" Risa!" teriak Eva memanggilku. Dia adalah satu temanku.
"Apa sih teriak teriak, " jawabku sambil berlalu meninggalkan Eva masuk ke kelas.
Aku Karisa, mereka memanggilku Risa. Umur 16 tahun, seorang siswi kelas 2 SMA Negeri 1 Babakan di kota cirebon.
"Ini tentang kak Sandi, sudah tahu belum?" tanya Eva.
"Belum" jawabku.
Sandi Nugraha adalah seorang siswa kelas 3, dia sosok yang familiar dan mantan ketua OSIS. Pria tampan yang menjadi idola bagi para siswi di sekolah dan aku termasuk pengagum rahasianya.
"Sudah kuduga, dasar kamu! Selalu saja tidak tahu apa-apa, padahal ini berita terheboh beberapa hari yang lalu. Kita ini makhluk sosial, Ris, harus memperhatikan dan mendengarkan kejadian di sekitar kita Juga. Jangan asyik dengan duniamu sendiri." Eva berceramah, berusaha menasihatiku untuk kesekian kalinya.
Yang dikatakan Eva memang benar adanya. Aku ini pribadi yang sangat tertutup, hanya satu dua orang saja yang bisa berteman dekat. Mungkin bagi mereka yang kurang mengenal akan mengira aku adalah pribadi yang sombong.
"Memang nya ada berita apa tentang kak Sandi?" tanyaku akhirnya penasaran.
"kak Sandi dan kak Mira putus!" terang Eva.
"Tidak mungkin, pasti cuma gosip" balasku tak percaya.
"Ini fakta, Ris!" tegas Eva menjawab. Sorot matanya menunjukkan keyakinan dan kejujuran. Aku jadi penasaran karenanya.
"Kabar apa?" jawabku dengan muka datar tanpa minat.
Kak Mira juga seorang siswi kelas 3,banyak yang iri dengan hubungan mereka, termasuk aku pastinya. Itu karena sampai saat ini aku masih jomblo, selama ini hanya sebatas suka. Mengagumi seseorang secara diam-diam dan kak Sandi lah orangnya.
Suatu hari di jam istirahat kuputuskan pergi ke perpustakaan, saat itu keadaannya terlihat ramai. Belum 5menit duduk dan membaca buku yang ku pilih, tiba-tiba kursi di depanku yang semula kosong ada yang menempati. Deg, jantungku tiba-tiba berdebar, ya Tuhan kak Sandi, pekikku dalam hati. Dia dengan santai dan tenang membaca buku pilihannya. Ini momen pertama kalinya bisa melihat dia secara dekat, biasanya hanya bisa melihat dari kejauhan.
Aku menundukkan kepala mencoba fokus membaca dengan sesekali mencuri pandang ke arahnya, ini kan kesempatan langka bisa dekat dengannya yang hanya dipisahkan meja saja. Inginku menyapanya, tapi apa daya bibir ini kelu tak kuasa ku ucapkan. Aku kembali mencuri pandang dan ahh sial, dia ternyata sedang melihat ke arahku. Dalam hitungan detik kami berdua saling bertatapan mata, dan itu jelas membuatku malu dan segera menunduk kembali. Karena semakin tidak fokus baca, akhirnya aku pergi meninggalkan ruangan itu.
Aku berangkat sekolah memakai jasa angkutan umum atau sering disebut angkot, itu pun dua kali naek angkot. Turun dari angkot pertama menuju angkot kedua harus berjalan kaki dahulu sekitar 15 menit. Jika cuaca cerah akan terasa sangat panas di waktu jam pulang sekolah. Beruntung hari ini cuaca mendung jadi tidak kepanasan dan mungkin sebentar lagi turun hujan.
Benar saja, ketika mencapai separuh perjalanan menuju angkot kedua, hujan pun turun. Aku berlari mencari tempat berteduh, terlihat beberapa pengendara sepeda motor juga ikut berhenti dan berteduh.
Di antara pengendara sepeda motor itu salah satunya siswa Sma, itu terlihat dari celana abu-abu yang dikenakannya sedangkan atasannya tertutup jaket. Saat dia membuka helmnya, ku perhatikan pengendara sepeda motor itu yang berseragam SMA. Deg, dialah kak Sandi. Ya Tuhan mimpi apa semalam, mengapa hari ini bisa melihatnya lagi dari jarak yang sangat dekat.
Berusaha bersikap biasa saja dan acuh tapi sepertinya dia memerhatikanku, mungkin melihat almamater yang terpasang di lengan bajuku sama dengannya itu menandakan kami satu sekolah.
Sudah tiga puluh menit berlalu hujan pun tak kunjung reda, beberapa pengendara motor lainnya memutuskan menerobos hujan, mungkin diburu waktu. Tinggal kami berdua yang tersisa, beberapa saat kami masih saling diam. Tidak kuduga bahwa kak Sandi akan menyapaku.
"Anak Nebak, ya?" Nebak artinya Negeri 1 Babakan. Kami memang sudah terbiasa menyebut sekolah kami seperti itu. Terlihat lucu, tapi itu sudah menjadi kebiasaan turun temurun dari para senior terdahulu.
"Iya, Kak." Aku menjawab dengan setenang mungkin. Tak ingin dia tahu aku begitu gugup karenanya.
"Kelas berapa?" Dia bertanya kembali. Semoga dia tak heran, melihat diriku yang terus menunduk.
"Kelas dua, Kak." Tidak perlu pertanyakan nama, karena sudah terlihat jelas di seragamku.
"Pulang ke mana?"
"Nusa mekar."
"Sekalian saja, saya antarkan. Kebetulan searah juga." kak Sandi menawarkan tumpangan. Aku sungguh tak percaya. Mimpi apa semalam sehingga sehingga hari ini begitu beruntung.
"Memangnya Kakak pulang ke mana?" tanyaku. Aku memang tidak tahu alamatnya, karena meskipun aku menyukainya, aku tidak terlalu hapal dengan yang berbau privasi.
"Ke Karang Tengah, melewati desamu kok," Jelasnya. Aku hanya mengiyakan ajakannya. Sepanjang perjalanan di atas motor, tidak ada obrolan diantara kami. Itu karena aku yang terlalu gugup untuk bertanya dan mungkin dia terlalu fokus berkendara.
Keesokan harinya, tanpa sengaja aku bertemu kembali dengan kak Sandi di waktu arah pulang. Dan apakah yang namanya kebetulan bisa terjadi lebih dari satu kali? entahlah.
Dia menawarkan kembali untuk mengantarkanku pulang, tanpa pikir panjang aku mengiyakan saja. Tidak seperti hari kemarin, kali ini perjalanan kami diselingi obrolan singkat.
Rutinitas kak Sandi mengantarkanku pulang sudah terjadi beberapa kali, itu membuat kami lebih akrab. Tapi anehnya jika di lingkungan sekolah kami seperti orang yang tidak saling mengenal. Tidak ada tegur sapa diantara kami jika berpapasan. Sebenarnya ingin aku menyapa dan disapa, tetapi kembali aku berpikir, aku ini siapa?.
Di suatu waktu di saat jam istirahat, aku dan Eva kembali mengunjungi perpustakaan, ternyata di sana terlihat ada kak Sandi dan kak Mira. Mereka duduk bersampingan dan terlihat sangat akrab.
"Va, katanya kak Sandi dan kak Mira putus, itu mereka terlihat baik baik-baik saja?" tanyaku sambil beribisik. Aku penasaran, jangan jangan apa yang dikatakan Eva itu hanya gosip belaka.
"Aku juga tidak tahu, mungkin mereka balikan lagi," Eva menjawab.
Ada apa dengan hatiku, kenapa rasanya tidak terima dengan jawaban Eva tadi? Kenapa ada rasa kecewa, benarkah aku cemburu?
Ayolah Risa, jangan bermimpi! Hanya karena dia pernah beberapa kali mengantarkanmu pulang sekolah, terus Mengira dia menaruh hati padamu, gumamku dalam hati.
Setelah mendapatkan buku yang akan kami baca, aku dan Eva memilih duduk di kursi yang jauh dari pasangan itu, tetapi tetap saja mereka masih terlihat olehku. Di saat mataku terarah pada mereka, kak Sandi pun tanpa sengaja melihat ke arahku. Alhasil kami pun saling menatap dalam diam.
Jam belajar pun berakhir, seperti biasa disaat tengah berjalan arah pulang kak Sandi menghampiriku dan mengajak pulang bersama. Tapi kali ini aku menolak
"Maaf, Kak, aku naik angkot saja."
"Kenapa?" tanyanya. Mungkin dia heran, tak biasanya aku menolak.
"Tidak apa-apa, Kak," jawabku cepat. Terlihat dari raut wajahnya seperti terheran sembari mengerutkan kening.
"Apa ada yang salah?"
"Tidak ada, Kak."
"Okay," ucapnya lalu pergi. Namun, mengapa melihatnya berlalu meninggalkanku hati ini terasa sakit.
Sejak saat itu kami tidak pernah lagi bertemu di jalan. Di sekolah pun aku berusaha menghindarinya. Entahlah ada rasa yang tidak bisa dijelaskan.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, sampailah pada hari kelulusan siswa siswi kelas 3.Di mana mereka semua terlihat bahagia. Saling bertukar tandatangan di seragam yang mereka kenakan. Tradisi di sekolah kami melarang mencorat-coret asal sembarangan, tapi penuhilah seragammu dengan coretan tandatangan para guru dan teman-temanmu, begitu pesan kepala sekolah.
Ketika hendak pulang sekolah, di pintu gerbang kulihat kak Sandi sedang duduk di atas motornya. Di saat dia menoleh ke arahku, dia tersenyum dan memanggilku. Sebenarnya aku kaget karena ini pertama kalinya dia menyapaku di lingkungan sekolah. Dengan perasaan ragu dan malu, aku menghampirinya.
"Ada apa, Kak?"
"Tolong tandatangan di sini." Dia menyerahkan spidol permanen dan menunjukkan ke arah bajunya yang masih kosong dari coretan, tepatnya di bawah namanya.
Dengan grogi kububuhkan tandatangan di bajunya lebih tepatnya dibagian dadanya.
"Sudah," ucapku mengembalikan spidol kepadanya.
"Terima kasih, ya," katanya sembari tersenyum.
"Sama-sama, Kak," balasku.
"Sampai bertemu kembali." Dia berpamitan seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Kusambut uluran tangannya sambil menahan air mata yang hampir menetes, dengan terbata-bata aku menjawab "Sampai jumpa lagi, Kak."
Setelah bersalaman dia pun berlalu pergi meninggalkan kenangan disekolah ini dan kenangan dihatiku, khususnya.
Masih menatap ke arah perginya kak Sandi dan setetes airmata pun jatuh tak tertahan, aku berkata dengan lirih "Aku mencintaimu Kak."
**********'***********
Alhamdulillah sudah direvisi, mudah mudahan bisa lebih enak dibaca.
Terima kasih bang @Rizky Rahm, kak @Miaojunfeng, @guava_hyung atas ilmu dan bimbingannya 🙏. juga @Asyfa @zee dan tentunya the Noona Squad( ka leyna, marko, yulianna, Rain dan Mai davikah) 😘 kalian luar biasa.