Suasana di dalam kafe sangat mendukung, dengan menikmati secangkir americano dan alunan nada ditambah suara gemercik air yang jatuh dari awan ke permukaan bumi.
Aku menyesap secangkir americano milikku sambil menikmati suasana hujan diluar sana. Memang terdengar sangat melankolis, tapi aku sangat menikmati suasana ini.
Aku merasa jika permasalahan dalam hidupku terasa mengalir begitu saja. Walaupun bersifat hanya sementara, tapi aku menikmatinya.
KLING!
Bunyi suara lonceng jika ada yang memasuki kafe, aku tidak memperdulikan hal itu. Aku hanya fokus dengan apa yang aku nikmati saat ini.
Di saat aku sedang larut dalam suasana, aku merasakan jika aku sedang diperhatikan, aku melihat ke hadapanku.
“Hai, sudah lama kita tidak berjumpa” ucap seseorang yang kini sedang duduk dikursi yang berada hadapanku, jarak yang hanya dipisahkan dengan meja.
Senyumannya masih sama, tatapan yang hangat tampak begitu nyata. Dia, seseorang yang tidak pernah ada kabar setelah hubungan kami berakhir.
“Hana.” Dan kini ia memanggil namaku, aku hanya menatapnya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
“Kamu terlihat tidak berubah, tetap Hana yang dulu aku kenal,” ucapnya sambil tersenyum dan tatapannya kini terahlikan dengan secangkir americano milikku.
“Dan americano tetap menjadi favorit mu.” Ucapannya mampu membuatku kembali dengan bayangan masalalu kami.
Dimana saat itu kami adalah sepasang kekasih yang saling melengkapi satu sama lain, sepasang kekasih yang begitu banyak perbedaan satu sama lain namun, dapat beriringan.
Perlakuan hangat dan nyaman nya yang dapat membuatku seperti pulang ke rumah sendiri, perlakuan sederhananya mampu membuat aku jatuh hati setiap harinya.
“Apa mau kamu?” tanyaku sambil menatap matanya, tatapannya berubah sendu seperti seseorang yang kehilangan sesuatu yang berharga.
Walaupun begitu senyumannya tidak luntur, “aku hanya merindukanmu,” tiga kata yang mampu membuat hatiku berdebar.
Aku hanya menatapnya, “aku ingin kita kembali bersama lagi Hana” ucapnya dengan suara yang sedikit parau. Aku bisa merasakan bahwa kini ia tengah menahan tangisnya.
“Semudah itu? Kamu lupa bagaimana hubungan yang telah kita jalanin dalam beberapa tahun, hancur begitu saja hanya karena kamu mempercayai ucapan orang lain ketimbang percaya padaku saat itu.”
Aku merindukanmu,
Perasaan ini bertahan walaupun hubungan kita berakhir,
Aku ingin kembali,
Akan tetapi, bagaimana bisa aku mempercayai mu sedangkan kamu tidak bisa mempercayai ku.
“Aku tahu, aku salah menilai kamu dan dengan mudahnya aku percaya perkataan oranglain. Aku tidak menyangka jika seseorang yang sudah menjadi sahabat ku, menghancurkan hubungan kita.”
Kami sama-sama merasa tersakiti satu sama lain, aku bisa melihat di kedua bola matanya terpancar penyesalan.
Tapi, aku juga tidak bisa membohongi perasaanku jika aku masih mencintainya.
Suasana saat ini benar-benar terasa begitu memilukan, aku menyadari jika kini air matanya sudah tidak bisa ia tahan.
“Abi” panggil ku sontak saat ia sudah tidak mampu membendung air matanya. Ia tertawa dan sambil mengusap air matanya, “aku tahu perbuatanku kala itu tidak akan bisa membuat mu kembali bersama dirimu, aku cukup sadar diri bahwa aku memang tidak pantas bersamamu.” Air matanya terus mengalir dan itu membuat hatiku terluka.
Sontak tanganku mencoba untuk menghapus air mata yang berada di pipinya dan itu membuat tatapan kami bertemu.
Aku kembali ke posisiku, tidak ada percakapan lagi antara kami setelah itu. Kami sama-sama menenangkan diri.
Dia menatap ke luar jendela sedangkan aku kembali menyesap secangkir americano milikku, rasanya jauh lebih pahit dibandingkan sebelumnya.
Kembali mengingat bayangan masalalu saat hubungan kami berakhir, saat itu kamu mulai meragukan ku, meragukan hubungan kita yang telah kita jalankan selama 3 tahun lamanya, kamu yang hanya mempercayai perkataan perempuan yang berstatus menjadi sahabat mu kala itu, tanpa kamu sadari sahabatmu itu menyukaimu dan menghancurkan hubungan kita.
“Hana, pada saat itu. Setelah hubungan kita berakhir, aku merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam diriku, namun aku mencoba untuk menerima hal tersebut. Tapi, semua itu berubah saat aku tahu bahwa semua itu bukan salahmu,” ia menatapku dengan tatapan hangatnya.
“Aku yang salah, aku yang meragukanmu dan membuat hubungan kita berakhir dan pada saat itu juga kamu tidak bisa aku hubungi dan tidak ada kabar sekalipun tentang kamu. Seakan-akan kamu hanya mimpi indah yang pernah aku kunjungi. Tapi, setelah 2 tahun berlalu aku melihat mu disini. Aku tidak tahu harus berbuat apa, saat ini aku berada di hadapan mu, mungkin ini adalah kesempatan ku untuk menjelaskan semuanya dan meminta maaf ke kamu.” Ia tetap tersenyum dan menatapku dalam.
“Aku tidak akan memaksamu untuk kembali lagi denganku. Izinkan aku untuk bertanya hal yang sama Hana. Apa kamu bersedia merangkai kisah kita di lembaran baru?”.
Tatapan ku terkunci dengan tatapannya, dari semua penjelasan yang ia katakan kepadaku, aku bisa merasakan betapa menyesalnya dia. Aku hanya perlu memastikan saja.
“Abi, maaf jika keputusanku mengecewakan kamu. Aku ingin sekali kembali bersama kamu dan perasaan ku terhadap kamu juga tetap sama. Tapi, aku butuh waktu untuk memikirkan hal ini.” Jawabku dengan tidak enak hati.
Dia tersenyum, “tidak apa, aku menerima keputusanmu dan aku akan menunggumu. Tapi, kita bisa berteman?”.
Aku mengangguk, “tentu saja”.
Mungkin sekarang bukan waktu nya untuk kita merangkai kisah baru menjadi sepasang kekasih kembali. Sekarang waktunya kita merangkai kisah baru menjadi sepasang teman yang baru bertemu kembali setelah sekian lama.
Dan saat itu lah aku dan kamu untuk menata hati kembali dan memantapkan keputusan. Jika kita di takdirkan untuk satu sama lain, apapun yang terjadi nantinya kita akan terus bersama.
____ End Of Story____
Kemunculan mu di hadapanku,
Menjadikan detik yang berdenting, seolah merambatkan detak derap yang menghilang seakan menghentikan debar.
Detik kemudian menjadi bagian lain dari diriku yang berontak. Merelakan memang tak semudah berkata-kata, terlebih perihal kata “kita”.
Namun,meski begitu aku berterima kasih kepadamu. Setidaknya kamu pernah hadir mewarnai hidup – ku, walau hanya sebentar.
Sudahlah lupakan semua cerita yang kita rangkai, mari kita buka lembar baru, kita isi dengan kebahagiaan, senyuman, keceriaan, tanpa ada air mata.
Teruntuk kamu, Abi. Cerita kita sudah tak sanggup lagi untuk menampung luka-luka.
Dahulu ada cerita kita, namun kini hanya ada cerita kamu dan aku. Yang hanya berteman baik.
“Yang dulu pernah ada, akhirnya di sulap semesta menjadi seperti semula.”
-Selesai-