My Husband
Kupejamkan kedua kelopak mata sambil menanti seseorang datang menghampiri, menikmati angin sejuk yang menenangkan hati juga pikiran, membirkan suara-suara asing masuk kerongga telinga, aroma-aroma asing menusuk rongga hidung. Rasanya sangat nyaman sekali duduk sendiri di sini.
Hari mulai sore fajar hampir terbenam, tapi aroma itu belum tercium menusuk rongga hidung. Semoga saja dia tidak jadi datang agar aku bisa menikmati kebahagian, kesendirian ini lebih lama lagi. Semilir angin itu kembali berhembus datang bersama aroma yang sangat aku kenali, memaksaku membuka kedua kelopak mata dengan malas. Mataku tertuju pada sosok lelaki berbadan tinggi, berkulit putih yang datang menghampiri dan ikut duduk di bangku bercat putih di taman.
"Hai, Sayang."
"Hai, Tuan Akatsuki," jawabku dengan penuh kebahagiaan walau sebenarnya hatiku begitu tidak senang.
Andai saja waktu bisa diputar kembali mungkin saat ini aku tidak harus selalu menunggunya di sini, penyesalan selalu datang terlambat diwaktu yang sangat dibenci, tapi jika aku menolaknya mungkin saat ini Mama sudah mencoretku, dan tidak menganggap aku menjadi anaknya.
"Kamu sudah lama menungguku, sayang." Bisiknya dikuping membuat aku makin benci dengan sosoknya jika, bukan karena Mama aku tidak mungkin mau menerima dia menjadi pasangan hidup.
"Tidak terlalu lama, menunggumu sambil melihat pemandangan taman yang indah, tidak akan membutku bosan."
"Aku sempat berpikir kamu bosan menungguku, sayang."
"Aku tidak bosan, kamu mau minum teh tawar ini?" ucapku sambil menyodorkan botol air berisi teh padanya.
"Tentu saja," ucapnya sambil mengambil botol air dari tanganku.
"Apa kamu lelah dari bandara harus langsung kesini menemuiku?"
"Tidak sama sekali."
"Kenapa kamu merasa tidak lelah?"
"Ini sudah jadi kegiatan rutin kita untuk berjumpa, lagi pula kamu juga tidak pernah lelah menungguku."
"Iya aku tidak pernah lelah menunggumu."
"Aku lebih senang saat kamu pergi karena saat itu aku tidak harus memakai topeng kebahagiaan." Batinku.
"Maafkan aku yang selalu meninggalkan kamu sendiri di rumah selama berbulan-bulan," ucapnya penuh penyesalan.
"Itu sudah jadi hal yang biasa untuku."
"Kamu tidak marah?"
"Tidak! aku mengerti pekerjaan mengharuskan kamu selalu pergi ke luar kota."
"Kamu memang sangat pengertian sekali, kamu memang pilihan Bunda dan Ayah yang paling tepat untuku."
"Aku harus menjadi wanita yang engkau butuhkan."
"Aku hanya ingin kamu menjadi apa adanya dirimu, sayang."
"Baiklah jika itu maumu akan aku turuti."
"Gadis pintar."
"Aku ingin segera pulang kerumah."
"Baiklah sayang aku akan selalu mengikuti maumu."
Aku segera masuk ke dalam mobil, dia segera menyalakan mesin, dan memacu dengan kecepatan setandar yang membuat aku sangat bosan berada bersamanya. Namun, harus terlihat bahagia dihadapannya.
"Kamu dingin sekali, sayang."
"Aku tidak dingin."
"Kamu cuek, kaku, tidak bersemangat berbeda dengan hari-hari biasa saat kita berjumpa."
"Bisakah kamu mempercepat laju mobil, aku sedang tidak sehat saat ini karena itu kamu melihatku berbeda."
"Baiklah aku percepat agar bisa sampai rumah dan kamu bisa beristirahat."
"Persetan dengan sandiwara ini, persetan dengan topeng kebahagia yang harus aku pakai setiap saat, kamu tidak pernah tahukah betapa aku membencimu," celotehku dalam hati.
Akhirnya tidak butuh waktu lama kami sampi di rumah sederhana, saksi bisu betapa aku sangat-sangat tersiksa harus hidup secara terpaksa bersama dia, lebih dari enam tahun belakangan, kalau bukan karena Mama yang mengancam akan mencoretku dari daftar keluarga, tidak akan pernah aku menerima perjodohan ini.
"Ayo masuk jangan mematung disana," teriaknya di ambang pintu.
"Baiklah," jawabku berlari menghampirinya.
"Kamu harus banyak istirahat agar cepat pulih."
"Bisakah kamu tidak menggenggam tanganku?"
"Kenapa, ada yang salah dengan semua ini?"
"Tidak ada, hanya saja aku tidak nyaman."
"Kamu kenapa, apa aku berbuat kesalahan yang fatal?"
"Tolong jangan membahasnya, saat ini aku hanya ingin istirahat, bisa kamu pergi dari kamar dan membiarkan aku sendiri."
"Baiklah."
Akhirnya dia pergi meninggalkan aku sendiri, bukannya kamu yang ingin aku menjadi apa adanya diriku. Tuan, inilah sosok wanita yang selama ini berusaha engkau bahagiakan dan tidak pernah bahagia karena harus hidup denganmu.
Mentari sudah kembali keperaduannya, siang berganti menjadi malam yang aku sangat benci. Akhirnya dia pulang, aku harus terus menjadi wanita manis yang selama ini dia kenal, demi tidak dicoret sebagai anak oleh Mama, aku harus tetap terlihat bahagian di hadapannya supaya, dia tidak mengadu pada Bundanya.
"Sayang, apa keadaanmu sudah membaik?"
"Tidak terlalu baik, tapi lumayan."
"Kamu mau makan, aku sudah masak sepesial hari ini."
"Sepesial?" tanyaku bingung.
"Iya sepesial hari pernikahan keenam tahun kita."
Aku hanya bisa sedikit tersenyum padanya.
"Kamu makan duluan ya, aku tinggal kebelakang sebentar."
"Iya."
Aku menarik napas panjang lalu membuangnya dengan kasar, sedikit lega ketika dia pergi meninggalkanku sendiri di meja makan, bisa melepas sebentar topeng kebohongan. Aku hanya mengaduk-aduk makan yang sudah dia hidangkan sepesial malam ini.
"Masakanku tidak enak ya."
"Enak."
"Tapi kenapa hanya diaduk-aduk saja tidak dimakan?"
"Aku makan kok sedikit-sedikit."
"Syukurlah kalo gitu."
"Kamu mau minum teh?"
"Boleh."
"Tunggu sebentar."
Aku membuat teh tawar seperti biasanya, menyajikannya di meja makan agar dia bisa meminumnya. Malam ini hari pernikahan kita yang keenam tahun, aku akan memberimu hadiah terindah sepanjang hidupmu yang tidak akan pernah bisa terlupakan sampai kapanpu.
"Ini tehnya."
"Terima kasih, sayang."
"Iya."
Beberapa saat setelah dia minum aku sangat merasa bahagia sedangkan dia berkata "kenapa rasanya berbeda?"
"Apa yang berbeda?"
"Ada yang kamu masukan selain teh?"
"Tidak ada, memangnya kenapa?"
"Aku merasa sangat mengantuk."
"Kamu terlalu lelah, istirahat saja."
"Bagaimana dengan kamu?"
"Nanti aku menyusul."
"Aku tidur duluan, kamu juga jangan lupa tidur."
"Iya aku beresin semua ini, baru nyusul kamu tidur."
Aku segera membereskan semuanya, lalu masuk kamar melihat dia yang tertidur pulas, aku melihat wajah tampannya dengan begitu lekat, menyimpannya dalam memori ingatan agar tidak bisa hilang dari pikiran, aku membalut tubuhnya dengan selimut yang hangat sambil berkata "terima kasih telah meminum tehku, tidur yang nyenyak ya tuan, Akatsuki."
***
"Sabar ya sayang, Bunda tahu ini memang berat untuk kamu, tapi kamu harus ikhlas melepas anak Bunda," ucap Ibumu sambil memeluku dengan erat.
"Bunda, maafkan aku tidak bisa menjaga dia lebih lama lagi."
Aku mencucurkan air mata sebagai bukti tanda aku sangat berduka, dan terpukul dengan apa yang saat ini terjadi menimpa keluarga kami. Sejujurnya dalam hati aku sangat-sangat bahagia dengan apa yang terjadi.
"Iya sayang enggak papa."
"Bunda, maafkan aku tidak bisa menjadi istri yang berguna untuknya sehingga, ini semua terjadi."
"Jangan menyalahkan dirimu, ini sudah takdir sayang."
"Ayah, maafkan saya hiks hiks hiks."
"Sudahlah nak, yang terjadi biarkan terjadi hapus air mata kamu, kita pulang."
"Iya sayang ayo kita pulang biarkan anak Bunuda beristirahat dengan tenang," ucap Ibunya sambil membantuku berdiri.
Akhirnya sandiwara ini selesai juga, aku akan kembali sendiri menikmati sisa hidup tanpa ada yang memaksa aku utuk pura-pura bahagia dihadapan seseorang. Sejenak aku bertanya pada diriku bagaimana dengan nasib Kira anak kami? Oh itu mudah saja, aku mampu mengurus anak kami yang baru genap 4 tahun sendirian walau dia terus menangis menyebut nama ayahnya.
"Tidur yang nyenyak ya, aku bahagia mulai hari ini tidak perlu lagi menunggumu pulang kerumah setelah pergi dari luar kota, tidak harus memakai topeng kebahagiaan setiap bersamamu, tidak harus berpura-pura bersikap manis juga anggun mempesona dihadapanmu. Semoga kamu bisa tidur dengan bahagia disisi Allah. Maaf, aku terpaksa melakukan ini demi ketentrama hidupku. "