~Manusia harus dilahirkan sesuai hukum alamnya.~
Oleh : Syila Fatar
Senja merambah bumi. Sebentar lagi terang tergantikan oleh gelap. Semburat oranye menerpa wajah Rena. Eran melihat wajah bersemangat Rena dari kejauhan. Setiap senja Eran selalu merasa dirinya adalah duplikat alam. Karena esok hari adalah pertambahan keriput di wajahnya.
Lelaki muda dan gagah yang sedang berbincang dengan Rena di depan pagar, melambaikan tangan ke arah Eran. Eran membalas lambaian tangan Frozi.
“Wanita memang selalu lebih menarik daripada pria,” sungut Eran, “bahkan meskipun mereka telah berbau tanah.”
Rena tersenyum seraya menggenggam punggung tangan Eran. Sejenak mereka berdua menatap Frozi yang menghilang di tikungan, bersama dengan turunnya kegelapan.
Malam itu, seperti halnya malam-malam yang telah berlalu, pasangan lanjut usia itu menanti kantuk di depan televisi. Tidak ada celoteh cucu yang lucu atau ungkapan segar dari generasi di bawah mereka. Generasi itu hanya ada dalam bingkai-bingkai foto. Menggores kenangan yang terlalu pahit untuk selalu diingat setiap malam.
“Aku yakin, Young Company tidak lama lagi akan menjadi perusahaan raksasa di sini,” ucap Rena memulai perbincangan di sela minum teh beraroma jahe.
“Pabrik kosmetik itu?”
“Tidak hanya pabrik kosmetik, sayang. Tapi pabrik masa depan bagi semua manusia di muka bumi ini.”
“Kau termakan rayuan Frozi,” sahut Eran seraya mensesap tehnya.
Eran meraih remote televisi dan mengganti saluran. Sebuah berita menarik perhatiannya,
sehingga dia tidak lagi mendengar ocehan Rena tentang impiannya menjadi muda kembali. Omong kosong menjelang tidur.
“Kau akan segera melihat buktinya …” ujar Rena kesal.
Eran tidak mendengarkan Rena. Rena bangkit dari sofa dan menuju dapur.
Akhir-akhir ini pemerintah semakin resah dengan jumlah populasi penduduk yang semakin merosot tajam. Tidak hanya pemerintah negeri ini, tapi di seluruh dunia. Tidak banyak lagi dijumpai manusia-manusia berusia di bawah 40 tahun. Bahkan tidak ada kelahiran dalam sepuluh tahun terakhir di muka dunia. Eran geleng-geleng kepala mendengar berita yang sama selama setahun terakhir ini. Selalu membahas tentang populasi yang semakin menurun, tapi tidak ada upaya untuk memperbanyak jumlah manusia. Di mana anak-anak muda itu? Apa mereka diculik oleh alien sebagaimana issue yang berkembang sepuluh tahun terakhir?
“Kalau aku kembali muda, aku akan melahirkan banyak anak. Dan pemerintah tidak perlu khawatir dengan regenerasi.”
“Omonganmu semakin ngelantur sejak Frozi sering datang ke sini. Sebaiknya kamu tidak menemui dia lagi. Aku tidak yakin dia berniat baik, “ sergah Eran, seraya membesarkan volume televisi.
Seperti malam sebelumnya, Eran membiarkan Rena berangkat tidur lebih dulu karena perdebatan kecil mereka.
OoO
Eran meregangkan tubuhnya yang ringkih. Terasa sekali kengiluan di setiap sendi karena usia telah menggerusnya. Perlahan dia berusaha bangkit dari ranjang. Begitu terasa getaran tangan dan kakinya hingga tubuhnya seolah terguncang. Pinggangnya tidak bisa diajak kompromi walaupun sudah semalaman diistirahatkan. Eran pun hanya bisa duduk di tepi
ranjang. Sementara cahaya matahari yang lembut memasuki celah-celah tirai.
"Rena, sudah pagi. Apa kamu sudah bangun?" tanya Eran pada sosok istri tercintanya yang tampak masih terlelap.
Rena menggeliat. Eran mengembangkan senyum di wajah keriputnya.
"Kau sudah bangun rupanya. Bisa kau bantu aku berdiri?"
Rena bangkit dan mendekati sisi ranjang Eran. Namun langkahnya terhenti ketika melihat raut wajah Eran yang pucat menatapnya, seolah melihat hantu. Tangannya yang gemetar menunjuk ke arah Rena.
"Ada apa?" tanya Rena sambil mengguncang Eran sekuat-kuatnya. Eran tidak pernah merasakan guncangan sekuat itu sejak 10 tahun yang lalu.
Merasa tidak mendapatkan jawaban dari suaminya, Rena bergegas menuju cermin. Seketika dia terpekik tertahan melihat bayangan wajahnya di cermin. Dia meraba wajah dan sekujur tubuhnya. Keriput kulitnya berkurang, sangat berkurang. Rena tampak lebih muda 10 tahun.
"Sayang, aku kembali muda! Aku kembali muda!" pekik Rena, "Formula itu benar-benar bekerja!"
Eran berusaha bangkit dari ranjangnya dengan kaki gemetar. Lelaki 80 tahun itu tidak percaya istrinya menjadi lebih muda dalam semalam.
"Rena …. kau! " seru Eran dengan suara semakin bergetar.
“Ini berkat Frozi!” pekik Rena, lalu berlari ke luar kamar.
OoO
Eran gelisah menanti Rena. Hari menjelang senja, dan Rena belum juga muncul. Beberapa tetangga yang lewat menyapanya dengan lambaian tangan. Eran membalasnya dengan ragu. Kembali dia diingatkan dengan berita-berita di televisi, dan hal itu benar-benar menyadarkannya. Bumi ini telah menjadi penghuni bagi manusia-manusia tua. Manusia yang muda sudah sangat langka. Peperangan dan bencana alam telah melenyapkan mereka. Propaganda hidup bebas dan merdeka tanpa disibukkan dengan urusan anak telah begitu mendunia sejak puluhan tahun yang lalu. Kini, tidak ada lagi perang. Karena para penguasa negara itu dihadapkan pada sebuah genocide versi baru. Musnahnya manusia karena usia.
Mata tua Eran menangkap sosok Rena memasuki pagar saat cahaya matahari meremang.
“Halo sayang …” ucap Rena riang.
Tanpa mencium pipi Eran seperti biasanya, Rena masuk ke dalam rumah sambil bersenandung kecil. Hatinya sedang riang. Tentu saja, karena dia sudah semakin muda dari kemarin dan kemarin lusa.
“Rena, hentikan ini!” pinta Eran sambil menggenggam tangan Rena.
Tangan Rena tidak sekeriput dua hari yang lalu. Rena tersenyum melihat Eran mengelus-elus punggung tangannya, takjub.
“Rena, apa kamu minta suntik formula itu lagi pada Frozi?”
“Tentu saja, sayang. Satu suntikan, sepuluh tahun lebih muda. Lihat saja, dalam lima hari aku akan menjadi Rena yang kau nikahi pada usia 30 tahun!”
“Rena … hentikan ini! Aku tidak mau melihatmu lebih muda!”
Rena terbahak.
“Eran sayang, sayang sekal Frozi hanya menciptakan formulanya untuk wanita. Dia memang pintar dan tentu saja … tampan!”
“Rena, hentikan! Kamu tidak bisa menolak takdir. Formula itu hanya memudakan fisikmu, bukan umurmu dan bukan jiwamu.”
Rena terbahak. Dia menuju dapur dan membuat teh. Eran hanya mampu memandangi tubuh Rena yang bergerak lebih gesit dari tiga hari yang lalu. Wanita itu telah berubah. Dan Eran merasa telah kehilangan istrinya. Jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan kelima anaknya yang tewas dalam perang nuklir dua puluh tahun yang lalu.
OoO
Hari kelima. Rena sudah dua hari tidak pulang. Eran meminta Tera, sahabatnya untuk menemaninya malam ini. Apalagi ada ulasan berita di televisi yang membuat Eran gundah. Sebuah pernyataan dari Young Company bahwa percobaan yang mereka lakukan pada manusia telah membuahkan hasil. Sebuah formula yang akan membuat wanita menjadi lebih muda. Bila percobaan ini berhasil, mereka akan memproduksi formula itu secara massal dan membagikannya secara gratis ke seluruh dunia. Seorang artis cantik dan masih muda menjadi icon produk mereka. Dan hal itu membuat Eran takut.
“Tera, apakah kau berpendapat sama denganku? Ini perbuatan mereka …”
Tera termangu di depan televisi.
“Tidak ada yang bisa membuat manusia menjadi muda kembali. Ini semua hanya tipuan mereka. Mereka hendak memperbudak kita,” ucap Tera sependapat.
“Eran, menurutmu untuk apa mereka melakukan itu semua? Akan merubah wanita-wanita itu menjadi bayi? Sekali suntik, mereka akan lebih muda sepuluh tahun. Para wanita itu cukup menghentikan suntikan, maka mereka tidak akan bertambah muda lagi. Lalu kalau memang itu perbuatan allien, apa yang mereka kehendaki dari kita? Memperbudak kita untuk apa?”
Eran terdiam. Dia tidak bisa mencari benang merah dari peristiwa ini.
“Aku telah kehilangan Rena, Tera. Dia bukan Rena yang kukenal dulu. Walau dia lebih muda, tapi dia kini berbeda. Dia lebih sering bersama Frosi. Lelaki gagah dan tampan dari Young Company itu.”
Tera menatap Eran. Sepertinya dia mengetahui sesuatu.
“Frosi? Dari Young Company? Apa kamu mendengar issu yang beredar belakangan ini?”
“Apa itu?”
“Young Company. Frosi, si anak tunggal Fraso. Kau tahu, keluarga mereka tidak ada yang berumur lebih dari tiga puluh tahun. “
“Memangnya ada yang aneh dengan itu?”
“Aku yakin, Frosi pun akan bernasib sama. Tak lama lagi dia akan mati. Sayang sekali dia belum punya anak yang akan melanjutkan ….”
Tera tiba-tiba menghentikan kata-katanya. Mulutnya menganga.
“Apa?”
“Rena. Dia pasti ..”
“Apa? Ada apa dengan Rena?”
Pintu terbuka dengan tiba-tiba. Rena dengan baju hangatnya berdiri di depan pintu.
“Halo semuanya. Tera, kau di sini rupanya. Apa kau mengingatku? Kau pernah berusaha merayuku waktu aku semuda ini. Hmmm … kapan ya? Lima puluh tahun yang lalu. Masih ingat?”
Rena terbahak. Dengan pongah dia berjalan dengan dada membusung dan berdiri di depan televisi. Tera dan Eran memandang Rena tak berkedip. Rena yang sekarang adalah Rena cantik, muda dan berkulit kencang. Rena sekarang adalah Rena yang dinikahi Eran lima puluh tahun yang lalu.
“Eran, kau sudah tua rupanya. Sayang sekali kau tidak bisa membuatku bergairah lagi.“
Tera memandang Eran, iba. Sahabatnya itu sama keriputnya dengan dirinya.
“Kamu sudah diperbudak mereka, Rena. Mereka memanfaatkan keserakahanmu!” ujar Eran emosi.
“Sudahlah sayang, simpan suara gemetarmu itu. Bukankah sudah aku katakan, aku akan melahirkan banyak anak. Dan kau tentu saja tidak bisa berperan lagi dalam hal ini. Hanya Frosi yang bisa. Hahaha! Aku mau tidur dan jangan ganggu aku dengan omelanmu sepanjang hari!”
“Rena!”
Rena tidak menggubris Eran. Masih dengan langkah pongah dia masuk ke dalam kamar, dan melemparkan tubuh langsingnya ke atas ranjang. Eran dan Tera mengikutinya dengan langkah tertatih. Mereka menatap Rena yang terlelap. Kepuasan tergambar jelas di wajahnya. Apa yang sudah dilakukannya bersama Frozi, sudah bisa diduga.
OoO
Hari sudah siang. Rena tiba-tiba bangun dari tidurnya. Eran yang tepekur di sisi ranjang yang lain, terkejut.
“Rena …. lihatlah dirimu … “ keluh Eran.
“Kenapa? Kau iri padaku? Atau pada Frozi?”
“Aku sama sekali tidak iri. Aku jijik padamu!“
Rena terkekeh. Namun seketika itu juga tawa sinisnya terhenti. Dia memegang perutnya. Perutnya sudah membuncit.
“Kau melakukannya bersama Frozi dalam satu malam. Dan kau sudah hamil sebesar itu. Kau bukan istriku lagi.”
Rena bangkit dari ranjangnya dan menuju cermin. Dilihatnya, dirinya masih tetap muda. Tapi, perutnya telah membuncit. Rena teringat saat dia hendak melahirkan anak pertamanya, empat puluh lima tahun yang lalu. Dia juga bercermin di cermin yang sama.
“Frozi benar. Dan dia pasti memenuhi janjinya. Dia akan memboyongku ke istananya setelah aku benar-benar hamil. Dan aku sudah hamil. Aku mengandung anak Frozi!”
“Rena, kamu menjijikkan!” teriak Eran parau, “kamu sudah mengandung anak allien, dan sebentar lagi mereka akan memangsamu!”
Rena terbahak.
Tiba-tiba Tera muncul. Dia langsung meniupkan sesuatu. Sebuah sumpit bius mengenai Rena, dan Rena langsung roboh tak sadarkan diri.
“Frosi mati semalam!” ujar Tera.
“Apa?”
“Ternyata kau benar, Eran. Para allien itu selalu mati setelah mereka menanamkan benih. Dan benih itu sekarang hidup di rahim Rena. Tidak hanya satu. Tapi ratusan!”
Eran terperangah.
“Kita harus membakar tubuh Rena, Eran!”
Malam merayapi bumi, seperti sebelumnya. Tapi kini, diiringi tangis Eran di halaman belakang. Eran hanya bisa memandangi kobaran api di hadapannya. Mungkin besok, para tetangga hanya bertanya selintas saja, dan dia pun akan menjawab selintas saja. Tidak akan ada yang peduli pada kepergian Rena dan ratusan janin dalam perutnya. Eran telah melihat sendiri ratusan janin itu saat Tera membedah perut Rena. Young Company pasti akan sangat murka bila mengetahui hal ini. Dan itu berarti keselamatan Eran dan Tera terancam.
“Kita harus segera pergi dari kota ini, Eran,” ucap Tera pilu.
“Aku tidak mau pergi. Toh, aku juga akan mati. Apa bedanya bila aku mati di tangan para allien itu?”
“Kalian tidak akan mati secepat itu!”
Tera dan Eran terperangah. Tiga orang pemuda sudah berdiri di belakang mereka sambil membawa senapan.
OoO
Eran dan Tera saling berpandangan. Sungguh mustahil rasanya mendengar penjelasan panjang lebar dari ketiga pemuda di hadapan mereka. Tiga pemuda generasi terakhir.
“Kami sudah tua, kami tidak akan mampu melakukannya,” keluh Eran.
“Tidak ada istilah tua bagi lelaki, “ kata salah seorang pemuda.
“Kenapa tidak kalian saja yang menikahi gadis-gadis itu?”
“Kami mandul akibat radiasi nuklir. Peperangan telah menghancurkan ras manusia. Di negara ini, pemuda hanya kami bertiga. Kami sudah bertahun-tahun tinggal di bawah tanah, dan kami tahu apa yang telah dilakukan oleh Young Company. Kami telah mencuri formula Frozi dan menyuntikkannya pada kelima nenek ini. Young Company tidak memiliki formula itu lagi. “
“Jadi? Mereka?”
“Dua yang berambut pirang itu, usianya lebih tua dari anda. Mereka siap melahirkan generasi penerus kita. Manusia harus dilahirkan sesuai hukum alamnya. Sembilan bulan di kandungan, bukan seperti manusia buatan Young Company.”
Eran dan Tera saling berpandangan dan tersenyum.
OoO