Kehangatan Yang Dicari
Seseorang pernah bilang, “Saat kau sudah dewasa, pasti akan mengerti.”
Kata-kata yang selalu tengiang sewaktu-waktu. Namun, sejak mengerti kata-kata itu, menandakan bahwa diriku sudah dewasa. Dunia yang ada di pikiran anak-anak sangat jauh berbeda dengan kenyataannya. Seperti diriku dulu sering berpikir, kalau sudah dewasa itu dapat melakukan apapun yang diinginkan, asalkan dewasa bisa mengabulkan keinginan apapun, tetapi kenyataannya adalah kebenaran yang selamanya tak ingin aku mengerti.
Aku berada di depan toko yang sudah tutup, menunggu redanya hujan. Melupakan membawa payung saat musim hujan adalah kesalahan terbodoh, mungkin kebodohanku yang paling parah di bulan ini. Menunggu rintikan hujan yang membawa hembusan angin dingin membuatku memeluk diri sendiri, mengharapkan adanya sedikit perubahan suhu di tubuh. Bagian bahu sudah lepek oleh tetesan air, begitu juga dengan rambut sebahu dan untaiannya yang satu, dua meneteskan air dan bibirku yang bergetar menggigil. Toko ini memiliki banyak lubang kecil di atapnya, kalau hujan makin deras air mengucur bebas, ini bagaikan kesialan beruntun datang menimpa. Aku benar-benar menyesal tidak mendengarkan perkataan Ibu Kos, dia selalu mengingatkan untuk membawa payung, tapi aku selalu menolaknya. Bayangkan saja aku disuruh membawa payung berkarakter dari kartun Barbie, jika bisa dibayangkan memakai payung itu ...
“Pasti akan menarik perhatian,” gumamku dan menghela napas pasrah.
Aku menatap langit yang sama muramnya dengan orang yang berjalan melewati hujan dengan payung, mengadahkan tangan dan merasakan level rintikan hujan. Dengan tubuh yang gemetar akan dinginnya udara, setiap menghebuskan napas lewat mulut pasti akan ada uap-uap putih mengepul. Aku berharap level rintikan hujan ini akan turun ke level hujan gerimis.
“Satu, dua, tiga ...” Aku menghitung setiap orang yang lewat, ini kegiatan yang sangat bermanfaat untuk menghilangkan kebosanan.
Waktu terus berjalan, bahkan aku sendiri tidak tahu sudah berapa lama berteduh di sini. Orang yang aku hitung pun sudah sampai orang ke 800. Aku berhenti melakukan penghitungan saat ada beberapa orang menengok heran ke arahku yang sudah setengah lepek, itu memalukan sekaligus menambah rasa dingin.
Genangan di bawah sepatuku mengalir ke arah selokan terdekat, terkadang terdapat sampah plastik kecil masuk ke selokan itu. Tidak hanya satu atau dua kali aku melihat itu, karena aku termasuk ke dalam orang peduli terhadap lingkungan. Saat ada sampah yang ikut tergenang, aku langsung menahannya menggunakan kaki kananku, cipratan air genangan itu juga membuat sepatu yang tadinya kering, jadi basah kuyup.
“Sudahlah, terobos aja!” Aku mendengus kesal dan menembus rintikan hujan yang masih di level berat.
Aku tidak mempedulikan tubuh yang sudah basah kuyup, tetapi hanya fokus berlari kecil menghindari orang-orang. Tatapan orang yang melihatku terkadang mengerutkan kening, kenapa tas yang aku lindungi bukannya kepala. Itu karena di dalam tas yang aku peluk ini ada macam-macam benda berharga yang sebagian besar tercipta dari kertas yaang mudah rusak jika terkena air.
Bagaikan menemukan kebahagiaan, aku dapat melihat rumah kos tidak jauh dariku, rumah yang bergaya khas serba putih di kelilingi oleh pagar hitam. Tetangga sekitar sering menjuluki rumah yang imut karena banyaknya bunga berwarna-warni, tapi sekarang bunga-bunga tersebut tertutupi oleh kabut dan debu. Menambah laju, berharap dapat cepat sampai, dan membayangkan Ibu kos yang mengomel. “Ah! Aku melupakan Ibu Kos yang super duper cerewet itu.” Langkah kaki seketika berat, aku harus mencari alasan supaya Ibu Kos tidak terlalu lama untuk mengomel.
“Aku pulang!” seruku saat membuka pintu.
Aku sedikit heran di dalam kos gelap, biasanya Ibu Kos selalu menyalakan lampu jika ruangan gelap. Ibu Kos sering kali bilang kalau dia paling tidak suka dengan rumah gelap, jadi setiap gelap sedikit, lampu selalu menyala.
“Ibu Kos! Ibu di mana?”
Aku meraba-raba tembok untuk mencari tombol lampu, setelah percobaan ke lima, dan akhirnya menemukan tombol lampu yang dapat menyalakan seluruh lampu di rumah ini. Aku menekannya, lampu berkedip-kedip dan berhasil menyala dengan normal. “Lampunya gak rusak, terus kenapa Ibu Kos gak menyalakannya ya?”
Mataku mengitari seluruh isi rumah yang cukup luas dengan adanya lantai dua, ruang berkumpul dan kamar-kamar para mahasiswi yang lainnya. “Sepi banget, apa semua masih ada di luar ya ...?”
Brak!
Angin dari luar membuka paksa pintu, itu lebih membuat jantungku berdetak lebih cepat daripada menonton film horror. Napas memburu karena kaget masih tersisa, dengan mental yang menciut, aku menutup pintu dan menguncinya. Rumah kos sekarang kelihatan menjadi horror, suara gemuruh, kilat, dan benturan air hujan ke jendela menambah sensasi tersebut.
Kamarku berada di lantai dua. Jadi, aku harus naik tangga dulu supaya sampai ke kamar, tapi dengan suasana seperti ini membuat berpikir adegan di film, di mana tiba-tiba ada pembunuhan yang terjadi di sini. “Gak, gak. Mana mungkin, itu ‘kan terjadi hanya di dunia khayalan ... Hahaha!”
Tertawa dikatakan dapat meredakan kecemasan, tapi itu hal yang sia-sia saat aku mendengar deritan pintu aku pun menjerit keras.
“Ana?! Kenapa teriak sih, aku bukan hantu tahu!” bantah orang yang membuatku menjerit.
“Ma, maaf, Mbak. Aku kira siapa tadi ... Hahaha!” jawabku. Kelegaan menghampiri, ternyata ada orang di rumah, dan salah satunya ada Mbak Helmi. Mungkin saja ada Ibu Kos juga di dapur.
“Pasti kamu ngira aku hantu, ‘kan?” selidik Mbak Helmi.
“Mana ada! Nggak mungkin orang secantik Mbak itu hantu,” tukasku cepat, berbohong tentang itu. Sebenarnya aku menjerit bukan hanya karena deritan pintu, tapi juga rambut panjang sepinggul menutupi wajah dan gaun pendek berwarna putih, aku benar-benar mengiranya kuntilanak.
“Nah, kalo gitu jangan jerit gitu pas ngeliat aku!” kata Mbak Helmi dengan nada sedikit menyombongkan kecantikannya.
“Eh, kenapa kamu basah kuyup begitu? Tadi kehujanan? Gak bawa payung?” Mbak Helmi menghujaniku dengan pertanyaan setelah mengucek matanya. Aku menebaknya pasti dia habis bangun tidur, pantas saja penampilan saat keluarnya seperti itu.
“Gak, Mbak. Kelupaan tadi,” jawabku cepat dan langsung menaiki tangga yang menempel dengan dinding di sebelah timur dari pintu. Ingin sekali melepaskan pakaian yang menempel dengan kulit dan membuat menggigil.
Aku terbiasa dengan menaiki tangga, jadi hanya membutuhkan beberapa detik untuk sampai. Pintu kamarku ada di ketiga dari kamar dekat tangga. Menyimpan barang dengan rapi di tas itu sangat praktis saat ingin mengeluarkan barang, kunci kamar yang kecil pun dapat ditemukan hanya sekali meraba. Pintu kamarku terbuka, gelap menyambut pandangan mata, “Gelap banget ... Padahal baru jam 5 sore.”
Bertindak sama seperti pertama masuk rumah, aku langsung menyalakan lampu kamarku, dan ... trala! Terang, menyejukan mata.
“Nah! Begini baru, sempurna~” ucapku bangga dan mengikuti dialog khas pesulap di televisi.
Aku buru-buru mencari handuk di lemari dan pakaian ganti. “Mandi, terus lanjut ngerjain tugas-“
Krukk, krukk~~
Alarm perutku membantah rencana awal, “Kalo gitu, habis mandi terus makan!”
Perutku sekali lagi menolak rencana kedua, “Sepertinya aku harus makan camilan menganjal sebentar deh.”
Menunggu reaksi perut, tapi tidak terdengar alarm itu lagi. Rupanya dia setuju dengan rencana ketiga. Aduh, dasar perut gentong ... Ah, iya! Ini kan perutku sendiri ...
“Ana!” panggil Mbak Helmi dari lantai satu.
Aku langsung berlari keluar dari kamar dan melihat Mbak Helmi mendongak, “Kamu mau aku bikinin susu jahe gak?”
“Mau banget!” lontarku dengan cepat. Mendengar nama susu jahe, otak langsung menemukan jawabannya.
Mbak Helmi hanya mengangguk dan berjalan menuju dapur. Setelah mendapat kesialan, ternyata dapat keuntungan juga, itu sangat melegakan hati. Aku juga turun dan ingin ke dapur untuk makan beberapa camilan yang sudah disiapkan Ibu Kos khusus untukku. Ya ... walaupun sering mengomel, Ibu Kos juga baik kepada anak-anak kosnya.
“Ibu Kos!?!!” teriak Mbak Helmi dari dapur.
Tadinya berjalan, aku langsung mengganti ke mode lari sprint. Sesampai di dapur aku melihat Ibu Kos tergeletak di lantai dan di sampingnya ada Mbak Helmi yang berusaha untuk membangunkannya. “Ibu Kos? Bangun, ayo bangun!”
“Mbak, tunggu dulu! Mungkin aja ini masalahnya serius.” Aku menghentikan tangan Mbak Helmi yang menggoyang-goyangkan tubuh Ibu Kos.
“Terus gimana? Kita telepon ambulan?” tanya Mbak Helmi. Wajahnya sudah lumayan pucat, tapi di dapur Ibu Kos yang paling memiliki bibir puca. Ditambah lagi Ibu Kos memiliki keriput di sekujur tubuhnya dan rambut yang sudah sedikit memutih, menandakan tubuh manusia akan bertambah lemah.
“Ambulan lama sampainya, mendingan kita panggil taksi aja,” saranku. Ambulan sekarang jika ditelepon pasti akan datang lama, kemungkinan terburuk malah tidak datang sama sekali. Aku benci dengan mereka yang bekerja di bagian itu.
Gesit Mbak Helmi merogoh kantong di pinggangnya dan memesan taksi.
“Gimana, Mbak? Apa taksinya mau?”
“Iya, sebentar lagi sampai. Ayo kita gotong Ibu Kos keluar, biar langsung masuk mobil,” ujar Mbak Helmi.
Aku dan Mbak Helmi bekerja sama menggotong Ibu Kos, menaruh lengannya di pundak kami masing-masing. Kepanikan bertambah saat mendengar napas lemah Ibu Kos. Air mataku bisa saja tumpah kapan saja, tapi harus ditahan demi tidak menambah kecemasan Mbak Helmi.
Tin, Tin!
Suara klakson mobil putih perlahan berhenti di depan kos-kosan dan pintu tempat supir terbuka. “Ayo cepetan masuk ke mobil!” seru lelaki menghampiri kami. Lalu, mengendong Ibu Kos ala Tuan Putri, dengan tubuh tinggi dan tangan yang sedikit berotot itu pasti mudah sekali.
“Temen Mbak ya?” tanyaku sedikit terkejut karena sifat blak-blaknya.
“Gebetan,” jawab Mbak Helmi dan aku langsung menoleh ke arahnya dan berkata “Eh?!” seolah-olah tidak percaya karena terakhir kali melihat pacarnya bukan lelaki itu.
“Bukan lah ... Kamu tahu ‘kan pacarku yang mana,” sambung Mbak Helmi untuk menghilangkan keterkejutan dan salah pahamku.
“Kalo bercanda jangan kelewatan dong, Mbak,” sindirku memutar bola mata. Mbak Helmi bisa-bisanya bercanda di saat seperti ini, tapi mungkin ini juga buat pengalihan supaya tidak terlalu panik.
“Mau naik gak sih!” seru si supir dari dalam mobil menongolkan kepalanya dari jendela.
“Iya, iya ikut! Ana ayo cepetan masuk ke mobil, kamu di depan ya, biar Ibu Kos bisa tiduran,” celetuk Mbak Helmi langsung masuk ke bagian dia bilang dan aku mengikuti perintahnya, yaitu duduk di dekat supir.
Menarik pintu mobil dan menutupnya dengan cara kasar membuat supir di samping kananku marah, “Bisa santai gak pas nutupnya?”
“Ma, maaf ..” balasku.
Lelaki itu hanya mendegus pelan dan langsung menjalankan mobilnya. Di dalam mobil tidak terlalu banyak percakapan, hanya ada saat aku menanyakan keadaan Ibu Kos dan jawabannya seperti biasa masih pingsan. Kenapa di situasi genting seperti ini rumah sakit terasa jauh sekali?
“Bisa lebih cepat gak?” tanyaku pada lelaki di samping. Dia hanya fokus pada jalanan di depan dan menjawab tanpa menoleh. “Aku gak mau ikut-ikutan masuk UGD.”
Baru saja aku ingin mengoloknya, Mbak Helmi berteriak sambil menunjuk rumah sakit yang sudah dekat. “Ayo cepetan, Fal!”
“Ya, ya. Sabar ...” sahut sabar si Fal.
***
Ibu kos sekarang sudah berada di tangan ahlinya. Aku duduk di depan ruangan di mana Ibu Kos diperiksa, tidak ada yang bisa dilakukan selain menunduk dan berdoa. Aku sangat takut jika ada hal terburuk yang terjadi, berharap besar Ibu Kos bisa kembali tersenyum kepadaku.
“Hey, jangan terlalu khawatir,” tutur lembut lelaki yang duduk di sampingku. “Percayalah, Ibu Kos akan baik-baik saja.”
Aku menyanggah perkataannya itu, “Kamu emang siapa? Kamu tidak mengerti kecemasan aku ini, jadi jangan ikut campur-“
“Aku Fadil, tapi sering banget dipanggil ‘Fal’, maaf ya baru kasih tahu sekarang,” tukasnya.
“...” Aku hanya diam melihatnya memperkenalkan diri.
“Kamu tadi tanya aku ini siapa, terus bilang jangan ikut campur, tapi ini juga masalahku. Aku kenal Ibu Kos dari kecil, ya bisa dibilang orang tuaku dengan Ibu kos adalah teman karib. Jadi, aku sangat mengenalnya,” ungkit Fadil, “Ibu Kos itu ... Dulu punya suami, mereka adalah suami istri yang mempunyai rencana memiliki anak banyak. Oleh karena itu, Ibu Kos punya rumah yang banyak kamarnya. Lalu, 1 tahun kemudian setelah pernikahan mereka, Ibu kos melahirkan anaknya dan 1 tahun kemudian lagi ... terjadi kecelakaan.”
“Apa?!” Aku tersentak mendengarnya.
“Ya, terjadi kecelakaan saat keluarga itu naik kendaraan umum untuk pergi ke kebun binatang bersama. Sayangnya, cuaca memburuk. Lalu, kendaraan itu kecelakaan, menewaskan suami Ibu Kos dan anaknya. Ya, kamu tahu ‘kan yang terjadi pada Ibu Kos ... Dia sangat despresi saat itu, ia juga tidak mau menikah lagi karena hanya mencintai suaminya. Pada saat itu orang tuaku lah yang menyarankan Ibu kos untuk membuka kos-kosan, semenjak adanya anak kos yang tinggal, keceriaan Ibu Kos pun kembali. Terlebih lagi padamu.” Fadil menatap dan menerangkan bahwa yang dia maksud adalah diriku.
“Ibu Kos baik ke semua anak kamar!” bantahku.
“Ya, itu pasti, tapi terakhir aku melihat Ibu kos lebih ceria saat ada di dekatmu. Matamu itu sangat mirip dengan mendiang suaminya.”
Aku menurunkan alis dan bertanya pada Fadil, “Kita emang pernah ketemu, ya?”
Fadil memejamkan mata, menghela napas dan menatapku kembali. Dia seakan-akan sedikit kesal saat aku bertanya itu padanya. “Aku ‘kan tinggal di deket kos juga ... Kamu gak ngerti pas aku cerita?”
“Yah ... Ngerti, tapi Cuma di bagian masa lalu Ibu Kos, sisanya nggak.” Aku mengalihkan pandangan darinya, rasanya sedikit bersalah tidak mempedulikannya.
“Oh ... Ya, namanya juga manusia,” gumamnya dan melepaskan tatapan kepadaku, sekarang dia menatap dinding di depan.
Namanya juga Rumah Sakit. Jadi, diharuskan tenang, tapi ketenangan bersamanya membuatku sedikit gelisah dan salah tingkah. Kadang membaca semua poster-poster yang tertempel di mading, kadang juga aku melihat sepatuku yang basah.
“Rambut ... Ke, kenapa bisa basah gitu?” tanyanya gugup melepas keheningan.
“Tidak ada,” jawabku acuh tak acuh, “Namanya juga kehujanan tadi.”
“Iya juga, ya ...” sahut datar Fadil. “Ya ... Lupakan saja pertanyaan tadi.”
Aku menaikan satu alis melihatnya, kenapa dia jadi tidak berpikir logis begini? Apa Fadil juga merasa gelisah ... Kalau begitu situasinya sama denganku. Napas Ibu kos tadi sangat lemah, itu membuatku sulit untuk lepas dari pikiran terburuk yang akan terjadi pada Ibu kos.
Langkah kaki terdengar dari belokan lorong terlihat Mbak Helmi yang membawa berbagai macam kertas dan mendekat, “Aku sudah menyelesaikan pembayarannya. Bagaimana keadaan Ibu Kos?”
“Belum ada kabar dari Dokter yang menangani ...” jawabku lemas.
Mbak Helmi duduk di samping dan menepuk-nepuk punggungku. Senyuman paksa yang dilakukannya sangat jelas, dia berusaha agar aku tenang. Ini tidak adil ... Menyembunyikan perasaannya sendiri? Padahal saat pertama kali datang ke kos-kosan, Mbak Helmi yang selalu membuatku jangan masalah sendiri, tapi sekarang? Dia seolah-olah menahan beban dipundaknya itu.
“Mbak, aku muak sama senyuman itu,” tegurku tepat sasaran, seketika bibir Mbak Helmi mengatup-ngatup berusaha membenarkan senyumannya.
“Senyuman aku kenapa emang? Biasa aja deh, Ana kali nih!” Tangan Mbak Helmi mengelus rambutku sembari melebarkan tawa.
Kesal ... Entah kenapa aku tidak suka dengan tanggapannya yang seperti itu. aku menangkis tangannya dari kepala, tersenyum masam dan menyipitkan mata. “Yang seperti ini, Mbak. Dulu Mbak menyuruhku supaya tidak menyimpannya sendiri, ‘kan? Sekarang lihat! Mbak sendiri yang melakukannya, aku merasa dikhianati ...”
“Ana ...? Kenapa kok tiba-tiba. A, aku mana mungkin, kan ...” Sekali lagi dia mengulang senyumannya.
Aku terdiam melihat tajam Mbak Helmi, sedangkan Fadil yang berusaha berbaur di antara kami. Dia mengatakan supaya tidak bertengkar dan sekarang ada di rumah sakit, tetapi aku sama sekali tidak mendengarnya, mengepalkan tangan di balik jaket untuk menahan perasaan yang mengebu-gebu. Kepingan-kepingan kenanga pertama kali ke kos-kosan dan masa lalu mengendalikan pikiranku.
***
Ayah pernah mengatakan, dia menikah lagi setelah seminggu kematian Ibu yang habis melahirkanku. Wanita yang dinikahi Ayah sangat kaya raya. Mempunyai mobil, rumah dan lainnya serba mewah. Kehidupan yang pasti akan membuat bahagia! Tidak, sama sekali tidak. Ibu dan kedua kakak tiri hanya memperhatikan kebutuhan fisik dariku. Pertama kali aku sekolah di tempat anak-anak kaya lainnya, dibully adalah sambutan pertama dari anak-anak itu. Sepulang sekolah aku berdiam diri di kamar, memeluk lutut dan berpikir, “Ya ... Ini akan baik-baik saja selama keluargaku tidak seperti mereka.”
Namun, saat aku mengatakan hal tersebut pada Ayah hanya mengatakan itu hal yang biasa bagi murid pindahan. Menganggukan perkataannya adalah pilihan bagi seorang anak kecil. Pada akhirnya di sekolah, diriku selalu dipukuli oleh anak kaya yang lain, anak-anak kecil itu berkata tidak suka dengan bau busuk yang dikeluarkan orang miskin sepertiku. Bodohnya ... sekali lagi diriku di masa lalu masih memiliki harapan, di mana membicarakan hal ini kepada kedua kakak tiri, mereka tersentak saat mendengarnya dan mengatakan bahwa akan mengatasinya. Saat itu adalah kebahagiaan pertama kaliku di keluarga ini, tetapi sekali lagi harapan itu runtuh ... Kedua kakak tiriku sama sekali tidak bertindak, bahkan Ibu tiri pertama kali masuk ke dalam kamarku dan mengatakan hal tak bisa aku lupakan. “Saat kau sudah dewasa, pasti akan mengerti.” Setelah itu dia keluar tanpa berpaling lagi padaku.
Pada saat itu juga aku mengigit bawah bibirku dan berpikir, “Kalau sudah dewasa itu dapat melakukan apapun yang diinginkan, asalkan dewasa bisa mengabulkan keinginan apapun dan ... aku dapat mengerti mengapa mereka seperti ini!”
Ya, bagiku sekarang itu pemikiran yang sangat menggelikan. Semakin aku dapat memahaminya, bahwa keluarga ini ‘Sampah’ yang hanya mempedulikan diri sendiri, bahkan menyadari sangat sedih Pria yang dinikahi Ibu kandungku adalah Pria egois dan tidak mencintai dengan tulus. Aku hidup bertahun-tahun dengan memendam rasa benci pada mereka, tetapi demi bertahan hidup diriku harus melakukan senyum palsu dihadapan para ‘Sampah’ ini.
Hingga suatu hari, aku berencana meninggalkan rumah dan keluarga ini. Masuk ke Universitas yang jauh dan tinggal di kos-kosan. Ya, akhirnya aku bebas dan dapat menghembuskan napas yang selama ini ditahan, ya ... sangat membahagiakan. Akan tetapi, di kos-kosan ini aku mendapatkan keajaiban, yaitu merasakan kasih sayang keluarga yang hangat. Pandanganku yang selama ini muram dan bersikap datar pada semua orang, diubah oleh penghuni kos-kosan ini. Mereka memaksa untuk menceritakan masa laluku. Lalu, setelah aku bercerita, semua orang langsung memeluk badanku dengan hangat dan berkata, “Jangan dipendam sendirian ya, tenang saja. Kami semua di sini adalah keluargamu yang baru ...”
Kepedihanku terbuang lewat air mata hangat yang selama ini ditahan. Selama ini aku mengira, asalkan jauh dari keluarga ‘Sampah’, hatiku dapat bahagia. Namun, kenyataannya berbeda, aku membutuhkan seseorang di samping, seperti Ibu Kos yang memperlakukanku seperti anaknya sendiri, anak-anak kos lainnya yang menemani dan memberi saran saat aku kesulitan dan ... Mbak Helmi yang selalu berkata padaku supaya tidak menahan masalah sendiri.
***
Aku kembali tersadar dari nostalgia tersebut dan kembali menatap Mbak Helmi. Memang sakit rasanya mengigat hari-hari suram, tapi itu semakin menguatkan tekad untuk membantu Mbak Helmi, inilah saatnya untuk membalas budi. “Mbak, aku tahu kita harus kuat sekarang, tapi ya ... Aku gak mau ngeliat Mbak Helmi yang menahannya dengan wajah palsu itu. Apa Mbak lupa? Aku sangat membenci hal itu juga karena Mbak Helmi. “Jangan pernah menunjukan ekspresi palsu!” Itu yang Mbak katakan kepadaku. Jadi, maksudnya ... Aku ada di sini buat Mbak.”
“A, a, Ana ... Aku ...” Bahu dan suara bergetar, mata mulai memerah dan mengeluarkan kesedihannya. Aku menaruh wajah Mbak Helmi ke dada, menenangkannya seperti yang dilakukan Ibu kos jika aku menangis.
Suara tangisan Mbak Helmi terpendam, tapi tetap terdengar. Aku tersenyum lembut sembari menepuk-nepuk punggungnya dan berkata, “Iya, Mbak. Aku tahu.” Tidak peduli dengan tatapan Fadil padaku, aku hanya terfokus ke Mbak Helmi.
Pintu ruangan tempat Ibu kos pun terbuka dan seorang perawat menuju ke arah kami. “Apa kalian keluarga Ibu Kosyanti?”
“Ah, iya. Kami keluarganya,” jawab cepat Mbak Helmi sembari menyeka air matanya. “Bagaimana keadaannya?”
“Itu semua akan dijelaskan oleh Dokter, silakan masuk dan harap tidak berisik,” ujar jelas perawat itu dan membukakan pintu.
Kami bertiga masuk, melihat Ibu Kos yang terbaring lemas dengan alat bantu pernapasan dan alat pengukur detak jantung yang membentuk garis gunung-gunung kecil. Seorang Dokter yang sedang berbicang-bicang dengan perawat lain di sampingnya, beralih menatap kami yang mendekat ke tempat tidur Ibu Kos. Dokter itu menganggukan kepala kepada dua perawat dan segera mereka bergegas keluar.
“Saya tidak mau berbasa-basi lagi, saat ini kondisi Ibu Kosyanti sudah akan siuman,” terang Dokter itu membawa wajah sumringah kepada kami bertiga. “Akan tetapi, Ibu Kosyanti mengalami Hiperventasi atau juga disebut napas cepat abnormal.”
“Napas cepat? Tapi tadi sebelum ke rumah sakit napas Ibu Kos lemah!” sanggah Mbak Helmi.
“Mungkin dia sudah menanganinya sendiri, tapi itu juga buruk untuk kesehatannya. Mungkin sebelumnya Ibu Kosyanti pernah mengalami hal serupa di masa lalunya. Jadi, saya sarankan untuk tidak membuatnya cemas atau olahraga berat. Ibu Kosyanti sudah boleh pulang, jika sudah siuman. Kalau begitu saya pamit pergi.” Dokter itu menunduk hormat dan langsung keluar.
“Cemas? Jangan-jangan karena aku?” Mataku bergetar menatap lantai. Tidak aku sangka aku yang membuat Ibu Kos seperti ini.
“Ana,” sapaan lembut menyadarkanku. “Ibu masih sehat kok, jadi jangan khawatir!”
“Ibu!!” Aku langsung memeluknya bersamaan Mbak Helmi.
“Tenang aja, Ibu masih kuat. Asalkan kalian tetap menurut ya ...” tutur Ibu Kos. “Ibu pas menunggu Ana pulang, mengingat kembali di mana suami dan anak Ibu pergi meninggal. Ibu takut terjadi apa-apa pada Ana dan ... Ya, kalian tahu sendiri, ‘kan?”
Aku berkata lirih sambih menyeka air mata, “Ibu Kos, bodoh ... Ngapain sampe begitu demi nungguin aku?”
“Ya, karena apa lagi? Yang pasti khawatir, Ana adalah keluarga Ibu yang paling berharga.” Ibu Kos tersenyum lembut kepadaku, tanganya mengulur ke pipi, dingin nan hangat.
“Nah bener tuh, kamu juga keluargaku yang paling berharga, Ana,” tukas Mbak Helmi.
“Ka, kalau begitu, aku juga ...” Fadil tak mau kalah ikut menimbrung malu-malu.
Aku tercengang melihat mereka bertiga. Keluarga, inilah keinginanku. Takdir dan keajaiban yang membawa diriku ke sini. Bertemu dengan orang yang jelas dan tulus menyayangiku. ”Iya!” Aku menggulum senyum terbaik dan tetesan air mata kebahagian.
“Ayo kita langsung pulang! Ibu bakal masak makan malam yang enak,” ajak Ibu Kos.
“Besok aja, sekarang udah malam banget,” Mbak Helmi mencengah Ibu Kos yang hendak turun dari kasurnya. “Lagian Dokter bilang kondisi tubuh Ibu Kos masih lemah. Jadi, besok aja.”
“Wah, udah larut malam ya ...” Ibu Kos kembali duduk di kasur dan melirik ke jam dinding di depannya, “Kalian pulang duluan aja kalau gitu. Ibu bisa sendiri.”
“Iya, sana kalian berdua pulang,” lanjut Mbak Helmi sembari tangannya menyapu angin ke diriku dan Fadil.
Jadi, saat ini aku diusir? Tidak adil. “Aku juga mau-“
“Ana, kamu besok masih ada kuliah, kan?” tanya Mbak Helmi dan aku menjawab dengan anggukan. “Nah, sana pulang. Nanti ribet kalau terlambat.”
“Ana, ayo pulang. Aku bakal nganterin sampe depan pintu kos-kosan nanti,” sambung Fadil. Ucapannya sangat antusias mendukung teori Mbak Helmi.
Mau tak mau aku kalah, tiga lawan satu. Aku menghela napas dan berbalik menuju pintu, tapi suara Ibu Kos menghentikan langkah, “Selamat malam, Ana.” Aku menoleh ke Ibu Kos yang tersenyum lembut seperti biasanya, di setiap ujung bibirnya terlihat kerutan.
“Iya, aku pulang dulu, ya,” balasku juga tersenyum lembut dan keluar bersama Fadil.
Bergegas ke tempat parkiran mobil Fadil, aku berjalan cepat. Baru saja ingat ada tugas yang harus dikumpulkan besok. Setelah keluar dari rumah sakit hujan sudah berhenti, aku berlari kecil ke arah mobil Fadil, “Ayo cepetan!”
“Kamu itu ya ... Padahal tadi kelihatan banget gak mau pulang,” tegur Fadil dan berjalan ke arah mobil lain. “Ini mobilku, kalau yang itu aku gak tahu punya siapa.”
Pipiku sekejap memerah dan menunduk. Ah, malu sekali! Aku berjalan perlahan ke tempat Fadil berdiri dan tidak menatapnya, “Ce, cepetan ...” bisikku.
“Iya, iya, Tuan Putri.” Fadil membuka pintu mobilnya dan menyalakannya. Namun, aku masih berdiam di depan mobil dengan menunduk malu, sampai bunyi nyaring klakson menusuk telinga.
“Mau naik, kan?”
Aku tidak menjawab, langsung masuk ke tempat duduk belakang. Fadil tersenyum penuh akan kemenangan dan menjalankan mobilnya. Di perjalanan aku hanya memandang keluar jendela, genangan air yang di lewati mobil lain terkadang terciprat ke arah jendela, dan ini seperti mendapat kejutan kecil. Bosan akan melihat ke bawah, aku melihat ke langit malam tanpa awan. Jadi, terlihat jelas bulan sabit dan bintang yang berhamburan seperti gula bubuk. Bulan sabit itu seakan mengikutiku dan mengejar tak pernah berhenti.
Aku terkekeh pelan, ini membuat mengenang sewaktu kecil. Di mana aku duduk sendirian seperti ini dan memandang bulan yang waktu itu membentuk bulat sempurna. Aku juga ingat sekali melihatnya dengan wajah datar, tidak ada perasaan indah yang datang. Namun, sekarang berbeda ... Aku yang sekarang setiap menatap bulan akan langsung tersenyum, karena jika ada bulan semua anak kos akan keluar dan melihatnya bersama-sama.
“Sudah sampai, gak mau turun?” tanya Fadil.
Ah, tak kusangka sudah sampai. Rasa kantuk berat membuat menguap sampai mengeluarkan air mata. Aku mengucapkan terima kasih, keluar dari mobil Fadil dan berjalan linglung ke pintu masuk kos-kosan, untung saja Fadil benar-benar masuk sampai depan pintu, kalau tidak ... membuka pagar dengan tenaga yang sangat lemas ini pasti tidak memungkinkan.
“Hati-hati ya, kata Helmi di kos-kosan tinggal kamu sendiri, yang lain katanya lagi pada pulang ke rumah masing-masing,” jelas Fadil berteriak dari dalam mobil.
“... Iya ...” jawabku masuk dan mengunci pintu. Terdengar suara mesin mobil dan pagar yang tertutup, itu pasti Fadil. Dari hati terdalam aku ingin sekali mengucapkan terima kasih padanya, tapi kelihatannya sudah terlambat. Sampai di kamar, dengan kecepatan ‘Ngebut Semalam’ aku dapat menyelesaikannya dan langsung tidur.
Awal perkiraanku adalah pagi yang sepi dan damai, tapi ... pada besok paginya dia sudah mengetuk pintu kos-kosan. “Anaa!! Berangkat bareng yuk!” panggil Fadil seperti mengajak bermain.
Ugh ... Nadanya itu mengesalkan, aku memutuskan tidak menjawab dan melanjutkan sarapan. Namun, handphone di samping piring bergetar dan mengeluarkan notifikasi, [Ayo sebelum terlambat! Oiya, aku juga satu kampus sama kamu.]
Mataku terbelalak membaca pesan itu. Darimana dia mendapatkan nomorku- Ah! Mbak Helmi pastinya. Ya, namanya suka hidup, ada saat kita merasa bahagia dan kesal. Lebih baik seperti ini, aku tak ingin kembali di mana hidupku penuh akan kedinginan.
Aku membalas pesan itu, [Penguntit ya?] dan Fadil membalasnya, [Enak aja!]
Aku tertawa kecil saat Fadil mengirim stiker emoticon cemberut dengan tulisan di atasnya “Sebal!”
Ya ...Inilah keseharian yang aku inginkan. Menjadi dewasa atau belum tidak masalah, yang terpenting aku dapat mengerti yang mana yang berharga dan harus di jaga. Keajaiban yang biasa muncul di buku, sekarang dapat merasakannya.
*Sebenarnya ini bahan mau dijadikan novel
:3 tapi misalnya kalian suka, aku akan buat kisah Ana yang terus berlanjut dengan orang-orang di sekitar