Tak jumpa lagi jejak cinta yang dulu indah dan wangi semerbak. Tak ketemu lagi tulus hati yang dulu terobsesi janji-janji.
Awan lindap memayung sekujur langit siang. Matahari tak mampu berkacak, semburatnya terinjak duka langit yang kian pekat.
Televisi dipenuhi berita pembunuhan seorang WNI blasteran Indonesia Jerman karena cemburu.
Titta tersedu dalam kepatahan hati yang berserak menjadi keeping-keping penyesalan.
Dibongkar kembali masa-masa bahagianya ketika menikmati hidup bersama Toro yang penuh kasih.
Meski belum punya keturunan, mereka hidup bahagia tanpa mengungkit kekurangan masing-masing hingga prahara itu datang.
**********
“Hujaaaaaaaaan!!” Ve berteriak sambil menghambur keluar. Dirampasnya baju dari kemesraan dengan kawat jemuran.
Sementara Titta spontan ikut lari keluar. Kasur yang semalam kebocoran itu mulai tertimpa gerimis. Diangkatnya sekuat beban.
“Makasih, Ve, di sini kamu banyak bantu aku. Taruh di keranjang saja, nunggu bik Sum datang setrika.” Ujar Titta pada Ve yang sudah membantu mengangkat jemuran.
“Eh, lo ga usah geto kale…., katenye gue lo anggep sodara? He?” Ve mengedipkan mata genitnya.
Parasnya yang manis, kulit langsat dan postur yang indah. Hmmmm, lincah pula. Itu yang menjadi pesona Veronica yang kerap dipanggil Ve itu.
Sudah seminggu Ve tinggal disini, kota Buaya, tepatnya di kediaman Titta dan Toro.
Sahabat kecil suaminya itu kabarnya hendak mencari kerja selama di Surabaya. Berkat cerita Toro yang melatarinya, Titta merasa kasihan jika sahabat suaminya itu kos atau menginap di hotel murah. Toh rumah mereka yang tiga kamar itu masih mampu menampungnya.
Tapi sudah seminggu Ve tak kemana-mana, hanya berkutat di rumah, membantu Titta masak, bersih-bersih dan pekerjaan lain yang dia mampu.
“Sudah melamar kerja dimana, Ve?” Tanya Titta menyelidik.
“Banyak, udah masukin sepuluh lamaran, tau tuh, lama amir nunggu panggilan doang!” jawabnya agak geregetan
“Sabar, kalo rejeki tak kemana, Ve…”
“Iya ni, tapi empet juga kalo kelamaan jadi pengangguran.” Ucapnya disudahi senyum manis.
“Kenapa ga coba ngelamar di kantor mas Toro?” Tanya Titta dengan medok Jawanya.
“Ih, mane mau si morfinis ntu sekerja ame gue?” Jawabnya ceplas-ceplos. Ya, dia dari dulu punya sebutan ‘morfinis’ buat Toro yang masa kecil hingga remaja berbadan tinggi kerempang itu. Kalau tidak begitu, dia menyebutnya ‘keceng’.
“Oh ya? Coba nanti aku bujuk dia, ya?!” Titta membuat Ve senang.
“Duh, lo baik banget ci……” ditoelnya pipi Titta seraya pergi ke meja makan menyomot gorengan.
Atas usulan Titta akhirnya Toro memasukkan lamaran Ve ke personalia. Setelah tes wawancara, Ve pun diterima bekerja. Titta ikut senang. Setidaknya dia merasa ikut memperhatikan sahabat suaminya itu.
Hari demi hari, minggu dan bulan terus menggelinding. Sudah setahun Ve bekerja. Wajahnya yang dulu jarang ber make up kini penuh riasan, tentu saja tampak semakin bersih dan bersinar.
Ve datang ke rumah Toro yang sejak bekerja ditinggalkan. Dia kontrak rumah sendiri yang dekat dengan kantornya. Di tangannya sekeranjang buah dan bingkisan ditentengnya.
“Ta, lo inget ga, ini tanggal setahunnya aku kerja?” Titta tersenyum, mengangguk. “Ni, hadiah buat kebaikan lo…” diulurkan semua isi tangannya.
“Makasih, Ve, kamu repot aja, gimana, suka kerja disana?” Ve tersenyum.
“Banget. Apalagi bosnya cakep, bikin gue kepayang, ea…” Kelakarnya.
“Wah, sahabat suamiku sudah jatuh cinta nih?!” Goda Titta disambut bahak cantik Ve.
“Do’ain, yak, sape tau cinta gue ga terbang solo.” Celotehnya masih penuh tawa.
“Brisik amat?” Tiba-tiba Toro keluar sambil kucek-kucek matanya.
“Eh, mentang-mentang Minggu, tidur dipanjang-panjangin! Bkin acara kemane kek, tidur mulu!” Ve justru mengomel sahabatnya itu. Titta hanya tersenyum.
“Bawel, lo!” Toro mencubit pipi Ve yang reflek memukul. Titta hanya tertawa saja melihat ulah mereka yang sering saling olok jika bertemu.
Itulah Toro, Ve dan Titta yang damai-damai saja kala itu. Tak ada cemburu satu sama lain, atau mungkin lebih tepatnya, mereka mengusir cemburu tiap kali mulai mengintipi kalbu.
“Tor, gue jatuh cinta nih.” Toro tersentak hingga terbatuk kesedak tahu goreng yang dikunyahnya.
“Asem, lo! bikin gue mati?” Titta melongo. Ucapan suaminya membuatnya terkejut.
“Kenapa mati, Mas?” Tanya Titta penasaran.
“Kesedak tahu, Non……, udah batuk-batuk gini masak ga liat?” Jawabnya masih disertai batuk yang kian berkurang.
“Kirain?!” Titta meneguk the manis di depannya. Ve justru terbahak-bahak.
Sejak itu Ve tak pernah berkunjung ke rumah. Sibuk dengan kerjanya, kata Toro menjelaskan jika ditanya Titta.
Sementara Toro, akhir-akhir ini tampak gelisah. Tiap pulang kantor wajahnya selalu murung.
“Mas baik-baik aja?” Tanya Titta suatu hari di meja makan.
“Iya, kenapa sayang?”
“Ah, tidak apa, Cuma akhir-akhir ini Mas tak seceria dulu. Apa ada masalah di kantor?”
“Tidak, sayang, tidak ada apa-apa. Hanya perasaanmu aja.” Jawabnya sambil tersenyum yang Nampak dipaksakan.
Titta hanya mengamini saja jawaban suaminya. Meski dia merasa betul jika suaminya menyembunyikan sesuatu.
Tiap malam Jum’at, Titta selalu membersihkan diri ekstra bersih. Karena tiap malam itu suaminya tak pernah melewatkan menggaulinya kecuali sedang haid. Tentu saja disamping itu hari-hari lain juga sering membuat ranjangnya berdendang.
Tapi akhir-akhir ini, jangankan hari lain, malam Jum’at pun tak diingatnya. Kadang jika Titta menyalakan sinyal pun Toro tampak kurang gairah. Bahkan kadang tak menggubrisnya.
Sudah tiga bulan Titta merasa hasratnya terbuang. Tapi dia tetap bersabar dan menduga suaminya dengan kemungkinan yang baik-baik.
“Ve mengirim ini.” Undangan pernikahan. Ya, rupanya Ve kesampaian cintanya pada sang Bos.
“Alhamdulillah ya Mas, akhirnya saudara kita yang baik ini menemukan jodohnya.” Ujar Titta sembari membuka undangan warna ungu itu. Sementara Toro tak sepatah katapun. Titta melirik suaminya yang wajahnya tampak asam dan berantakan. Selalu begitu tiap pulang kerja akhir-akhir ini.
“Sayang, kalau mau mandi, semua sudah aku siapkan.” Titta mencoba meregangkan wajah suaminya dengan caranya. Dielusnya pundak suaminya. “Capek banget, ya?” Toro mencoba membalas keromantisan istrinya dengan senyum. Hambar.
Ketika Toro beranjak ke kamar mandi, Titta sudah menyiapkan teh hangat. Dia berharap suaminya lebih relax setelah seharian bertempur dengan dokumen kerja yang harus ditakhlukkannya.
Senyum berulang kali dipendar tiap bertatapan dengan suaminya. Tapi tetap saja, Toro hanya diam. Kalau tidak, sepotong senyum getir yang menjawabnya.
********
“Mas Toro akhir-akhir ini berubah.” Curhat Titta pada Ve selepas suaminya berangkat kerja pagi itu. “Apakah ada masalah di kantor?” Lanjut Titta menyeberangkan suaranya di sinyal handphone.
“Setahu gue di kantor oke-oke aja. Malah kerjaan juga tak banyak, tuh.” Jawab Ve ikut penasaran. “Coba dech, ntar gue tabok die, biar lu kaga puyeng.” Ve membuat pendengaran Titta menyentil syaraf tawanya.
Benar, ketika Toro datang, Ve sudah menghadangnya di pintu ruang kerjanya.
“Ceng, lu belakangan nape? Muke lu kusut amat?” Tanya Titta dengan nada pelan. Toro tak menjawab. Hanya tatapan matanya yang lekat pada wajah sahabatnya itu. Ve terperanjat. Tak biasanya Toro menatap seperti itu padanya. “ngapain lu pantengin gue kaya geto?” Tanya Ve membuat Toro tersipu.
“Boleh aku memelukmu?” Tanya Toro setengah berbisik. Ve semakin tak mengerti. Dia masuk ke ruangan Toro diikuti lelaki tampan itu.
“Lu kenape?” Tanya Ve lagi. Dipeluknya lelaki itu dalam ruang terkunci. Tiba-tiba lelaki itu terisak. Dan seumur hidupnya, baru kali ini Ve melihar Toro seperti orang yang benar-benar hancur.
“Katakan sesuatu, Tor. Lo kenape?” Ve masih memeluk pinggang lelaki itu. Sementara Toro kian erat melingkarkan tangannya mendekap wanita itu. Dicium sahabatnya itu.
“Pernahkah kau merasa sangat kehilangan?” Tiba-tiba Toro bersuara dalam isaknya. Ve melepas pelukannya.
“Maksud lo?”
“Aku pernah merasa sangat kehilangan ketika Ibu Bapakku meninggal. Tapi kali ini terlampau dalam. Bahkan sakit.” Ujar Toro serius.
“Lo kehilangan sesuatu?” Tanya Ve tak mengerti.
“Kamu.” Jawaban Toro membuat Ve kian terbengong.
“Gue ade di depan lo dan masih bernafas, Tor…”
“Aku tau itu, tapi aku merasa kehilangan hatimu untukku.”
“Toro…., gue masih Ve yang dulu, Ve sahabat lo. Dan akan selalu begitu sampai kapan pun.” Ve berusaha meyakinkan sahabatnya itu.
“Tapi, a, a, aku mencintaimu, Ve…” Dengan terbata Toro membuat Ve terperangah.
Perempuan itu hanya diam. Perlahan matanya menjatuhkan bening yang merebak di pelupuknya.
“Akhirnya lo ucap juga kata itu. “ Dia mulai terisak. “Setelah sekian tahun lo biarin gue teriris hati nyaksiin kebahagiaan lo ame Titta.”
Giliran Toro yang terperangah. Dia tak menyangka jika sahabatnya itu pun memendam cinta yang sama dan sama-sama tak bicara karena menjaga persahabatannya.
“Ve…, maafkan aku. Aku tak berani dan takut melukaimu dengan cintaku, karena aku takut kehilanganmu.”
Keduanya kembali berpelukan sambil menumpahkan cinta yang lama bicara sendiri-sendiri.
******
Siang itu kantor tempat Toro dan Ve bekerja dihebohkan dengan darah yang mengalir di bawah pintu dari dalam ruang Toro yang terkunci.
Seisi kantor bergantian dan berkerumun menyaksikan kejadian tragis itu hingga Polisi membuat police line.
Seorang lelaki berwajah semi bule berdiri menyodorkan tangan ke arah Polisi yang telah mencari penyebab kematian Ve dan Toro yang tiba- tiba.
“Tangkap saya dan barang bukti di meja saya silakan ambil. Juga rekaman terakhir CCTV.”
Polisi pun membawa lelaki itu tanpa memborgol karena dengan kooperatif menyerahkan diri bahkan menelephon sendiri untuk mendatangkan polisi.
“Donatus Neilson. Nama yang sama dengan calon suami Ve dalam undangan. Oh, Tuhan…., inikah jawaban atas perubahan sikap suamiku akhir-akhir ini?”
Dengan kesedihan bercampur kecewa, Titta menunggui jenazah suaminya yang terbujur mengisahkan cinta sejatinya pada sang sahabat sambil menyalami para pelayat yang berbela sungkawa untuk dua hal. Kematian suaminya dan kematian cintanya.
*************