"Gluugrrrruuuuuuu." Suara guntur terdengat menggelegar seakan meruntuhkan malam. Ribuan tetes hujan mengguyur tubuhku, rasa dinginnya serasa menusuk sampai ke sela - sela tulangku. Aku masih memaksakan kedua kakiku untuk tetap berdiri di depan pagar besi berwarna coklat dengan tinggi 2 meter, di sini aku masih berharap bahwa pintu rumah yang kutatap sejak kemarin malam itu akan terbuka dan menampilkan sosoknya.
Badan ini mulai gemetar sejak petang tadi saat hujan mulai membungkus kota ini, pandanganku mulai kabur, tak terkira sudah berapa kali aku menampar pipi sendiri untuk membuatku tetap terjaga agar dapat terus berdiri tegap di sini.
"Iyan keluarlah, sebelum tubuh ini tertidur, aku ingin meminta maaf padamu, aku tau aku salah, keluarlah... aku mohon." Aku benar - benar sudah tidak memiliki tenaga untuk meneriakan kata itu, aku hanya bisa terus merapalkan nya pelan dengan bibir yang gemetar dan mulai memutih. Air mataku sudah tak dapat lagi keluar, hanya hujan yang dapat mewakilinya untukku menangis, ah, sepertinya aku harus berterimakasih pada hujan.
***
"Apa yang kalian lakukan!!! " Terdengar triakan lantang seorang pemuda, setelah terdengar bunyi dobrakan pintu. Aku paksakan kedua mataku terbuka "Ah, buram...pusing, apa yang terjadi, suara siapa?" Pandangan di depan ku mulai nampan jelas, namun sakit kepalaku masih belum hilang, kulihat atap dan ku palingkan pandanganku kearah suara tadi. "Iyan? Kenapa dia ada disini, dimana aku, kenapa aku bisa ada diranjang, dimana aku? " fikir ku yang sontak membuatku terduduk dari posisi berbataringku.
"Bajuku, dimana baj... " Belum sempat aku berpikir panjang, suara pria disampingku telah memecah fikiranku.
"Wah, sayangku sudah bangun" kata pria disampingku dengan nada genit sambil tersenyum menyokong kepalanya dengan salah satu tangan dalam posisi yang masih berbaring.
"Apa yang kau lakukan! Beraninya kau... aku.. aku.., ahhhh!!" triak pemuda disamping sisi yang berbeda, itu Iyan, saat aku menengok ke arahnya disaat itu juga ia pergi sebelum menyelesaikan kata - katanya.
Otakku mencerna cukup cepat rupanya, sepertinya aku mengerti keadaan ini.
" Iyan! " aku berteriak memanggilnya, namun wajahnya tak kembali kulihat. dengan cepat kuraih pakaianku yang sedari tadi sudah kulihat berceceran di lantai.
"Sayangku sudah mau pergi? Yakin? " Pria itu lagi, nadanya seakan mengejekku.
percuma aku marah dan bertanya padanya, aku sudah tahu siapa dan apa tujuan mereka menjebak ku di sini, yang terpenting sekarang adalah mengejar Iyan. Aku tak tau apa ia masih mau mendengar penjelasanku atau tidak, tapi yang jelas aku harus bisa menahan dia untuk pergi, harus.
Aku berlari keluar dari ruangan tersebut mengejar Iyan yang sudah tak terlihat, entah kemana dia pergi. Aku harus cepat menemukannya.
"Eh, Lica, habis dari mana, boleh ku tebak? "
Langkahku terhenti ketika kudengar suara itu menyapaku, seketika darah dalam tubuhku seakan mendidih.
"Boleh dong, abis dari mana sih," yang lain ikut menimpali
"Ahahahhahah." Mereka ber tiga tertawa terbahak - bahak. Tanpa harus bertanya aku sudah tau, ini adalah kerjaan mereka.
Aku tetap diam di tempatku, tanpa menengok kearah mereka dibelakangku. Tanganku menggenggam erat ruang hampa, gigiku merapat hingga hampir berkelotak, kepala dan datahku semakin lama tersakiti semakin memanas, mataku yang sedari tadi melihat kedepan mulai berubah menjadi merah dan mengeluarkan air mata. "Mengapa aku teramat sangat bodoh"
Kuabaikan mereka dan kembali berlari mencari Iyan.
"Indara, lihat Iyan tidak" tanyaku dengan nafas tersengal. Indra yang sudah mulai menyalakan mesin motornya bingung melihatku ngos - ngosan dengan tampilan yang acak - acakan.
"Tadi naik mobil dengan wajah marah seram, pulang kerumah kali, kenapa? kalian berantem? " jawab indra dari dalam helem.
"Anterin aku sebentar y, ngejar Iyan, plisss, " pintaku memohon tanpa menjawab pertanyaan Indra barusan.
"Maaf Ca, bukannya kagak mau, tapi aku harus buru - buru pulang, ada urusan." jawabnya menolak halus.
"Ayo lah, sebentar aja, tolong y.. " Tanpa aba - aba aku langsung naik di atas motor Indra.
"Hufff, apa boleh buat."
Sepertinya Indra memang ada urusan penting, dia mengendarai motor dengan kecepatan tinggi hingga aku tak berani membuka mataku, hanya bisa mencengkram jaket pinggang Indra dengan kencang.
Sampai di depan rumah Iyan, Indra langsung pamit pergi, bahkan sebelum aku sempat mengucapkan trimakasih padanya. Aku menatap rumah Iyan dari balik pagar yang terkunci. Aku terus memanggil namanya namun tak ada seorang pun yang keluar. Aku mencari ponselku, ah, sial pasti ketinggalan. Aku tak menyerah terus memanggil namanya, hingga seorang wanita paruh baya terlihat keluar dari dalam rumah.
"Maaf neng, sebaiknya eneng pulang saja" katanya wanita itu dengan sopan.
"Tolong Bi, buka pintu pagarnya, saya harus bertemu Iyan, tolong Bi, tolong saya, saya mohon, " pintaku dengan ekspresi memelas.
"Sekali lagi maaf neng, mas Iyan yang menguncinya dan bibi tidak punya kunci serepnya, sebaiknya eneng pulang saja, dan datang lagi besok, mas Iyan mengunci diri dikamar sedari tadi, percuma eneng menunggu disini" kata pengurus rumah Iyan, mencoba menasehati ku.
"Tidak bisa, saya harus bertemu dengannya sekarang, " jawabku yang mulai menangis dan hampir putus asa.
"Maaf neng, bibi tidak bisa bantu apa - apa." katanya halus, dan mulai berjalan kembali ke dalam rumah.
Seharian aku menunggu di sini, berdiri tegap dan terus memanggil namanya, hingga akhirnya hujan mulain turun dan malam pun tiba. Masih tak ada jawaban apapun, pintu rumahnya masih rapat tertutup. Sore kembali tiba dan rintik hujan mulai menetes seperti kemarin malam dan akhirnya terbentuk hujan dengan diiringi gemuruh guntur, aku mulai menggigil.
Malam semakin larut, badanku mulai lemas, pandanganku sudah mulai tak dapat kupertahankan, hampir satu hari satu malam aku berdiri disini tak bergerak, tanpa makanan, aku hampir mati karna kelelahan.
hingga akhirnya tubuhku tumbang, terkulai lemas di depan pintu gerbang orang yang sangat kucintai, "Aku rela mati demi kau Iyan, aku tak apa jika aku harus pergi, jika aku harus melepasmu untuk selamanya, aku tak berharap kau akan mengerti dan mau memaafkanku, tapi setidaknya kumohon Iyan, kumohon ijinkan aku untuk meminta maaf padamu, kumohon.. kumohon.. kumohon Iyan.. kumohon. " Pandanganku mulai kabur dan mataku mulai terpejam, nafasku terasa sesak, teramat sangat sesak.