Empat orang putra dan dua orang putri ternyata tidak tidak bisa membendung datangnya petaka bagi perempuan itu.
Entah seberapa penting baginya keluar malam tadi, aku tidak lagi peduli. Adu mulut tak terhindarkan lagi, putri bungsu kami menangis nyaring menambah panas suasana pagi yang masih berkabut. Emosi memuncak, darahku mendidih.
Ku alihkan pandanganku pada sebilah parang di sudut ruangan, dengan amarah di dada, ku genggam benda terkutuk itu dengan kuat tanpa bergetar. Kakiku melangkah cepat, ku arahkan parang ke leher perempuan itu.
"MATI KAU!!"
Crasss....!!
Seketika aroma darah segar menyerbu indra penciumanku, tetesan darah mulai berjatuhan ke lantai papan rumah kami. Dia hanya menjerit pelan ketika tebasan parang mengarah padanya, hanya tangannya yang seketika terangkat menahan parang menyentuh lehernya. Tubuh kurusnya terhuyung. Warnanya memucat.
Tuhan, terima kasih masih Engkau selinapkan serpihan kasih sayang di hatiku yang menghitam ini, sehingga parang busuk itu urung kuayunkan sekuat tenaga.
Pergilah wahai perempuanku, berlarilah menjauh dari iblis ini. Terima kasih untuk dua puluh tahun waktu yang kau dedikasikan untuk pria terkutuk ini.
*****
Dua puluh menit telah berlalu, aku masih membatu, berdiri termangu. Selaksa drama berdarah tadi masih menggayut utuh di pelupuk mataku. Air mata, iblis tidak menangis, tapi hatiku.
Kini aku melangkah pergi, tidak tergesa sama sekali. Tak ada asa lagi, aku hanya berjalan menjauh. Jauh.
2 MINGGU KEMUDIAN.
Aku kembali membawa sedikit pengharapan di dada. Mendatangi rumah kita seolah aku kembali dari mencari nafkah seperti biasa.
Aku naif dan bodoh, rumah kita sudah rata dengan tanah. Kembali hampa di dadaku. Ada perih disana yang tak mampu aku lukiskan. Kembali aku menjauh, kali ini untuk waktu yang lama.
BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN.
Aku seolah lupa dengan cerita pagi itu. Hari-hariku berjalan baik, aku tersenyum dan aku tertawa, hanya sesekali di malam hari atau di sela kesendirian ada kalanya penyesalan dan ksedihan datang menyapa, sering kuabaikan.
Dia, perempuan yang dulu pernah singgah sebelum kau datang, kini menetap bersamaku. Membuka pintu rumah dan hatinya untukku sekali lagi. Dia memang tak secantik dirimu, bahkan tak secuilpun dari dirinya yang sepadan denganmu. Tapi dia pandai merajuk, hal yang tak pernah kau lakukan selama kita bersama. Mungkin memang tak ada dua Perempuan yang sama.
Bibirnya selalu berhias lipstik cerah, senyumnya mudah merekah, matanya penuh gairah. Dia mungkin tengah berusaha membawaku kembali ke masa muda.
Namun, hingga saat ini sketsa wajahmu itu yang lebih mudah singgah dalam ingatanku, garis lembut rahangmu, mata coklatmu yang teduh, hidungmu... ya, kau punya hidung tinggi yang melengkapi kecantikan alamimu. Tak banyak yang memilkinya. Rambut lurusmu yang kerap kau gulung tinggi memperlihatkan lehermu yang jenjang. Leher itu.
Kadangkala lamunanku melayang jauh mengingat hingga ke tanganmu yang cekatan mengolah apapun yang ada menjadi hidangan yang selalu ku rindukan. Kau ahlinya di dapur. Aku kembali menelan ludah, seolah indra penciumanku merasakan aroma lezat dari dapur kita.
"Apa kabarmu?" Sapaku pagi ini.
Aku telah lama mendengar kabar, bahwa kau kini telah berpindah pulau. Menetap bersama anak-anak kita yang telah beranjak dewasa. Si bungsu pasti juga sudah bersekolah. Putri kita yang satunya, aku ingat dia secantik dirimu. Aku rindu gadisku itu.
"Apa kabar kalian semua?" Sapaku di pagi yang lainnya.
Kini usia mulai menjajah tubuhku. Satu, dua, tiga penyakit mulai menghampiri. Tapi, aku beruntung dia masih merawatku sepenuh hati. Menyuguhkan kopi dan pisang goreng di pagi hari, tak pernah terlewat mengantarkan santapan siang dikala aku di ladang. Iya, aku sekarang mengolah tanah warisan bapak yang dulu ku telantarkan. Ku tanami apa saja sesuai musim. Kadang jagung, kacang tanah, cabai dan pernah juga tembakau. Hasilnya lumayan. Sayang, aku tak mendengarkanmu dulu. Kau benar, tanah ini mampu menghidupi dengan lebih baik di banding pekerjaanku dulu.
Beberapa Rupiah untukmu dulu, harus kau olah agar cukup mengenyangkan perut seisi rumah, membayar SPP sekolah dan lainnya. Sering kau menawarkan tenaga untuk mendapatkan upah menanam dan memanen padi di sawah orang. Hmm, aku sungguh kejam pada hidupmu.
Pagi masih berkabut. "Apa kabar?"
Aku pergi meninggalkan dia, kami sering adu mulut belakangan ini. Kata-katanya menyakiti telinga dan hatiku. Penyakitku membuatku sulit menerima keadaan dengan lapang dada.
Kini aku membangun sebuah gubuk kecil di ladang. Ku buat diriku semakin sibuk, ada ratusan ekor bebek yang kupelihara. Mereka berisik, hari-hariku selalu ramai dan sibuk, bebek dan ladang.
Beberapa hari yang lalu anak kita yang ke tiga datang menemuiku. Setelah sekian tahun, aku bisa melihatnya lagi, tampaknya seorang kerabat mengabari kondisiku yang sakit ini padanya. Anak kita sedikit gemuk sekarang, dulu dia pergi untuk bekerja diusia belasan, tubuhnya masih seorang remaja kurus. dia telah tumbuh dewasa tanpa terawasi olehku.
Dia merawatku beberapa hari, aku sedikit bermanja dengannya. Sedikit bersenda gurau juga. Kuperlihatkan isi dompetku padanya, minggu lalu aku baru saja menjual ratusan ekor bebek peliharaanku. Dia terkejut melihat betapa banyaknya uangku, tak hanya di dompet, aku juga punya banyak di bawah kasurku. Tapi menolak ketika ku beri, katanya dia juga punya banyak. Kami tertawa. Sebelum dia pergi, aku memintanya datang kembali untuk mengunjungiku. Dia mengangguk setuju.
"Apa kabarmu pagi ini?" Aku menyapa dari tempat yang berbeda.
Aku berada di rumah anak kita, dia benar-benar kembali mengunjungiku dan mengajakku kerumahnya. Rupanya ada dua cucu perempuan kita yang masih lucu-lucu.
Aku merengek meminta untuk diantarkan pulang ke gubukku di hari ketiga, itu karena tubuhku mulai meronta menahan sakit. Ada luka di kakiku yang tak kunjung sembuh. Ku sembunyikan semampuku. Anak kita membujukku untuk tinggal dan menetap bersamanya. Tapi aku menolak, kuberikan seribu satu alasan dari bebek hingga ladang, dan akhirnya aku bisa kembali ke gubukku setelah perjalanan beberapa jam.
" Apa kabarmu dipagi berkabut ini?"
Aku tergeletak lemah. Anak kita kembali datang. Memaksaku menemui dokter. Panjang sekali penjelasan dokter itu pada anak kita, aku tidak memperdulikannya. Dan aku menolak dirawat di sana. Kembali ke gubukku saja.
Sejak anak kita tahu keadaan tubuhku, ia sering berkunjung. Kadang mataku tergenang, karena sakit dan haru. Dia sungguh berbakti. Apa dia sudah melupakan cerita yang ia dengar?
Hari-hariku berlalu begitu saja. Kadang lambat kadang cepat. Bagaimana denganmu?
28 TAHUN KEMUDIAN.
"Apa kabarmu hari ini?"
Telah kubayar sebagian dengan dera yang sepadan. Sisanya kuserahkan pada Sang Maha Adil. Pagi berkabut telah kembali, ini akhir perjalananku. Selamat tinggal.