Risma masih belum mengurungkan niat untuk berkunjung ke rumah Tina, sahabatnya. Ia hanya meragu saja. Sebab, Risma semakin yakin jika dalam dirinya tersimpan hawa kematian!
Ia tak mau kematian mendadak menimpa diri Tina, seperti halnya yang terjadi pada diri teman-temannya; Lian, Andini dan Barda.
Serangkaian peristiwa yang terjadi belakangan ini, begitu membekas dalam benak Risma, hingga memunculkan trauma hebat, membuat ia percaya pada tahayul yang ia ciptakan sendiri, bahwa dalam dirinya tersimpan hawa kematian!
Mengingat semua, membuat tubuh Risma menggigil seiring dengan bulu tengkuknya yang merinding. Kematian bertubi-tubi itu hinggap lagi di kepalanya. Sebulan silam, ketika Risma menghubungi Lian, sahabat lama yang tak ia jumpai. Lian Saat itu sudah menjadi pengusaha yang cukup sukses untuk beberapa toko kue besar.
Berbincang di telepon seluler bersama Lian, membuat Risma begitu senang. Apalagi Lian bersedia membantu apabila Risma hendak membuka usaha sendiri. Hingga kemudian mereka berjanji bertemu keesokan harinya.
Kabar memilukan itu diterima Risma, ketika malam ia kembali menelepon Lian, sekedar memastikan pertemuan mereka nanti. Hendra yang menjawab telepon Risma. Dengan suara parau dan terbata. Suami Lian tersebut mengatakan, kalau istrinya baru saja mengalami kecelakaan di jalan raya, dan mayatnya masih terbujur kaku di rumah sakit kota. Risma terperanjat dan nyaris pingsan mendengarnya. Ketika ia melayat, seketika tangisnya pecah begitu melihat jenazah Lian yang mengenaskan.
Awalnya Risma menganggap kematian Lian tak lebih dari takdir biasa yang bisa menimpa siapa saja. Namun ketika dua minggu setelahnya, ia menghubungi Andini, sahabat yang telah berhasil di bisnis kargo. Siang mereka bertemu, sorenya Andini dilarikan ke rumah sakit. Hanya semalam perempuan itu dirawat disana. Karena keesokan hari, Andini harus menghembuskan napas terakhirnya. Kabarnya ia telah lama mengidap penyakit kanker darah. Risma semakin terpukul dan kesedihan membahana, memenuhi rongga dadanya.
Sementara tiga hari kemarin, Risma mendatangi kantor Barda, sahabat ketika sama-sama kuliah di fakultas hukum. Risma mengutarakan maksudnya untuk ikut bergabung di kantor hukum milik Barda. Keinginan Risma disambut oleh Barda dengan tangan terbuka. Risma yang telah mengubur keinginannya untuk bisa membuka usaha sendiri dan menarik semua sisa tabungannya, begitu suka cita menerima kebaikan Barda. Setidaknya dengan ia bekerja kembali, bisa sedikit membantu keuangan keluarga.
Memang, beberapa bulan ini bisnis milik Mas Daru, suaminya, banyak mengalami kemunduran. Tagihan macet bukan hal aneh didengar oleh Risma. Sebagai istri yang baik tentu Risma tak bisa menyalahkan suaminya tersebut. Apalagi ketika mengingat setahun lalu, saat bisnis Mas Daru melesat, suaminya itu telah meminta Risma agar keluar dari kantor tempatnya bekerja. Risma yang telah 10 tahun bekerja, dengan berat hati mematuhi keinginan suaminya tersebut.
Saat itu bisnis ekspor hasil bumi milik Mas Daru benar-benar meroket. Gaji Risma sebagai manager SDM dianggap tidak seberapa. Risma berhenti bekerja untuk lebih fokus mengurusi keluarga. Apalagi dua anak mereka, Daris telah menginjak SMP kelas satu. Sementara Ruma, gadis kecil yang cantik masih duduk dibangku SD kelas tiga.
Namun kini semua berubah drastis. Keuangan keluarga sangat terganggu ketika bisnis Mas Daru, sumber penghasilan satu-satunya mengalami kemunduran. Benar Risma berhasil dengan lebih baik memperhatikan keluarga, namun untuk urusan keuangan, ia kalang-kabut dibuatnya. Maka ketika Risma diterima bergabung di kantor hukum milik Barda, membuat perempuan itu bisa sedikit lebih tenang dan bernapas lega.
Hari pertama Risma ke kantor, ia mesti menghentikan laju mobilnya tak jauh dari pos satpam. Dengan perasaan cemas Risma keluar dari kendaraannya. Ia berdiri ditepi dengan wajah terlihat memucat. Beberapa orang keluar dari kantor Barda, dengan tergesa mengemudikan kendaraan mereka keluar dari area parkir.
Lutut Risma goyah. Perempuan cantik dengan tubuh ramping itu nyaris tak kuasa menahan berat badannya sendiri. Seluruh tulang dalam tubuhnya nyaris luluh-lantak, saat Parlan, security kantor berkata dengan suara parau dan terbata, bahwa Barda, sang pemilik kantor pingsan dengan begitu mendadak. Diduga kuat terkena serangan jantung. Tak berapa lama, Risma menerima kabar bahwa Barda meninggal dunia.
Seluruh peristiwa inilah yang membuat Risma kini masih termangu dan diterkam kebimbangan untuk menemui Tina, sahabatnya yang enam bulan lalu pernah ia kunjungi rumahnya. Risma meneguk lemon tea-nya. Diluar tampak matahari menjilat bumi dengan garang. Rumah masih sepi karena kedua anaknya belum pulang dari sekolah. sementara suaminya sudah tiga hari masih di luar kota.
Risma masih termenung, menimang keputusannya antara jadi atau tidak menemui Tina. Tapi bukankah enam bulan lalu ia dan suaminya mengunjungi Tina dan sahabatnya itu hingga kini tak kurang suatu apa? Sejenak Risma membuka kontak diponselnya. Tak dijumpai nama Tina disana. Risma ingat, saat datang ke rumah Tina, ponselnya saat itu mati dan hanya ponsel suaminya yang digunakan untuk mencatat nomor Tina.
Risma mencoba mengirim pesan kepada suaminya agar bisa mengirimkan nomor kontak Tina. Beberapa menit menunggu, tak ada balasan. Akhirnya Risma beranjak. Sepertinya ia tak punya pilihan lain, ia mesti menemui Tina yang kini berprofesi sebagai broker real estate. Siapa tahu, bersama Tina ia bisa belajar menjadi broker handal.
Tapi bagaimana jika kemudian Tina mati setelah kedatangannya? Sejenak Risma terpaku disamping pintu mobil yang telah terbuka. Ah, sepertinya Tina kebal. Hawa kematian dalam diri Risma sama sekali tak bisa mempengaruhi Tina. Buktinya, kunjungannya enam bulan lalu, tidak memperlihatkan gejala apapun buat Tina. Sahabatnya hingga kini tetap baik-baik saja.
Setelah membulatkan tekad, akhirnya Risma mengendarai mobilnya dengan perlahan menuju kediaman Tina. Kurang lebih setengah jam perjalan, akhirnya Risma sampai juga di Rumah Tina. Herman yang datang menyambut kedatangan Risma. Hanya yang membuat Risma tak mengerti, suami Tina tersebut tak mempercayai jika Risma benar-benar tak tahu tentang kepergian Tina keluar kota. Bahkan Herman mengatakan jika Tina pergi keluar kota bersama Daru. Risma tercengang seraya membeliakan kedua matanya. Herman mengerenyitkan dahi agak bingung. Sebab, seperti yang telah dikatakan Tina kepadanya, sebelum pergi bersama Daru keluar kota, bahwasanya, semua sudah dalam sepengetahuan Risma.
Sungguh Risma tidak tahu jika suaminya berangkat keluar kota bersama Tina. Herman menatap Risma lekat seolah menyelidiki kebenaran lawan bicaranya. Laki-laki pengangguran karena delapan bulan lampau kantor tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan itu, masih juga memandang penuh wajah Risma.
Tiba-tiba Risma merasakan hatinya begitu gelisah. Setelah yakin kalau Risma tak menyembunyikan dusta, Herman mendengus keras. Herman mengepalkan tangannya dengan kuat. Kini ia sadar telah ditipu mentah-mentah oleh istrinya. Herman merasakan darah dalam dadanya bergolak.
Informasi beberapa waktu lalu yang ia terima dari Asrul, sahabatnya yang pernah melihat Tina jalan berdampingan dengan laki-laki di sebuah lobi hotel, adalah kenyataan pahit yang harus ditelan oleh Herman. Malangnya, ciri dari laki-laki yang bersama Tina di lobi hotel, dikatakan Asrul, sama persis dengan sosok Daru yang Herman kenal.
Sebagai suami, Herman pernah menanyakan semua itu pada Tina. Penjelasan istrinya membuat Herman tak berkutik. Semua dilakukan dalam rangka membantu Daru, dimana sekretarisnya tak bisa mendampingi karena telah seminggu sakit. Lanjutnya, semua demi penghasilan tambahan untuk kelangsungan hidup keluarga. Mereka mempunya anak dua. Masing masing sekolah di bangku SD dan SMP. Tina menolak keras jika ia dicurigai telah berselingkuh. Herman diam-diam masih menyimpan ragu. Namun, tambah Tina kala itu, bahwa keberadaan mereka di hotel cuma menemui mitra bisnis saja, tak lebih. Bantahan Tina diperkokoh lagi, karena ujarnya, mustahil ia selingkuh dengan Mas Daru yang jelas-jelas suami Risma, sahabatnya sendiri. Lagi pula Risma tahu persis keberadaan ia dengan suaminya tak ada hubungan khusus kecuali hanya urusan bisnis. Herman yang ketika itu dilanda angkara menjadi tak berdaya.
Dan, kedatangan Risma sekarang telah membuka semuanya. Apalagi Herman begitu yakin tak ada sedikit pun kebohongan dalam diri Risma. Perempuan itu juga mengatakan tentang ketidaktahuannya mengenai bisnis yang dilakukan oleh Tina dan suaminya. Bahwa Mas Daru keluar kota itu tentu benar. Namun dengan Tina ikut serta, seujung rambut pun Risma tak menduga.
Risma merasa tiba-tiba hatinya begitu tersayat. Apalagi saat Herman memberitahu bahwa Tina telah mampu membeli barang-barang mewah karena keberhasilan bisnisnya dengan Daru. Entah kenapa mendadak hati Risma dilanda cemas ketika saat itu Herman baru saja menerima pesan lewat ponsel. Gigi Herman bergemeletuk melihat foto-foto dilayar ponselnya sendiri. Beberapa detik kemudian, foto-foto itu ia tunjukan pada Risma.
Foto-foto yang membuat hati Risma terkoyak dan nyaris menjerit. Dengan mata yang nanar menyimpan agar air bening itu tak tumpah, Risma melihat, dalam foto tersebut tampak Tina bergandengan tangan begitu mesra bersama Mas Daru. Juga foto tawa mereka disebuah tempat rekreasi serta pelukan hangat mereka. Asrul yang mengirimkan foto-foto itu untuk Herman. Asrul telah berhasil menjadi sahabat yang baik buat Herman. Asrul telah membuka kebusukan hati Tina, meski kemudian membuat darah Herman mendidih karenanya.
Setelah menerima nomor ponsel Tina dari Herman, sekaligus laki-laki itu mengirim foto-foto "perselingkuhan" keponselnya Risma, perempuan itu pamit seraya melarikan mobil dengan kecepatan tinggi. Risma juga memuaskan diri menangis disudut kamar hingga kedua matanya menjadi sembab.
Malamnya, Daru pulang. Risma menghujani suaminya tersebut dengan umpatan sambil menunjukan semua foto perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya itu. Daru tercengang. Ia teramat heran darimana istrinya bisa memperoleh foto-foto itu? Sementara Risma telah teramat murka. Ia tercabik dengan semua penghianatan yang dilakukan suaminya tersebut bersama Tina. Daru masih terpana. Ia merasa jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Mendadak darahnya terasa dingin. Ia tak berdaya. Risma tak sedikit pun memberi kesempatan kepada dirinya untuk berucap walau sepatah kata. Hati Risma begitu hancur. Jiwanya terkoyak sembilu. Dipuncak luapan amarahnya, dengan jantung yang terluka parah, dengan tangan yang gemetar, begitu tak terduga, pisau yang sejak tadi terhunus dibelakang tubuh Risma, akhirnya dengan ganas dan cepat telah menusuk masuk kedalam perut Daru hingga mencabik lambung suaminya!
Daru sedikit pun tak menduga jika istrinya akan mampu melakukan semua. Sejenak Daru terkejut, beberapa detik kemudian merintih ketika seluruh tubuhnya sontak menjadi terasa lebih dingin. Kedua bola mata Daru membeliak lebar, saat rasa sakit yang hebat menyerang kebagian perutnya. Pedih, perih itu makin kentara terasa. Kedua tangan laki-laki itu mencoba menggapai tangan Risma, namun luput. Risma yang bersimbah airmata telah menyurutkan tubuhnya beberapa langkah kebelakang. Matanya nanar saat melihat suaminya akhirnya jatuh terduduk, kemudian tergeletak dengan darah membanjiri tubuh.
Lantai kamar yang putih kini merah bersimbah darah. Masih tampak dengan jelas bagaimana tetesan darah Daru berkilauan tertimpa cahaya lampu Kristal. Ceceran darah itu mengkilat bagai serpihan berlian. Tubuh Daru menggeliat beberapa kejap, hingga akhirnya tak bergerak meski ujung jarinya sekalipun. Risma berdiri disamping mayat suaminya. Kedua rahang perempuan itu mengatup keras. Wajahnya yang pucat semakin pasi. Dengan paras membesi, ia menelepon seseorang.
Suara penerima telepon terdengar serak dan terisak. Tina menangis. Risma tergelak dengan pakaian penuh percikan darah yang lebih terlihat laksana lukisan mawar merah. Aliran darah diseluruh tubuh Risma terasa sangat dingin. Sumsum dalam tulangnya seperti telah membeku.
“Maaf, Aku akan membunuhmu!” desis Risma ditelepon. Menggigil seluruh tubuh Tina seiring dengan ponsel dalam genggamannya terlepas, ketika tiba-tiba ujung pisau belati tajam, entah darimana datangnya telah menempel diurat lehernya. Sesaat terasa dingin, beberapa detik kemudian, mata pisau itu telah menembus lehernya dengan sangat buas. Terdengar lirih suara mengerak keluar dari bibir Tina yang bergetar. Herman memeluk tubuh istrinya yang sekarat bermandikan darah. Wajah laki-laki itu kuyup oleh air mata. Darah dalam dadanya begitu mendidih. Sebelum akhirnya ia mencabik jantungnya sendiri dengan pisau belati yang sama!