SYAFI
(Kabar Gembira Dari Sebuah Rasa Ikhlas)
Abian Barry telah berpacaran dengan Zhafira Qirani lebih dari 5 tahun, semenjak mereka SMA. Hubungan mereka selama ini berjalan dengan baik tanpa ada orang ketiga. Namun, saat Zhafira meminta Abian untuk menikahinya, pria itu menolak, menghilang tanpa kabar, sehingga Zhafira patah hati. 3 tahun lamanya Zhafira sendiri, tanpa memiliki kekasih hati lagi, sampai datang seorang pria bernama Adnan Basil datang melamarnya, karena perjodohan keluarga. Zhafira menerima dan bersedia menikah dengan pemuda berwajah manis itu.
Siapa sangka, rupanya Zhafira masih memikirkan Abian selama ini. Dia bahkan sudah berdo’a agar Tuhan menghilangkan rasa yang ia miliki untuk lelaki yang tak pernah berniat serius padanya. Tak terasa pernikahan Zhafira dengan Adnan sudah berjalan 9 tahun dan mereka belum dikarunia anak, bahkan mereka telah berobat kesana kemari, meminum dan memakan obat rekomendasi dari teman-teman dan Dokter pilihan, serta pijat kesuburan hingga suntik penyubur.
“Bang, maaf aku belum bisa hamil. Jika aku belum hamil sampai umur 40 tahun atau aku memang tak pernah bisa hamil, apakah kau akan meninggalkanku?” tanyanya pada Adnan di suatu malam.
Adnan menatap Zhafira lekat, lalu membelai lembut wajah istrinya. “Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu yang tak memiliki kesalahan apapun, hamil atau tidak hamilnya dirimu bukan kesalahanmu, tetapi ini takdir dan ujian kesabaran untuk kita. Jangan pernah memiliki pikiran seperti itu.”
“Jika aku diposisi tak bisa menghamilimu, lalu kau meninggalkanku, aku akan sangat bersedih. Jadi, mana mungkin aku mampu membuatmu merasakan kesedihan itu.” Sambung Adnan, kemudian mengecup kening Zhafira lembut.
Zhafira benar-benar merasa sangat tersentuh, ia sangat bersyukur memiliki suami yang baik seperti Adnan. Ia yang awalnya tak bisa memasak, melakukan pekerjaan rumah lambat, keras kepala dan egois, tetapi bisa disikapi dengan sabar oleh Adnan selama ini.
“Oh ya, persiapan untuk pulang kampung sudah selesaikan? Takutnya ada yang ketinggalan.”
“Sudah beres semuanya, Bang. Kamu baik-baik di sini ya! Jaga hati.”
“Insyallah, hanya ada namamu di sini.” Adnan menunjuk dadanya, lalu memeluk Zhafira.
Saat Zhafira telah sampai dikampungnya, ia bertemu dengan mantan kekasih hatinya, lalu dadanya berdebar dengan kencang. “Ya Allah, hamba mohon, lumpuhkanlah hati hamba tentang cinta padanya, hancurkanlah sisa rasa yang ada untuknya. Ya Allah, hamba mohon… Izinkan hanya ada nama suami hamba di dalam hati hamba, begitu pula dengan suami hamba. Ya Rabbi, Engkaulah yang Maha Pembolak-balikan hati manusia, Aamiin…” Do’a Zhafira dalam hati.
“Hai Zhafira, apa kabar?” sapa Abian saat Zhafira berselisih dengannya.
“Ya, Wa’alaikumsalam. Kabar saya baik.”
“Alhamdulillah.” ucap Abian
“Permisi.” pamit Zhafira, ia berniat pergi, tetapi dicegah oleh Abian.
“Tunggu Zhafira, aku ingin berbicara denganmu, beri aku waktu sebentar,” kata Abian.
Dan akhirnya, Zhafira berbicara dengan Adnan di halaman rumah Tantenya.
“Maaf, saya tidak bisa berlama-lama, tidak baik berdua-an di sini, kita bukan mahram.”
“Maaf mengganggu waktumu. Apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu?”
Zhafira tercengang akan pertanyaan aneh yang dilontarkan Abian padanya, “Apa maksud kamu dengan pertanyaaan itu? Tentu saja saya bahagia.”
“Syukurlah jika kamu bahagia, aku juga bahagia mendengarnya,” ucapnya sendu.
“Jika suatu hari kamu tak bahagia atau dia menyakitimu, maka temui dan katakan padaku. Aku di sini selalu ada untukmu, dengan perasaan yang masih sama seprti dulu.” sambung Abian kembali.
Zhafira terdiam cukup lama, begitupula dengan Abian.
“Kenapa kamu berkata seperti itu sekarang? Selama ini kemana saja dirimu? Kamu hilang tanpa kabar. Dan sekarang kau mengatakan perasaanmu masih sama seperti dulu padaku. Apakah kamu pura-pura bodoh? Aku telah menjadi istri orang, bagaimana mungkin kau mengatakan perasaanmu pada istri orang lain, hah?!” seru Zhafira, kemudian tak terasa airmatanya juga ikut mengalir.
Sedari dulu ia memendam perasaan pada Abian, dan berusaha sekuat hati melupakannya, sekarang pria itu menggoyahkan imannya, cobaan apalagi ini?
“Maafkan aku Zhafira, aku terlalu percaya diri, aku terlalu egois dan berbangga hati bahwa kamu akan selalu setia dan menungguku, tanpa aku memberi kabar padamu. Selama ini, bukan maksud hatiku menghilang tanpa kabar.” ucap Abian pelan, lalu ia menghela nafas panjang.
“Aku malu dengan kondisiku yang miskin dan pengangguran, sedangkan keluargamu berkecukupan, aku merasa tak mampu membahagiakanmu di pernikahan kita nanti. Jadi, aku berusaha mencari kerja, diam-diam mengumpulkan uang untuk melamarmu. Aku berniat memberimu kejutan…” jelasnya lirih.
“Namun, usaha dan kedatanganku sangat terlambat. Aku sangat menyesal tak menyatakan niatku padamu saat itu.” Abian menghela nafas getir. Ia menggigit bibir bawahnya, menekan agar airmatanya tak tumpah. Namun, air mata itu mengalir tak bisa dibendung.
Begitupula dengan Zhafira, terkejut, senang dan sedih bercampur menjadi satu. Ia senang, karena perasaan yang menyakitkan yang ia pendam berbalas, bahwa Abian memperjuangkannya. Namun, ia sedih, semua itu telah sia-sia, tak mungkin ia mengkhianati suaminya yang baik hati.
“Jangan terlalu dipikirkan Zha, aku hanya ingin memberitahumu, aku tak memintamu membalas perasaanku, apalagi memintamu meninggalkan suamimu karena diriku. Sungguh berdosa dan hinalah aku, jika meminta itu. Jagalah pernikahanmu, cintai suamimu, jadilah istri yang baik. Semoga kamu segera memiliki keturunan. Aku ikhlas jika kamu bahagia, aku akan selalu mendo’akan kebaikan dan kebahagiaan untukmu,” kata Abian.
“Aku ikhlas jika kamu bahagia, mungkin kita belum berjodoh. Terimakasih untuk kenangan kita selama ini, semoga kamu selalu bahagia Zha, Assalamu’alaikum.” ucapnya tersenyum.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Zhafira.
Abian berjalan pergi meninggalkan Zhafira dengan kesedihan yang dalam, sedangkan Zhafira memandangi punggung Abian yang tak pernah berbalik menolehnya setelah pergi. Entah kenapa, setelah ia bertemu Abian perasaan yang sesak mulai hilang. Apakah selama ini dia terlalu merindukan sosok pria itu? Ataukah jawaban dari menghilangnya Abian telah terjawab.
Setelah urusan Zhafira selesai di kampung, ia bergegas kembali pulang, ada rasa rindu yang sangat besar untuk suaminya. Sesampainya di rumah, ia langsung memeluk dan melepaskan rasa rindu yang membuatnya terbang ke surga.
Semakin hari perasaannya semakin bergelora untuk suaminya, perasaan merindu yang selama ini tak pernah ia rasakan, hadir setiap menit untuk suaminya, seolah ia sedang pertamakali jatuh cinta. Begitupula dengan bayangan Abian pun menghilang perlahan.
“Ya Allah, saya ikhlas memaafkan Abian, saya ikhlas melepaskan rasa yang selama ini terpendam. Ya Rabbi, saya ikhlas menerima jodoh yang telah Engkau berikan. Saya ikhlas menerima semua takdir dari-Mu.” Zhafira melantunkan do’anya di suatu malam, saat ia teringat perkataan Abian.
Satu bulan kemudian, Zhafira terpekik melihat tespek bergaris dua, yang menandakan ia positif hamil. Ia segera memberi kabar pada suaminya, sehingga mereka dengan cepat menemui Dokter Kandungan dan melakukan USG.
“Alhamdulillah.” Zhafira dan Adnan berseru, lalu bersujud syukur. Mereka sangat bahagia melihat hasil USG yang menunjukkan usia bayi mereka telah berusia 4 minggu.
Waktu terus berlalu, hingga kehamilan Zhafira memasuki waktu untuk melahirkan. Adnan menggenggam tangan Zhafira menguatkannya, sembari dalam hati berdo’a untuk keselamatan Zhafira dan calon anaknya.
Owa!!! Owa!!! Owa!!! Suara tangisan bayi pun terdengar. Persalinan yang dilakukan Zhafira berhasil. Ia dikarunia seorang bayi laki-laki.
Adnan mengadzankan putranya, lalu memberikan nama IZQIAN SYAFI, dengan panggilan Syafi, yang artinya kabar gembira dari sebuah kebaikan. Zhafira memeluk putranya, lalu menciumnya.
“Ya Allah, terimakasih telah memberikan kepercayaan ini untukku.” ucapnya dalam hati.
________ TAMAT________