Nama ku Nathan, aku tinggal di kota 'S'. Saat ini usiaku menginjak 19 th. Aku berkenalan dengan seorang gadis, lebih tepatnya tak sengaja berkenalan. Perkenalan kami berawal dari sebuah aplikasi. Yah dari aplikasi yang membuat semua orang bisa saling berkomunikasi. Awalnya secara tak sengaja aku menemukan aplikasi ini, niatan ku hanya ingin memuaskan hobby membaca ku saja dan entah kenapa aku malah masuk ke sebuah grup. Di sinilah kami bertemu saling berbincang di chat pribadi, dan berakhir dengan bertukar nmr WA. Awalnya aku hanya berharap sebagai teman saja, tapi semakin makin kesini aku dan dia semakin merasa nyaman. Dia, ya dia bernama Akira, aku biasa memanggilnya Ara. Dia berasal dari kota yang jauh, lebih tepat tinggal di provinsi yang sangat jauh dari ku. Tempat itu biasa di bilang oleh orang sebagai serambi Mekah. Cukup jauh dan sangat jauh. Karena ada rasa nyaman saat kami ngobrol akhirnya Ara meminta ku menjadi kakak online. Kenapa mesti online karena kami hanya berkomunikasi lewat WA saja. Kami saling kirim chat entah pagi, siang dan malam tanpa rasa bosan. Terkadang aku juga menggodanya, Ara bukan lah cewek yang mudah untuk di goda dan di rayu itu lah yang membuat aku semakin suka padanya, dan entah kenapa setiap kali chat dengannya membuatku sering mengeluarkan kata manis dan harusnya membuat cewek berfikiran lain. Tapi Ara beda malah dia merasa nyaman dengan apa yang aku katakan padanya. Dari hari ke hari hubungan kami semakin erat walau hanya sebatas chat tapi aku merasa sangat dekat dengan nya. Hingga saling curhat, saling bertukar pikiran bercerita banyak tak membuat ku ragu atau malu. Ya aku pun banyak cerita ke dia, soal aku yang seorang GAY, aku yang habis di hukum dan sebagainya, hingga aku yang noteben nya seorang cowok tak malu menangis dengan di telpon disaat sedang ada masalah yang membuat ku tak tahu harus berkeluh kesah dengan siapa dan pada akhirnya kami malah menangis bersama. Bukan hanya aku, dia juga sama setiap ada masalah atau suatu selalu berkeluh kesah padaku entah itu soal cowok, atau masalah pendidikan juga. Seperti halnya saat itu, disaat keluarganya ingin dia masuk ke dayah (kalau yang ku tahu seperti pesantren) Ara berkata jika dia masuk kesana otomatis gak akan bisa chat lagi karena ada larangan bawa HP awalnya aku sedih tapi demi masa depannya aku hanya mampu ikhlas. Ternyata jika disana Ara hanya mengaji memperdalam ilmu agama saja tanpa ada pendidikan SMA, tentu saja aku memberikan dia sedikit saran kalau agama penting tapi untuk mendapatkan ijasah SMA juga itu penting apalagi alasan kakaknya yang gak masuk diakal menurutku. Dengan sedikit dorong keluarganya pun setuju Ara masuk MAN ah sungguh lega aku mendengar nya. Apakah selesai belum ternyata masih ada lagi, dan aku baru tahu itu. Ara orang yang mampu membuka hatiku bahwa tidak semua perempuan seperti mantanku ternyata dia menyukai seorang pria lain, aku merasa sangat sedih dan terluka lagi tapi apa mau dikata dia tinggal di kota yang sama di sekolah yang sama sedangkan aku jauh dari nya. Aku hanya sanggup mendengarkan ceritanya walau pun ada rasa sesak dan sakit di dada tapi aku tak boleh egois dia, Ara ku sayang berhak untuk bahagia walau bukan dengan ku itu yang aku pikirkan. Hingga suatu hari dia memutuskan untuk mengungkapkan isi hatinya, dan lagi lagi aku hanya mampu mendukung nya sembari berharap bukan dia jodohnya (jahat ya aku, biarin) dan sedikit memberi nasehat agar jika ditolak jangan sedih. Sembari menunggu kabar dari Ara aku berharap mereka tak pernah jadian (egois nya aku. Biarin). Ternyata yang aku harapkan terjadi Ara ditolak (yesss) sorak ku dalam hati. Tapi dari kejadian itu ada hikmah tersendiri Ara ku sayang lebih berani dari ku, ya dia sangat berani mengakui dan mengungkapkan isi hatinya. Hingga di suatu hari dia mengungkapkan isi hatinya padaku, terkejut aku di buatnya. Awalnya aku tak percaya dan bukan ini yang aku inginkan walau sebenarnya itu juga yang aku harapkan. Aku sadar jarak kami sangat jauh dan tak mungkin pula aku bisa menggapainya, bukan hanya jarak yang aku fikirkan tapi juga keadaanku (bukan fisik atau harta) keadaanku yang tak normal bukan dalam hal fisik tapi hati. Yang seperti yang aku katakan aku seorang gay, pecinta sesama jenis mampukah keluarga nya menerima aku yang seperti ini. Aku tak ingin menjatuhkan nya di saat dia ada di atas awan cinta karena aku pernah merasakannya sakit sekali. Tapi dengan tegas dia mampu meluluhkan hati ku. Bee aku juga cinta kamu, kamu tahu itu. Tapi aku tak berani berharap banyak dari kisah cinta kita. Seperti pepatah bilang cinta tak harus saling memiliki. Walau suatu hari nanti situasi tak memberi kita kesempatan untuk bersama tapi Bee akan selalu ada di hati Chagia. Yah hati Chagia akan salalu menjadi milik Bee. Untuk saat ini biarlah seperti ini berjalan mengikuti arus seperti air yang mengalir bebas. Kemana dan kapan akan berhenti biarkan waktu yang menjawabnya.