Kanvas
"Sayang kamu sedang apa?," tanyanya menghampiriku.
"Seperti biasa, menyiapkan makan malam untukmu."
"Kamu romantis sekali," ucapnya menggoda.
"Ah itu hal yang biasa dilakukan seorang istri bukan?"
"Iya juga, kamu tahu kenapa malam ini bulan tidak tampak?"
"Karena sekarang ini langit mendung."
"Bukan itu jawabannya," ucapnya sedikit kesal.
"Lalu apa jawabannya?
"Kamu ingin tahu?"
"Iya."
"Serius?"
"Iya," ucapku yang mulai jengkel.
"Karena dia malu kalah indah, cantik dan bersinar darimu."
Dia melingkarkan tangan pada pinggangku, sesekali menempelkan bibirnya pada pipi cabiku, lelaki yang sangat romantis, tapi aku kurang menyukai tingkahnya.
"Dl, kamu terlalu sempurna untuk wanita sepertiku."
"Maksudnya?," tanyanya bingung.
"Kamu tahu aku kurang suka rayuan dan lelaki romantis, kamu tidak cocok untuk aku yang dingin."
"Kita bisa saling melengkapi, seperti campuran air yang dingin dan panas mereka bisa menyatu jadi hangat," jelasnya.
"Sepertinya tidak bisa."
"Kita tidak pernah tahu jika, tidak mau mencobanya."
"Lepaskan tanganmu dari pinggangku."
"Baiklah sayangku."
Aku menyajikan semua yang telah dimasak tadi, menunggu dia duduk, memakan masakan yang tidak terlalu buruk rasanya. Secangkir teh tawar favoritnya tidak lupa aku sajikan di meja, agar dia bisa segera minum jikalau tersedat nanti.
"Semua ini kamu yang masak?," tanyanya heran.
"Memangnya kenapa?"
"Kamukan tidak bisa masak dan biasanya selalu beli makan di luar," ucapnya mengernyitkan dahi.
"Aku belajar untukmu," ucapku kesal.
"Tolong ambilkan untuku."
"Apa nasinya sudah cukup?"
"Sudah-sudah jangan terlalu banyak, tidak habis bisa mubazir."
"Kamu harus mencoba semuanya, ini kamu harus habiskan."
"Uhuk ... uhuk ... uhuk ... minum mana?"
"Ini cepat minum," ucapku panik sambil menyodorkan cangkir teh.
"Rasanya terlalu pedas, aku tidak suka makan yang terlalu pedas," ucapnya mengernyitkan dahi.
"Maaf, aku tidak mencicipinya lagi sebelum disajikan."
"Setidak kamu memasak ini dengan penuh cinta jadi, aku akan habiskan," ucapnya sambil mengelus pipi cabiku.
"Romantisnya kamu, Dl."
"Aku jadi malu."
Malam semakin larut, kami akhirnya mengistirahatkan tubuh dari hiruk pikuk dunia luar yang sangat mematikan. Dl, pagi itu tidak pernah bisa terlupakan, saat aku tengah mencoret kanvas putih dengan warna, engkau malah hadir memudarkan warnanya.
"Dek, sudah cukup melukis untuk sekarang?"
"Kenapa Mah?," tanyaku penasaran.
"Ada yang datang mau melamarmu."
"Apa yang mama katakan? Aku tidak mau menikah, nanti dia tidak mungkin mengijinkan aku melukis."
"Temui saja dulu, kamu pasti suka orangnya."
"Tapi ...." ucapku terpotong.
"Tidak ada tapi-tapian, ikut mama sekarang."
Aku mengikuti langkah mama dengan sangat malas, nertaku menerawang wajah-wajah yang tampak asing, termasuk seorang lelaki yang kini menjadi suamiku.
"Cantik sekali putri bungsumu ini," ucap seorang wanita paruh baya yang sepertinya adalah Ibunya.
"Dek, kenalan ini, Dl."
Aku hanya tersenyum kaku saat dia menyodorkan tangan.
"Maaf, dia tidak suka berjabat tangan dengan lawan jenis," jelas mama.
"Tidak papa tante, itu artinya dia wanita yang terjaga ketaqwaannya."
"Yang tadi bicara itu Ibunya, yang ini Ayahnya dan yang perempuan itu kakaknya," jelas mama mengenal mereka semua.
"Jadi apa kamu mau menerima anak kami?" tanya Ayahmu padaku.
Aku hanya mengangguk tanda setuju.
"Jadi tinggal tentukan tangan pernikahan saja," sambung Ibumu.
Setelah mereka semua pergi, aku masuk kamar mama untuk membicarakan semua ini baik-baik, agar mama bisa membujuk mereka membatalkan perjodohan ini.
"Kamu sudah menyetujuinya jadi, kita tidak bisa membatalkannya."
"Aku tidak mencintainya Mah."
"Kamu akan mencintai dia seiring berjalannya waktu."
"Tapi Mah aku tidak mau menikah."
"Kamu harus menuruti apa kata Mama," bentaknya.
Baru kali itu mama membentaku, semua karena kamu, Dl. Aku benci, sangat-sangat benci dengan sikap mama yang tiba-tiba berubah, dan aku sangat membencimu.
Dikala mentari sudah mulai menyinari bumi, kamu sudah pergi tanpa permisi, meninggalkan aku sendiri dalam sepi, bersama iringan musik simfoni. Dl, hari itu tidak bisa aku lupakan, ketika engkau menjadi bagian dari warna baru yang mencoret kanvas hidupku.
"Kamu sekarang adalah bagian dalam hidupku," ucapnya melirik kearahku.
Aku hanya tersenyum kaku, menikmati coretan yang dia tuangkan dalam kanvas, yang bisa saja membunuhku.
Sudah cukup mengenangnya, tidak perlu lagi ada bayangan dia yang menyelimuti. Saatnya aku mengambil rakitan pistol buatkan tangan sendiri, memasukan peluru kedalamnya dan mencoba membidik sasaran dari jauh, kanvas putih kini berlubang bagai hati yang menderita.
Kulukiskan kisah kita pada kanvas yang sengaja engaku sediakan untuku, tuk ... tuk ... tuk ... suara itu terdengar halus. Kubuka daun pintu, dia hanya mematung sambil tersenyum kaku menatapku.
"Ayo masuk."
"Aku membawakanmu hadiah," ucapnya menyodorkan kantung belanjaan padaku.
"Apa ini, Dl?"
"Itu adalah mini dres warna putih, aku yakin kamu sangat cantik memakainya."
"Kamu serius ngasih ini buat aku?"
"Tentu saja sayang, gaun ini aku bawa hanya untukmu."
Aku hanya terkekeh melihat apa yang diberikannya, aku sangat menyukai apapun yang kamu berikan, tapi tidak untuk kali ini.
"Kamu kenapa tertawa."
"Kamu lupa, Dl?"
"Aku tidak pernah lupa."
"Apa?," tanyaku penasaran.
"Ini andalah hari pernikahan kita tepat tiga bulan lalu, dan kamu tidak suka warna putih."
"Lantas?"
"Aku ingin memperkenalkan kamu pada kesucian, dan warna putih itu tidak terlalu buruk. Kamu bisa mewarnainya sesuka hati, seperti kanvas yang sering tercoret lukisan indah penuh warnamu."
Dl orang terlalu puitis, romantis dan hangat, aku kurang menyukai itu. Dia bukan pilihanku, melainkan pilihan kedua orang tua dan aku menerima saja dia.
"Walaupun aku tidak menyukai warnanya, gaun ini akan tetap dipakai untuk menghargai pemberianmu."
"Kamu memang wanita yang selalu bisa menghargai pemberian," ucapnya mengecup kening, dan berlalu meninggalkanku.
"Dl."
Dia menghentikan langkahnya dan menyaut panggilanku "Iya sayang."
"Malam ini kamu mau makan apa? Aku akan memasaknya untukmu dan aku jamin rasanya tidak akan seburuk kemarin malam."
"Apapun yang kamu masak aku akan selalu memakannya, jangan lupa teh tawar hangatnya."
"Kamu sangat suka teh tawar?"
"Iya karena senyumu saja sudah manis," ucapnya sambil melanjutkan langkah.
Dl mentari terbenam di upuk barat dan kamu akan terbenam dengan tangan mungilku. Aku berganti pakaian ketika dia sedang menikmati makan malam, gaun ini bagai kanvas putih yang masih polos.
"Kamu cantik sekali."
"Gombal."
"Kamu memang benar-benar cantik."
"Gaungnya sangat indah, aku sangat suka."
"Sudah kubilang tadi warna putih tidak terlalu buruk, lihat warnanya sangat cocok dengan warna kulitmu," ucapnya dengan senyum tipis terlukis.
"Kamu sudah selesai makan?"
"Sudah."
"Kenapa tidak membiarkan aku membereskannya."
"Aku tidak mau kamu lelah," ucapnya beranjak dari tempat duduk.
Aku hanya tersenyum malu padanya.
"Mendekatkan sayang," ucapnya yang perlahan melangkah kearahku. Aku hanya terpaku diam menggenggam pistol di belakang baju.
"Ayolah mendekat, jangan hanya terdiam begitu," ucapnya sedikit jengkel.
Kutatap matanya begitu lekat sambil perlahan mendekat ke arahnya. Kini aku sudah dalam pelukan sebuah tubuh kekar. Dor! Satu tembakan aku letuskan tepat di kepala Dl yang kini meregang nyawa, dengan darah mengalir dari kepalanya.
Kini aku bagaikan kanvas hidup yang tersiram cat merah, seperti katamu 'warna putih itu tidak terlalu buruk bisa diwarnai sesuka hati, seperti kanvas yang sering tercoret lukisan indah penuh warna.' Sekarang gaun ini adalah kanvasku, darahmu adalah catnya, gaun merah yang sangat aku sukai, dan akan terus dipajang sebagai kenangan terindah dalam hidupku pemberian darimu, Dl.