Pada zaman dahulu, hiduplah seorang gadis cantik nan jelita lagi baik hati. Dia bernama Dawung, dia bertempat tinggal didaerah yang tak bernama bersama ibu dan juga tetangganya. Ayah Dawung sudah lama meninggal dunia, beliau meninggal karena penyakit yang sudah lama dia derita. Ayahnya Dawung dulu suka berhutang dengan tetangganya. Sehingga Dawung dan ibunya harus pergi ke hutan mengambil kayu bakar untuk membayar hutang ayahnya atau untuk ditukar dengan beras.
Pada suatu pagi, datanglah seorang tetangganya yang dulu memberi pinjaman ke ayahnya Dawung. Tetangganya itu datang dengan maksud menagih hutang, dia pun berkata,"Ooh... ibunya Dawung, kapankah engkau ingin membayar hutang almarhum suami mu? sudah tiga hari engkau belum membayar hutang mu, jika engkau sampai tidak membayar hutang mu hari ini terpaksalah rumah mu aku sita sampai engkau membayar hutang mu lagi!". Mendengar kata - kata tetangganya itu Dawung dan ibunya pun keluar dari rumahnya. Dawung pun berkata "Wahai bibi yang budiman berikanlah ibu saya waktu satu hari lagi, besok saya dan ibu saya pasti akan membayar hutang ke bibi". Awalnya tetangga itu menolak permohonan Dawung tapi, Dawung tak menyerah begitu saja, Dawung pun terus - menerus memohon dengan tetangganya itu. Pada akhirnya tetangganya pun berkata, " Baiklah saya akan memberi kalian waktu satu hari lagi tetapi dengan satu syarat, besok pagi kalian harus membawakan lima ikat kayu bakar sekaligus untuk membayar hutang, bagaimana?". Dawung pun menjawab, "Baiklah saya terima syarat dari ibu". Ketika urusan tetangganya telah selesai tetangganya itu pun langsung pulang kerumahnya. Setelah tetangganya itu pulang kerumahnya, ibu Dawung pun bertanya dengan dawung, "Dawung anakku, darimana kita dapat lima ikat kayu bakar itu dalam satu hari?". Mendengar pertanyaan ibunya Dawung pun menjawab, "Ibunda karna dawung yang menerima syaratnya biarlah dawung saja yang memikirkan solusinya, Dawung mohon pamit ibunda Dawung ingin pergi mengumpulkan kayu untuk kita membayar hutang". Ibunya Dawung pun berkata, "Nak kalau begitu biarlah ibu juga ikut mengumpulkan kayu juga agar kayunya cepat terkumpul". Dawungpun berkata, "Sudahlah bu cukup Dawung saja yang pergi, ibunda cukup diam saja dirumah". Ibunya Dawung pun berkata,"Baiklah jika itu yang engkau mau anakku". Dawung pun pergi mengambil sembilah parang dan langsung pergi kehutan untuk mencari kayu bakar untuk membayar hutang.
Pagi berganti siang, siang berganti sore, tapi Dawung tak kunjung kembali dari hutan. Ibunya Dawung merasa gelisah sebab dawung anaknya tak kunjung pulang kerumah, dia pun pergi kehutan guna mencari anak sematawayangnya itu. Dia pergi menelusuri seluruh hutan untuk mencari anaknya Dawung.
Setelah sekian lama mencari akhirnya dia menemukan tiga ikat kayu bakar yang tergeletak ditanah, tak jauh dari situ tampaklah tubuh seseorang yang terbaring ditanah. Dia pun langsung tau kalau yang berbaring ditanah itu adalah anaknya dawung. Dengan cepat ia memeluk tubuh Dawung yang sudah tidak bernyawa lagi. Dawung meninggal karena digigit ular berbisa, sebab dikaki sebelah kanan Dawung terdapat bekas gigitan ular yang sudah membiru. Karena tak terima atas kematian anaknya, ibunya dawung pun mengangkat kedua tangannya sambel berkate, "Ya Tuhan apa salahku?, apa dosaku?, sehingga engkau mengambil nyawa anakku". Seketika tangisnya pecah padahal dia berusaha tegar namun gagal. Dia pun berkata lagi, "Ya Rabb, hamba tak bisa hidup didunia ini tanpa anak hamba, oleh karena itu ubahlah hamba dan anak hamba menjadi sebatang pohon, supaya kami berdua tak akan terpisah selama - lamanya". Tak lama tanah bergegar dan tanah disekeliling ibu dan anak itu pun terangkat. Pada akhirnya tubuh mereka berdua tertutup dengan tanah. Tak lama kemudian tumbuhlah pohon diatas tanah yang menimbun tubuh kedua ibu dan anak itu. Pohon tersebut tumbuh sedikit demi sedikit menjadi besar. Daunnya yang rimbun dan rindang mewakili kebaikan hati Dawung, dan buah dari pohon itu bergelantungan mewakili air mata sang ibu.
Pohon tersebut diberi nama pohon kedawung oleh penduduk setempat. Lama - kelamaan pohon kedawung pun terus berkembangbiak. Pada akhirnya daerah tempat tinggal Dawung dan ibunya dulu ditumbuhi banyak pohon kedawung. Daerah tempat tinggal Dawung yang subur dan tidak bernama itu akhirnya diberi nama kampung kedawung oleh masyarakat yang bertempat tinggal disana. Sebab didaerah tersebut banyak ditumbuhi pohon kedawung.
Desa kedawung atau yang lebih dikenal dengan sebutan kampong kedaong berada di sungai bakau kecil, kabupaten Mempawah, kalimantan barat.
★Mampir ke Novel author ya yang judulnya :
● LANGIT & BINTANG (Teen, Romantis)
● RUMAH TUA (Horor)
● KEGELAPAN MIMPI ( Misteri, Time Travel, supranatural)