Perjalanan hidup yang dipenuhi kesedihan,kepedihan yang terasa selalu ada dan tak mau sirna dari lubuk hati.Dikala hampir setiap hari rasa putus asa dan kecewa menyertai setiap langkah kaki.
--------------------
Ku buka mataku perlahan dan seketika pemandangan genteng usang dan berdebu memenuhi penglihatanku.Badanku terasa berat untuk bangun dari kasur lusuhku memikirkan aku harus melewati panjangnya hari yang begitu menyedihkan.
" Oke bangun atau aku akan tamat sekarang juga" ucapku pada diriku sendiri.
segera ku ambil seragam putih abu-abu yang kata orang2 sudah seperti lap dirumahnya.Namun apa daya jangankan beli seragam baru untuk beli beras saja sering tak bisa.
Aku pun pergi membawa alat mandi ke rumah tetangga untuk menumpang mandi.Inilah hari- hariku harus slalu numpang mandi dan ke WC di rumah tetangga samping rumahku.
" Tok tok.... assalamualaikum Bu tari saya mau numpang mandi" ucapku.
" Eh Naura silahkan masuk " ucap pak Doni dengan ramah.
"Ya pak terimakasih" ucapku dengan senyum sumringah.
"Ya sudah bapak kerja dulu buruan sana mandi nanti telat" ucap pak Doni sembari melangkah ke motornya.
"Ya pak".
Aku masuk dan bergegas untuk ke kamar mandi yang berada di paling ujung rumah besar ini.
" Berhenti!! mau apa kamu ?" teriak Bu tari yang menghentikan langkahku.
" Mma..mau numpang ma..mandi bu" ucapku dengan terbata melihat Bu tari telah berkacak pinggang dengan muka marah.
" Mulai hari ini jika keluargamu mau numpang mandi dan ke WC harus bayar!!".
" Tapi Bu saya gak punya uang" ucapku.
"Itu bukan urusan saya kamu punya uang atau nggak yang penting kamu tetap harus bayar .Terserah kamu mau dapet uang darimana mau ngamen kek ,ngemis kek , mau nyolong sekalian itu bukan urusan saya kalau gak bisa bayar ya sana cari tumpangan lain" ucap Bu tari dengan kasar.
Inilah yang slama ini memang slalu ku khawatirkan mengingat Bu tari adalah orang kaya yang terkenal perhitungan dan pelit di kampungku. Berbanding terbalik dengan suaminya yang sangat baik dan suka membantu orang sepertiku.
" Ya sudah Bu saya permisi" ucapku sambil menunduk menahan tangis yang dari tadi sudah mau tumpah.
"Silahkan pergi sana buat emosi saja pagi2" .
Aku pun berlari kembali ke rumahku dengan air mata yang tak dapat terbendung.Aku melihat ke sekeliling memastikan jika ibuku tidak melihat ku sedang menangis.Setelah kurasa aman aku melangkah masuk ke rumah .
" Ra kamu udah mandi? " tanya ibuku yang berada di belakangku .
" Su sudah Bu ini mau ganti baju tadi lupa gak bawa" ucapku tanpa berani menoleh berusaha membuat suaraku normal dan menyembunyikan seragam di tanganku .
" Oh ya sudah cepat sana nanti telat" ucap ibuku dengan lembut.
Aku segera masuk kamar dan menutup pintu dengan cepat.Aku terduduk lemas bersandar pintu sambil terisak .
Kenapa hidupku slalu saja begini tak ada yang mau menghargai keluargaku tak ada yang mau sedikit saja membantu bahkan para saudaraku.Apakah semua itu hal mustahil dan tak akan pernah terjadi? mereka akan slalu mengucilkan keluargaku melihat jijik akan semua yang ada,yang di perbuat dan dipakai oleh keluargaku,hiks hiks.
" Ra ayo sarapan dulu" panggil ibuku.
" Ya Bu sebentar " aku segera bersiap siap dan mengusap sisa air mata.
Aku berjalan ke arah dapur sederhana ku dengan bersikap tegar dan tersenyum palsu aku tak ingin ibuku sedih melihatku .Aku berdiri kaku mamandangi ibuku dan juga adikku yang sedang menikmati hidangan hari ini.Bagaimana jika aku tak bisa menahan air mataku?.
" Rara ayo cepat makan jangan berdiri aja Alhamdulillah hari ini ibu bisa beli beras" ucap ibuku dengan tersenyum bahagia.
" Iya kak ayo makan kita kan sudah lama gak makan nasi" ucap Gani adikku satu-satunya.
" Iya iyaa tapi aku mau ke kamar dulu sebentar ada yang ke lupaan" ucapku karna tak kuasa menahan air mata.
" Jangan lama-lama Ra" ucap ibuku saat aku tlah berjalan beberapa langkah.
" Iya Bu"
Apa yang harus aku katakan dengan ibuku ?aku merasa tak sanggup memberi tau ibuku jika kami harus membayar kalau ingin menumpang ke WC.Aku tak kuasa jika harus menyirnakan senyum ibuku dan adikku yang setelah sekian lama bisa makan nasi lagi.Begitu menyakitkan harus berbicara kenyataan namun aku juga tak mungkin trs menyimpan kenyataan.Tetapi aku juga tak tega jika Bu tari yang memberi tau ibu,itu pasti lebih menyakiti perasaan ibu.
" Ra kok lama ayo cepet makan " ucap ibuku saat aku kembali ke dapur.
"Ya Bu".
Aku pun hanya mengaduk makananku nafsu makanku serasa hilang begitu saja padahal makanan ini yang slalu ku tunggu setelah tiap hari hanya makan ubi ataupun jagung yang ada di kebun samping rumah.
" Kak kok nggak dimakan sih ? " tanya adikku.
" Iya kamu kenapa Ra ada apa ? " tanya ibuku.
" Bagaimana ini aku harus jawab apa?" batinku.
" Emm anu makanku disimpan untuk nanti siang saja ya Bu" jawabku.
" Kenapa Ra? Alhamdulillah nanti siang kita masih bisa makan ibu baru dapet rejeki " ucap ibuku .
" Ibu dapat uang dari mana?" tanyaku dengan heran karna biasanya uang dari buruh mencuci cuma cukup untuk bayar sekolah kami.
" Minggu lalu ibu ketemu pak RT dan ibu diajukan untuk dapat bantuan uang" ucap ibuku dengan tersenyum senang.
"Alhamdulillah ya Bu akhirnya ada yang mau membantu kita" ucapku sembari memeluk ibuku.
"Ya sudah cepat makan dan berangkat ke sekolah".
Aku menyantap hidangan sederhana tapi terasa mewah bagi keluarga .
Makanan yang menurut banyak orang terasa biasa saja dan mungkin sudah terasa bosan di lidah mereka namun bagi keluargaku inilah makan istimewa.
" Aku sekolah dulu ya Bu assalamualaikum" pamitku pada ibu.
"Wassalamualaikum hati-hati nak".
ku kayuh sepedaku sekuat tenaga agar tak telat sampai sekolah.Diantara banyaknya motor dan mobil yang berlalu lalang mungkin aku lah satu-satunya yang mengayuh sepeda butut .kucuran keringat keluar membasahi punggung ku dan menetes di wajahku karna sekarang tlh jam 7.30 maka matahari tlh meninggi.Itulah sebabnya aku selalu berangkat jam 6 pagi agar tak terlalu berkeringat karna terlalu terburu-buru, terkena panasnya matahari dan polusi kendaraan.
"Eh anak lusuh dah dateng"ucap Tiara teman sekelasku.
" Dia itu gak lusuh tapi dekil " sahut Deni.
Ucapan mereka yang seperti itu slalu menjadi kata sambutan saat aku sampai dikelas.Aku bukan hanya ekonomi yang kekurangan tapi juga halnya teman tak ada satupun yang mau berteman denganku bahkan tempat dudukku sengaja ditempatkan paling belakang dan sendirian.Aku slalu sendirian dari kelas 10 sampai detik ini yang sudah menginjak detik-detik kelulusan.
" Apakah bajumu tak pernah di pemutih? atau hanya sekedar deterjen saja kamu tak mampu beli, haha" ucap Tiara aku pun hanya menunduk menatap meja yang banyak terdapat coretan tulisan bullyan mereka padaku.
Ingin sekali rasanya aku marah dan menampar mereka satu-persatu namun apalah kuasaku hingga bisa menampar anak orang kaya itu.Ibarat aku menamparnya sekali maka orang tuanya akan meremukkan semua tulangku dan juga keluargaku.
" Hei Rara lusuh apakah kau tak pernah mandi , haha".
Deg...
Aku pun merasa layaknya tertampar ribuan kali seketika teringat ibuku yang lupa ku beri tau jika harus membayar jika ingin numpang ke kamar.Terbayang olehku bentakan, cacian Bu Tari pada ibuku yang akan menggema keras.
"Heh kok malah bengong " teriak Mila di meja paling depan.
" Bener kali dia nggak mandi " ucap Deni.
" Pantesan kayak ada bau gak enak dari tadi ternyata si lusuh,iyuhh" ucap Tiara.
"Haha" seisi kelas tertawa memandangku jijik.
Karna sudah tak kuasa menahan amarah aku membawa tasku dan keluar kelas memutuskan untuk pulang .
Di sepanjang jalan aku tak kuasa menahan tangisku hingga tak sedikit yang melihat heran padaku.Hari ini adalah ujung dari kesabaran ku selama ini benteng ku telah ambruk terkikis kata-kata menyakitkan setiap hari.
"Assalamualaikum Bu" salamku namun tak ada sahutan.
" Ngekk...Bu ibu" panggilku.
" Mungkin di kamar atau mengantar Gani kesekolah tp sekarang sudah jam segini" gumamku pelan.
Saat aku masuk ke kamar ibu terlihat ibuku yang tidur miring terbalut selimut.Tak biasanya ibu tidur jam segini apa ibu sedang sakit?.Aku menghampiri ibuku perlahan yang masih belum menyadari aku tlah berada di belakangnya.
" Bu apa ibu sakit" tanyaku pelan pada ibu yang membelakangi ku.
" Tidak" jawab ibuku yang terdengar parau seperti habis menangis .
" Ibu kenapa Bu?" tanyaku lagi.
" Nggak papa ra,kamu kenapa udah pulang ?" ucap ibu yang masih membelakangi ku.
" Emm ada rapat buk jadi gak ada pelajaran" bohongku.
Aku pun naik ke kasur untuk melihat wajah ibuku untuk memastikan bahwa ibuku baik-baik saja.
" Buk ibuk kenapa nangis ? ada yang sakit Bu?" ucapku panik karna ternyata ibuku sedang menangis tapi ibuku cuma menggeleng pelan.
" Buk ibu yang jujur sama aku" ucapku.
" Apa tadi pagi Bu tari marahin kamu ra?" tanya ibu.
" Emm iya apa Bu tari juga marahin ibu atau ibu diapain?" .
" Nggak Ra tapi Bu tari nyuruh kita bayar" ucap ibu.
" Tapi harus bayar berapa Bu?" tanyaku.
" 10 ribu " jawab ibuku sembari bangun.
" Perhari?".
" Setiap mau numpang" .
" Jadi jika sehari numpang 5x jadi 50 ribu Bu?( ibuku mengangguk).Itu nama ya pemerasan Bu mentang2 kita orang gak punya trs di perlakukan sesuka hati . Kenapa sih nggak ada orang yang mau tulus bantu kita Bu,hiks hiks " ucapku sambil terisak.
" Udah ya Ra kita harus sabar kamu harus nyakin kalau kamu bisa jadi orang sukses dan memperbaiki ekonomi keluarga kita" ucap ibuku sembari mengusap air mataku .
" Tapi gak di pandang sebelah mata seperti ini juga Bu.Apa ada di kampung ini yg peduli dengan keluarga kita nggak ada kan Bu?" ucapku lalu memeluk erat tubuh ibuku.
Keesokan harinya....
Untuk kesekian kalinya aku bangun dengan rutinitas yang sama yaitu melamun menatap genteng usang terlebih sekarang hari libur.Aku slalu berangan jadi orang kaya bisa membeli apapun yang ku inginkan jadi orang terpintar di kelasku.Ingin rasanya membuat orang yang slalu membullyku , meremehkan keluargaku ku buat bungkam akan kesuksesan ku.
" Rara tolong belikan ibu telur" ucap ibuku yang terdengar berada di depan pintu kamarku.
" Ya Bu siap" ucapku saat membuka pintu sambil mengucek mataku.
Segera ku melangkah menuju warung yang berjarak sekitar 100 m dari rumahku.Namun ditengah jalan aku melihat sebuah buka tergeletak di pinggir jalan dan aku pun mengambilnya.
Malam hari........
Aku menatap genteng rumahku selalu saja genteng rumahku dan memikirkan semua yang terjadi padaku .Aku harus berubah aku tak boleh lagi slalu putus asa dan mengganggap hidup tak berguna.Aku harus mengubah pandangan orang padaku aku harus berguna untuk hidupku bukan hidup yang harus berguna untukku .
Mungkin slama ini aku memang terlalu tak semangat hidup selalu menganggap ini semua salah takdir.Entah mengapa rasa ingin berubah ini tiba² muncul dalam hatiku.Mungkin karna aku telah muak dengan semua cibiran orang .Tapi bagaimana caranya aku merubah itu semua ,apakah aku bisa ?.
" Oh buku tadi buku apa ya?" aku terbangun dari rebahan ku dan mencari buku yang kutemukan tadi.
Setelah menemukan buku itu aku segera membaca isi buku yang ternyata tentang sebuah kata dan cerita motivasi.Kenapa buku ini seperti menjawab semua tanyaku dan keraguan ku akan hidup menyedihkan ku.
TIADA ORANG MALAS YANG MENJADI SUKSES DAN TIADA ORANG SUKSES YANG BERASAL DARI ORANG MALAS.
JIKA KAU MERASA HIDUP TAK BERGUNA UNTUKMU KAU SALAH KAULAH YANG TAK BERGUNA UNTUK HIDUP.
COBALAH MERUBAH RASA INSECURE MENJADI RASA BERSYUKUR.KARNA RASA INSECURE MENJADIKAN DIRI TERASA TAK BERARTI SEBAIK APAPUN DIRIMU JADI BERSYUKURLAH DAN RAWAT DIRI MENCOBA MENGHARGAI DIRI SENDIRI.
JIKA KAU MERASA LELAH UNTUK MENGHADAPI SEMUA MAKA INGATLAH BILA KAUSEDANG BERJUANG UNTUK KELUARGAMU MAKA HILANGLAH RASA LELAH DAN MENGALIRLAH RASA SEMANGAT DALAM DARAHMU.
PERCAYALAH NANTI KAU AKAN MENGUBAH CACIAN MENJADI PUJIAN.
MENJADIKAN TANGISAN MENJADI SENYUMAN.
MENJADIKAN KEGAGALAN MENJADI SEBUAH KEBERHASILAN.
Begitulah sedikit kata² dari buku yang ku baca yang bisa membuka hatiku dan bisa meneteskan air mata penyesalan ku untuk tak lagi menyalahkan takdir.Betapa bodohnya aku hanya berdiam diri selama ini karna mengganggap sekuat apapun berjuang pasti akan sia².
Mulai hari ini aku akan menjadi Rara yang semangat dan tak kenal putus asa. Aku harus mengubah hidupku menjadi lebih baik:).
Aku pun melangkah ke kamar ibuku untuk tidur bersamanya.
"Ibu apa aku boleh tidur bersama ibu?" tanyaku.
" Tentu saja Rara" ibuku tersenyum tipis.
" Bu maafin Rara ya karena gak pernah ngebantuin ibu" ucapku.
" Yang terpenting kamu itu belajar nak itu sudah cukup.Ibu berharap kamu jadi orang sukses tidak seperti ibu .Ibu sangat menyesal dulu tidak melanjutkan sekolah karena kakekmu berpikir sekolah itu tak perlu bagi perempuan"ucap ibuku .
"Iya Bu Rara janji Rara akan giat belajar biar jadi orang sukses dan membahagiakan ibuku tersayang" .
1 Minggu kemudian....
Kini aku telah menjadi lebih baik aku mulai mencari pekerjaan sampingan untuk membantu ibuku dan mulai giat belajar untuk mengejar cita-cita ku.Kini aku tak lagi peduli dengan pandangan mata sinis yang terus menatapku karna aku ingin membahagiakan ibuku .Aku harus berjalan maju dan menghiraukan begitu banyak orang yang tak percaya bahwa aku bisa.
Beberapa bulan kemudian....
"Selamat ya Ra kamu jadi siswa terbaik dan mendapat beasiswa ke universitas" ucap pak kepala sekolah.
" Terimakasih banyak pak" aku tersenyum bahagia begitupun ibu yang duduk disampingku.
Setelah ku bekerja kerja untuk belajar akhirnya aku bisa meraih cita-cita ku.Aku akan segera membuktikan bahwa aku bisa menjadi orang yang sukses dan berguna untuk hidup.
Bisa di ambil kesimpulan bahwa hidup harus mempunyai semangat yang besar karena semudah apapun hidupmu jika tidak di sertai semangat maka hidupmu akan terasa berat dan tak berguna.
TAMAT.