SHINTA
*****
TUHAN.. JIKA CINTAKU PADA SHINTA TERLARANG. KENAPA KAU BANGUN BEGITU MEGAH RASA ITU DI HATIKU..??
- RAHWANA -
*****
Taman Argasoka terlihat indah seperti biasanya. Matahari nampak malu-malu di ufuk timur, seakan tersipu melihat kecantikan Shinta. Wanita itu tengah duduk termangu di bawah rindangnya pohon Angsana. Dia tengah merindukan suaminya, Rama. Terlintas setiap kenangan bersama suami yang begitu dicintainya.
Rahwana telah merenggut dia dari Rama & menahannya di taman Argasoka sekian lama. Setiap hari Sang Raja selalu datang ke taman itu untuk menyatakan cintanya. Meskipun menahannya, Rahwana selalu datang dengan sopan, tanpa ada pemaksaan, bahkan tidak pernah menyakitinya. Dia selalu memperlakukannya dengan baik. Tidak bisa dipungkiri, terbersit rasa kagum di hati Shinta atas sikap Rahwana. Dibalik sifat garangnya yang senang membunuh ternyata Rahwana tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan baik.
“Shinta..” Shinta menoleh ke asal suara itu.
Suara dari pria yang telah mengisi hari-harinya selama dalam penahanan.
“Kenapa kamu diam..?? Bagaimana keadaanmu pagi ini..??” Tanya Rahwana dengan suara yang begitu lembut.
“Aku tidak akan merasa baik sebelum kembali pada suamiku. Tidakkah kamu lelah menahanku disini..??” Sahut Shinta.
“Selama kamu bersamaku, aku tidak akan pernah merasa lelah. Aku mencintaimu.” Kata Rahwana.
“Bagaimana mungkin makhluk buas sepertimu bisa mencintai..?? Kamu pikir karena selalu memperlakukanku dengan baik aku tidak akan pernah tahu semua kejahatanmu di luar sana..??!! Bagaimana kamu membunuh begitu banyak manusia setiap harinya..!!” Seru Shinta dengan sengit.
“Kenapa kamu selalu menilaiku dengan begitu buruk..??!!” Tanya Rahwana dengan tatapan penuh luka.
“Karena itulah dirimu yang sebenarnya.” Jawab Shinta dingin.
“Shinta.. Para dewa menciptakan aku sebagai raksasa. Memangsa manusia adalah kodratku. Kalau kamu begitu membenciku karena kodratku. Kenapa kamu tidak membenci harimau yang memangsa rusa..?? Kenapa kamu justru mengasihani mereka saat dibantai manusia..?? Bukankah mereka sepertiku..?? Diciptakan untuk menjadi pemangsa.” Suara Rahwana bergetar.Terlihat kesedihan dan kekecewaan di matanya.
Shinta terdiam menatap Rahwana, entah kenapa tiba-tiba dia merasa telah berlaku tidak adil. Ada kalanya terbersit dalam pikirannya untuk menerima Rahwana. Dia menyadari betapa besar Rahwana mencintainya. Tapi dia tidak ingin mengkhianati suaminya. Bagaimanapun dia telah menikah. Dia pun tahu saat ini suaminya tengah berjuang mendapatkannya kembali.
Seekor kera putih pernah menghampirinya dan menyampaikan kabar itu. Bahkan sempat membuat kegaduhan di Alengka. Karena itu dia tetap menunggu, meski waktu telah berjalan begitu lama sejak kedatangan kera itu. Rahwana melihat kebimbangan di mata Shinta.
“Percayalah aku akan tetap mencintaimu, menerimamu. Tidak bisa kah kamu memberikan kesempatan..??” Rahwana kembali berusaha untuk meyakinkan Shinta.
“Aku sudah menikah. Dan seorang istri harus selalu setia menunggu kedatangan suaminya.” Jawab Shinta dengan tegas.
“Apa yang membuatmu yakin bahwa Rama masih mencintaimu..?? Dia saat ini memang tengah berperang untuk mendapatkanmu kembali. Tapi dia tidak lagi melakukannya karena cinta. Itu semua semata-mata karena ego dan harga dirinya. Sedangkan aku.. saat ini aku berperang untuk mempertahankan wanita yang sangat aku cintai.” Kata Rahwana.
“Tidak mungkin Rama-ku seperti itu. Dia adalah suami yang mencintaiku, dia juga Raja yang dicintai rakyatnya. Karena itu mereka bersedia mengiringi Rama untuk membebaskanku.” Sahut Shinta tidak percaya.
“Jika Rama raja yang baik, dia tidak akan menyeret rakyatnya & mempertaruhkan nyawa mereka untuk merebutmu kembali. Jika Rama pria yang benar-benar mencintai istrinya, dia tidak akan menunggu hingga pasukan terbentuk untuk membantunya. Dia akan langsung datang kehadapanku seorang diri untuk mengalahkanku dan merebutmu kembali. Dia tidak akan pernah mengorbankan nyawa rakyatnya, terlebih lagi membuat wanita yang dia cintai menunggu begitu lama. Jika Rama sebaik yang kamu pikirkan dan mencintaimu begitu dalam, sejak awal dia akan lebih memilih mati demi istrinya. Tapi kamu lihat sendiri apa yang dia lakukan, Shinta.” Kata Rahwana panjang lebar.
“Jangan berkata buruk tentang suamiku..!! Aku sangat mengenalnya. Dia adalah Raja yang dipuja rakyatnya..!! Tidak sepertimu yang hanya bisa membawa keburukan..!!” Sergah Shinta dengan nada tinggi. Suaranya bergetar karena amarah.
“Aku Raja yang buruk..?? Tidakkah kamu melihat betapa besar dan makmurnya kerajaanku..?? Aku dicintai rakyatku karena membawa kemakmuran bagi mereka. Mencintai mereka seperti layaknya anak-anakku sendiri. Setiap keburukan yang aku lakukan adalah untuk melindungi mereka dari setiap ancaman yang datang. Shinta, aku tidak perlu datang mencari pasukan untuk mendukungku dalam peperangan ini. Rakyatkulah yang datang kepadaku karena mereka mencintaiku.” Sahut Rahwana tegas.
Shinta tercenung mendengar perkataan Rahwana. Memang benar Alengka begitu makmur. Tidak ada seorangpun rakyatnya yang hidup berkesusahan. Diluar kerajaan, Rahwana dikenal karena kekejamannya dan kegemaran memangsa manusia. Tapi tak seorang pun manusia yang dimangsanya berasal dari dalam kerajaan. Saat mendengar Rama dan pasukannya datang, rakyat Alengka berbondong-bondong datang untuk membela Rahwana.
Shinta termenung, tatapannya kosong, hatinya sakit memikirkan Rama yang tak kunjung datang menjemputnya. Tiba-tiba hatinya bertanya, kenapa bukan Rama yang datang sendiri ke Argasoka..?? Kenapa dia harus mengutus Hanoman si Kera Putih..??
Tanpa sadar Shinta menangis. Rahwana bersedih melihat Shinta menangis, Dia ingin menghampiri dan menghapus air mata itu. Tapi Dia tidak ingin melanggar batas yang telah dibuat Shinta sejak pertama kedatangannya di Argasoka. Dia akan melewati batas itu hanya jika Shinta menghapusnya.
“Jangan bersedih, Shinta. Maafkan aku. Tapi tolong pikirkan kata-kataku. Aku menahanmu disini bukan hanya karena mencintaimu. Tapi karena aku pun tahu, Rama tidak mencintaimu sebesar kamu mencintainya.” Kata Rahwana.
Rahwana meninggalkan Argasoka. Shinta masih terdiam di tempatnya, memikirkan setiap ucapan Rahwana. Dia akui, Rahwana benar mengenai banyak hal. Bahkan tentang dia dan Rama. Tapi bagaimanapun Shinta tetap berpegang teguh pada prinsipnya. Dia akan tetap setia menunggu kedatangan Rama. Dan di hari-hari berikutnya Rahwana pun tetap mengalami penolakan di setiap kedatangannya.
Suatu hari perang besar benar-benar terjadi. Kemenangan berpihak pada Rama, Rahwana bahkan telah gugur ditangannya. Kabar itupun telah sampai pada Shinta. Dia bahagia karena Rama akan segera datang menjemputnya. Tapi disisi lain hatinya terasa kosong, dia bersedih atas kematian Rahwana.
Tak lama Rama datang ke taman Argasoka untuk menjemput Shinta. Dia pun bersiap dan berhias untuk menyambut kedatangan suaminya. Shinta membayangkan Rama akan datang berlari dengan tidak sabar dan memeluknya erat karena kerinduan. Dia terus tersenyum menunggu kedatangan Rama.
Rama memasuki taman Argasoka diiringi Laksmana, Hanoman, dan beberapa pasukannya. Dia hanya berdiri dan menatap Shinta dengan dingin, tidak ada tatapan penuh cinta ataupun kerinduan. Shinta terkejut dan membeku di tempatnya berdiri. Garis batas yang dia buat untuk Rahwana masih ada disana, di antara Dia dan Rama. Shinta terdiam menunggu Rama mengatakan sesuatu.
“Siapkan perapian..!!” Perintah Rama pada pasukannya dengan nada tinggi.
“Shinta harus berjalan melewati perapian untuk membuktikan kesuciannya..!!” Rama melihat Shinta dengan tatapan sengit.
“Kenapa aku harus membuktikan kesucianku, Rama..??” Shinta berusaha tegar dan menahan air matanya.
“Sekian lama kamu berada di sini bersama Rahwana. Apa jaminannya kamu tidak melanggar batasmu, Shinta..??” Tanya Rama dengan tatapan dingin.
“Rahwana memang kejam, tapi tidak sedikit pun dia menyentuhku. Dia tetap menghormati dan menghargaiku." Jawab Shinta.
“Aku tidak mempercayainya, Shinta. Kalau benar apa yang kamu katakan, buktikan padaku..!!” Seru Rama.
“Lalu bagaimana denganmu..?? Sekian lama kita berpisah apakah kamu juga menjaga kesetianmu, Rama..?? Bukankah aku juga berhak untuk memintamu membuktikan kesucianmu..??!!” Shinta berkata dengan tegas.
“Ciiiiih... ingat kedudukanmu, Shinta. Walaupun kamu adalah Ratuku, tapi kamu tetaplah seorang perempuan. Kamu tidak memiliki hak apapun untuk menuntutku..!!” Rama berkata dengan penuh amarah.
Shinta terhenyak. Pria dihadapannya bukanlah Rama yang dulu selalu berkata dengan lembut kepadanya. Yang selalu bersikap manis dan memperlakukannya layaknya seorang dewi. Yang selalu memandangnya dengan penuh rasa cinta dan memeluknya dengan kehangatan. Tiba-tiba seluruh kenangan manis itu luruh dari ingatannya, berganti dengan setiap kenangannya akan Rahwana.
Shinta menangis. Tapi tidak ada sedikitpun penyesalan dalam dirinya karena telah berpegang teguh pada prinsipnya.
Perapian besar telah disiapkan. Nyala api berkobar begitu besar, siap menelan apapun yang berjalan memasukinya. Para pelayan yang telah menemaninya selama tinggal di Argasoka menangis menjerit-jerit memohon pada Rama untuk mengubah keputusannya. Bagi mereka Shinta bukan hanya seorang junjungan yang mereka sayangi. Tapi juga wanita yang sangat dicintai Raja yang begitu mereka kasihi. Meski Sang Raja telah tiada, mereka masih teringat pesannya untuk selalu menjaga Shinta. Tapi Rama tak bergeming dan tetap pada keputusannya.
“Cepat masuk ke dalam api..!!” Perintah rama kepada Shinta.
Shinta memandang ke arah para pelayannya dengan penuh kasih. Dia berpaling pada perapian dihadapannya. Dia terdiam sejenak. Tak lama senyum indah mengembang dari bibirnya. Seolah kebahagiaan besar telah menantinya. Semua yang ada di Argasoka terkejut dan terdiam. Tak terkecuali Rama.
Amarah semakin menyelimutinya. Begitu banyak pikiran buruk memasuki kepalanya. Kenapa Shinta tersenyum seperti itu..?? Apakah dia bahagia karena yakin akan mati dan bertemu Rahwana kembali..??
Shinta, masih dengan senyum yang mengembang mulai melangkah memasuki perapian. Dia bahagia. Karena dalam pertempuran besar ini bukan Rahwana ataupun Rama yang menang. Tapi dialah pemenangnya. Ya.. Shinta adalah pemenang sejati dari pertempuran ini.