“Jangan dekati aku, aku punya pbobia” jelas Jakson.
“Apa yang kau pikirkan, aku hanya ingin mengambil buku di samping mu!” jelas Megan heran.
Jakson terkejut, ia salah paham ternyata. Dan lagi, ia baru saja menyebutkan bahwa ia punya phobia yang selama ini di rahasiakan.
“Tunggu dulu, kau punya phobia? apa?” tanya Megan akhirnya yang membuat Jakson makin gugup tak karuan.
“Haha, itu hanya..”
“Hanya apa!” jelas Megan kian mendekat, menyodorkan wajah ke hadapan Jakson yang terkejut.
“Apa kau bisa minggir dulu!”
“Hmm, seorang aktor sepertimu ternyata punya phobia juga!” jelas Megan seraya menjauh dari pandangan Jakson.
“Maksudmu, apa kau juga punya phobia!” tanyanya.
“Aku? Aku juga punya, tapi lebih tepatnya penyakit” jelas Megan memberi tahu dengan polosnya.
“Penyakit!” jelas Jakson heran.
Selama ini mereka sudah tinggal seatap tapi tak kunjung tau akan rahasia masing-masing. Dan malah terjadi di situasi yang tak di sengaja seperti sekarang ini.
Jakson kerap sibuk dengan dunia aktingnya, tapi belakangan ini karena masalah kecelakaan itu terungkap di publik, sehingga menyulut terhambatnya tawaran drama yang ia bintangi.
Dalam situasi ini, Megan juga tak bisa banyak membantu. Ia memang tak ingin merepotkan Jakson yang menolongnya, tapi mau bagaimana lagi, sekarang Jakson jugalah tempat bergantungnya.
Ia sudah sebatang kara di dunia fana ini. Kekasih tersayang juga sudah menikah dengan sahabat sendiri, memberikan luka yang begitu perih dalam dada.
Saat ini Megan sudah nyaman bersama teman baru, bersama Jakson dan yang lainnya. Sungguh tak terbayang bahwa ia akan serumah dengan seorang aktor terkenal. Tapi di balik itu, Megan juga kerap membuka hati tuk mengisi kekosongannya.
“Aku ingin tau, apa penyakitmu itu!” tanya Jakson.
“I ini bukan hal besar, kau tak perlu tau!” jelas Megan tak ingin memberi tahu.
“Jangan menghindar begitu, aku sudah bilang kan kau tidak boleh berbohong padaku!” jelas Jakson pula memaksa.
“Aku hanya..”
“Jangan membuat ku mengkhawatirkan mu!” jelas Jakson lagi seraya memegang ke dua sisi bahu Megan.
“Hei, aku bisa jelaskan tapi bisa kau lepaskan aku dulu!”
“Aku minta maaf jika membuat mu khawatir, tapi ini memang tak apa!” ujar Megan menenangkan.
“Mungkinkah yang kau maksud adalah penyakitmu yang tak bisa merasa!” tebak Jakson yang sebenarnya sudah tau bahwa Megan tak bisa merasakan manis, pahit, di lidahnya yang mati rasa.
“Kau tau dari mana?” tanya Megan heran.
“Berarti benar, kau tak bisa merasa, sejak kapan!” tanya Jakson sendu.
“Ini hanya.. sudah tak apa sekarang! Aku baik-baik saja!” jelas Megan.
“Kau sendiri! Bukan kan kau punya phobia” tanya Megan pula.
“Aku tak bisa.. Mengapa aku harus memberi tahu mu?” sela Jakson yang hampir saja membeberkan masalah tubuhnya.
“Aku sudah memberi tahu tentang penyakit ku, masa kau tak mau mengatakan phobiamu itu, mungkin saja aku bisa membantu!” jelas Megan dengan polosnya.
“Apa kau yakin ingin membantu?”
“Memangnya apa yang bisa aku bantu, aku akan melakukannya jika itu yang terbaik untukmu!” jelasnya lagi.
“Hmm, kalau begitu cium aku!” jelas Jakson yang lanhsung saja menyodorkan wajahnya.
“A apa maksudmu!” ujar Megan malu.
“Bukannya kau ingin membantu menghilangkan phobiaku!” ujarnya dengan seringai tipis.
“Be benar phobiamu akan hilang!” tanya Megan ragu yang tak percaya akan ucapan Jakson.
“Hmm..” angguk Jakson mengiyakan.
“Ba baiklah!”
Cup
Megan mencium Jakson di pipi, dan dengan sigap ia menjauh karena merasa malu. Jakson hanya membatu, ia menikmati ciuman yang malu-malu itu.
“Aku ingin lebih”
tegasnya lagi tak puas.
“Apa maksudmu lebih!”
sanggah Megan.
“Tadi itu tidak cukup untuk mengurangi phobiaku”
“Kau mempermainkanku kan!” jelas Megan curiga.
“Tidak! Ini benar untuk phobiaku”
“Sudah, aku tak percaya, aku juga tak ingin tau phobiamu lagi!” ujar Megan kerap berdiri dari sana karena kesal.
Jakson menarik tangan Megan, menghalanginya agar tak melangkah lebih jauh lagi. Ia perlahan menarik kembali Megan agar duduk di sampingnya.
“Aku kan sudah bilang, ia untuk phobiaku” jelas Jakson kemudian mendaratkan bibir seksinya di bibi mungil Megan.
Megan terkejut hebat, ia terdiam kaku seolah terhipnotis. Ciuman Jakson begitu lembut, membuatnya terlena tak bisa menolak.
Di bawa langit malam, suasana indah memancarkan keharmonisan. Jakson tersadar, ia perlahan mejauh dari Megan. Baru kali ini ia berani mencium seorang gadis. Megan tertunduk malu, tak berani menatap sosok di depannya yang baru saja mengambil ciuman pertamanya.
“Apa kau sudah tau phobiaku!” tanya Jakson.
“Bagaimana aku tau kalau kau sama sekali tak mengatakannya padaku!” jelas Megan kesal.
“Aku tidak bisa berhubungan intim dengan wanita!” bisik Jakson di telinga Megan, membuat Megan geli berdebar tak karuan.
“Jadi, kau wanita pertama yang mengambil ciuman pertama ku!” jelasnya lagi dengan seringai tipis menggoda Megan yang kian merona.
“Su sudah jangan di teruskan!” sela Megan kian mendorong sosok itu.
“A aku, ingin kembali ke kamar, se selamat malam!” jelas Megan terbata yang ingin menghindari Jakson.
Dengan sigap, Megan beranjak dari sana. Jantungnya serasa ingin copot dengan wajahnya yang kian merona.
"Hmm, dia sungguh lucu!" ujar Jakson yang seolah puas mempermaikan Megan.
........
Sekian....
Cerita ini di ambil dari novel sederhanaku, "SERUMAH DENGAN AKTOR"
nama dan pemeran utama adalah Jakson dan Megan. Kalau penasaran mampir ke novel ya, jangan lupa tinggalkan jejak.
Terimah kasih atas kunjungannya.
Salam sukses.