Kembali menikmati mentari terbenam, duduk di dahan pohon kelapa yang tumbang di pinggir pantai sendiri, sebotol air teh tawar aku minum, setiap legukannya aku nikmati masuk kerongga tenggorokan segar sekali rasanya.
"Tuan, Akatsuki sangat payah, dia tidak mau menemaniku menikmati pesona alam, terpaksa harus sendiri di sini. Aku kesal karena sikap dia yang dingin tidak bisa sedikit bersikap romantis seperti yang lain," gerutuku dalam sunyi.
Semilir angin berhembus cukup kencang menimbulkan rasa dingin menusuk permukaan kulit, perlahan terasa membekukan aliran darah, tapi aku tetap ingin menikmati gulungan ombak menuju pantai. Sebuah kotak musik diputar sebagai penghilang rasa sepi, dingin makain menjadi-jadi menusuk kulit. Mentari telah kembali keperaduannya, makin malam terlihat makin banyak orang yang memadu kasih, berjalan bergandengan tangan atau sekedar duduk berdua berpelukan membuat aku iri.
Gerimis turun perlahan seakan ingin menemani aku yang tengah duduk termenung sendiri, guntur ikut bergemuruh seakan tahu aku ingin berteriak ke arah lautan luas, aku bersenandung riang di bawah kerlip bintang yang mulai memudar tanpa cahaya
"Malam sunyi kuimpikanmu
Kulukiskan kita bersama
Namun s'lalu aku bertanya
Adakah aku di mimpimu
Di hatiku terukir namamu
Cinta rindu beradu satu
Namun s'lalu aku bertanya
Adakah aku di hatimu
T'lah kunyanyikan alunan-alunan senduku
T'lah kubisikkan cerita-cerita gelapku
T'lah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu
Bila saja kau di sisiku
‘Kan ku beri kau segalanya
Namun, tak henti aku bertanya
Adakah aku di rindumu.... "
Aku berhenti bersenandung lalu, membuka perlahan buku bersampul biru, menggoreskan tinta hitam pada selembar kertas bergaris yang masih polos tanpa tulisan, kenangan hari ini aku ukir baik-baik di dalamnya agar tidak ada satu halpun yang akan terlupakan. Dalam kesendirian ada suara yang mengganjal pendengaran.
"Tuan, Akatsuki," teriaku tanpa menoleh ke arah belakang, seakan tahu siap yang datang menghampiri.
Dia tidak menjawab, tapi aku tidak mungkin salah dengan apa yang ditangkap indra pendengaran, kembali membisu membiarkan dia yang mungkin sedang menunggu aku untuk bergeming. Abaykan sejenak dia, aku harus menyelesaikan menulis kisah hidup yang tidak abadi ini, agar ketika aku tiada masih ada yang mengenang perjalanan hidup.
Kututup buku ini, beranjak pergi dari bibir pantai sedikit berlari ke arah dia yang mematung dan membisu, awww kakiku tersandung sesuatu yang tidak dapat ditangkap indra penglihatan.
"Sayang kenapa?," teriaknya yang mulai berlari menghampiriku.
"Hanya tersandung kerikil kecil."
"Coba aku lihat."
"Tidak usah! aku baik-baik saja hanya sedikit sakit."
"Tidak mungkin kamu baik-baik saja, coba aku lihat lukanya."
"Tidak usah!."
"Angkat sedikit pakaimu, biar aku lihat seberapa parah lukanya," ucapnya yang mulai berjongkok di hadapanku.
"Baiklah," jawabku sambil menyingkap pakaian yang menghalangi kaki.
"Berdarah cukup banyak, sudah aku peringatan untuk memakai alas kaki, tapi kamu tidak menghiraukan ucapanku, lihat kamu terluka sekarang, siapa yang salah tentu bukan aku, gadis nakal," ucapnya bertubi-tubi.
"Cerewet."
Aku berjalan meninggalkan dia dengan kaki kanan yang sedikit diseret, mencoba menahan rasa sakit yang tidak seberapa ini sangat mudah untuku. Dia terpaku melihatku yang perlahan menjauh dan melambaykan tangan kearahnya.
"Dasar dingin, tidak peka," celotehku pelan agar dia tidak bisa mendengarnya.
Indra pendengaranku menangkap suara langkah kaki, aku mencoba bersikap acuh ketika dia mulai mendekat kearahku.
"Bagaimana kalau aku gendong sampai penginapan?"
"Tidak usah!" jawabku ketus.
"Ayolah, aku tidak tega melihatmu," ucapnya memelas.
"Tidak!"
"Bagaimana kata Ayah dan Bundaku nanti, saat tahu aku tidak bisa menjagamu."
"Pikiran sendiri!"
"Ini sebagai ucapan maaf dariku yang tidak mau menemanimu."
"Aku berat, tidak mungkin kamu kuat menggendongku."
"Tidak papa, ayo cepat naik!"
"Baiklah."
Dia menggendongku, sekarang terlihat sudah wajah tampan tuan Akatsuki yang tidak pernah bisa romantis sedikit saja.
"Aku memang tidak bisa menjadi orang yang romantis untukmu, tapi aku masih bisa menjadi kekasih yang baik hati, selalun ada disaat kamu membutuhkan juga pengertian." Senyum tipis terlukis di bibirnya.
"Kau orang yang kejam, jangankan bersikap romantis kamu bahkan tidak bisa bersikap baik sedikitpun padaku."
"Aku tidak kejam," bantahnya.
"Kau kejam tuan."
"Apa buktinya kalau aku kejam?"
"Kamu membiarkan anak orang malam-malam sendiri di tepi laut, bagaimana kalau ada yang menculikku? Jika binatang buas datang menerkam? Atau kalau ombak laut menyeretku bagaimana?."
"Kau cerewet sekali, jangan penculik hantu saja takut dengan nenek sihir sepertimu," ucapnya meledek.
"Turunkan aku sekarang juga!"
"Tidak mau nanti lukamu tambah parah, aku pasti kena omel merek," jelasnya.
"Bagaimana kalau kamu berjalan ke arah bibir pantai?"
"Untuk apa?," tanyanya penasaran.
"Agar kamu bisa merasakan air laut yang menenangkan."
"Tidak!"
"Ini perintah."
"Kalau aku tidak mau apa yang bisa kamu perbuat?"
"Aku akan adukan perbuatanmu yang telah lalai menjagaku pada Bunda dan Ayah, membiarkan kamu kena marah mereka, dan aku tidak akan sedikitpun memberikan pembelaan untukmu."
"Baiklah aku akan menuruti maumu, tapi jangan mengadukan kejadian ini pada mereka."
"Ok."
"Janji?"
"Iya aku berjanji."
Akhirnya kami bisa berdua di pantai, walau sebenarnya aku tahu dia tidak suka laut yang menurutku indah.
***
"Ahhh," teriaku saat bangun dari tidur.
Kenapa kakiku di balut kain putih, sepertinya sesuatu terjadi padaku, tapi apa? Kapan? Dimana? Siapa yang melakukannya? Pertanyaan itu menghantam pikiranku secara bersamaan.
"Kamu sudah bangun, sayang?"
"Iya, Bunda"
"Sarapan dulu ya, agar kamu cepat pulih."
"Baik Bundan, oh iya kakiku kenapa?"
"Kamu tersandung saat pergi ke pantai, kamu memang suka tidak memakai alas kaki kalo pergi ke sana makannya jadi luka."
"Tuan mana? kenapa dia tidak ada? Bukannya semalam kami ke pantai berdua?" tanyaku bertubi-tubi.
"Kamu semalam Bunda temukan pingsan sendiri di tepi pantai."
"Kenapa sendiri? Tuan mana?" tanyaku heran
Senyum tipis terlukis di bibir Ibu mertuaku "diakan sudah pulang kepada penciptanya beberapa minggu lalu."
Ternyata semalam hanyalah bayangan dia yang menemani kesepianku saat berlibur, berharap bisa menengkan pikiran malah cinta yang hadir tidak diduga. Bodoh sekali rasanya ketika aku mulai jatuh hati padanya, ternyata dia sudah kembali pada sang-pencipta karena ulahku sendiri.