Sebut saja dia Yuna. Seorang gadis yang mendamba-dambakan memiliki seorang sahabat yang benar-benar tulus menyayanginya. Dia selalu ingin memiliki seorang sahabat yang ideal seperti itu.
Selama ini dia selalu melakukan semuanya sendirian tanpa memiliki seorang teman yang berarti baginya. Yuna tidak terlalu pandai bergaul, namun ia ingin memiliki seorang teman yang saling berbagi perhatian dan pengertian. Ia juga adalah seorang anak dari keluarga miskin sehingga tidak begitu banyak orang yang ingin berteman dengannya. Disisi lain dia adalah orang tak yang pintar namun terlalu dirinya polos dan jujur.
Sahabat?
Kata mereka itu lebih berarti daripada pacar.
Katanya ia adalah warna indah yang dapat menghiasi hari-hari kita.
Aku ingin memilikinya meski hanya seorang saja.
Yang penting dia selalu berada di sisiku, menemani hari-hari ku yang selama ini berwarna kelabu.
Aku berharap semoga aku bisa memiliki seorang sahabat yang benar-benar tulus berteman dengan ku tanpa maksud apapun.
Suatu saat saat ia memasuki jenjang pendidikan sekolah menengah atas melalui jalur prestasi yang dimilikinya. Kebanyakan siswa di sekolah itu adalah orang-orang kaya dan berprestasi, dan Ia juga masuk ke kelas unggulan tanpa melalui biaya sepeserpun.
Beberapa hari kemudian ia bertemu dengan seorang teman sekelasnya di sekolah dasar. Gadis itu pun menyapa Yuna dengan ramah.
"Hai kamu Yuna kan? Aku teman sekelas mu loh saat di sekolah dasar. Namaku Alissa" sapanya kepada Yuna.
"Ahh iya.. Aku Yuna, benarkah?" Jawab Yuna sambil mengerutkan keningnya.
"Iyaa. Mulai sekarang kita akan jadi teman, ah tidak-tidak!.. mungkin kamu bisa menjadi sahabatku, kita akan melakukan semuanya bersama-sama mulai dari sekarang, jangan selalu sendirian ok?"
Yuna hanya tersenyum sambil mengangguk kecil mendengar ajakan Alissa. Ia berfikir mengapa dia tidak pernah memperhatikan teman-teman sekitarnya saat dulu. Sekarang ia menyesal karena tidak mengingat sedikit pun tentang gadis baik yang berada di hadapannya kini.
Hari demi hari pun berlalu, Yuna dan Alissa semakin dekat dan akrab. Seperti ucapan Alissa, mereka selalu bersama-sama melakukan apapun. Saking lengket nya mereka, bahkan beberapa orang mengatakan "Disitu ada Alissa pastilah ada Yuna disampingnya".
Hampir setiap hari Alissa mentraktir Yuna makan. Ia pun kadang tak segan membagi bekalnya dengan Yuna. Jika Yuna menolak maka Alissa akan ngambek seharian dengan Yuna. Yuna merasa senang memiliki teman seperti itu. Namun ia merasa sedikit ragu, baginya Alissa belum bisa menjadi sahabatnya, karena dia tidak tahu apakah hubungan saling menguntungkan seperti ini bisa dibilang persahabatan. Pertemanan mereka yang seperti itu pun akhirnya terus berjalalan hingga tak terasa sudah melewati satu tahun.
"Yuunaaa, sini dulu" ucap seseorang saat melihat Yuna sedang belajar sendirian di perpustakaan. Orang itu adalah Kei, teman sekelasnya.
"Kamu sahabatan dengan Alissa?" Tanya Kei.
"Emm kami masih belum bisa dibilang sahabat sih" jawab Yuna ragu.
"Bagus lah kalau kamu bukan sahabat nya, aku sarankan kamu tidak usah terlalu dekat dengannya.. kamu akan kerepotan sendiri kalau terlalu dekat dengan nya"
"Kenapa... kau melarang ku?"
"Aihh pokoknya kalau dia berbuat baik jangan selalu di terima yaa, dia itu pasti punya maksud tersembunyi melakukan itu.. ingat baik-baik. Aku hanya tidak ingin mendengar begitu banyak orang yang sudah dia jadikan mainan"
"Hahh?"
Yuna merasa heran terhadap ucapan Kei. Namun kalau dipikir-pikir lagi. Sepertinya Kei dulu cukup dekat dengan Alissa, ia tidak tahu kenapa keduanya sekarang bisa menjadi seperti orang asing satu sama lain.
Yuna sama sekali tidak pernah direpotkan oleh Alissa. Dia pun selama ini selalu merasa tidak akan bisa membalas perlakuan baik Alissa. Sebagai gantinya dia berusaha untuk membantu Alissa dengan selalu mengikutinya kemanapun dia pergi mengajaknya dan membagi ilmunya untuk membantu Alissa mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Ia tidak peduli meskipun beberapa orang menyebutnya seperti babunya Alissa.
Apapun yang ada dipikirannya tentang kemungkinan sifat buruk Alissa dia buang jauh-jauh dari benaknya. Yuna sama sekali tidak ingin berfikir macam-macam tentang Alissa.
Waktu menjelang pulang sekolah pun tiba. Yuna menghampiri Alissa dengan senyuman yang merekah indah di wajahnya. Alissa pun membalasnya dengan senyuman singkat.
"Na, sore jam 4 nanti kita jalan-jalan yaa"
"Okeeeh"
"Janji yaaa awas kalau bohong, ingat ketemuan di tempat kayak biasa"
"Iyaa Lissaaaa"
Akhirnya sampai menjelang malam pun Yuna tidak bisa datang. Alissa merasa sangat jengkel kepada Yuna kemudian dia pulang sendiri ke rumahnya dengan basah kuyup karena diguyur hujan.
Esok harinya Yuna menemui Alissa di sekolah untuk meminta maaf karena tidak jadi ketemuan kemarin. Alissa pun datang menghampiri Yuna dengan wajah muram.
"Lissa, maaf kemarin, aku enggak jadi datang.. soalnya ibuku tiba-tiba sakit, aku gak bisa memberi tahu mu soalnya aku kan tidak punya HP" Yuna berkata jujur tanpa ada sedikitpun kebohongan. Ia sangat menyesal membuat sahabatnya itu berharap lebih padanya.
"Oh ya terus?" Jawab Alissa dengan nada kesal.
"...." Yuna hanya bisa menunduk ke bawah sambil menggigit bibir bawahnya menahan tangis diwajahnya agar tidak tumpah. Bisa-bisanya dia membatalkan janjinya dengan seseorang yang sangat baik padanya selama ini.
"Sekarang aku mau bertanya sama kamu, penting mana aku dengan ibumu itu? Aku adalah sahabat mu kenapa kamu tega membatalkan janji yang kita buat dan meninggalkan ku sendiri sampai kehujanan!"
Yuna tersentak kaget karena ucapan Alissa. Baginya Alissa adalah sahabat nya yang baik sedangkan ibunya adalah seorang yang sangat berarti yang tidak bisa dibandingkan oleh siapapun.Tetapi keduanya sama-sama memiliki tempat spesial di hati Yuna.
"Em..ibuku adalah orang yang penting dalam hidupku namun kamu juga penting" jawab Yuna dengan nada suara yang melemah.
Ia merasa malu karena sekarang mereka berdua sudah menjadi pusat perhatian banyak pasang mata di depan kelas.
"Ibumu penting? Padahal yang memberikan mu makanan enak selama ini siapa? Bahkan ibumu saja tidak bisa memberikan sedikit sangu untuk kamu sekolah? Selama ini aku kan yang selalu mentraktir mu? Lalu kamu bilang dia penting? Dia cuma orang tua Bangka miskin yang selalu nyusahin kamu"
Plakkk!
Reflek Yuna menampar wajah Alissa karena merasa kesal telah menjelek-jelekkan nama orang tuanya.
"Cukup Lissa, kamu sudah keterlaluan, orang tuaku memang miskin, namun dialah yang selama ini merawatku dengan tulus tanpa pamrih, meski hanya demi memberi sesuap nasi untuk ku, mereka sudah berusaha keras membesarkan ku hingga saat ini, tidak seperti mu yang hanya ingin memanfaatkan ku untuk menjadi mesin penjawab soal-soal mu".
"Aku juga menjadi pelayan mu dimana aku harus mengikuti kemanapun kamu pergi dan menuruti semua perintah yang kamu suruh, kemudian aku diupahi dengan sesuatu yang kamu sebut pemberian, apa itu bisa dibilang sebagai sahabat? Selama ini kamu lah yang menyusahkan ku!"
Alissa merasa kesal karena selama ini kedoknya telah diketahui oleh gadis polos dihadapannya, terlebih lagi itu diketahui oleh orang banyak yang mengelilingi mereka.
Akhirnya Alissa pun menangis tersedu-sedu dan jatuh tersimpuh ke lantai. Beberapa orang yang simpatik pun menolong Alissa untuk berdiri dan meredakan tangisnya.
"Aku difitnah Yuna..hiks hiks, kalian lihat kan? Dia tadi bagaimana? Dia udah bohongin aku kemarin" ucap Yuriko dalam tangisnya.
Beberapa orang pun hanya dapat melihat Yuna dengan tatapan prihatin namun tidak dapat berbuat banyak. Karena merasa enggan untuk bergaul dengan orang miskin sepertinya.
"Mulai sekarang kita putus, kamu bukan sahabat ku lagi, kamu udah gak ada gunanya buatku" bisik Alissa di telinga Yuna.
Yuna pun membulatkan kedua bola matanya tak percaya, ia berharap ucapan tadi adalah kesalahan pada pendengarannya. Kemudian Yuna tak kuasa berada di sana dan hanya dapat berlari kembali ke kelasnya sambil berusaha untuk menahan air yang sudah mengembun di pelupuk mata nya.
Seperti ini kah kisah persahabatan ku?. Apakah persahabatan itu ada putusnya? Setahuku tidak, itu adalah ikatan yang terjalin dengan sendirinya tanpa diucapkan dan berlaku selamanya tanpa adanya keretakan yang memisahkan.Apakah itu hanya anggapan ku saja? Bahkan hingga kini pun aku tidak bisa menemukan seseorang yang tulus bersahabat kepadaku.
Saat berlari Yuna berpapasan dengan Kei.
"Kamu kenapa Yun?" Tanya Ken yang heran melihat Yuna menangis. Ken menggapai lengan gadis itu untuk menghentikan langkah kakinya.
"Kamu benar, dia ternyata tidak tulus bersahabat dengan ku... Te terimakasih telah mengingatkan ku, tapi aku cukup bodohnya selama satu tahun ini tidak mendengarkan siapapun dan tidak peka terhadap apapun" Yuna langsung berbicara sambil menangis sesenggukan.
Kei kemudian tersenyum simpul melihat Yuna.
"Itu akan menjadi pelajaran berharga buat mu,namun aku yakin orang seperti mu itu mudah menemukan seseorang yang tulus berteman dengan mu. Yahh.. Hanya saja kamu terlalu tertutup dan pemalu, cobalah untuk mencoba berinteraksi dengan banyak orang, kalau kamu memiliki banyak teman, saat terjadi kejadian seperti ini lagi kau tidak akan merasa terlalu sedih, karena akan banyak teman yang menguatkan mu, selalu berada di sisimu dan menghibur mu"
Setelah mengucapkan seperti itu Kei pun berlalu pergi meninggalkan Yuna yang masih diam mematung, mencoba untuk memahami maksud dari perkataannya itu.
Yuna kemudian menyeka air matanya yang sudah berhenti mengalir dengan lengan bajunya. Kemudian dia tersenyum kecil.
"Yah tidak ada salahnya sih mencoba... Baiklah akan kucoba untuk menjadi pribadi yang lebih terbuka kepada banyak orang meskipun itu sulit untuk ku lakukan". Bisik Yuna pada diri sendiri.
Setelah kejadian itu pun Yuna sama sekali tidak membenci ataupun dendam terhadap Alissa, Karena dia selalu mengingat kebaikannya dan mengesampingkan keburukan Alissa, meskipun begitu mereka sudah tidak dekat seperti dulu lagi. Yuna juga mencoba untuk berinteraksi dengan beberapa teman sekelasnya dan ternyata berhasil, tidak seburuk perkiraannya. Akhirnya dia memiliki banyak teman yang selalu menemani hari-hari SMA seperti impiannya.
End~