"Sarada-sarada" Ibu menggoyangkan tubuh Sarada untuk membangunkan dari tidurnya. Namun sarada tetap saja bergeming dari tempat tidurnya.
"Sarada, ini udah siang, loh! Kamu tidak takut telat pergi ke sekolah, Nak?" Ibu masih bersusah payah membangunkan putri semata wayangnya itu sambil menepuk-nepuk paha anak perempuannya itu.
Sarada langsung berbalik ke ibunya dengan membuka setengah matanya. "Hmmm"
Gumam sarada dengan pelan sambil melirik jam weker yang berada tepat di samping tempat tidurnya itu. Sudah jam setengah tujuh pagi.
Tetapi bukannya bangun. Sarada malah kembali memeluk gulingnya kembali. Sehingga mata dia ikut terpejam lagi.
"Loh sarada bangun dong!" Ibu kembali mengguncang-guncangkan tubuh mungil milik sarada. Kali ini lebih kuat dari yang sebelumnya.
"Ibu nih gimana, sih? Semalem kan aku udah bilang hari ini anak kelas 10 tuh lagi ujian. Jadi aku libur.." gerutu sarada sambil membelakangi ibunya.
"Oh, ya udah kalau gitu kamu lanjutin aja tidurnya," ibu pun bangkit dari tempat tidur anaknya dan melangkah keluar kamar Sarada.
Sarada langsung menarik selimut yang berada di kakinya seraya menggerutu tidak jelas ia paling benci kalau tidurnya diganggu. Apalagi saat libur siswa-siswi kelas 10 yang melaksanakan ujian.
Belum puas menggerutu, kali ini ia malah berguling-guling diatas tempat tidurnya yang empuk. Untuk mencari posisi yang nyaman untuk bisa melanjutkan tidur. Tetapi tidak berhasil.
Akhirnya tidak ada pilihan lain, ia memilih meraba-raba meja yang berada di samping tempat tidurnya. Untuk mencari handphone yang dari semalam dibiarkan dalam silent mode. Setelah mendapatkan benda berwarna putih itu iya pun menatap layar handphone. Ada tulisan 1 pesan tak terbalas.
Sarada segera membacanya
Udah tidur ya sar
Boruto
Mata sarada yang tadinya sangat berat untuk terbuka, spontan melotot
WHAT? KAK BORUTO? Semalem kak boruto ng-wa aku?
Baru berniat jempol sarada membalas wa dari kak boruto iya menyadari bahwa kuota dia tidak "mencukupi". Akhirnya, ia pun pasrah dan kembali meletakkan handphonenya di meja samping tempat tidurnya. Lalu kembali tidur lagi.
…
"Itu kak boruto, kan?" Seru lili
Membuat sarada langsung menoleh kemudian melihat sosok cowok yang dimaksud Lili itu di tengah-tengah beberapa anak kelas dua belas yang lain.
"Ga usah pake ngiler gitu, kali! Hahaha" sambung Lili sambil mengusap bibir sarada yang sebenarnya ga ada apa-apa.
Sarada refleks menatapnya, sewot, lalu kembali mengamati sekumpulan cowok yang lagi asik ngobrol di parkiran sekolah mereka itu.
Boruto adalah senior sarada. Dia kelas XII IPS 1. Gak cakep sih, tapi manisnya minta ampun! Keren, cool, dan rada cuek. Bikin sarada tergila-gila sama cowok itu dari setahun yang lalu, waktu dia masih kelas sepuluh.
Pas lagi jalan ke gerbang tiba-tiba…
"Hai, Sarada" sapa sebuah suara tepat di sebelah cewek yang sangat imut itu.
Sarada spontan menoleh. Lalu mendapati boruto disampingnya. Sedangkan lili sudah menghilang. Gak tau kemana dan sejak kapan.
Sarada pun memamerkan senyum manisnya ke arah boruto yang ada disampingnya.
"Pulang sendirian aja?" Tanya boruto diatas motor ninja hitam miliknya.
Sarada cuma mengangguk tanpa sepatah kata pun.
"Pulang bareng aku aja, yuk! Mau nggak?" Tawar boruto. Ia menyodorkan sebuah helm ke depan wajah sarada.
Sarada menatap helm itu sejenak kemudian mengalihkan pandangannya ke arah boruto. "Nggak usah, kak makasih aku ga mau ngerepotin kakak.."
"Ga pa-pa, kok, Nih.." balas boruto sambil menggerak-gerakkan helm yang sedari tadi di genggamannya itu.
Sarada pun meraih helm tersebut.
“Oh, iya,” cowok itu melepaskan jaket abu-abu yang melekat di tubuhnya. “Kayaknya mau hujan, deh. Kamu pake ini, ya!” lanjutnya seraya menyerahkan jaket tersebut pada sarada
“Loh, kok aku? Kalo ntar Kakak yang basah, gimana?” heran sarada.
“Ga pa-pa. Udah biasa. Ayo, naik..” ujar Rico sambil menstater motornya.
Sarada cuma mengangguk. Ia memakai jaket pemberian boruto. Lalu naik ke atas motor cowok itu.
“Udah?” tanya boruto.
“Udah,” balas sarada.
Boruto pun melajukan motornya.
Sarada malu senyum di belakang. Kemudian memejamkan matanya dan menghela nafas panjang. Hmmm… Jaketnya Kak boruto wangi banget, deh! batinnya.
Dan saat membuka mata, bukan pemandangan jalan raya yang dilihatnya. Jaket abu-abu milik boruto juga sudah tidak melekat di tubuhnya. Berganti menjadi piama berwarna pink yang dipakainya dari semalam.
Sial, ternyata cuma mimpi, kesal sarada
dalam hati.
***
“Ngapain sih lo? Daritadi mondar-mandir mulu. Kayak setrikaan aja, deh. Pusing gue!” cerocos Riri.
Sarada menoleh dan menatap kedua temannya yang lagi asik ngobrol di teras rumah lili. Mereka baru saja selesai belajar bareng beberapa menit yang lalu.
“Lagi nunggu jemputan,” balas sarada singkat. Kemudian kembali celingak-celinguk di depan rumah lili
“Emangnya lo dijemput sama siapa, sih?” tanya riri
“Ada, deh.. Ntar juga lo tau, kok,” jawab sarada. Sok misterius.
Beberapa saat kemudian, sebuah motor ninja hitam berhenti tepat di depan pagar rumah lili. Di atasnya, seorang cowok berjaket merah dengan helm besar yang juga berwarna merah terlihat menoleh dan melongok ke dalam rumah Lili.
“Itu dia!” seru sarada spontan.
Lili dan Riri pun spontan berdiri dan berjalan mendekati sarada. Lalu makin mencondongkan kepalanya ke arah pagar rumah Lili itu.
“Itu… Kok kayak Kak boruto ya?” tanya Riri. Mencoba menebak.
“Iya, gue yakin banget. Itu pasti Kak boruto kan? Liat aja gayanya! Kak Boruto banget deh pokoknya,” Lili yang menjawab. Semangat.
Sarada cuma tersenyum membalasnya. “Gue balik dulu, ya! Kasian dia kalo kelamaan nunggu. Byeee!”
“Dadah, sarada…” sorak Riri.
“Hati-hati di jalan, ya!” teriak Lili.
Sarada mengangguk dan melambaikan tangannya sambil berjalan menjauhi kediaman Lili. Menghampiri boruto yang sudah menunggunya di luar sana.
Boruto menyerahkan sebuah helm ke genggaman sarada saat cewek itu sudah berdiri di depannya. Sarada meraihnya sambil tersenyum. Salah tingkah.
Setelah memakai helm tersebut, sarada lalu naik keatas motor boruto.
“Udah?” tanya boruto.
“Udah,” balas sarada. Kayak dejavu, deh! lanjutnya dalam hati.
Boruto kemudian melajukan motornya meninggalkan rumah Lili.
Di belakang boruto, sarada menepuk-nepuk pipinya. Duh, sakit! Ternyata ini bukan mimpi lagi. Ya ampuuun, mimpiku tadi pagi jadi kenyataan. Makasih, ya Allah… Ia lalu membekap mulutnya sendiri. Berusaha sekuat tenaga agar ia tidak berteriak histeris saking gembiranya.
Tiba-tiba, mata sarada menangkap pandangan Boruto yang lagi mengamatinya dari spion kiri motor cowok tersebut. Oh, my God! Kak Boruto ngapain, nih? Jangan-jangan dari tadi dia ngeliatin aku, lagi! Grrr… Sial! Tadi aku ngapain aja, sih? Kayaknya aku geregetan banget, ya? Wuaaahhhhh… Malunya!!! cerocos sarada dalam hati.
“Kamu kenapa, sih? Nervous gara-gara deketan sama aku, yaaa?” goda boruto.
Sarada cuma bisa buang muka. Pura-pura ga peduli. Saking saltingnya.
***
Sarada melangkah memasuki kelasnya di XI IPA 1 sambil menebar senyum kemana-mana. Dari guru-guru, anak kelas sepuluh, sebelas, dua belas, satpam, sampe penjaga sekolah sudah kebagian senyum manisnya daritadi.
Baru menaruh tasnya di meja, Lili sudah langsung menduduki kursi miliknya. Membuat sarada pasrah berdiri di samping mejanya seraya mengamati lili.
Gak lama kemudian, muncul lagi sosok Riri yang segera duduk di sebelah lili.
“Kenapa semalem lo ga ngebales wa gue?” tanya lili langsung.
“Iya! Gue juga!” sambung Riri.
Sarada menghela nafas panjang. Udah aku duga bakal diinterogasi… “Pas nyampe di rumah, gue ngerjain PR kimia. Trus tidur, deh. Ngantuk banget soalnya,” balas cewek itu.
“Tapi kok lo tega banget sih ngebiarin kita penasaran semaleman?” gerutu Riri.
“Iya, gue nungguin wa lo sampe jam satu pagi, tau gak!” kesal Lili sambil mengacungkan jari telunjuknya ke depan wajah sarada
“Sorry, deh..” ucap sarada akhirnya. “Minggir, dong! Gue capek berdiri, nih..” lanjutnya sembari menarik tangan Lili untuk menyingkir dari bangkunya.
Lili menurut. Ia pun berdiri dan pindah ke bangkunya sendiri yang terletak tepat di depan meja sarada. Lalu duduk menghadap ke belakang. Masih menanti cerita sahabatnya itu.
“Oke. Sekarang jawab pertanyaan gue semalem. Lo ngapain aja sama Kak Boruto hah?” tanya Lili. Mulai menginterogasi.
“Ngobrol,” Jawa Sarada singkat, padat, dan jelas.
“Ngobrol dimana?” Riri ikut bertanya.
“Ya di atas motor, laaah..”
“Di motor doang? Emangnya lo ga mampir kemana-mana dulu?” seru Lili.
Sarada menggeleng. “Enggak.”
“Kok enggak?” Riri keliatan ga puas sama jawaban-jawaban sarada sedari tadi.
“Lo pikir gue sama Kak boruto mau kemana? Udah jam sepuluh malem, tau! Nyokap gue aja udah nelfon mulu.”
“Ih, ga romantis banget..” cibir Riri.
“Yeee, gue malah salut, tau! Itu artinya dia cowok yang baik. Karna udah malem, jadi dia langsung nganterin Cinderella-nya ini pulang ke rumah, deh. Iya, kan?” cerita sarada Bangga.
Lili dan Riri manggut-manggut. “Iya juga, sih..”
“Trus, kalian ngobrolin apa aja?” tanya Lili lagi.
“Banyak deh pokoknya. Gue nyeritainnya pas istirahat aja, ya! Udah mau bel, tuh..” jawab sarada sambil menunjuk jam dinding di kelas mereka.
“Hmmm iya, deh..” balas Riri. Pasrah. “Eh, tapi dia udah nembak lo, belum?” lanjutnya antusias.
Sarada memandangi kedua sahabatnya itu bergantian. Lalu tersenyum. “Belum..”
Dahi Lili dan Riri sontak berkerut. “BELUM?” tanya mereka. Kompak.
Sarada mengangguk kuat-kuat. “Iya, belum!”
“Kok belum? Kalian kan udah deket lamaaaa banget. Kirain semalem dia mau ngejemput lo karna mau ngomongin masalah itu,” cerocos Lili.
Riri manggut-manggut menyetujui ucapan Lili barusan.
Sarada kembali tersenyum. “Sabar aja, deh. Dulu juga gue mulai deket sama dia dari telfonan. Trus saling sapa di sekolah, sampe akhirnya bisa jalan bareng kayak semalem, kan? Semuanya butuh proses sih menurut gue.”
Ia berhenti sejenak. Lalu menghela nafas panjang. Kemudian tersenyum lebih lebar dari sebelumnya. Dan melanjutkan, “Semuanya juga butuh waktu. Dan gue yakin, kalau semua itu semua bakal indah pada waktunya…”
Pesan moral dari cerpen di atas:"Cinta tidak akan pernah ada jika kita tidak berjuang demi orang yang kita suka dan perlu proses yang cukup lama agar kita bisa menjalin hubungan yang utuh hingga dewasa nanti"!
Karya: Vincentius Semit Darmawan