Rehan seorang pria dengan wajah manis dan jiwa yang hangat, tak ada seseorang pun yang bisa mengabaikannya. Selain tampan Rehan terkenal dengan banyaknya penggemar ya itu dikarenakan prestasinya yang tidak dii ragunakan lagi dan aku termasuk salah satu penggemarnya hehe. Seorang pengagum cuma bisa mengagumi bukan?
Pulang sekolah seperti biasanya aku selalu menunggu temanku untuk di jemput ibunya. iya ini adalah salah satu teman karibku yang selalu setia bahkan menerima seluruh curhatan ku yang tak berguna. Bisa di tebak dialah satu-satunya orang yang tau jika aku sangat mengagumi sosok Rehan.
" Lebih baik kau jangan berhubungan dengan kakak senior kita deh," saran Intan.
"Kenapa?" tanya ku penasaran. karena beberapa hari intan terlihat sangat aneh apalagi jika berhubungan dengan Rehan.
"Jangan deh, entar kamunya kecewa. Apalagi kan kau tau sendiri Kak Rehan itu selain pintar dia juga banyak penggemarnya." jelas Intan.
"Panti kau punya alasan selain itukan? ayolah jujur sama aku" Intan terdiam dia bingung harus menjelaskan apa pada sahabatnya itu. tidak mungkin ia mengatakan jika Rehan sudah memiliki pacar. ah bagaimana ini?
"Jujur? ah ... aku sudah jujur sama kamu Sa!" Sania mencurigai sikap Intan. 'pasti dia menyembunyikan sesuatu' batin Sania.
"Jangan berbohong Ntan! pasti kau juga tau sesuatu apa ini menyangkut pacar si Rehan?" tanya Sania.
"Tuh kamunya tau. jadi hentikanlah" ucap Intan memohon karena ia tidak mungkin membiarkan sahabatnya merebut pacar orang.
"Nih nih kalau punya sahabat tapi pikirannya negatif mulu" Sania menjitak kepala Intan. intan menahan sakit karena jitakan Sania.
"Awww... sakit Sa" pekik Intan memegang bekas jitakan Sania.
"Lagian kamu apaan sih, jangan berpikir macam-macam. Aku cuma mengagumi dan bukan merebut pacar orang. Dan kau tau sendiri kan sahabatmu gak akan merebut milik orang" jawab Sania mendengar hal itu intan merasa lega. ternyata Sania bukan tipe orang yang memaksakan kehendak.
beberapa saat kemudian ibu dari Intan telah sampai. Dan tak lupa Intan mengancam Sania agar tidak berbuat macam-macam.
Disaat bersamaan Rehan bersama dengan beberapa temannya datang. Sania terpaku sampai tidak bisa menjelaskan apa yang saat ini ia rasakan.
Sania mencoba tidak memandang Rehan tapi bagaimana caranya jika. Rehan telah duduk bersebelahan dengannya. Rasa canggung tiba tiba datang. di dalam hati Sania seakan ingin berteriak apalagi ada seseorang yang ia kagumi berada di sampingnya, membuatnya salah tingkah namun tetap di tahan dengan ekspresi datar agar Rehan tidak curiga jika ia mengaguminya.
" sendirian?" sapanya memecah lamunan Sania. di dalam hatinya bertanya ' dia menyapaku ? Mimpi apa aku semalam ?.
"Kau tak apa-apa?" tanya Rehan namun Sania tak merespon membuat Rehan bingung. 'nih cewek kenapa coba? ah moga moga dapat lampu hijau hehe' ucap Rehan dalam hati.
melihat Rehan yang tersenyum Sania pun memberanikan diri bertanya. jantungnya tidak bisa di kondisikan. jantungnya berdegup kencang.
" ah ... tidak.. a..aku tidak apa.. apa" jawab Sania dengan gugup. Rehan menampakan deretan giginya yang putih. Rehan tertawa melihat Sania salah tingkah.
"Mukamu lucu sekali haha... " ucap Rehan masih dengan tawanya.
Sania khawatir jika ada yang melihat keakraban mereka pasti orang orang mengecap dirinya sebagai perebut pacar orang.
Sania memandang Rehan Ragu. "Apa yang mau kau tanyakan?" tanya Rehan tersenyum simpul.
"Apakah tidak ada yang marah jika kita seperti ini?" tanya Sania Ragu namun Rehan kembali tertawa.
" siapa? siapa yang akan marah?" jawab Rehan.
Merasa tidak enak dengan anggapan orang lain akhirnya Sania memutuskan untuk mengakhiri obrolan mereka. tidak dapat di pungkiri Sania merasa sangat senang bisa mengobrol dengan Rehan tapi disisi lain dia tau jika Rehan harus menjaga hati orang lain.
Rehan masih memandangi Sania. Belum juga tau nama gadis itu, dianya sudah biru buru kabur ah setakut itukan gadis itu padanya?.
Teman Rehan yang melihat aksi penolakan pun tertawa renyah seakan mengejek Rehan.
"Dih yang barusan di tolak" canda Kevin.
Rehan memanyunkan bibirnya dan mengacak acak rambutnya yang hitam.
"Baru kali ini gua di tolak cewek" imbuh Rehan tak percaya.
"Menurut kalian semua apa kekurangan gua sih? Tampan? iya pintar? juga iya nih apaan yang kurang ?" tanya Rehan pada teman temannya.
"Pasti gara-gara Lo itu mudah tersenyum pada orang. nih kali kali dingin ngapa pada mereka. Mereka baru melihat senyuman Lo ajah udah meleleh, klepek-klepek nih coba gua yang tersenyum jangankan cewek lalat ajah gak tertarik" pekik Rendy di sambut tawa teman temannya.
"kalau Lo yang senyum senyum disangkanya orang gila." pekik Kevin dengan tawa yang masih belum
bisa berhenti.
"Kalian mau tolongin gua gak?" Rehan memandangi teman temannya secara bergantian.
.
.
.
.
Sania duduk di bangku menunggu Intan. Hari ini dia datang pagi-pagi sekali karena menghindari Rehan namun sialnya Rehan telah berdiri di depan pintu kelasnya. Niat awal ingin menghindar malah bertemu itu alasan Sania duduk diam di kelasnya.
" Dor" ucap Intan mengejutkan sahabatnya yang dari kejauhan melamun seperti memikirkan sesuatu.
Sania mengelus dadanya. " Intan.... kau membuatku jantungan tau?" pekik Sania kesal.
"Coba ceritakan apa yang terjadi?" Sania memandang Intan ragu bagaimana mungkin Intan tau kejadian kemarin.
"Apa? Yang mana?" bantah Sania.
"Kemaren kau tidak melakukan hal bodoh kan?"
" Hah? Apa maksudmu?.
.
.
.
Sania dan Intan melihat kedekatan Rehan dengan beberapa gadis. tidak sekali namun beberapa kali. Sania mencoba untuk tidak perduli tapi perasaannya tidak bisa di bohongi. rasanya sakit seperti tertusuk ribuan pisau. Dan Rehan tanpa bersalah terus saja mendekatinya. Akhirnya Sania marah dan menghilang. bahkan jika bertemu Sania hanya diam bersikap dingin dan tak perduli.
Sania keni dekat dengan Kevin alih alih menghilangkan rasa yang terus saja tumbuh di hatinya. Tapi semakin Sania berusaha mencintai Kevin semakin dalam lah rasa cinta Sania. kekaguman yang salah hingga menjadi cinta.
Dan malam ini Sania janjian dengan Kevin untuk makan malam.
Rehan telah menunggu Sania sesuai dengan rencana. Sania terkejut melihat Rehan ada di sana. padahal Sania janjian sama Kevin.
Sania melihat Rehan tersenyum kearahnya , Dengan langkah seribu Sania berlari menjauh dari taman. Rehan yang melihat Sania berlari membuatnya segera mengejar Sania. Sania melihat Rehan yang mengejar menambah kecepatan namun langkahnya kalah cepat sehingga Rehan berhasil menggapai tangan Sania.
Rehan memeluk Sania membuat Sania melepaskan pelukan Rehan dengan paksa.
"Apa yang kau lakukan?" dengus Sania.
"Kenapa? memangnya ada yang salah?" Tanya Rehan seakan tidak pernah terjadi apapun.
" Kenapa kau yang datang? owh apa ini rencana mu dan Kelvin seharusnya aku tidak datang kemari." ucap Sania masih kesal karena Kevin membohonginya. dan bertemu dengan Rehan.
"Kenapa aku yang datang? Pertanyaan macam apa itu. Aku datang kesini hanya untuk mengungkapkan perasaanku. padamu memangnya salah?"
"Salah! Jelas salah. Aku tidak mau bertemu denganmu.
"Kenapa? Coba jelaskan padaku" ucap Rehan memegang pundak Sania.
"Cukup kak Cukup" air mata Sania jatuh berlinang membasahi pipinya.
" Kenapa kau menangis?" Tanya Rehan Sania tidak menjawab pertanyaan dari Rehan.
"Seharusnya kak Rehan tidak seperti ini. seharusnya kak Rehan mementingkan perasaan pacar kakak saja. bukan aku." Rehan tertawa padahal Sania serius namun Rehan tidak menanggapinya dengan serius.
"Apakah aku salah jika mencintaimu? coba katakan salah atau tidak?" Tanya Rehan serius.
"Tidak...." teriak Sania dan meninggalakan Rehan yang mematung tak mengerti dengan Sania. Apa yang salah.
Sania berlari sekuat tenaga,menghindari Rehan dia tidak ingin merebut pria yang sudah mempunyai pacar. Walau hatinya sakit Sania mencoba mengubur dalam-dalam perasaanya...
❤️❤️❤️❤️❤️
masih Ngantung ceritanya... 🤭🤭🤭