Liburan semester pertama aku kembali ke kampung halamanku, masih teringat rasa amarahku kepada sahabat sekampungku, janji yang dia ucapkan untuk kuliah bersama-sama di tempat yang sama denganku dia ingkari, padahal kita sama-sama lulus dan berangkat di hari yang sama tapi Anggi tak kunjung datang.
Aku sudah mencoba menghubunginya tapi dengan santainya dia menjawab, aku tidak jadi berangkat, aku kembali lagi kerumah, sontak saja aku langsung marah padanya dan bilang jangan pernah menghubungiku lagi, karena aku semangat untuk kuliah berkat dukungan dari dirinya, kalau bukan karena Anggi aku mungkin akan tetap di kampung dan meneruskan usaha kelurgaku.
Butuh 5 jam untukku sampai di kampung halamanku, baru saja menginjakkn kaki di pemberhentian bus, Anggi sudah duduk menungguku disana, amarah yang selama ini aku pendam, semuanya hilang menjadi rasa rindu pada sahabatku ini.
"Apa kabar Putra?" Anggi menyapaku dengan senyuman tulusnya.
"Alhamdulillah aku baik, kau apa kabar?" Tanyaku balik.
"Aku seperti yang kau lihat, maafkan aku put, aku tau aku sungguh bersalah padamu, sudah lama aku menantikan moment ini ketika kau akan liburan, aku akan langsung minta maaf padamu karena kau melarangku menghubungimu" Anggi
"Sudahlah nggi, kita lupakan saja masa lalu itu, kita pulang dulu saja, kita bisa mengobrol dirumahku" Ajakku sambil merangkul bahu Anggi
"Jangan dulu, aku mau bercerita banyak padamu, sehari ini kau pergi jalan-jalan keliling kampung denganku ya, kita makan bakso Mang Didin favorit kita dulu, habis itu kau boleh pulang, aku mohon" Anggi
"Baiklah, tapi kenapa tidak besok saja, aku liburan selama sebulan disini, kita bisa pergi jalan setiap hari seperti dulu" Putra
"Aku mohon, kali ini saja put, sudah lama aku menantikan kepulanganmu" Anggi memohon padaku.
"Tapi barang-barangku bagaimana?" Tanyaku
"Kita titip saja di warung teh Sari" Anggi
"Baiklah, ayok"
Kita pergi menitipkan barang-barangku di tempat teh Sari, sepanjang jalan Anggi bercerita banyak tentang dia yang setiap hari duduk di halte bus berharap aku pulang, dan sampailah pertanyaanku kenapa dia tidak jadi ikut kuliah denganku.
"Anggi, sudah lam aku ingin menanyakan hal ini padamu, kenapa kau tidak jadi kuliah denganku, padahal aku tau kita sama-sama akan berangkat hari itu, berjam-jam aku menunggumu, kau telfon pun tidak" Tanyaku penasaran
"Maaf Put, aku tidak bisa memberitahumu sekarang, aku janji besok kau akan mengetahuinya" Anggi
"Baiklah aku tunggu, Aku benar-benar merindukanmu teman, kuliah sangat asik dan aku mendapatkan banyak teman disana, tapi tetap saja aku butuh kau Nggi, selama ini kita selalu bersama, kau bahkan ikutan tidak masuk sekolah karena aku sakit" Seharusnya aku tidak menceritakan ini karena kita baru bertemu kembali, tapi ku sungguh penasaran.
"Sekali lagi maafkan aku Put, sudah mau jam 10 malam, nanti ibumu khawatir, aku antar kau pulang sekarang Put" Anggi
Aku dan Anggi berjalan cukup jauh ke rumahku, sebelumnya kita sudah mengambil semua barang-barangku, aku senoat menawarkan Anggi untuk tidur dirumahku malam ini tapi dia menolak, karena dia juga harus pulang.
"Put, kenapa tidak mengabari ibu kalau kamu pulang? dan kenapa sampainya malam-malam?" Ibuku
"Maaf bu, tadi aku sampai jam 6 sore dan Anggi sudah menungguku di halte bus dan kami pergi jalan-jalan dulu keliling kampung" Jawabku senang pada ibuku
".......Put, kamu bercanda ya? Jangan begitu nak" Ibuku
"Aku tidak bercanda bu, tadi juga Anggi yang mengantarku pulang, ibu kenapa kaget begitu" Tanyaku heran
"Nak, maafkan ibu tidak memberi tahumu, Anggi sudah 6 bulan yang lalu meninggal, saat kau pergi ke Universitas, di perjalanan kesana mereka kecelakaan, senpat di bawa kerumah sakit, Anggi juga sadar selama seminggu tapi dia tidak mampu bertahan karena kepalanya terbentur cukup keras, dan Anggi juga yang bilang pada Ibu untuk tidak memberitahumu, agar kau bisa kuliah dengan baik disana" Ibuku
Aku tak percaya apa yang baru saja kudengar, aku yakin sekali kalau Anggi benar-benar ada tadi denganku, lututku rasanya lemas, aku terduduk, aku tidak mampu bicara, air mataku tak bisa kubendung laggi, berulang kali ibuku memanggilku tak kuhiraukan, yang ada di fikiranku saat ini adalah Anggi sahabatku, Aku bahkan marah padanya selama itu, apa yang sudah kulakukan.
"Put, sabar nak, yang tabah, mungkin ini adalah keinginan terakhir Anggi untuk bertemu denganmu" Ibuku
"Bu.. huhuhuhu Anggi bu, sahabatku bu hikss... hikss...Aku.. Aku... bahkan me..me..luknya tadi bu, dia minta maaf padaku karena mengingkari jan.. jan..janjinya padaku bu" Aku tak bisa berbicara dengan benar, isakanku menggangguku untuk berbicara.
"Istighfar nak, besok kita pergi kepemakaman Anggi, sekarang kau sholat do'akan Anggi biar tenang di alam sana" Ucap Ibuku
Malam itu aku tidak tidur sama sekali, aku ingin pagi datang dengan cepat, agar aku bisa ke tempat peristirahatan Anggi yang terakhir, dan aku juga mau ke tempat Mang Didin dan teh Sari untuk menanyakan apakah mereka melihat Anggi jaln denganku.
Esoknya, Aku dan juga Ibuku datang kepemakaman, dan juga mengunjungi orang tua Anggi dan meminta maaf kepada mereka, orang tua Anggi senang aku datang dan memelukku begitu lama, karena aku sudah seperti anak mereka, hampir setiap hari aku bergantian dengan Anggi menginap dirumah kami bergantian, dan Ayah Anggi menyampaikan bahwa Anggi meminta untuk aku tetap kuliah dengan baik dan wujudkan cita-cita kita berdua. Mendengar hal itu aku kembali menangis mengenang Anggi.
Aku dan Ibuku juga datang ke tempat-tempat yang aku singgahi dengan Anggi, Ibuku sempat mencegahku, percuma saja kata Ibuku, benar dugaan Ibu bahwa semua orang bilang aku hanya berjalan sendiri, Aku juga memesan Bakso 2 mangkok tapi hanya satu yang aku makan, Mang Didin heran tapi tak menghiraukan. Aku berharap Anggi sahabatku di tempatkan di tempat yang terbaik disisi Allah, dan aku berjanji akan mencapat cit-cita kita berdua.
SEKIAN