Posesiv
Cerita ini hanya khayalan belaka, jika terjadi kesamaan cerita, alur, waktu, dan tempat. Hal itu hanya kebetulan semata.
Bukan Kisah Nyata!
***
Suatu hubungan jika dijalani dengan baik akan menciptakan keharmonisan dan kebahagiaan, tapi bagaimana jika hubungan itu—dijalani dengan hanya ada dalam ketakutan akan kehilangan dan memiliki seutuhnya dan bahkan terlalu mencengkeram pasanganmu. Egoiskah? Atau kau sedang ada di fase perbudakan dalam hubungan cinta?
Pyar ....
Suara kaca rias pecah sudah menjadi hal lumrah dalam pernikahan Theo dan Elma, hal itu Theo lakukan jika ia sangat kecewa dengan sang istri yang enggan menuruti segala kemauannya. Elma hanya bisa meringkuk menahan diri dalam posisi yang luar biasa ketakutan.
Theo memang bukan tipe lelaki yang mudah memukul istrinya, tapi jika lelaki itu marah. Ia akan meluapkan pada barang-barang yang ada di dalam rumahnya. Tidak terhitung dari mesin penanak nasi hingga televisi super mahal yang pernah ia beli, ia tidak akan segan merusaknya hanya karena kecewa dengan Elma.
Elma hanya bisa menggigit pinggir bibirnya, pernikahan yang ia jalani begitu hambar. Bahkan rasa cinta yang sejak dulu bersemayam dalam hati wanita itu, seketika memudar dan memuai seiring dengan sikap sang suami yang tidak pernah bisa merubah perilakunya.
Sudah beberapa kali ia ingin pergi dari rumahnya, ya ... rumah yang mereka tempati adalah pemberian dari sang mertua, Theo adalah anak dari pengusaha kuliner di kotanya. Bisa dibilang Theo adalah anak orang berada.
Theo sangat menyukai hobinya—hobi motor gede yang bisa menghabiskan banyak uang. Tapi ia begitu pelit kepada sang istri, selama pernikahan bisa dihitung dengan jari, berapa kali ia mengajak sang istri jalan-jalan, akan tetapi tidak terhitung ia melakukan perjalanan bersama teman-teman motornya.
Sebenarnya Elma lelah dengan semuanya, beberapa kali ia berpikir untuk mengakhiri semuanya, tapi Elma terlalu takut untuk memulai semuanya, bahkan untuk bertukar pikiran dengan orang tuanya saja ia tidak kuasa, karena takut menyakiti hati mereka berdua. Hingga wanita itu memendam rasa itu bertahun-tahun.
"Apakah kau tidak punya telinga, Elma?! Sudah kukatakan jika aku tidak menyukai baju ini, apakah kau tidak mencuci pakaianku yang lain?!" hardik Theo dengan nada super tinggi, ia menganggap Elma tidak pernah becus mengurus pekerjaan rumahnya. Elma hanya menunduk, enggan menjawab apapun yang suaminya katakan, karena jika ia menyanggahnya maka urusannya akan semakin panjang.
Dada Elma sangat sesak ketika mulut sang suami tidak pernah berhenti mengomel. Ia hanya bisa menangis di ujung tempat tidur ketika suaminya telah masuk ke kamar mandi untuk bersiap pergi bekerja.
Ia tampak sesenggukan, menahan air mata yang akan keluar dari celah matanya. Tiba-tiba sebuah gelas melayang hampir mengenai kepala Elma.
Pyar ...
Benda itu menghantam tembok dengan keras menyisakan serpihan-serpihan kecil. Membuat Elma memekik karena kaget.
"Apakah kau anak Sekolah Dasar, yang hanya dimarahi akan menangis? Kau ini ibu rumah tangga yang sudah memiliki seorang anak! Usap air matamu, aku tidak ingin melihatnya!" seru Theo.
Perlahan Elma beranjak dan mengais gelas yang terburai berantakan. Ia benar-benar merasa sesak, seolah ia sedang berada di atas duri yang maha tajam saat suaminya di rumah. Bahkan untuk mengambil napas saja, mungkin ia harus meminta izin terlebih dahulu.
Theo juga seorang suami yang posesif, dirinya akan setiap saat mengecek ponsel istri, untuk memastikan dengan siapa saja wanitanya berkirim pesan. Pernah suatu ketika ia membelikan sebuah—ponsel pintar, tapi belum genap usia dua minggu benda itu telah hancur karena ulahnya sendiri. Ia mendapati pesan dalam salah satu aplikasi di dunia maya istrinya ia tengah asyik berkirim pesan dengan teman-temannya di grup chat alumni sekolahnya. Tentu saja hal itu membuatnya murka dan merasa dikhianati. Tapi bukannya Theo tidak baik, sebagai suami ia benar-benar mencintai sang istri bahkan ia sangat takut kehilangannya.
Seperti biasa, Elma tengah berkumpul dengan beberapa tetangga yang tengah menunggui anak mereka sekolah di salah satu taman kanak-kanak. Pergiwa, gadis kecil berusia lima tahun yang aman Elma sayangi, ia akan melalukan apapun hanya demi sang buah hati, bahkan bertahan dalam penderitaan hanya agar, Pergiwa tidak terpisah dari sang ayah karena ia menuntut perceraian.
"Ibu ... Gigi mau jajan." Suara rengekkan terlantun dalam bibir Pergiwa gadis kecil yang biasa dipanggil Gigi.
"Iya, sebentar. Ibu mau ambil motor dulu," ucap sang ibu lirih.
"Gigi mau ke swalayan di dekat rumah Syakif. Gigi mau jajan di sana," ujarnya lagi.
Dengan uang pas-pasan pemberian sang suami, Elma hanya bisa gigit jari, jika ia tidak bisa menuruti keinginan anaknya. Beruntung tiap bulan sang ayah masih menyokong hidupnya, dan mengirimkan sejumlah uang hanya untuk kebutuhan pribadi Elma.
Elma mengendarai motor matic yang memang sengaja diberikan sang suami untuknya sebagai sarana menjemput Pergiwa sekolah. Ia mengantarkan sang putri kecil untuk membeli segala sesuatu yang anaknya inginkan. Susu kotak, permen, snack, dan coklat adalah beberapa jajanan yang selalu Pergiwa pilih.
"Ibu ... Gigi mau ini," pekik anak itu penuh antusias. Dengan senyuman super ramah, Elma berjongkok demi mensejajarkan dirinya dengan anaknya.
"Tapi dimakan, tidak? Gigi tahu, kan. Kalau Gigi minta jajan, harus dimakan," ucapnya mengelus rambut anaknya.
Pergiwa pun cepat-cepat mengangguk tanda mengiyakan dan menyetujui perkataan ibunya.
Setelah membayar ke kasir, mereka berdua pulang ke rumah. Dan seperti biasa, Elma kembali ke rutinitasnya sebagai Ibu Rumah Tangga super sibuk, sementara Pergiwa tengah asyik dengan jajan yang ia beli dan menyantapnya di depan televisi.
Sesekali Elma menatap anaknya yang begitu tenang, ia mengawasi putrinya itu walau bisa dibilang Pergiwa adalah anak yang tidak mudah rewel dan nakal. Ia memang aktif, tapi pada porsi yang tepat menurut Elma.
Elma siap memasukan semua baju ke mesin cuci, seperti biasa. Dirinya selalu merogoh saku-saku celana, hanya agar bisa menemukan sesuatu yang mungkin saja terlupa.
Saat pilihannya jatuh pada celana jeans suami yang semalam ia kenakan saat pergi berkumpul dengan teman-temannya, ia menemukan secarik kertas. Struk sebuah hotel kelas tiga dengan tarif lima ratus ribu per malam. Hal itu berhasil membuat Elma mengerutkan kening, ia berpikir sejenak. Semalam Theo memang pulang begitu larut, tapi tidak sampai menginap. Lalu apa ini? Ah ... mungkin saja milik teman suaminya yang tidak sengaja Theo kantongi. Elma masih mencoba berpikir jernih dan tidak ingin memiliki pikiran macam-macam tentang suaminya. Dengan cepat ia membuang kertas itu ke dalam tong sampah.
Ia kembali melakukan tugasnya sebelum suaminya pulang makan siang, oia ... tempat kerja Theo berada tidak jauh dari rumahnya, hanya ditempuh hanya dengan waktu sepuluh menit saja, ia telah sampai.
***
Suara motor gede milik Theo berhenti tepat di depan pintu gerbang rumahnya, Pergiwa yang mendengar ayahnya telah pulang langsung berhambur keluar rumah, gadis kecil itu langsung meminta gendong ayahnya.
"Owh ... anak Ayah sudah berat rupanya," ucap Theo menggoda anaknya dan mengangkat anaknya.
"Jelas saja, berat badan Gigi udah dua puluh, kata ibu guru. Gigi sudah mau masuk Sekolah Dasar," kelakar Pergiwa dengan mimik wajah super menggemaskan.
Theo masuk ke dalam rumah, dan meletakkan jaket dan ponselnya di atas meja makan bundar yang terbuat dari kaca. Kemudian pria berusia dua puluh sembilan tahun itu pergi untuk bersenda gurau sembari menunggu sang istri menyajikan makan siangnya.
Sementara Elma masih menata makanan di atas meja untuk sang suami. Tidak disangka sebuah pesan dari ponsel Theo masuk, nama Fafa terpampang nyata dan dapat dibaca dengan mudah oleh Elma, yang membuat dada Elma sesak adalah isi dari pesan itu.
'Terimakasih untuk semalam ya, Theo. Aku akan menunggumu nanti malam di hotel Twenty One'
Dada Elma seketika sesak dan sakit, seperti dihantam oleh benda besar hingga menciptakan—sakit yang luar biasa. Ia tampak menempel pada dinding untuk meredakan hatinya yang terluka.
Dengan perasaan campur aduk Elma memberanikan untuk meraih ponsel suaminya. Meskipun ponsel itu dipasang kata sandi, namun Elma tahu betul jika—pasti suaminya akan memasang—kata sandi yang tidak akan jauh-jauh dari tanggal penikahan atau tanggal lahirnya atau bahkan tanggal
di mana Pergiwa lahir kedunia. Dugaan Elma benar, sandi itu bertuliskan 0902 benar, itu adalah hari di mana mereka mengucap janji suci.
Cepat-cepat Elma membuka ponsel itu, dan mengecek semua isi pesan, dan ia sangat terkejut hatinya sesak, dan air mata mulai berlinang melewati kedua pipinya. Inti dari pesan itu adalah. Semalam Theo berselingkuh dengan wanita yang berkerja sebagai pemandu karaoke di salah satu tempat hiburan terbesar di kotanya. Ia bercinta dengan wanita lain yang bukan istrinya. Jijik, marah, dan sedih itulah yang Elma rasakan.
Saat ia tahu jika Theo mendekat ke arahnya, cepat-cepat Elma meletakkan ponsel suaminya, dan pergi menjauh menuju tempat cuci piring, untuk menyembunyikan tangisnya.
Theo mengambil ponselnya, dan kembali menemani putrinya. Elma dengan susah payah menguasai emosinya dan kembali mengerjakan tugasnya.
"Sayang ... makan sudah siap," panggil Elma lirih.
"Hmmm ...." sahut Theo singkat.
Elma masuk ke kamar setelah menyiapkan makan suaminya untuk mengusap air matanya. Tiba-tiba–
"Elma ... Kau tidak menemaniku makan?!" pekik Theo mulai tersulut emosi.
Dengan hati hancur lebur, Elma menguatkan diri dan keluar dari kamar, ia menyapa anaknya untuk sedikit mengulur waktu.
"Gigi ... mau makan, tidak?" tanyanya.
Cepat-cepat Gigi menggelengkan kepala. "Tidak, Bu. Gigi masih mau makan ini." Pergiwa menujukan jajanan yang ia beli tadi.
Elma mengusap lembut rambut anaknya dan beranjak pergi ke meja makan untuk menemani sang suami.
"Sudah tahu suaminya makan, bukannya menemani malah ke kamar," celetuk Theo dengan suara ketus.
"Maaf...." jawab Elma lirih.
Theo belum menyadari jika Elma telah mengetahui kejadian semalam, dia juga tidak membahas soal mata sembab istrinya, karena Elma sudah biasa menangis di rumah tanpa sebab.
***
Setelah perutnya sesak terisi makanan, Theo kembali menuju kantornya, dengan perasaan yang terluka Elma mengantarkan Theo hingga pintu gerbang.
Kemudian ia cepat-cepat masuk, menghampiri tong sampah di dapurnya, ia mengais kembali kertas struk hotel yang tadi ia sempat remas dan buang. Elma membuka kembali—kertas itu, dan membacanya. Hotel Twenty One, tempat yang sama sesuai isi pesan di dalam ponsel Theo. Seketika itu juga wanita berusia dua puluh empat tahun itu, menangkupkan kedua telapak tangannya seraya terduduk di depan tempat sampah, hatinya terluka lebih lebar lagi, ia benar-benar tidak menyangka di balik ke posesifan yang Theo ciptakan tersimpan penghianatan yang besar. Selama tujuh tahun pernikahan Elma tidak pernah sedetikpun ia memikirkan lelaki lain. Tapi kini, balasan yang ia dapat adalah sebuah kekecewaan yang lebih besar yang Theo ciptakan.
Tiba-tiba Pergiwa lari dan memeluk sang ibu dengan erat.
"Ibu kenapa nangis?" tanyanya, dengan suara anak kecil yang terlihat sedih.
"Gigi ... Gigi mau tidak kita ke rumah kakek?" tanya Elma mengusap air matanya, di depan anaknya itu.
Pergiwa mengangguk pelan, tanda ia setuju dengan ajakkan sang ibu. "Aku juga kangen sama kakek, nenek, dan tante Febri, Bu." Suara gemas keluar dari mulut mungil Pergiwa.
Elma akan pergi meninggalkan Theo sebelum ia pulang, karena jika ia berpamitan, mungkin Elma tidak akan bisa keluar dari rumah neraka ini. Dengan cepat wanita itu mengemasi barang-barangnya. Dan bersiap pergi meninggalkan suaminya.
**
Sebelum sore, Elma telah sampai ke rumah orang tuanya. Ia benar-benar rapuh, hingga tidak bisa mengatakan kegusaran hatinya pada kedua orang tuanya, di samping ia tidak ingin membuat nama suaminya buruk di mata orang tuanya, ia juga menjaga perasaan ayah dan ibunya.
Setibanya Theo kembali ke rumahnya, Theo tidak mendapati anak istrinya berada di dalam rumah, dengan murka dirinya mencari sang istri ke luar siapa tahu Elma sedang berjalan-jalan dengan Pergiwa. Tapi nyatanya nihil, Elma tidak juga menampakkan batang hidungnya.
Theo merogoh ponsel di saku celananya, dan menekan nama sang istri kemudian meneleponnya.
"Di mana kau?!" pekik Theo saat sambungan teleponnya terhubung.
"Aku ingin cerai," sahut Elma lirih, tanpa menyapa sang suami.
"Ce–cerai—" Kata terbata keluar dari mulut Theo. "Memang apa salahku?" Tangan lelaki itu bergetar ketika menerima kenyataan jika sang istri meminta bercerai.
"Kau kotor, aku tidak bisa menerima. Jika yang aku miliki harus dirasakan juga dengan wanita lain. Aku bisa menerima sikap kasarmu, aku bertahan karena Gigi, tapi untuk satu ini ... maaf aku tidak bisa," jelas Elma, lalu wanita itu menutup panggilannya.
End—
Jaga cintamu baik-baik, pupuklah ia dengan kasih sayang. Jika perasaan itu telah mati, ia tidak akan bisa tumbuh dengan mudah kembali~
Love,
Novi wu