'Dia telah memberikan kancing kedua (hatinya) padaku jadi aku akan tetap menjaga kancing kedua (hatinya) yang dia berikan padaku namun mungkinkah kancing ini memanglah hatinya yang telah dia berikan padaku atau hanya kancing yang tak berarti'
"Nagichan, kau masih mengharapkan pria pemilik kancing itu?"
"Dia bahkan tidak pernah menemuimu lagi setelah kelulusan dan juga ini sudah lebih dari 8 tahun berlalu. Ayolah, aku akan menbantumu mencari pria lain"
"Tidak. Aku akan tetap menunggunya. Dia telah memberikan kancing kedua padaku jadi aku juga harus menjaga hatiku untuknya juga sampai kami bertemu lagi"
"Nagichan, kau benar-benar keras kepala ya.Pria itu tidak akan datang padamu. Dia pasti telah bersama wanita lain"
"Tidak. Dia telah memberikan kancing ini. Kau tahukan Haruka arti dari kancing kedua?"
"Aku tahu tapi Nagichan, bagi pria itu kancing itu tidak berarti apapun"
"Nagichan, pria itu telah menikah dua bulan lalu"
"Tidak, itu tidak mungkin"
"Nagichan, Akabane telah menikah. Dia menikah dengan sepupuku yang sebelumnya sekolah di Inggris. Jika kau tidak percaya, aku akan mengantarmu ke kediaman mereka"
***
Mobil Haruka berhenti di sebuah bangunan megah dengan halaman luas. Nagisa mengenali bangunan rumah ini, rumah ini adalah kediaman keluarga Akabane, dia adalah wanita nekat yang mengejar Akabane tentu saja dia juga pernah mengikutinya sampai ke rumah.
"Aku akan masuk sendiri"
"Tapi, Nagi-chan"
"Tidak apa-apa. Aku ingin membuktikannya sendiri"
Nagisa menarik nafas lalu keluar dari mobil. Dia melangkah dan dihadang oleh petugas keamanan. Nagisa mengenalkan diri sebagai teman Akabane. Petugas keamanan itu membiarkannya masuk. Belum sempat Nagisa mengetuk pintu seorang wanita cantik terlebih dahulu membuka pintu. Petugas keamanan terlebih dahulu melapor pada wanita itu sebelum membiarkan nagisa masuk.
"Hallo, kau teman Karma-kun. Jarang sekali teman Karma-kun berkunjung"
Nagisa hanya diam, mendengar panggilan yg akrab dari bibir wanita itu yang memanggil Akabane dengan nama depan sudah menunjukkan hubungan yang dekat. Nagisa ingin bertanya identitas wanita itu apalagi wanita itu keluar dari rumah Akabane walau hari sudah malam, namun suara seorang pria yang terdengar begitu lembut terdengar dari belakang membuat bibir Nagisa kaku.
"Istriku"
"Suami, kau sudah pulang"
"Akabane-kun"
Nagisa mengucapkan dengan pelan. Namun Akabane masih mendengarnya. Dia menunjukkan keterkejutan melihat wanita itu.
"Hisashiburi ne, Akabane-kun"
"Nagisa"
"Ayo, ayo kita masuk. Diluar dingin "
Wanita itu- Kana Akabane menawarkan masuk. Setelah masuk Kana memperkenalkan diri sebagai istri Akabane. Nagisa mengepalkan tangannya berusaha menahan perasaannya. Kana mencoba untuk akrab dengan Nagisa. Nagisa merasa tidak nyaman.
"Maaf, malam semakin larut. Aku harus pergi sebelum ketinggalan kereta"
"Mungkin tidak akan keburu mengejar kereta. Lebih baik kau pulang dengan Karma-kun"
"Tidak aku tidak ingin merepotkan"
"Tidak apa-apa, lagipula bukankah sudah seharusnya Karma-kun mengantarmu?Bagaimanapun kau adalah teman yang sudah datang jauh-jauh kesini untuk mengunjunginya, benarkan suamiku?"
"Ya, aku akan mengantarmu"
***
Di dalam mobil suasana mereka menjadi cangung. Nagisa mencoba memecah kesunyian.
"Aku tidak menyangka akhirnya bisa bertemu denganmu. Aku sudah menunggumu selama 8 tahun "
"Namun penantianku hanya sia-sia saja"
"Nagi,..."
"Selama 8 tahun aku menjaga hatiku untuk Akabane-kun karena aku berpikir karena Akabane-kun telah memberikan hatimu padaku tapi...kancing kedua yang Akabane-kun berikan padaku hanyalah kancing tanpa arti bukan? Aku terlalu bodoh karena berharap lebih tentang hal itu. Akulah yang memintamu memberikan kancing keduamu, aku pikir kau memberikannya karena kau telah membuka hatimu padaku tapi...aku salah"
"Akabane-kun, memberikannya untuk menenangkanku bukan? Itu tidak berarti apapun. Aku benar-benar bodoh"
"Nagi..."
"Aku memang tidak pernah bisa memiliki hati Akabane-kun seberapa keraspun aku berusaha bahkan selama apapun aku menunggu hati Akabane-kun tidak akan tergerak untukku"
Akabane menghentikan mobilnya dan mencengkram bahu Nagisa.
"Nagisa, dengarkan aku!"
Nagisa terdiam namun dia menghindari untuk menatap Akabane. Pria tampan berambut merah mencengkram dagu Nagisa, memaksanya untuk menatapnya.
"Hatiku, telah aku berikan padamu. Hanya kau satu-satunya yang memiliki hatimu"
"lalu kenapa kau menikahi wanita lain"
"Aku tidak punya pilihan lain. Aku adalah pewaris dari Akabane, aku tidak bisa memilih pasanganku dengan mudah, sejak awal jalan hidupku telah ditentukan karena itu aku tidak bisa mendekatimu ataupun bersamamu. Aku tidak ingin kau mengalami kesulitan karena itu aku berusaha untuk menghindarimu namun kau masih bersikap keras kepala"
"Aku tidak ingin kau merasa kecewa jadi aku memilih menunjukkan perasaanku padamu. Nagi, kau satu-satunya yang memiliki hatiku. Namun aku menyesal karena memberimu harapan"
Akabane mengusap lembut air mata Nagisa.
"Nagi, aku ingin kau bahagia. Carilah pria lain yang bisa menjagamu"
"Akabane-kun"
"Aku mencintaimu, Nagisa tapi aku tidak bisa memberimu harapan dan membuatmu menderita jadi kau tidak perlu menjaga hatimu untukku. Lepaskan harapanmu padaku dan .... anggap saja memang kancing kedua (hatiku) tidak berarti apapun"
***
7 tahun kemudian.
"Mama, kenapa mama menyimpan kancing itu?"
"Karena kancing ini memiliki arti penting untuk mama"
"Papa, kau pulang"
Gadis kecil itu berlari menuju ke pria tampan berambut merah.
"Papa pulang"
"Selamat datang"
"Selamat datang, suamiku"
Nagisa mengucapkannya dengan lembut.
"Kotak apa itu, istriku"
Nagisa segera menyembunyikan kotak itu. Pria tampan itu menurunkan putrinya dari gendongannya dan mengambil kotak itu. Istrinya sering sekali memandang isi didalam kotak itu.
"Suami"
Pria itu mengerutkan keningnya melihat isi dalam kotak itu.
"Kau masih menjaga kancing itu? Aku pikir kau sudah menbuangnya sejak beberapa tahun lalu"
"Aku...tidak mungkin membuangnya"
"Kenapa?"
"Karena kancing itu adalah tanda hati dari suamiku"
Pipi Nagisa memerah. Pria itu-Akabane Karma tersenyum. Dia menarik istrinya dalam pelukannya. Putri kecil mereka meninggalkan kamar, dia memberi ruang untuk orang tuanya bermesraan.
"Terima kasih telah menjaganya" Akabane melepas pelukannya lalu mencium istrinya.
6 tahun lalu setelah pertemuannya dengan Nagisa, dia tidak bisa melepaskannya. Dia akhirnya mengambil keputusan untuk mengejar Nagisa. Walau dia merasa bersalah pads Kana-istrinya saat itu tapi dia tidak bisa memaksakan diri untuk mencintainya karena Akabane telah memberikan sepenuhnya hatinya pada Nagisa. Akabane pikir dia sudah terlambat bagaimanapun satu tahun telah berlalu mungkin Nagisa telah mendapat cinta yang baru namun Nagisa masih menunggunya. Akhirnya mereka bisa bersama lagi dan menbentuk keluarga.
"Aku mencintaimu, Suamiku"
"Aku juga mencintaimu, istriku"