"Kata terkecil yang aku tahu adalah ..... aku
Kata termanis yang aku tahu adalah .... rindu
dan orang yang tidak pernah aku lupakan adalah ... engkau
Aku sangat merindukanmu.wahai cinta ku"
Hasan berdiri di bawah cahaya rembulan, menatap kearah lautan bintang di langit malam dalam balutan jubah hitam dan peci hitam menutupi rambutnya. matanya menatap penuh kerinduan, suara pukulan gendang semakin mendekat. tanda perayaan. di iringi suara shalawat mengatar iringan rombongan mempelai wanita memasuki halaman rumah yang di hiasi janur kuning.
Kembali Hasan melantunkan syairnya kerinduan dalam hatinya saat menatap Kearah gadis dalam balutan gaun pengantin syar'i berwarna putih, ia menutupi wajahnya dengan nikap, menyisakan mata sayu penuh kelembutan di kipas bulu mata lentik nanti panjang.
,'Aku merindukan tempat kami duduk dan berbicara sampai subuh. Aku sangat merindukan namamu. aku ulangi
untuk diriku sendiri setiap hari !! Aku merindukan mimpi yang kita impikan. Aku merindukan harapan yang kita harapkan
bersama.
Aku merindukan harapan yang kamu buat untukku. Aku rindu hadiah yang kamu berikan padaku! Aku merindukan kebaikan itu
tidak ada yang bisa ditampilkan !! Aku merindukan kebahagiaan yang bisa Engkau bawa! Aku merindukan hati yang begitu
besar sehingga bisa mencintai seluruh dunia;.
Aku berdiri terdiam di atas pelaminan ini. Berusaha mengabaikan suara-suara bising dari keramaian tamu undangan . Sebenarnya aku takut, tapi aku mencoba untuk menguatkan hati. Kututup mataku, untuk mengingat-ingat dirimu. Aku ingat saat itu. Senyumnya, tatapan teduhnya, tawa lepasnya, semua tentangnya. Aku ingat, setiap menit yang kita lalui. Dia berarti bagiku, namun nampaknya takdir membiarkan kita bersatu. Terkadang sungguh bersyukur Allah mempertemukan aku dengan mu penyempurna iman ku.
Dengan hati-hati aku langkahkan kakiku, menyusuri ruas-ruas kamar pengantin ini. Aku coba memutar kembali semuanya satu per satu. Tentang ‘kita’ yang dulu pernah bersama. Aku ingat, saat pertama kali kau tertawa, membicarakan hal-hal bodoh tentang dirimu.
Menarik tanganku agar aku tidak tertinggal di kerumunan itu. mengutip buku ku yang terjatuh agar tidak terinjak orang lain . Dan usaha mu dalam meminta restu orang tua ku . semuanya terbayang ulang bagaikan sebuah kaset video yang di aktifkan secara tiba-tiba membawa kenyamanan yang tiada tara.
Langkah kakiku terhenti, ketika berada di depan tempat tidur yang di taburi bunga mawar merah berbentuk love , Aku melihat sekeliling, dan tak ku sangka akan menemukannya. Memori itu, saat semuanya berawal. aku mengenalmu pulang bersama.
Duduk di taman dan kau menatapku lalu menyatakan, tiga kata yang tak pernah ku duga sebelumnya dan akan mengubah segalanya. Aku begitu bahagia. Aku. Kamu. Kita. Lucu ketika mengingat semuanya terjadi secara tidak sengaja. Sesuatu yang awalnya biasa menjadi begitu berarti.
Dua bulan, tiga bulan, empat bulan, lima bulan, enam bulan aku menyadari bahwa aku benar-benar menyayanginya. Semuanya berlalu biasa saja. Tapi, tak pernah terpikir olehku bahwa kita akan menjadi seperti ini, tak pernah terpikir cintaku yang dulu bahagia akan menjadi duka. Aku tahu semuanya akan berakhir. Ah tidak, aku tak ingin mengingatnya.
ku tutup lagi semua memori itu dan bergegas bangkit dari tempat duduk kita. Kualihkan pandanganku kepada sekeliling. Aku perhatikan satu per satu orang. Mereka sama sekali tidak peduli padaku. Sibuk sendiri. Bahkan, mereka sama sekali tidak tahu akan kehadiranku. Baiklah, sudah cukup hari ini aku kemari.
Aku segera beranjak dari tempat duduk . Melangkahkan kakiku untuk menyusuri kamar ini yang dulunya Aku pikir, selamanya kau bisa berada disini, di sisiku. Selamanya aku bisa menatapmu. Apakah kamu tahu rasanya ketika seseorang yang sangat berarti tiba-tiba pergi dari hidupmu? untuk selamanya!.Sedih, kecewa Putus asa... hari yang seharusnya bahagia malah menjadi hari duka di antara kita.
Terlalu lama aku mengekang semua emosi ini. Terlalu lama aku berselimut kenangan itu. Terlalu cepat kau meninggalkanku. Aku menghentikan langkahku. Pikiranku seketika melayang, saat kau mengatakan itu, dulu. “Aisyah, aku sayang. Sayang banget sama kamu , Maukah kamu menjadi pendamping hidup ku? Menjadi makmum ku di setiap sudut ku, menjadi ibu dari anak-anak ku, menjadi teman di setiap malam ku, menjadi tempat keluh kesah ku..duhai kekasih hati jiwa dan raga ku di penuhi nafas rindu untuk memilikimu,pikiranku seakan hilang takdapat memikir hal lain selain kamu..kamu wanita pujaan hatiku,istriku ...”
Tanpa terasa air matakumengalir di pipiku. Mengikuti lekuk wajahku, kuresapi setiap rasa di dada ini. Emosiku berantakan ketika mengingat memori itu. Aku kehilangan arah, . Aku buta! akan kerinduan ku,Aku mengikuti kemana langkah kakiku berlari. Berlari meninggalkan semua memori payah dalam ingatanku. Aku ingin memeluk mencium mu wahai imam ku..
Aku semakin memeluk erat tubuh kaku berhawa dingin itu..
"bagunlah wahai suami ku.. bukankah engkau merindukanku,?... ingin tidur dalam pelukanku... hasannn suami ku.. aku mohon buka mata indah mu tatap aku. bukan kah engkau ingin aku menjadi ibu untuk anak-anak mu?.... tahukan kamu ini malam pengantin kita.. hansan bagunlah.. ini sungguh tidak lucu..!.. Hasannn apa kamu lelah,?
tidur lah sekejap, tidak apa-apa aku tidak marah, biarkan aku membersihkan wajah mu suami ku, biarkan aku melepas sepatu mu, menyisir rambut mu, menganti pakaian mu..,
tapi hasan.... bernafas lah.. aku mohonnnn, Jagan takuti aku. ini sungguh tidak lucu.. Sayang "ujar ku lirih sambil melepaskan membersihkannya
. " aku minta maaf hasan..kalau aku melakukan kesalahan tanpa ku sadari..tapi ku mohon bagunlah!! !” Suaraku mulai menaik. Aku mengoyangkan tubuh hasan dalam dekapanku.
Memeluk Hasan yang terbaring dalam tidur panjangnya. Aku menangis sekencang-kencangnya. Meluapkan segala kesedihan dalam dada ini. Melepaskan semua kerinduan yang telah lama tertinggal. Meneteskan air mata dalam emosi tak terkendali ini.
“Terasa lega dan nyaman. Terasa hangat walaupun aku tahu kau tak akan pernah bisa kembali untuk menemuiku, bertegur sapa padaku, ataupun memelukku…” Tangisku pecah kembali, menggenggam tangan mu lebih keras tanpa peduli terasa dingin.
“…memang terkadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Lalu, aku mengetahui bahwa kau tak akan pernah kembali. Mungkin aku terlalu egois karena tidak bisa melihat kenyataan ini. Karena selama ini yang aku tahu, kebahagiaan itu adalah kamu. Aku mencintai kamu Kekasih ku! Seharusnya aku sadar, akan ketulusan mu untuk meminangku saat itu .
Sekarang aku sadar akan ruang yang telah berbeda. Aku mencoba, . Mencoba untuk melepaskan semua ini, tapi tentu saja tidak mungkin melupakannya. Jadi biar seperti ini saja. Kenanganmu, kenangan kita, tetap tinggal di satu sisi hati kecilku.” Aku menghapus air mata yang terjatuh di pipiku, untuk terakhir kalinya. Aku ambil seikat bunga kesukaanmu, Angrek putih dari dalam tasku. Lalu aku letakkan di atas tempatmu terbaring tidur. Aku membaca sebait doa untukmu.. semoga engkau setia menunggu ku di surga ..
Perlahan aku berdiri dan berbalik, meninggalkanmu sendiri disini, hasan Terkadang aku merasa sesuatu, Kerinduan. Rindu akan suara mu akan lantunan syai'ir mu . Tapi, ceritanya sudah berakhir.
Hasan di kehidupan ini tak lain adalah hamparan samudera luas.
Kita renangi dan kita selami kedalamannya
Untuk mencari tiram di dasarnya, dan kita petik mutiaranya
Bahwa selalu ada yang bermakna pada setiap kehadiran dan pertemuan
Dengan bahtera tulus kebersamaan kita berlayar
Untuk saling menjaga dan saling percaya
Dan saat ini.. Saat dimana kita harus lalui waktu
Waktu dimana kita harus mulai maju
Maju untuk sesuatu harapan baru
Mungkin saat ini kita berpisah
Namun semua itu hanyalah sementara
Karena aku akan kembali dan harus kembali
Bukan untuk sekedar mengenang dan melihat
Puing-puing masa lalu bersama mu
Namun karena di situlah tempat akhir peristirahatan ku
Dimana ada engkau dan orang-orang terdekatku.