Negara Varthe yang dipimpin Raja Viandech dengan paras yang luar biasa, serta memaksa gadis dari kalangan biasa untuk menikah dengannya, dengan alasan yang kuat.
Pernahkah kau merasakan paksaan?
Apa kau pernah bermimimpi mewujudkan sesuatu namun harapan itu hancur berkeping keping, tidak ada kebahagiaan yang tertera.
"Sudah memakan dua tahun pernikahan Ratu dengan diriku"Ucap sang Raja yang melamun dengan asistennya.
"Panggil Ratu Queena untuk menghadiri acara besar malam ini, karena, ini adalah hari dimana kami menikah"
"Baik Yang Mulia"
Disisi lain, Queena terus memasang wajah datar dan dingin, sama sekali tidak pernah menerima pernikahan paksa itu, hanya karena Viandech menginginkan kekuatan yang besar dari keluarga Queena.
"Yang Mulia, Raja Viandech meminta anda untuk menghadiri acara pernikahan Ratu dan Raja"Ucap pelayan itu dengan sopan.
"Agar tidak mempermalukan dirinya? Agar dia tetap terus dipandang dengan Raja yang luar biasa? Unik sekali laki laki itu"Ucap Queena tidak senang.
Malam pun tiba, Queena sang Ratu, di paksa untuk 'menikah' bukan untuk 'hiburan', dia tidak akan pernah ingin mengikuti acara apapun yang ada di Istana, bahkan Queena sama sekali tidak berharap bahwa ada penerus Istana, apapun alasannya.
"Huft... Aku sudah yakin bahwa Ratu tidak akan mengikuti acara ini"Ucap Sang Raja yang duduk di Istana megahnya seorang diri.
"Yang mulia mengapa anda menikahi gadis dingin tak berperasaan itu?"Tanya salah satu gadis yang berani menghampirinya.
"Demi kekuatan, aku rela melakukan apapun"Ucap remeh Viandech.
Queena yang tidak sengaja melintasi dekat Viandech, terkejut atas perkataannya, tidak ada cinta baginya, hanya penderitaan dan ke egoisan. Queena memutuskan untuk kembali ke kamarnya dengan hati yang penuh terluka.
*
Pagi pun tiba, apapun keadaannya Queena harus tetap sabar atas perilaku Viandech yang memaksanya menikah hanya karena kekuatan. Queena dan Viandech tidur di kamar yang berbeda serta jarak yang luar biasa jauh.
Queena memutuskan untuk berjalan jalan ke taman, hanya itulah kesehariannya di Kerajaan besar. Tak lama kemudian pelayan baik dan setia Queena menghampirinya.
"Ratu selamat pagi!"
"Selamat pagi Riana~"Balas Sang Ratu tersenyum tipis.
"Ratu apakah anda akan melalukan hal yang seperti biasa?"Tanya Riana pelayannya.
"Tidak ada yang bisa ku lakukan di tempat ini selain berjalan jalan"Jawab Sang Ratu.
"Aku memang pernah berharap ingin menjadi seorang Ratu yang hebat, Ratu yang bisa melakukan apapun untuk rakyatnya"
"Namun, semua hancur sekejap, ketamakan keluargaku, membuatku terjerumus dalam hal buruk"
"Menggila dengan kekuatan, ingin memiliki segalanya"
Di koridor taman Viandech bertepatan dengan kehadiran Queena, dia melihat Sang Ratu sedang asik berbicara dengan salah satu pelayan setianya. Entah apa yang membuat Viandech tergerak untuk menghampiri Sang Ratu dengan rambut biru panjangnya.
"Jadi bisa disimpulkan, aku sedang menderita di atas kekuatan"Ucap Ratu. Viandech langsung terhenti dari pergerakannya karena mendengar ucapan dari Sang Ratu. Viandech langsung membalikkan badannya dan menjauh dari tempat.
"Jadi...Selama dua tahun ini, Queena hanya merasakan derita, apa segitu buruknya menikahi diriku yang luar biasa!?"Ucap Viandech dengan sedikit emosi.
Pada saat sedang melamun di balkon Istana Viandech mendengar suara teriakkan dari arah taman, karena dia tahu bahwa Queena ada di sana, Viandech memutuskan untuk berlari ke taman dengan cepat.
Di Taman.
"Ra-Ratu!"Teriak Riana.
Seekor ular dengan ukuran yang besar, Queena tahu bahwa itu adalah ular iblis telah banyak kejadian seperti ini di Istana karena Queena memiliki sihir sisa yang sangat kuat, membuat semua orang membabi buta untuk mendapatkannya.
Queena mendekati ular itu dengan santai, perlahan lahan iris mata Queena bewarna merah segar dan mengangkat tangannya serta ingin mengeluarkan sihirnya.
"Queena!"Viandech muncul tiba tiba di tempat dengan pedangnya, dan langsung membunuh ular itu.
"Apa yang kau lakukan!? Bagaimana jika ular itu melukaimu!?"Tanya Viandech.
"Apa urusanmu?"Queena menjawab pertanyaan Raja dengan wajah datar dan dingin.
"Kau kan-"
"Aku adalah Ratumu? begitu? aku hanya sebatas 'Istrimu' bukan 'Ratumu'"Ucap dingin Queena dan langsung meninggalkan tempat.
"Kau itu beharga Queena, sihirmu itu mengntungkan diriku, apa salahnya aku mengkhawatirkan sihirmu yang beharga itu?"
Hati Queena serasa teriris dengan pisau yang tajam, Queena memang terbiasa dengan semua ini, tapi yang namanya hati, itu tidak bisa dipungkiri.
"Kalau begitu, jangan halangi aku untuk mencelakai diriku sendiri, dan tetap tenanglah, sihir sisa ku akan tetap aman selama wadah masih sempurna"
*
Viandech memasuki kamarnya dengan wajah yang muram.
"Argh! Bagaimana bisa aku mengatakan hal itu di depannya, dasar bodoh Viandech! kau membuatnya semakin menderita!"
Viandech, Sang Raja dengan rambut hitam serta iris emas mulai perlahan lahan menyukai Queena, sebenarnya Viandech pernah melihat hanya satu kali disaat Queena tersenyum senang hanya seekor kucing yang dia temui di taman.
"Mungkin Queena tidak akan bisa menerima diriku,benarkan Lid"
"Tidak"
"Hah? Apa maksudmu?"
"Yang Mulia Ratu hanya belum bisa membuka hatinya, dan jika anda terus berusaha membuat Ratu senang, mungkin perlahan lahan Ratu akan menerima anda"Jelas Lid,salah satu pelayan setia Viandech.
"Benarkah!? Hmm... Kalau dipikir pikir Queena menyukai kucing, apakah aku harus mencari kucing untuk membuatnya senang?"Tanya Viandech.
"Berusahalah Yang Mulia, hamba permisi"
"Hei! Kau ini tidak membantuku!?"
Keesokan harinya.
Viandech duduk di ruangan kerjanya serta menunggu Lid kembali dengan membawa kucing yang menurut para gadis lucu.
"Lama sekali orang itu"Gerutu Viandech. Tak lama suara ketukkan pun terdengar, Lid membawa puluhan kucing yang lucu untuk Yang Mulia Ratu Queena.
"Bagus! Queena pasti menyukainya"Ucap Viandech.
Mereka berdua memutuskan untuk lebih awal menuju taman andalan bagi Ratu, dan menaruh puluhan kucing lucu itu di taman. Viandech dengan hati yang senang membantu Lid untuk menaruh kucing kucing lucu itu.
"Dengan begini, aku yakin Queena akan menyukainnya"Ucap Viandech dengan keyakinan tinggi.
"Baiklah aku merasa bahwa Ratu dan Riana sedang menuju kesini, lebih baik kita bersembunyi dulu Yang Mulia"Ucap Lid pada Viandech.
"Hmm...Baiklah!"
Mereka berdua bersembunyi di tembok besar, dan mengamati Ratu dari kejauhan. Saat Queena menampakkan dirinya Viandech terdesir sedikit perasaan dalam hatinya. Dia melihat Queena yang begitu cantik dengan gaun merah.
"Hei Lid, apakah selama ini aku sangat kejam pada Queena?"Tanya Viandech tiba tiba.
"Anda ingin aku jujur?"
"Cepat jawab!"
"Benar"Jawab Lid dengan singkat. Bawahan Viandech yang satu ini memang irit bicara.
"Anda tamak akan kekuasaan, taklukkanlah hati Yang Mulia Ratu dengan perasaan anda yang sebenarnya, aku undur diri, karena jadwal untuk penjagaan keliling Istana giliranku"
"Hormat pada Yang Mulia Raja Viandech"Ucap Lid dengan tubuh hormat menunduk pada Viandech. Sebenarnya Raja itu tidak ingin ditinggal sendiri, tapi tugas penjagaan itu sangat penting jadi Viandech mengizinkan Lid untuk pergi.
Viandech pun langsung terbelak saat melihat Queena yang terpukau dengan puluhan kucing di taman.
"Ri-Riana, dari mana kucing kucing ini?"Kedua mata Queena berbinar saat melihat kucing kucing itu.
"Aku-juga tidak tau Yang Mulia, apakah ada yang melepasnya?"
"Tapi siapa yang memiliki kucing di Istana?"Queena langsung cepat mengambil beberapa kucing itu.
Sesuai dengan pemikiran Viandech, bahwa Queena sangat menyukai kucing. Viandech terkejut karena melihat Queena terjatuh karena gaunnya dan sambil mengejar para kucing.
"Kucing!~"
Viandech terkejut bukan main, Queena dapat tersenyum dengan leluasa. Viandech terpukau melihat Istrinya yang sangat bahagia. Viandech memutuskan untuk menuju Queena.
"Aku harap mereka mereka kesini bukan karena orang lain yang membawanya"Ucap Queena dengan senyuman. Namun dengan detik yang sama Viandech terdiam dengan pergerakannya.
*
Viandech berdiri di depan kaca besar ruang kerjanya sambil memikirkan perkataan Queena di tempo hari.
"Mungkin aku akan menjadi perusak suasana jika aku muncul pada saat itu"Gumamnya.
Malam pun tiba. Queena yang sedang menelusuri koridor menuju ruang makan bersama dengan Riana. Dan tanpa di sengaja Raja Viandech juga berada di tempat yang sama.
"Selamat malam Ratu~"Ucap Viandech dengan hormat.
"Selamat malam"Queena selalu membalas dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Aku dengar tadi siang ada puluhan kucing yang berkeliaran di taman"
"..............."
Queena terus diam dengan segala ucapan dari Viandech, memang dihadapannya itu adalah Raja dari Negara Varthe, tapi Queena sama sekali tidak pernah menganggap pria itu ada.
Makan malam pun berlangsung dengan cepat, Queena langsung pergi dari meja makan menuju kamarnya.
*
"Selamat pagi Riana~"
"Ah! Selamat pagi Ratu!"
"Aku dengar nanti malam beberapa bangsawan akan berkunjung ke Istana"Ucap Riana.
"Hmm... Itu benar"
Disisi lain, Viandech sedang merapikan pakaiannya yang dibantu dengan Lid.
"Aku tidak menyangka bahwa dia akan sedingin itu"Ucap Viandech.
"Wajar Ratu begitu"
"Hah!? Apa maksudmu wajar!?"Teriak Viandech.
"Bukan apa apa, lagi pula malam ini kita kedatangan tamu besar dari beberapa keluarga bangsawan"Ucap Lid.
"Aku tau"Jawab singkat Viandech.
"Ini adalah perjamuan yang besar, Ratu harus menghadirinya, kalau bisa aku yang akan memohon padanya dan meminta bantuan pada Riana"Jelas Lid.
Lid pun menemui Riana untuk meminta bantuan atas kehadiran Ratu.
"Yang Mulia?"Panggil Riana.
"Ada apa?"Jawab Queena.
"Hmm... Begini Raja memohon pada anda untuk menghadiri perjamuan malam ini"Ucap Riana, dan di balas tepukkan buku yang kuat.
"Aku tidak-"
"Kumohon Ratu"Ucap Viandech tiba tiba.
"Kau dapat menyewa selir atau apapun itu untuk perjamuan malam"
"Hah!? Untuk apa aku menyewa, lagi pula kau harus sadar bahwa kau adalah Ratu!"Viandech membentak Queena dengan tegas.
"Ekheem! Maksudku-"
"Ratu hanya impian kepingan yang hancur, dan aku bukanlah Ratumu melainkan Istrimu, aku sama sekali tidak pernah setuju atau bersedia menjadi Ratumu selain 'Istri paksa mu'"Queena langsung meninggalkan tempat dengan langsung.
Setelah keberadaan Queena hilang, Viandech begitu terpuruk perilaku dingin Sang Ratu padanya, Riana dan Lid pun membantu Viandech untuk berdiri.
"Mungkin akan sulit bagiku, untuk menarik hati Ratu, serta............. Meminta maaf padanya~"Lirih Viandech.
Di malam harinya, begitu ramai pada keluarga bangsawan atas menuju Kerajaan Varthe. Banyak yang membicarakan keberadaan Sang Ratu yang tidak hadir.
"Seperti rumor, Sang Ratu begitu tertutup, bahkan acara sebesar ini dia tidak menunjukkan dirinya"Gosip para wanita yang didengar oleh Viandech.
"Queena bukanlah 'dia' gadis itu adalah Ratuku, tolong hormati dia bagaimana aku menghormati kalian, jangan panggil Queena dengan sebutan 'dia' lagi"Jelas Viandech dengan tatapan suram.
Disisi lain, Queena tidak sengaja mendengar perkataan Viandech barusan.
"Dia..."
*
Karena mendapat dukungan besar dari Riana dan Lid untuk terus merebut hati sang Ratu, Viandech menggunakan segala cara yang disukai oleh Queena agar gadis itu bisa menerimanya.
"Pagi Ratu!~"Ucap Viandech dengan nada semangat.
"Ratu aku ingin berbicara dengan anda"
"Maaf aku tidak punya waktu"Jawab datar Queena.
"Aku akan memberikan mu ini jika kau ingin ikut denganku"
Mata Queena berbinar saat melihat kucing yang begitu bulat putih dan gemuk ada di rangkuhan Viandech, mau tak mau Queena mengiyakan permintaan Viandech.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"Tanya Queena sambil merangkuh kucing.
"Hmm... Begini... Queena... Hufft~... Maafkan aku, atas segalanya"Ucap Viandech dengan sungguh sungguh, tapi Queena yang mendengarnya sontak mematung dan tidak sengaja menjatuhkan kucing itu.
"Qu-Queena?"
"Luar biasa sekali anda ini, aku kagum atas keluar biasaan anda Yang Mulia Raja"Jawab Queena dan seperti biasa, langsung meninggalkan tempat.
Riana dan Lid yang dari tadi mengamati terus memberi semangat pada Viandech untuk memenangkan hati Ratu. Jadi Viandech terus berusaha untuk memenangkan hati Ratu.
"Yosh! Semangat Viandech!"
Mulai dari hari itu dan seterusnya, Viandech mulai terus menganggu Queena dengan segala cara yang lucu, bahkan jika Queena sedang jengkel, dia mengeluarkan sihir sisanya untuk membuat pria itu menjauh. Karena sebagian sihirnya telah terpindahkan di tubuh Viandech, dan kini hanya sisa.
"Ratuu~"Panggil Viandech.
"Aku bukan Ratumu"Namun dibalas dengan wajah datar dan dingin seperti biasa.
Namun Viandech tak pernah menyerah sampai Ratu membuka hatinya untuknya.
...TETAPI...
Dua bulan kemudian.
"Haha! Maaf Ratu, aku menyerah"Ucap Viandech. Selama ini banyak perubahan dari diri Viandech, yang awalnya kejam, keji sekarang jauh berbeda.
"Akhirnya kau tahu bahwa semua itu percuma"Ucap Queena tanpa perubahan sedikit pun.
"Hatiku........... Tidak akan pernah terbuka, untuk siapapun lagi"Tambahnya dan langsung meninggalkan Viandech seorang diri.
Viandech tersungkur jatuh sejatuh jatuhnya, air matanya terus berlinang, dia tidak menyangka, sejauh apapun dia mencoba semua akan tetap sama, Viandech memegang hati serta jantungnya, begitu sesak dan pilu, dia yang mulai mencintai Ratu, tetapi Ratu tetap tidak akan berubah sampai kapan pun itu.
Keesokkan harinya langit sangat mendung, Queena yakin akan ada badai besar yang datang, namun dia tetap sibuk mengejari kucing kucing yang berada di koridor.
"Yang Mulia Ratu! Masuklah ke dalam Istana, mungkin badai besar akan datang!"Panggil Riana.
"Tapi kucingnya-"
Suara ledakkan besar mengenai taman dekat koridor itu membuat Queena terhempas. Riana yang melihatnya langsung berteriak histeris dan beberapa pengawal berdatangan melindungi Ratu.
"Akhirnya pusat sihir terbesar aku dapatkan"Ucap seorang pria dengan zirah yang besar.
Dia mendekati Queena dan mencekiknya, dengan sontak Queena menggunakan sihirnya yang membuat iris matanya bewarna merah segar membuat pria itu menjauh sekejap.
"Lihatlah! Ratu ini sangat cantik dan kuat"
"Yang Muliaaa!"
Riana histeris sangat histeris seorang pria asing dengan zirah entah datang dari mana dan menyerang Ratu Queena. Saat ini Viandech dan Lid sedang keluar Istana dengan waktu yang cukup lama, Riana seperti mati rasa saat melihat tragedi itu.
"Siapa kau!?"Ucap Queena.
"Kau cantik juga"Ucap pria itu lalu kembali menarik paksa Queena. Saat ini Queena sama sekali tidak bisa mengeluarkan sihir yang kuat karena sebagian sihirnya telah di pindahakan di tubuh Viandech.
"Kurasa sihirmu melemah~ aku juga mendengar rumor bahwa Viandech yang memilikinya"Ucap pria itu sombong.
"Apa!-apa yang kau lakukan pada Vian!?"
"Tentu saja membunuh wadahnya, dan menindahkan sihirnya ke dalam tubuhku, dan kau menjadi gadisku"Jawab pria itu dengan menyentuh wajah Queena.
"Jangan pernah kau berharap dapat menyentuh Vian! Yang kau butuhkan hanya aku! Jadi jangan pernah untuk melukai Vian!"Ucap tegas Queena, baru pertama kali dia mengucapkan kata kata yang tidak pernah orang dengar sebelumnya.
"Hahahaha! Kau-"
Suara ledakan lebih besar datang mengenai pria zirah itu sedangkan Queena merasakan bahwa ada sesuatu yang meraihnya.
"Heh~ berani menyentuh 'Ratuku'? berarti kau harus berhadapan dengan 'Rajanya'"Ucap Viandech.
"Vian!"
"Akhirnya kau mengakui ku Yang Mulia Ratu"Ucap Viandech dengan senyuman indahnya.
"Baiklah Ratu tunggu disini, biar Rajamu yang akan menyelesaikannya"Ucap Viandech
Viandech mulai menyerang pria berzirah itu dengan membabi buta, sangat mengesankan sihir Queena dan Viandech bersatu. Dengan usaha serta tekad yang kuat Viandech akan menyelesaikannya dengan beberapa serangan maut, dan akhirnya itu berhasil dengan sempurna.
"V-Vian!-"
Viandech memeluk erat Queena dengan perasaan hangat, begitu pula dengan dirinya, Queena terus menangis dalam pelukkan Viandech.
Viandech membantu Queena berdiri dengan baik.
"Akhirnya kau mengakui ku"Ucap Viandech dengan senyuman tulusnya serta air mata yang mulai berlinang.
"Jangan membuatku tertawa"Jawab Queena dengan wajah datar dan dingin.
"Kau-"
"Aku mencintaimu!"Ucap Queena dengan senyuman yang begitu indah, dibalik wajah datar serta tatapan dinginnya ada sebuah senyuman yang luar biasa.
"Queena, Istriku, Ratuku!"Viabdech memeluk Queena dengan rasa kasih sayang.
Akhirnya satu terpisah terwujud menjadi satu, menjadi Raja dan Ratu di Negara Varthe mereka hidup di Istana megah dengan penuh senyuman, serta Pangeran kecil mereka mulai muncul di Istana itu dan semakin membuat kehidupan yang indah.
Just Info! : Cerpen ini sudah saya adaptasi lagi menjadi Novel, baca yaa~