Apakah kamu suka melihat langit malam?
Pernahkah kamu memanjatkan doa di bawah langit malam yang berbintang?
Entah apa yang kamu doakan saat ini, di masa lalu, atau di masa depan..
Beranikah kamu berharap akan sesuatu yang mustahil atau tidak masuk akal?
Menurutku, lebih baik berharap daripada tidak.
Itu karena..
Aku selalu hidup di masa lalu.
Namaku Erica. Aku seorang anak perempuan.
Cerita ini adalah tentang setiap momen ketika aku dapat menikmati kasih sayang dari kedua orang tuaku.
Keith adalah nama ayahku, sedangkan ibuku bernama Ruby. Sejauh yang kuingat, mereka adalah orang tuaku yang sangat penyayang dan rupawan.
Sedihnya, kami harus berpisah.. setelah aku jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.
Sebenarnya, dari atas langit aku selalu mengamati mereka. Ketika mereka merasa putus asa, mulai menyalahkan diri, dan bahkan bertengkar..
Kurasa, karenaku hubungan mereka semakin memburuk.. Bagaimana ya..?
Apa yang dapat kulakukan untuk mereka?
Ketika aku masih berpikir-pikir, Milo, hewan langit peliharaanku, mulai berbicara kepadaku.
"Erica. Lagi-lagi, kau mengawasi kedua orang tuamu ya?" tanya Milo, sang angsa putih yang berkelana di langit, hingga menerimaku sebagai majikannya.
"Iya.. Habisnya, memikirkan mereka saja tidak cukup untuk membuatku tenang. Aku harus berbuat sesuatu agar mereka tidak bertengkar lagi.. Aku takut." jawabku apa adanya.
"Hmm.. Aku mengerti. Kau pasti takut bila mereka memutuskan untuk berpisah, bukan? Namun, itu semua tidak dapat kita kendalikan. Tidak ada mahkluk atau apapun selain Tuhan sendiri yang dapat mengubah nasib, serta pemikiran manusia yang masih hidup."
Aku mengangguk pelan, sambil menangis.
"Eh.. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu menangis..! Erica, bagaimana jika kamu membuat permohonan di langit malam?" ucap Milo, kalang kabut.
"Permohonan? Lagi?" kataku lirih.
"Benar. Namun, kali ini berdoalah dengan ceria. Bayangkan hal-hal terindah.. Seperti, saat mereka memeluk atau menggendongmu. Kudengar, doa yang seperti itu akan terwujud. Apalagi, jika kau berdoa saat ada bintang jatuh. Itu kalau kau beruntung dapat melihatnya." bujuk Milo.
Aku terdiam sejenak. Sambil mempertimbangkan saran Milo, aku bergerak kesana-kemari dengan melayang di udara.
Wajar saja. Saat ini aku adalah salah satu mahkluk langit atau mungkin hanya arwah yang kesepian.
Aku bukan mahkluk yang mengganggu kehidupan manusia atau mahkluk yang berbahaya. Melainkan, mahkluk peralihan dari arwah manusia ke malaikat.
Di atas langit, setelah aku meninggalkan dunia manusia, Sang Maha Pencipta menawarkan kepadaku untuk menjadi salah satu malaikatnya.
Akan tetapi, kekhawatiran dan rasa rindu terhadap kedua orang tua yang belum dapat kulepaskan membuatku gagal menjadi seorang malaikat kecil.
Meskipun aku memiliki banyak sekali teman di atas langit yang menghibur dan terus menyemangatiku, rasanya aku tidak akan tenang sebelum melihat hubungan kedua orang tuaku dipulihkan.
Beberapa hari kemudian, di dunia manusia..
"Bangun Keith, dasar pemalas!" seru Ruby, ibuku.
"Ck, kamu kasar sekali. Sangat berbeda dengan waktu kamu masih gadis!" sahut Keith, ayahku.
GRRR
"Apa katamu?! Memangnya kau bapakku? Menurutmu, siapa yang membuatku hamil?" bentak ibu, tidak terima.
"Urakan sekali." kata ayah pelan, meledek ibu sambil membuang muka.
Hiks.. Lagi-lagi pemandangan itu.
Mereka terus beradu mulut dan tidak mudah rujuk.
Padahal, dulunya ketika kami masih bertiga..
Ayah akan bersikap sangat lembut kepada ibu. Begitu juga dengan ibu, dulunya ia selalu memperhatikan ayah.
Sebenarnya, apa arti seorang anak di tengah pasangan rumah tangga? Karena masih terlalu muda, aku kurang memahaminya.
Namun, berkali-kali kulihat ibu menangis seorang diri setelah bertengkar dengan ayah.. Atau setelah nenek bersikap kasar kepadanya.
Di saat seperti itu, mereka mulai membahas tentangku...
"Dasar wanita bodoh dan tidak becus! Kau pikir Keith tidak dapat menemukan wanita lain yang lebih layak daripada kamu? Putraku itu masih muda dan elok parasnya! Tentu saja, dia sudah membuangmu jika tidak bermurah hati selama ini! Kamu benar-benar tidak tahu diri! Apakah kamu lupa? Kamu telah gagal mengurus anakmu, sehingga anak itu mati!" sentak nenek kasar, tanpa memikirkan perasaan ibu.
DEG
Seketika, wajah ibu memucat. Tubuhnya mulai gemetar dan air matanya terus mengalir.
Melihat keadaan ibu yang seperti itu, nenek tidak merasa bersalah dan malah mendesah, lalu meninggalkannya seorang diri.
"Makanya, sejak awal siapa suruh menikah dengan pemuda yang tidak selevel denganmu."
Kalimat pedas itu sempat diucapkan oleh nenek, seketika ia berjalan pergi.
Karena begitu terpukul dan tidak dapat menahan diri lagi, ibu menangis keras.. hingga meraung-raung.
Dan tentunya, aku turut menangis..
"Ibu.. Apakah ibu tidak akan bahagia karenaku? Ini semua salahku.." tangisku, dengan hati yang pedih.
Teman-temanku pun mendekat dan memelukku.
Sementara itu, ayahku ternyata tidak berada jauh dari sana.
"Uh.. Lagi-lagi, ibu menyakitinya. Tapi, jika aku berniat baik, dia hanya akan mendorong atau mengusirku." gumam ayah, dengan dilemanya sendiri.
(Ayah.. Tolong. Tolong dekati ibu. Tolong hibur ibu. Tolong katakan bahwa semua itu bukan salah ibu.. dan bahwa ayah masih mencintainya.)
Itulah doa baruku di atas langit malam.
Entah apakah doa itu akan segera terwujud atau masih harus memakan waktu.. Yang pasti, ayah tidak membenci ibu. Begitu pula dengan ibu.
Mereka masih saling mencintai. Sangat mencintai satu sama lain..
Sayangnya, gengsi dan keegoisan seringkali menguasai hati mereka. Mereka tidak akan menunjukkan perasaan mereka yang sebenarnya, jika salah satu dari mereka tidak meminta maaf atau memilih untuk berinisiatif terlebih dahulu.
Akhirnya.. sebuah ide muncul dalam benakku.
Walaupun aku hampir tidak dapat berbuat apapun untuk mereka, aku dapat terus berdoa di bawah langit malam.
Percaya atau tidak, kurasa doa itu akan secara perlahan membawa hasil.
Hingga suatu malam..
"Erica.." ucap ibu lemah, sambil menyentuh sebuah pigura berisikan fotoku.
Kondisi ibu semakin melemah, hingga ia jatuh sakit... Namun, ia selalu menutupinya dari ayah.
Kini, mereka bahkan tidak tidur di ranjang yang sama. Melainkan, hanya sekamar..
"Kau terbangun lagi? Cepat tidur kembali. Jangan mengganggu orang lain! Besok aku harus bekerja." kata ayah, seketika terbangun dan melihat ibu yang duduk di sisi ranjang sambil memunggunginya.
Saat itu, ayah tidak mengetahui bahwa ibu sedang mengamati fotoku sambil menangis sepelan mungkin..
"Maaf, aku selalu mengganggumu.." kata ibu secara tidak terduga, sambil menangis tersedu-sedu.
Untuk pertama kalinya, ayah langsung bangkit dari tempat tidurnya dan..
GYUUTT
Ia memeluk ibu!
"Keith.." ucap ibu pelan.
"Stt, diamlah. Biarkan aku melakukan ini sebentar saja. Jangan melarangku." tegas ayah, seraya mengeratkan pelukannya.
DEG DEG DEG
Tanpa sadar, jantung ibu berdegup kencang.
"Kau demam.. Mengapa kau diam saja? Apa kau ingin mati?" kata ayah, dengan nada suara yang sedikit ketus dan ekspresi tidak suka.
"Maaf.." balas ibu pelan, masih terisak.
"Ah.. Ehem-- Maksudku.. Mengapa kamu.. tidak pernah mau mengandalkanku, Ruby?" kata ayah, perlahan mulai dapat mengutarakan isi hatinya.
"Keith.. aku.. aku.. sangat mencintaimu.. dan juga Erica." tangis ibu akhirnya.
Mendengar itu, ayah dengan cepat membalikkan tubuh ibu hingga menghadap ke arahnya dan memeluknya lebih erat lagi.
"Ruby.. Kau paling cantik ketika jujur pada perasaanmu. Wajahmu yang memerah karena malu, suaramu yang mendadak menjadi pelan, dan sikapmu yang melemah ketika aku menciumu." bisik ayah.
DEG DEG DEG
"Keith.." ucap ibu, seketika menjadi sama dengan deskripsi yang baru saja dikatakan oleh ayah.
Tanpa berkata-kata lagi, ayah langsung menyentuh wajah ibu dan menciumnya lembut.
Begitulah. Mulai hari itu, hubungan ayah dan ibuku telah pulih.
Kurasa, tidak ada ruginya untuk berdoa selama ini. Semoga ayah dan ibu selalu berbahagia, tetap mesra, dan saling menguatkan semasa hidup yang terbatas itu.
- THE END (Selesai) -