yang sedang sedikit melencong ke tengah jalan raya. Alissa berteriak ketakutan.
"Akhhhh!" pekik Alissa ketakutan.
Cling!
Sebuah cahaya besar menyinari, membuat Alissa menutup matanya karena silau, tapi anehnya tubuhnya tidak merasakan sakit apapun. Alissa membuka matanya perlahan, anehnya ia tidak tau dimana dia sekarang.
"Wah, tempat apa ini ... indahnya," gumam Alissa menatap danau yang indah.
"Aku sudah bilang, fokus Alissa kenapa masih saja melamun? apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Seseorang membuat Alissa tersadar akan sesuatu.
"Lyra, pasti kamu kan yang menolong aku?" tanya Alissa antusias, Lyra menggaguk.
"Terima kasih." Alissa tersenyum tulus, membuat Lyra peri kecil itu bahagia.
"Apa sebenarnya yang kamu pikirkan Lisa?"
"Begini Ra, aku bingung kenapa kamu bisa sama aku ... dan kenapa hanya aku yang bisa melihat kamu?" tanya Alissa.
"Oh, itu toh."
"Aku adalah peri Lyra, aku peri pelindung kamu dan akan menyelamatkan kamu dari bahaya apapun sampai di usia kamu 17 tahun," jelas Lyra, Alissa masih mendengarkan cerita Lyra dengan antusias.
"Tapi, kenapa harus sampai 17 tahun?" tanya Alissa penasaran.
"Karena, di usia kamu 17 tahun .... kamu akan memiliki kekuatanmu sendiri, disini kita akan melawan penjahat yang ingin menguasai dan membunuh kami para peri penjaga agar bisa menguasai negeri Peri," jelas Lyra dengan sejelas-jelasnya.
"Apa! kekuatan? bagaimana bisa Lrya?"
"Dahulu kala ibumu adalah seorang ratu peri, yang memimpin kami untuk hidup, tapi ia jatuh cinta pada seorang manusia dan berusaha membuat dirinya terlihar seperti manusia, pada akhirnya kerajaan berada di dalam kuasa Peri kegelapan Namira, semenjak meninggalnya kedua orang tuamu, Namira semakin semenah-menah terhadap kami," jelas Lyra.
Ya, Alissa hidup seorang diri semenjak meninggalnya kedua orang tuanya entah apa yang terjadi, pada saat usianya menginjak 13 tahun, mereka meninggalkan Alissa sendirian.
"Ternyata begitu, apa kematian kedua orang tuaku juga berhubungan dengan Namira?" tanya Alissa dengan tajam, ia akan membalas perbuatan Namira.
"Benar!"
"Kamu adalah pewaris satu-satunya Alissa, kami mohon bantulah kami," lirih Lyra, hanya Alissa harapan terakhir mereka.
"Baiklah, ini demi Ibu, Ayah dan kamu Lyra," ujar Alissa tegas.
Bulan depan adalah ulang tahun Alissa untuk ke 17 tahunnya dirinya, ia berubah menjadi kecil dan menggunakan sayap jika dia mau. Hanya Alissa dan Flora(Ibu Alissa) yang bisa berubah wujud menjadi manusia dan peri akibat perbuatan Ibu dan Ayahnya.
"Alissa, aku tau kamu mau membantu aku dan membalaskan dendam kedua orang tuamu, tapi bisakah kamu juga menolong seseorang pangeran?" tanya Lyra sedikit ragu.
"Pangeran? apakah tampan?" tanya Alissa sangat berantusias.
Lyra menatap datar Alissa.
"Iya, sangat tampan."
"Menyelamatinya, tapi apa yang terjadi dengannya?" tanya Alissa bingung.
"Pangeran Lynn, adalah pangeran dari kerajaan Bunga kedua setelah kita, kerajaan mereka lumayan besar dan hebat, tapi hal ini lah yang membuat kita harus menolong kerajaan Wolsflower dari kekejaman Namira yang juga akan mengambil ahli kerajaan Wolsflower, Namira memperbudak dan menyakiti peri lainnya untuk membuat berbagai senjata, membuat banyak peri tersakiti," jelas Lyra sedih.
"Kurang ajar si Namira ini, aku akan membalasnya."
Seperti yang di tunggu-tunggu hari ini, hari dimana Alissa berulang tahun. Hanya ia dan Lyra lah yang merayakannya berdua dengan sebingkai foto kedua orang tuanya.
"Selamat ulang tahun Alissa!" teriak Lyra senang, sambil membuat sihir Bunga menjadi letupan indah.
"Wah keren!"
Tepat jam 12 malam, tubuh Alissa mengambang dan mengeluarkan sinar yang terang seperti matahari, benar perkataan Lyra akan ada keajaiban di usia Alissa ke tujuh belas tahun. Tubuh Alissa mengecil dan tubuh sayap kecil yang tampak sangat indah, pakaian yang dikenakannya juga sangat indah, bagai bidadari yang menggunakan sayap dengan mahkota cantik di kepalanya, sayangnya mahkota itu berada diatas kepala Namira.
"Lyra, Lyra bagaimana ini aku sangat kecil." Alissa sedikit ketakutan, melihat benda-benda yang berada dikamarnya sangat besar.
Padahal jika ia besar benda-benda itu bukanlah apa-apa, hanya sebesar tangannya tapi sekarang malah terlhat sangat besar, lebih besar dari tubuhnya yang kecil saat ini.
"Haha, cobalah untuk terbang Lisa," titah Lyra.
Alissa kebingungan bagaimana cari menggerakkan sayapnya, apa perlu tangannya bergerak baru sayapnya akan bergerak. Ternyata pikirannya hanya di ketawakan dengan Lyra.
"Gerakan dengan hatimu Alissa, pusatkan pikiran pada sayap dan terbanglah," ujar Lyra, membuat Alissa menutup matanya dan mulai mencoba menerbangkan sayapnya.
"A-aku terbang Lyra, aku terbang." Alissa sangat kegirangan bisa terbang, sehingga membuatnya oleng dan terjatuh.
Duk!
"Aduh, duh sakit," rintihnya.
"Dasar, belum bisa tapi banyak tingkah," kekeh Lyra.
Setelah berlatih berhari-hari Alissa akhirnya bisa menggunakan sayapnya, mereka akan berencana pergi ke kerajaan Bunga, dan menolong kerajaan Wolsflower dan pangeran.
Lyra membawa Alissa melewati berbagai tempat yang menurutnya aneh, selokan depan rumah, ladang rumput liar, melawan berbagai serangga jahat dan harus melewati aliran sungai.
Alissa yang masih belum bisa menguasai kekuatannya hanya bisa mengandalkan Lyra, tetapi di sepanjang perjalan Lyra terus menjelaskan dan melatih Alissa, agar siap jika terjadi masalah saat mereka sampai di istana Flowliss.
"Lyra, aku bisa Ra ... aku bisa," girang Alissa saat dirinya sudah bisa menguasai berbagai kekuatan pada dirinya.
Setelah berhari-hari berkeliling dan melewati berbagai rintangan, menginap di atas pohon, di dalam pohon, bahkan di atas daun. Mereka tiba di Flowliss, istana yang didirikan Flora.
"Wah." Mata Alissa berbinar-binar, menatap betapa megah dan mewahnya, istana penuh Bunga ini.
"Hust!"
Lyra menarik Alissa yang sudah hampir ketahuan para peri jahat lainnya.
"Hati-hati, jangan sampai ketahuan," titah Lyra, Alisa hanya cengengesan dan mengangguk mengerti.
Mereka menyelusuri setiap sudut istana mencermati para tentara peri hitam, bahkan banyak peri putih lainnya yang sedang berkerja dengan siksaan dan tanpa di beri waktu untuk istirahat.
Lyra dan Alissa memutuskan untuk pergi ke kerajaan Wolsflower, bertemu dengan raja Rendra untuk membantu melawan para tentara Wolsflower.
Lyra dan Alissa sudah berada di hadapan raja Rendra.
"Hormat yang mulia raja Wolsflower." Lyra membungkuk dan Alissa mengikutinya dengan kelabakan.
"Kamu, kamu Lyra si peri penjaga penerus kerajaan Flowliss," ujar raja sedikit kaget.
"Benar, dan ini adalah penerus ratu flora, Alissa." Lyra memperkenalkan Alissa.
"Cantiknya, ada keperluan apa kalian ke mari? apa bersangkutan dengan Namira?" tanya Raja mencoba menebak.
"Benar yang mulia, kami akan membantu anda dan peri lainnya untuk mengalahkan Namira, bukan hanya itu saja tapi juga menyelamatkan yang mulia pangeran Lynn," jelas Lyra, sang raja tersenyum.
"Itu sudah seharusnya untuk Lisa menolong Lynn, karena Lynn lah yang akan menjadi suaminya," ujar sang raja membuat Alissa terkejut.
Semenjak saat itu Lyra sibuk melatih Alissa, bahkan terkadang Alissa jarang makan dan berisitirahat karena mengingat waktu sedang mengejar mereka, tepat di malam purnama satu Minggu lagi, Namira dan pasukannya akan menyerang Wolsflower.
Hari yang ditentukan telah tiba, sebentar lagi purnama akan memperlihatkan dirinya dan pasukan Namira akan tiba. Alissa sudah sangat menguasai kekuatannya, walau ini pertama kalinya bagi Alissa untuk berperang tapi ia yakin kejahatan akan kalah melawan kebaikan.
"Haha!" Tawa yang menggelegar, dari kejauhan terlihat beberapa peri terbang menuju mereka semua. Alisa mulai gugup tapi, jika dirinya tidak maju dan membantu nasib semua peri akan tersiksa.
Semua pasukan peri sudah saling bertarung, dari beberapa peri memanglah ada yang memiliki kekuatan magis dan tidak, semua pasukan Namira sudah terkalahkan dan pasukan Alissa juga menipis.
"Beraninya kamu! siapa kamu!" teriak Namira dengan kemarahan.
"Aku yang akan menghabisi nyawa kamu!" teriak Alissa.
"Jangan senang dulu, Melati bawa dia."
Seorang perempuan cantik dengan sayap hitam di punggungnya keluar bersama seorang lelaki tampan yang terlihat lesu dan tak berdaya dengan sayap putih besar melekat di punggungnya.
"Jika kalian tidak menyerah jangan harap kalian bisa melihat pangeran kesayangan kalian, hahaha." Namira tertawa dengan diikuti oleh putrinya Melati.
Alissa naik pitam, langsung mengerakan tangannya dan mengeluarkan jurusnya, membuat Namira yang lengah menjadi terkena serangan.
Mereka beradu kekuatan besar, sehingga banyak tanaman yang rubuh dan layu akibat kekuatan yang keluar terlalu banyak, pangeran yang melihat itu merasa terpesona dengan Alissa.
Melati yang melihat kekaguman pangeran kepada Alissa, membuatnya buta dan dengan beruntal melawan Alissa, memotong ibunya yang sudah kewalahan.
"Beraninya kau! aku akan menghabisi kamu!" teriak Melati.
Mereka kembali berperang, semua orang yang tersisa hanya menunggu dengan harap cemas, raut kalah dan harus menyerahkan diri pada Namira dan diperbudak.
Buk!
"Akhh, lepaskan!" bentak Melati yang sudah kalah, dan sedang diikat oleh mantra Alissa.
Alissa tidak memperdulikan itu semua, ia mendekati pangeran yang berdiri tega dengan wajah bengong, Alissa mencoba menyadari pangeran.
"Pangeran! Lynn, hei Lynn!"
"Ah, terima kasih.".
.
Alissa tersenyum manis, membuat jantung kecil milik Lynn berdenyut kencang.
Mereka pulang dengan kemenangan, Namira, putrinya dan para pasukan hitam, di bawa ke penjara, sedangkan Alissa sudah memutuskan untuk tinggal di istana dan menjadi ratu baru, menurutnya lebih menyenangkan berada di istana dari pada didunia manusia yang disana dirinya hanya sendiri.
"Aku mencintaimu putri Alissa, maukah kamu menikah denganku?"
Lynn melamar Alissa didepan para peri lainnya, hari ini hari perayaan kemenangan putri Alissa, semua anggota kerajaan bahkan kerajaan Lynn di undang hadir, mereka bersorak gembira.
Akhirnya Alissa dan Lynn menikah, mereka hidup berdampingan dengan baik, dan memiliki seorang anak perempuan.
TAMAT!