Memilih diam dan menyampingkan diri untuk membuat semua orang bahagia. Bahkan, rela menjadi pribadi seperti yang diinginkan orang lain. Itulah hidupku. Cukup monoton, bukan?
Kisah cintaku tidak semanis drama korea, dan tidak serumit sinetron. Hanyalah sebuah kisah cinta sederhana layaknya orang pada umumnya.
Reno Dirgantara.
Nama yang cukup mengguncang untuk hatiku meski hanya dengan mendengar namanya.
Kalau dipikir-pikir, sudah dua tahun aku memperhatikannya dari jauh. Reno tipe orang yang pintar bersosialisasi dan statusnya sebagai anggota OSIS membuatnya terkenal dikalangan anak IPA dan IPS. Bahkan, guru-guru pun rata-rata mengenalnya.
Siapa yang tidak mengenal cowok berkulit kuning langsat dengan tubuh tinggi, dan bahu yang lebar itu?
Aku tidak mempunyai alasan khusus untuk menyukainya. Hanya karena seorang teman yang mempromosikan betapa baiknya Reno.
"Udah, lo deket aja sama Reno. Kayaknya juga dia tertarik sama lo."
"Gak tertarik."
"Ayolah, Reno itu cowok baik. Lo tau gak dia itu anak beasiswa, dia juga pinter memimpin. Cocok tuh buat lo."
"Dibilang gak tertarik, juga."
Awalnya aku memang tidak tertarik, karena sebelummya aku belum pernah merasa jatuh dalam pesona seseorang. Namun, untuk pertama kalinya Reno berhasil membuatku jatuh dalam pesonanya. Walaupun aku belum pernah mengobrol secara langsung ataupun sekadar chatting di ponsel.
Aku menghela napas.
"Ini semua karena Anisa yang selalu mempromosikan Reno."
Mungkin tidak terlihat, sebenarnya aku adalah orang yang susah untuk jatuh cinta. Bahkan, aku seperti mati rasa hanya untuk bersimpati dengan orang lain.
Waktu berlalu dengan sangat cepat. Aku hampir lupa bagaimana aku bisa mengenal seorang Reno Dirgantara. Ada sebabnya, aku dan Reno menjadi dekat. Sangat dekat. Tapi, bukan berarti kami sudah pacaran.
Disaat dekat dengan Reno, banyak sekali gangguan-gangguan dari orang lain. Terlebih lagi, Reno adalah anggota OSIS yang anti terhadap Bucin. Semakin banyaklah gangguan kami.
Aku seperti bukan diriku saat bersama Reno. Tentunya karena aku sudah bucin dengan cowok itu.
Sejauh yang aku tau Reno itu tengil dan tukang gombal. Ah, satu lagi dia juga humoris. Itulah yang aku sukai darinya hingga aku tidak merasa bosan.
Aku merasa senang saat-saat dimana aku dekat dengan Reno. Bucinnya kami bukan tipe bucin yang harus setiap hari bertemu ataupun setiap hari harus teleponan. Chat kamipun tidak lebay. Dan aku menyukai yang seperti itu. Tapi, itu semua hanya sementara.
Aku dan Reno putus kontak selama hampir seminggu hanya karena chat terakhir kami yang penuh kecanggungan. Sebenarnya, chat terakhir tidak bisa disebut sebagai pertengkaran. Makanya aku menyebutnya sebagai sebuah kecanggungan.
Aku bukan tipe gadis yang gengsi chat cowok duluan, tapi kali ini berbeda. Aku sudah cukup mengalah untuk hari yang sebelum-sebelumnya. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali aku mengalah padanya. Aku mencoba mengerti dia, memaklumi kegiatannya, dan waktunya terhadap teman-temannya. Namun, kali ini aku tidak ingin chat dia duluan. Aku hanya ingin tau, apakah dia akan mencari dan berkomunikasi dengan diriku duluan?
Kalian tau kan, kenyataan tidak seindah ekspektasi. Selama hampir seminggu dia tidak pernah mengirim pesan ataupun mencariku. Aku tidak menangis, hanya saja hatiku terasa sesak.
Karena tidak tahan, akhirnya aku mencari kontak dengan nama 'Twattling' di ponselku untuk menghubungin Reno duluan.
Verobica: Hai
22.24
Aku merasakan jantungku berdetak kencang. Sebelumnya jantungku tidak pernah berdetak sekencang ini. Padahal, hanya mengirim chat biasa.
Twattling: Hai
22.28
Veronica: Ada hal menarik untu di ceritain gitu?
22.33
Twattling: Akhir akhir ini sering turun hujan
22.37
Veronica: Owalah
Veronica: Eh, menurutmu aku ngebosenin ga?
Veronica: Review jujur yeah
22.39
Twattling: Astaghfirullah 😅
22.49
Veronica: Nanya doang ini
22.50
Twattling: Ada KJ nya ga nih :v
22.51
Veronica: Fase jenuh, bosan, dan capek. Kamu dimana?
Veronica: Jawab aja. Review yg jujur, subcribe kalo bisa
22.55
Twattling: Dirumah
22.56
Veronica: Eh dahla
22.56
Twattling: Lah bener
Twattling: Dirumah
22.56
Veronica: Iya dirumah
22.57
Twattling: Ga ngebosenin
22.57
Veronica: No
Veronica: Diperjelas aja
Veronica: Di fase mana
22.58
Twattling: Cuma kdg mikir aja, kalo eno nih cuma ganggu doang
22.58
Veronica: Kalo mikirnya gitu ga bakal
Veronica: Berfikir aja kamunya. Gmn Ica bersikap selama ini
22.58
Veronica: Yaudah
Veronica: Bales aja pagi
Veronica: Atau ga seminggu kemudian
23.00
Twattling: Ih
Twattling: Marah
Twattling: Menurut kamu?
Twattling: Yaudah deh
Twattling: Jawaban itu cuma untuk anak kecil
23.00
Veronica: Gak cuma kadangan ngerasa. Kl di sini cm Ica yg bahagia
23.03
Twattling: Bagus lah kalo kamu bahagia
23.03
Veronica: Brrt bener cm sepihak.
23.03
Twattling: -_ apa yang aku rasa, itu gabisa kamu rasa
Twattling: Apanya
Twattling: Kan -_
Twattling: Diluar rumah dingin tau :"
23.03
Veronica: Oh ya?
Veronica: Yaudah
Veronica: Lanjut gih maen
23.04
Twattling: Ih ih kan
Twattling: Maen apa
Twattling: :" tumben kamu ngambek gini
23.04
Aku tersenyum miring. "Bukannya gak pernah ngambek. Tapi gue selalu mendem biar li ga risih," gumamku.
Veronica: Gak ngambek lho
Veronica: Serius
Veronica: Tapi, yah aku ni dah paham sama kamu
23.06
Twattling: Kalo paham kenapa kamu nanya
23.06
Veronica: Cuma mau bilang bbrp hari ini ada 4 cowok yg chat aku. Gegara gabut nungguin someone alhasil semuanya aku bales wa nya. Tp bru 1 hari udh eneg sendiri gegara kl baca komik notip nya bukan dr yg ditunggu.
23.08
Veronica: Sapa tau ada kesalahan nyempil gitu kan
23.08
Twattling: Wih bagus lah
Twattling: Gada, aku yg salah
23.09
Veronica: Iyaa
23.09
Twattling: Diantara 4 cowok itu pasti ada lah yg buat kamu nyaman
23.11
Veronica: Kaga ada
Veronica: Ayub
Veronica: Hapis udin daffa
Veronica: Kaga ada samsek
Veronica: Bahkan niatnya mau Ica blok semua
23.11
Twattling: :v
23.11
Veronica: Hm
Veronica: Dah
23.13
Twattling: Gausah diblok
Twattling: Kasian nti
23.13
Twattling: Kamu punya hak buat ladenin 4 cowk, bahkan lebih,, bukan krna aku bosen, aku yg ngebosenin :v
23.15
Veronica: Greget
23.19
Twattling: :)
23.27
Veronica: Aku ngebosenin kaga? Kl boleh jujur aku egois, ya egois banget. Siang mungkin b aja aku kl km bales wa ngadat. Gak pernah masalah sama itu. Malem masih ngadat juga gak masalah. Gak pernah anggep kamu ngebosenin. Bahkan chat dr kamu yang cuma bales "iya" atau ga emoticon atau stiker dan atau2 lainnya. Selalu ditunggu. Aku nurunin ego chat duluan. Ngetik hai aja deg2annya minta ampun. Takut begini takut begitu.
23.31
Veronica: Tapi pliss aja kalo lagi ngomong serius jangan ngalihin. Atau... yah gitulah
23.31
Veronica: Dah dah
Veronica: Tidur aja
Veronica: Dah malem
Veronica: Emng aku yg sensian
23.32
Twattling: Mau ngomong serius?
23.33
Veronica: Engga
Veronica: Udah selesai konsernya
Veronica: Seenggaknya yg ganjel bbrp hr ni dah berkurang
23.34
Twattling: Pen lock down otak
23.35
Veronica: 😂😂😂
Veronica: Dah
Veronica: Lupain aja. Anggep aja angin lewat
23.36
Twattling: Eno cuma mau liat aja
Twattling: Apa hasilnya bakal sama, sama sebelumnya atau enggak ,, bukan krna eno gapercaya sama kamh,, tapi,, yaudah lah
23.37
Veronica: 😂😂😂
Veronica: Gini. Tanpa usaha, semua gak akan berubah. Ok.
Veronica: Kamu paham lah
23.41
Twattling: Tanpa usaha, semua gak akan berubah
23.42
Veronica: Iyaa
23.42
Twattling: Ga gapaham
23.42
Veronica: 😂😂😂
Veronica: Gak paham jg gpp
Veronica: Asal jangan ilang
Veronica: Dh itu aj
23.43
Setelah mengirim itu, aku memilih membaca komik favoriteku untuk menghilangkan rasa sesak di dalam dadaku. Namun, tidak sampai 5 menit, aku menerima notifikasi chat dari ponselku.
Twattling: Icaa
23.46
Veronica: Kenapa
23.47
Twattling: Eno ada atau gada sama aja kan?
Twattling: Rasanya
23.48
Veronica: Dah dibilang
Veronica: Jangan ngilang
Veronica: Brrt beda rsnya kl ga ada
23. 48
Twattling: Boleh jujur ga?
23.51
Veronica: Jujur aja
Veronica: Kan td mintanya review jujur
23.51
Twattling: Eno mau kita kayak dulu aja temenan tanpa libatin perasaan, eno gamau terlalu berharap sama kamu :" kalau begini terus sama aja kita saling nyakitin,, eno sayang banget sama patia, untuk sekarang temenan biasa itu lebih baik kayaknya,, jadi eno gaperlu cemburu eno gaperlu berfikir terlalu jauh eno cuma bisa berdoa aja udh itu aja,,eno ngomong gini supaya ada kepastian krna eno jujur juga bingung hubungan kita ni apa, ya eno ga masalahin itu si, tapi kalo dilurusin lagi supaya lebih jelasnya kita temenan aja biar eno ga terlalu ngarep :v hehe,,gimana?
23.58
Veronica: Iya eno nyamannya kamu aja
23.59
Aku memejamkan mataku, melepaskan semua sesak yang sejak tadi aku tahan dengan menangis.
Semenit Sebelum 4 April, dimana semuanya telah berakhir. Aku memaksa tersenyum.
Mungkin memang ini yang terbaik, batinku sambil mengambil napas dalam-dalam.
Twattling: Gak marah kan?
00.00
Veronica: Engga kok tenang aja
00.00
Twattling: Tidur gih
00.01
Veronica: Iya ih
00.02
Twattling: Begadang mulu :(
00.02
"Karena nungguin lo ngechat gue," kataku.
Veronica: Td itu kebangun gegara abang pulang
00.04
Twattling: Yaudah skrg tidur
00.06
Veronica: Iya enoo
00.07
Twattling: Sweetdream
00.07
Aku memilih mematikan paket dataku daripada membalas pesan itu. Lalu, aku memilih tidur.
Setelah hari itu, kami menjalani hidup masing-masing. Tanpa pernah seteguran. Dia yang memulai memalingkan wajahnya, jadi, aku pikir dia tidak ingin menegurku. Padahal, aku berharap kita menjadi teman. Bukannya sepert perang dingin.
Aku mau mengklarifikasi sesuatu, aku bukan tipe orang yang memberi seluruh hati untuk orang lain. Karena aku tau, berharap pada manusia itu hanya luka yang menunggu dibagian akhirnya. Jadi, tidak sampai sehari aku sudah merasa baik-baik saja. Bahkan, aku lebih nyaman seperti ini. Memutuskan hubungan yang tidak jelas mau dibawa kemana.
Kami menjalani hidup masing-masing. Setelah berita aku dan Reno tidak dekat lagi, berangsur-angsur cowok-cowok di sekolahku mulai mendekatiku. Bahkan cowok dari sekolah lain pun begitu. Sedangkan Reno, kuketahui dia balikan dengan mantannya saat di SMP. Aku hanya tersenyum dan membatin 'Dia menjilat ludahnya sendiri'. Padahal dia bilang padaku dulu, tidak akan mau balikan dengan mantannya. Tapi, yah, terserah. Aku tidak peduli.
Ketahuilah, menjalani hidup tanpa dia tidak sesulit yang dibayangkan.
•° THE END °•