Vanya adalah seorang gadis biasa yang mengagumi seorang lelaki yang cukup populer. Dia bernama Melvin salah satu bintang kampus yang menjadi idola semua wanita.
Suatu hari di lapangan kampus Melvin dan teman-teman nya sedang bertanding basket, dan Vanya berada di salah satu kerumunan para wanita yang sedang menonton pertandingan tersebut. Saking asik nya Vanya menonton sampai tak sadar bahwa permainan telah selesai dan orang-orang mulai pergi satu per satu hingga tinggal Vanya seorang.
"Vanya! ayo" ucap Luna sahabat nya Vanya.
"eh kok udahan sih?" ucap Vanya.
"ya kamu dari tadi ngapain ngelamun sendiri?" kata Luna.
Vanya berdiri dari duduknya dan mulai berjalan, namun vanya bukan berjalan mengikuti Luna tapi dia malah berjalan ke arah Melvin yang sedang duduk beristirahat.
"nih minum" ucap Vanya sambil menyodorkan sebotol air mineral.
Melvin segera menerima dan melemparkan senyum manis nya ke arah Vanya.
"makasih ya?" ucap Melvin.
Vanya pun duduk di sebelah Melvin dan memperhatikan Melvin yang sedang minum, sementara teman-teman nya mulai pergi meninggalkan Melvin dan Vanya.
"btw selamat ya buat kemenangan nya, kamu keren loh" ucap Vanya memuji Melvin.
"makasih, bukan hanya karna aku, tapi karna semua tim juga dan mungkin juga karna di bantu doa dari kamu" goda Melvin sambil tersenyum.
Vanya yang secara langsung menerima senyuman manis nya Melvin serasa mau pingsan di tempat karna manis nya senyuman Melvin lebih dari gula. Sebagian orang beranggapan kalo Melvin adalah seorang yang sombong, dan jauh dari kata ramah karna sikap nya yang terkadang dingin melebihi suhu kutub.
Namun setelah tau dan dekat dengan nya ternyata dugaan itu salah, Melvin adalah orang yang baik dan mempunyai senyuman yang manis, walau orang nya mageran tapi kalo udah bersangkutan dengan yang namanya basket dia akan berubah menjadi semangat karna itu merupakan salah satu hobi nya.
"ahh iya, kamu pasti belum tau nama aku kan?" tanya Vanya.
"hm?" jawab Melvin dengan singkat.
"aku Vanya salah satu penggemar berat kamu" ucap Vanya sambil tertawa kecil.
"kamu menggemaskan" jawab Melvin menggoda Vanya.
Mulai saat itu Vanya dan Melvin terlihat dekat dan akrab, sampai kemana-mana mereka selalu berdua, hingga membuat beberapa orang iri melihat nya, tak terkecuali Luna sahabat nya Vanya.
"Vanya.." panggil Luna.
"kenapa?" jawab Vanya.
"kamu udah jadian sama Melvin?" tanya Luna dengan penasaran.
"jadian? hahaha" ucap Vanya sambil tertawa.
"apanya yang lucu sih? orang nanya malah di ketawain" ucap Luna dengan nada sedikit kesal.
"iya maaf, aku mana mungkin jadian sama dia, kita berbeda jauh Lun" jawab Vanya.
"sudahlah lupakan" ucap Luna.
**
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Kedekatan Vanya dan Melvin semakin dekat mungkin saat ini bisa di bilang mereka menjalin hubungan, masing-masing punya pekerjaan sendiri setelah lulus kuliah selain mengurusi perusahaan papa nya Melvin juga merupakan seorang atlet basket yang berprestasi.
Sementara itu dengan Vanya dia memiliki jabatan sebagai seorang manager di salah satu perusahaan di kotanya. Setiap ada waktu luang Melvin dan Vanya selalu menyempatkan waktu untuk bertemu hingga saat itu pun tiba.
Saat bertepatan dengan ulang tahun Vanya saat itulah Melvin melamar Vanya secara resmi untuk menjadi pendamping hidup nya.
"Vanya Will you marry me?" ucap Melvin sambil berlutut.
"yess" jawab Vanya dengan singkat tapi jelas.
Sejak saat itulah mereka resmi menjalin hubungan dan menuju ke jenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan.
Vanya segera berbicara dengan kedua orang tua nya, begitu pun juga dengan Melvin, mereka saling memberitahu kabar gembira ini kepada kedua orang tua mereka masing-masing. Namun semua itu tidak sesuai dugaan dan harapan.
"Vanya, apa kamu sudah memikirkan nya dengan baik-baik?" tanya papa Vanya.
"aku mencintai nya pa, aku menyayanginya dan aku ingin memilikinya sebagai suami aku" jawab Vanya dengan nada sedih.
"Van, ingatlah kita dan dia berbeda, mama yakin kamu ngerti itu" ucap mama Vanya.
Vanya yang mendengar ucapan kedua orang tuanya segera pergi menuju kamar nya dan mengurung diri beberapa jam sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pergi menemui Melvin.
"kenapa kita harus berbeda? apa yang harus aku lakukan? selama ini aku mencintainya bahkan lebih dari sekedar cinta" ucap Vanya dalam tangis nya.
Setelah cukup lama menangis, Vanya memutuskan untuk pergi menemui Melvin, mereka bertemu di sebuah taman yang tak jauh dari rumah Vanya.
"hey sayang" ucap Melvin yang baru aja datang.
Vanya yang menoleh ke arah Melvin hanya tersenyum dengan mata sembab nya.
"astaga Van, kamu kenapa? mata kamu kok sembab? kamu abis nangis?" tanya Melvin dengan beberapa pertanyaan dan rasa khawatir.
"hiks.. aku gak tau harus berbuat apa Vin" Vanya yang membuka suara nya seketika langsung menangis mengingat dengan apa yang di ucapkan kedua orang tuanya.
Melvin pun mencoba merangkul Vanya dan menghapus air mata nya. Setelah sedikit tenang akhir nya Vanya menceritakan semua nya kepada Melvin.
"lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Melvin.
"aku bingung vin, aku sayang kamu tapi aku gak bisa menentang kedua orang tua aku, aku harus apa?" ucap Vanya dengan air mata yang berlinang.
"aku ngerti Van, jika jalan ini yang terbaik, aku bisa menerima nya, aku juga sadar bahwa kita emang gak sama keyakinan kita berbeda, dan itu bagaikan tembok besar yang gak akan pernah bisa kita tembus" jelas Melvin dengan panjang lebar.
"maafin aku vin, mungkin kita emang di takdirkan tidak untuk berjodoh" ucap Vanya.
"ya, semoga kamu bisa mendapatkan jodoh terbaik kamu yang seiman dan bisa menyayangi kamu lebih dari aku sayang ke kamu" ucap Melvin.
"Melvin sayang Vanya"
itulah kata terakhir yang Melvin ucapkan sebelum akhirnya dia pergi ke luar negri meninggalkan Vanya.
~END~