Pak Narto seorang penjual cilok. Beliau tinggal di sebuah kampung yang bernama Kampung Bajul. Dua tahun yang lalu istrinya meninggal karena penyakit asma. Sepeninggalan sang istri anaknya yang bernama Fathur harus pergi merantau untuk mencapai cita-citanya.
Dua tahun yang lalu, saat matahari mulai menampakkan diri, Fathur pamit dengan sang bapak.
"Pak, hari ini cuaca mendung ya. Seperti hidup kita tanpa sosok emak. Saya kangen banget sama emak."
"Iya le, tapi mau gimana lagi ini sudah kehendak Gusti." Tutur sang bapak.
"Tapi saya bersyukur masih memiliki bapak sampai saat ini. Dulu emak pernah bilang sama saya bahwa ilmu itu harus dicari saat napas ini masih berfungsi. Maka dari itu, pak saya mau izin untuk merantau demi membelikan pakaian abadi untuk bapak dan emak. Tolong restui niat saya ini pak."
"Bapak selalu merestuimu le, tapi bapakmu ini hanya orang melarat. Tidak punya apa-apa untuk bekal niat baikmu itu." Jawab Pak Narto dengan raut muka sedih.
"Tak apa pak, doa dan restu bapak untuk saya adalah bekal termewah untuk niat saya ini. Saya mohon pamit kepada bapak untuk berangkat mencari ilmu."
"Iya le hati-hati. Ingatlah Gusti dimanapun kamu berada karena sesungguhnya kita tidak punya apa-apa tanpa bantuan Sang Pencipta." Amanat sang bapak pada Fathur.
Setelah berpamitan pada bapaknya Fathur pergi mencari ilmu dengan menurut aliran sungai diseberang hutan kampungnya. Tanpa berbekal makanan dan uang ia terus melanjutkan perjalanannya demi emak dan bapaknya.
Ditengah-tengah perjalanan Fathur merasa kelaparan. Namun, ia tak punya makanan. Tiba-tiba ada sebuah apel yang mengapung di pinggiran sungai. Ia pun mengambilnya dan memakannya. Saat memakan apel itu satu gigitan ia teringat nasehat emaknya.
"Jangan memakan apapun yang bukan milikmu tanpa izin pemiliknya nak."
Setelah mengingat nasehat itu, Fathur berhenti memakan apel itu. Kemudian ia menyusuri aliran sungai mencari darimana apel itu berasal. Sampailah Fathur disebuah pohon apel lebat. Ia bertanya pada warga sekitar, siapa pemilik pohon apel itu. Ternyata pohon apel itu milik seorang petani tua bernama Pak Bowo. Fathur mencari rumah Pak Bowo melalui arahan dari salah satu warga Kampung Berkah. Sampai di rumah pemilik pohon itu. Fathur mengucapkan salam dan muncullah seorang bapak tua, yaitu Pak Bowo.
Fathur menyampaikan tujuannya datang kemari untuk meminta izin memakan satu buah apel dari pohon Pak Bowo yang terbawa arus sungai.
"Tidak aku tidak akan memberikanmu izin memakan buah apel itu." Tutur Pak Bowo.
"Apa yang harus saya lakukan agar bapak memberikan izin pada saya?" Jawab Fathur.
"Bekerjalah disini membantuku mengurus ladang selama satu bulan tanpa bayaran."
"Apa? Baiklah saya setuju."
Satu bulan setelah Fathur bekerja dengan Pak Bowo, hari ini ia akan pamit karena telah menyelesaikan tugasnya. Tak cukup sampai disitu, ternyata Pak Bowo meminta satu permintaan lagi pada Fathur sebelum ia mengizinkan Fathur memakan apelnya satu bulan yang lalu.
"Saya ingin kamu menikahi putriku.Tapi perlu kamu ketahui, putriku ini tuna rungu, tuna wicara, dan tuna netra. Apakah kamu bersedia?" Tutur Pak Bowo didampingi sang istri Bu Sumringah.
Mendengar penuturan Pak Bowo, hati Fathur bergetar. Hanya karena ia memakan buah apel yang terapung disungai ia harus menuruti semua permintaan Pak Bowo yang menyangkut kehidupannya ke depan. Tetapi apapun itu Fathur harus menerima resikonya demi emak dan bapaknya.
"Baiklah saya bersedia." Ujar Fathur.
Setelah mengucapkan ijab qobul untuk menikahi putri semata wayang Pak Bowo. Fathur dipersilahkan untuk melihat istrinya. Tanpa diduga gadis yang sekarang menjadi istrinya adalah gadis yang sangat cantik dan tidak cacat. Pak Bowo menjelaskan bahwa ia mengatakan tuna rungu, tuna wicara dan tuna netra karena putrinya ini tak pernah mempergunakan telinga, mulut dan matanya untuk berbuat maksiat. Sungguh beruntung sekali Fathur.
Pak Bowo mengetahui bahwa tujuan utama Fathur merantau meninggalnya untuk mencari ilmu. Maka dari itu, Pak Bowo menyuruh Fathur kembali lagi menuju niat awalnya. Fathur pun pergi meninggalkan rumah Pak Bowo. Meninggalkan sang istri demi mencari ilmu dan memberikan jubah abadi untuk kedua orangtuanya. Berat memang rasanya, baru menikah langsung berpisah. Tapi ini perintah mertuanya, perintah yang harus Fathur lakukan untuk mendapat berkah dari Tuhan YME.
Dalam perjalanan mencari ilmu, ia bertemu dengan salah seorang kyai bernama Kyai Bukhori. Kemudian ia berguru pada sang kyai. Kyai mengajarkan pada Fathur tentang ilmu agama, ilmu filsafat, dan ilmu kitab para ulama. Dengan rasa ikhlas Fathur jalani meski terkadang dalam sholatnya ia teringat orang-orang yang ia cintai. Namun, Fathur kembali pada prinsipnya bahwa cinta Allah SWT adalah cinta abadi diatas cintanya kepada para keluarga.
Setiap hari tak ada waktu terlewat tanpa iringan Al Quran. Rasa rindu mulai terobati walau hati terkadang ingin kembali. Keluarga yang sedang menunggunya disana menjadi motivasi untuk ia belajar lebih giat. Nasehat emak senantiasa mengingatkan Fathur dimanapun ia berada.
Emak apa kabar disana, Fathur telah melaksanakan perintah emak untuk mencari ilmu. Bukan hanya ilmu dunia, tetapi juga ilmu akhirat. Rindu sekali Fathur dengan masakan, senyuman, omelan, bahkan suara emak mengaji disetiap malam. Tunggulah jubah kiriman Fathur untuk emak yang sudah tenang di alam barzah. Doa Fathur selalu mengalir untuk emak disana.
Selama 12 tahun, Fathur berguru pada sang kyai. Hari ini ia akan melantunkan hafalan Al Quran 30 juz nya sebagai penutup sebelum kembali ke rumah. Kyai sungguh bangga pada Fathur, mendengar kisahnya yang luar biasa. Aku pun terharu saat Fathur mengucap salam perpisahan kami. Sosok sahabat yang mengajakku untuk mencari ilmu hingga aku tak buta pengetahuan lagi.
Hati-hati di jalan Thur. Ucapku.
Iya Do, kamu juga jangan sering bolos kalo disuruh kyai setoran. Tutur Fathur pada Aldo sambil tertawa. Kyai yang mendengar itu menggelengkan kepala.
Mohon pamit kyai. Semoga ilmu dari kyai bisa berkah untuk saya dan orang-orang disekitar saya.
Iya le, hati-hati di jalan. Ingat sholat jangan dunia saja. Dunia itu tak berarti apa-apa karena kodratnya kita akan menghadap Gusti Allah. Nasehat kyai pada Fathur.
Iya kyai. Saya akan terus mengingat nasehat kyai ini.
Fathur kembali ke rumah sang bapak dan bercerita tentang perjalannya mencari jubah kebanggaan untuk bapak dan emaknya. Bapak tersenyum dan mengelus kepala Fathur. Sang bapak merasa bangga pada Fathur atas apa yang ia lakukan selama ini.
Bapak bangga padamu le, pasti emakmu disana sudah memakai jubah kebanggan darimu yang selama ini kau cari.
"Mungkin sebentar lagi bapak juga akan memakainya." Tutur sang bapak dengan tersenyum.
Esok harinya saat Fathur ingin membangunkan bapaknya untuk sholat subuh berjamaah ternyata sang bapak telah kembali ke Rahmatullah. Pedih hati Fathur melihat bapaknya telah terkapar tak bernyawa. Namun, senyum pada wajah sang bapak masih terlihat. Memang bapaknya ini tak sabar memakai jubah yang selama ini Fathur cari.
Satu bulan kemudian Fathur menjemput sang istri ke rumah mertuanya. Fathur bersyukur atas limpahan rahmat yang telah Gusti Allah kasih padanya. Cita-cita untuk memberikan jubah kebanggaan pada emak dan bapaknya dengan hafalan Al Quran telah terpenuhi. Kini saatnya ia berbakti pada kedua mertuanya dan menjadi imam bagi istrinya Fatimah untuk membangun keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah.