Acanestia dan Ayanesia dua saudari kembar 20 tahun asal Desa Heboh. Kembar? Yap aku dan Aca adalah saudari kembar. Walau banyak yang ragu akan hal itu. Selain karena muka kami yang sedikit berbeda aku lebih menguasai bidang kepenulisan sedangkan Kak Aca lebih menguasai bidang komedi.
Sedikit akan ku ceritakan kisah pengalamanku ketika mengikuti ajang lomba antologi cerpen yang diadakan komunitas Rumpun Pena Sastra pada 12 oktober 2020. Kisah ini sangat bersejarah bagiku, mengingat kala itu aku tersadar akan berartinya seorang Kak Aca untukku.
**
Sore hari tenangku yang ditemani secangkir kopi dan buku sepertinya akan segera berakhir kala terdengar suara langkah kaki mendekat. Mungkin setelah kepergian Bunda aku semakin membenci hal-hal yang berisik. Seperti dia.
“Ay- Ay,” Panggil Kak Aca yang tengah mengusik waktu tenangku
“Hem,” Aku masih belum mengalihkan pandangan dari buku novel yang kubeli dengan judul ANTARIKSA
“Kenapa ada gajah yang ekornya pendek?” Aku memutar bola mataku dengan malas. Kenapa yang ada dipikirannya hanya jokes-jokes aneh? Apa ia terlalu banyak mengonsumsi kadal mesir?
“Karna gajahnya sunat, puas lo,” Aku meninggalkan Kak Aca yang sudah mau protes panjang kali lebar.
“Konsepnya gak gitu Aya,” Ia terus-terusan memprotesku sampai di depan bilik kamarku. Akupun menahannya yang hendak masuk kedalam.
“Stop my sister, I don’t mudeng with your jokes and please be silent,” Setelah mengatakannya aku menutup pintu kamar dengan keras seakan tidak memperdulukan Bang Affri yang tengah membahas acara pernikahannya dengan sang calon.
“Dek Aya kaya preman deh” Protes Bang Affri yang kubalas dengan kata bodo amat
Dengan perasaan sebal aku menghempaskan tubuh krempengku ini ke-atas ranjang yang lumayan empuk sembari membayangkan tentang event antologi cerpen komunitas Rumpun pena sastra. Benefit eventnya cukup membuatku tercengang. Pasalnya Rumpun pena sastra akan membantu cerpen-cerpen pemenang untuk sampai ke-penerbit mayor.
“Ayanesia buka pintunya. Aya … mana bisa gajah ekor pendek karena sunat,”Aku menutup kedua telingaku dengan bantal. Kak Aca memang tidak akan pernah membiarkanku hidup tenang dan damai.
“His dasar adek sialan, batu sungai, buriq, buluk, dekilan,” Aku mendengar gumanannya dengan perasaan kesal. Yang jarang mandi kan dia, ais lupakan.
“Kak … lu bisa gak sih berhenti berisik setiap hari, kuping Aya panas nih,” Protesku dengan nada sedikit membentak.
“Ya maaf Ay …. kan gue niatnya ngehibur elu biar gak kesepian,”
“Hiburan lo tuh sampah tau gak,” Marahku
Aku memejamkan mataku sejenak dan berpindah posisi tidur terlentang menjadi miring menghadap ke-kiri. Ku pandangi foto almarhumah bundaku dengan perasaan sendu.
“Bunda … Aya kangen banget sama Bunda …,”
Hening sejenak
“Engga-engga. Yang penting sekarang Aya harus buktikan kepada orang-orang kalau Aya bisa seperti Bunda,” Ucapku ketika memandangi foto almarhumah Bunda yang sedang memeluk diriku dan Kak Aca. Benar, Bundaku dulunya ialah seorang penulis yang karyanya sempat meledak ketika beliau masih remaja. Dulu saat usiaku menginjak sepuluh tahun beliau menghembuskan nafas terakhirnya karna sebuah tragedi gempa bumi.
“Sekarang harus semangat. Aya harus jadi penulis yang hebat, Bunda disana pasti bangga” Monologku. Aku tiba-tiba menjadi sangat bersemangat. Apa ini efek karena Bunda? Ais yasudahlah pokonya aku harus melanjutkan cerpenku.
**
Mentari menyambut pagi dengan senyuman, membangunkanku yang sempat terlelap di meja belajar. Aku merenggangkan otot-ototku sebelum kembali beraktifitas.
Drap drap
Langkah kaki ringan, Aku sudah menduga itu ialah Kak Aca yang ingin membangunkanku.
Tok tok tok
“Aya bangun bentar dong … k-kakak minta maaf ya yang kemarin, maafin kakak yang gangguin kamu melulu,” Aku tak berniat membalasnya. Biarkan ia introspeksi dengan dirinya sendiri.
“Oh ya Ay. Kakak mau ikut kompetisi stand up, kakak pamit ya rabu depan mungkin baru pulang, kalau gak lolos sih. Kamu jaga diri dirumah,” Setelah mengatakannya terdengar kembali dalam telingaku langkah kaki ringan itu mulai mejauh. Sedih dan gembira seakan bercampur aduk di dalam lubuk hatiku ketika ia berkata ‘pamit’ sekuat itukah ikatan batin? Entahlah.
Aku membuka gorden jendela kamarku kala terdengar suara mesin mobil mulai menyala. Sedikit sedih karna akan berpisah lama dengannya. Apalagi kalau ia lulus dan masuk ke babak-babak selanjutnya. Pasti itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Kenapa tiba-tiba aku merasa bersalah ya? Ketika mobil mulai menjauh ku angkat sedikit tanganku untuk melambaikannya pelan kearahnya. Semoga berhasil Kak Ca, batinku.
Aku perlahan berjalan menuju pintu kamarku. Mandi dulu lah pikirku. Namun ketika ku buka ternyata Kak Aca meninggalkan makanan di depan pintu kamarku. Untung tidak tertendang. Aku mengambil sepiring nasi goreng beserta jus wortel buatannya.
Untuk Ayanesia
Maaf ya gue sering gangguin lo Ay. Semangat. Aya katanya mau ikut event. Aca doain Aya juara ya. Sayang banget sama Aya.
“hum,”Aku mengerucutkan bibirku ketika membaca surat kecil itu, ternyata makhluk berisik itu bisa bersalah juga ya. Aku meletakkan makanan itu di atas meja belajarku dan segera mengambil handuk untuk mandi.
**
Siang ini nampak begitu sunyi tak seperti biasanya. Ayah dan Abang sedang bekerja. Hanya ada Bi Narti yang sedang mencuci piring. Sekilas aku memandangi kamar Kak Aca yang nampak begitu alay dengan gambar lancelot mobile legend dan beberapa karakter lain di sana. Aku mendekati bilik kamarnya dan sekilas mencoba membukanya. Aha tak terkunci rupanya, aku pun tanpa ragu masuk dengan izin yang diajari Bang Affri.
“Aya masuk ya kak ca? Boleh? Ow okey,” Kamar Kak Aca sangat rapi sebelas dua belas lah dengan kamarku. Lemari putihnya sekilas ia tempeli dengan gambar Zayn malik, Jarwo kwat, Raditya dika dan fotoku. Menarik, pikirku. Aku melangkah kembali keranjang miliknya yang berseprai Boboiboy. Merebahkan diriku disana sembari melihat langit-langit kamarnya. Kamar Kak Aca sangat wangi dengan bau lavender. Menenangkan.
Sejenak aku berfikir, mengapa aku tak mengecek meja belajarnya, ya?
Aku bangkit dan menatap sebuah meja dan kursi kayu bercat putih dengan penasaran. Bukunya sedikit namun banyak sekali kertas yang tertempel di sana. Karena penasaran aku langsung mendekat dan mengecek kertas-kertas kecil itu.
Ayanesia & Acanestia story
Mencoba mendekat denganmu dan menjadi pengganti bunda untukmu, walau kau menutup dirimu aku tak akan menyerah untuk tetap menjadi orang terdekatmu.
Ayanesia & Acanestia story
Mencoba asik agar dapat membuatmu lupa akan rindu dengan bunda, namun ku bingung bagaimana caranya.
Ayanesia & Acanestia story
Mencoba menjadi teman dekatmu dan menhiburmu setiap waktu
Ayanesia & Acanestia story
Mungkin bangimu aku terlalu berisik
Ayanesia & Acanestia story
Semoga menang untukku dan kamu
Ayanesia & Acanestia story
Gajah-gajah apa yang ekornya pendek?
Aku berhenti sejenak karna tak mampu menahan air yang keluar dari mataku. Kata orang rasanya memang asin namun air ini berasal dari hal sendu. Aku mencoba menelfone Kak Aca harap-harap dapat memberitahunya mengapa gajah berekor pendek, mungkin sedikit menghibur dirinya dan mengurangi bebannya agar ia dapat fokus nanti.
Drt drt drt
“Ya hallo?”Aku tersenyum ketika ia mengangkat telfonku
“Kakak …,”Aku masih mencoba menetralkan nafasku karena susah bagiku untuk berbicara dengan keadaan seperti ini
“Kenama Ay? Kakak mau tampil nih,”
“Gajah yang ekornya pendek itu anak gajah kak,” Terdengar ia seperti berteriak kegirangan
“Salah Ay, jawabannya yang bener itu ya mana gua tau orang gua nanya”
“Ck, serah lu aja dah dasar blasteran kuyang.” Terdengar tawa khas Aca dari sebrang sana, membuatku lega. Aku mematikan telfon sepihak dan melangkah keluar dari kamarnya.
**
Pagi hari ini aku dengan semangat menirim antologi cerpenku yang berjudul ‘Ayanesia & Acanestia story karna gajah’ ke-salah satu nomor panitianya. Rasa lega bercampur dengan deg degan membuatku mondar-mandir dari timur ke barat selatan ke utara. Aku tak menyangka ide fantastis itu akan tiba-tiba datang kepadaku. Ini semua karena kak Aca. Aku akan berterima kasih kepadanya ketika pulang nanti.
Aku mengganti cerpenku dari awal, yang dulunya berjudul Ayana medan perang menjadi Ayanesia & Acanestia story. Ceritanya aku karang secara ulang. Agak susah tapi aku bisa menyelesaikannya tepat waktu. Aku merebahkan tubuhku sendiri di atas sofa hijau yang ada di ruang keluarga sembari menekan tombol remote televisi untuk mencari berita.
Drt drt drt
Panggilan masuk
Kak Aca heboh
Aku mengangkatnya dengan malas. Baru saja terangkat kupingku serasa meledak mendengar teriakannya
“Aya … Gua lolos babak ketiga Ay gua lolos,”
“Biasa aja kale jan treak-treak, lu lama-lama ganti spesies deh keknya dari kuyang Mesir jadi gorila Mesir,”
“Jan ngadi-ngadi lu, masa cantik-cantik gini dibilang gorila” Aku terkekeh karna candaannya.
Hening sejenak…
“Bay the jalan jadinya lu gak pulang rabu?” Tanyaku
“Rindukan lo? Haha ngaku aja deh Ay, gue balik 1 bulan 15 hari lagi kalau menang. Doakanlah kakak ya adik…,”
“Alay,” Potongku
“Muehehe… Udah dulu ya Ay gue mau latihan,”
“Hm” Kak Aca memutus telfon sepihak. Aku merebahkan tubuhku dengan kasar ke atas ranjang.
“Gue berharap yang terbaik kak,” Ucapku sembari menyunggingkan senyum manisku. Entah mengapa sejak tahu kalau Kak Aca sangat sayang padaku sampai-sampai menggantikan posisi Bunda untukku. Menghiburku, selalu ada disisiku dan tak membiarkanku merasa kesepian.
**
Jika ada yang bilang kakakku menang, salah. Ia kalah ketika memasukki babak lima besar. Saat itu pertama kalinya aku melihat ia pulang dengan mata memerah dan rambut yang kusut. Komika bisa galau ya rupanya, pikirku.
“Gue bikinin sop cicak ya kak?” Tanyaku menggoyangkan badannya yang tengah tidur tengkurap. Setelah kepulangannya ia malah mengurung diri dan terlihat seperti zombie.
“Buatin gue es teh anget Ay,” Aku mengangguk dan keluar kamar. Eh tapi tunggu, seperti ada yang aneh. Aku kembali dengan muka kesal dan langsung menindih dan menggelitikinya.
“Lo ngerjain gue ya kak. Gue kan belajar baik ish … kadal lo ah,” Ia hanya tertawa dan menarikku kedalam pelukannya.
“Setidaknya gue masih bisa ngelawak buat elo Ay,” Aku membalas pelukannya, hangat.
“Lo kan bisa ngelawak, kenapa gak bantuin gue bikin novel humor?” Ia seperti sedang menimang-nimang sebuah keputusan.
“Bukannya event lombanya udah selesai?” Tanya si kadal mesir yang bergerak untuk menyender dengan tumpuan bantal
“Ada event lagi, pengumuman event Rumpun pena kan minggu depan. Nah gue ditawari komunitas publisher buat bikin novel humor,” Aku menjelaskannya panjang kali lebar harap-harap ia faham.
“Kalau Aya yang minta apa boleh buat,” Ia beranjak dari ranjang dan berlari keluar. Syukurlah.
**
Aku menunggu pengumuman event dengan Kak Aca disampingku. Jujur aku sangat deg-degan dengan hasil akhirnya. Kakak berulang kali mengelus tanganku dan bertanya pertanyaan konyol agar aku tidak tambah gerogi.
“Orang yang renang rambutnya gak basah itu orang botak Ay,” Sudah sekitar sebelas pertanyaan konyol ia berikan dan jawab sendiri.
“Ay…,” Aku memutar kepala menghadap ke-arahnya
“Apalagi sih kak?”
”Kalau manusia bernafas dengan hidung ikan bernafas dengan?”
“Insang” Jawabku yang langsung disalahkan olehnya
“Salah Ay… jika manusia bernafas dengan hidung ikan bernafas dengan …. ijin Allah,” Aku memukul pundaknya dengan kesal namu ia malah tertawa seperti orang kesurupan.
Ting
Karena tak sabaran aku langsung menyambar handfoneku merk oppo dan membuka e-mail yang dikirimkan komunitas Rumpun Pena Sastra. Aku hanya fokus dengan tulisan bercetak tebal
Ayanesia winda maestia. Anda terpilih sebagai juara dua event antologi cerita pendek yang diselenggarakan oleh komunitas Rumpun Pena Satra. Rasanya sunnguh mengesankan aku langsung memeluk Kak Aca yang tadinya ikut membaca e-mail itu.
“Gue menang kak,” Ia dan aku berjoget bersama. Jujur aku tidak pernah menduga cepen anehku itu bisa memenangkan event dengan jumlah peserta tigaratus empat puluh lima. Walau tidak mendapatkan juara satu tak apalah pikirku. Karena yang terpenting adalah pengalamannya.
Ia berhenti sejenak. Raut wajahnya seperti sedang serius, tumben. Ia menyunggingkan senyuman yang membuatku terpaku sejenak. Kak Aca sangat manis, mirip dengan Bunda.
“Kakak harap kamu tetap seperti ini Ay,” Aku tercengang dengan perkataanya sedikit mengingat bagaimana Bunda tiga hari sebelum kepergiaanya Bunda harap kamu tetap bahagia ya Ay. Aku tersenyum ke-arah Kak Aca.
“Kakak juga, makasih ya Caca udah mau ngehibur Yaya udah mau gantiin posisi Bunda buat Yaya udah berusaha bikin Yaya bahagia. Yaya sayang banget sama Caca,” Caca dan Yaya ialah panggilan kami saat masih kecil.
“Caca bahagia selalu buat Yaya,” Ia memelukku erat.
**
Kejadian hari itu tak akan pernah kulupakan walau sudah berlalu lima tahun jika dihitung sampai sekarang. Hal yang paling khusus ialah di bagian Gajah, haha.
Aku masih belum rela saat Kak Aca menikah dengan lawan kompetisinya dulu, Kak Bagas namanya. Mereka baru saja dikaruniai dua orang gadis cantik bernama Riana dan Dheana.
Lalu bagaimana dengan kelanjutan perjalananku? Hem … Ayanesia sedang fokus untuk mencipatakan berbagai karya baru. Sebenarnya aku sedang menjalin kasih dengan Kak Daffa, seorang mahasiswa kedokteran, namun hubungan kami tak seromantis orang-orang karena Daffa sangat tekun dan disiplin dalam perkuliahannya. Pastinya aku selalu mendukung apapun keputusannya.
From : Kak Aca
Aya … bilangin Ayah kalau aku, mas bagas sama anak-anak mau mudik besok ya
Anda
Jangan lupa oleh-oleh ya kak:)
Sepertinya rumah ini harus didesign kembali sebelum ia datang. Mungkin sprei Boboiboy dan gambar Jarwo kwat akan membuatknya ingat sesuatu, akan ku bereskan.
Selamat membaca
**
Jadikanlah kisahku sebagai pelajaran untukmu agar selalu sayang dan menghargai apapun yang saudaramu lakukan. Mungkin ia sedang mencoba dekat atau menghiburmu. Saudaramu lebih mengerti isi hatimu.
Salam cinta dari Aya