Bugh...
"Awh" ringis seorang gadis berambut pirang yang jautuh tersungkur sambil memegangi bahunya
"Maaf" cicit pria yang mrnabraknya, gadis itu menoleh pada pria itu dengan penuh amarah lalu ia pun bangkit seraya memaki pria yang bertabrakan dengannya "Ih lo tuh gimana si, kalau jalan tuh liat-liat! udah tahu gue buru-buru! ck ah makin telat kan gue, minggir" gerutunya seraya menabrak bahu pria itu sambil terus melangkah kakinya kedalam kelasnya.
Sesampainya didepan kelas, gadis itu menyelonong masuk seraya mengucapkan salam "Assalamu'alaikum" ia berjalan didepan guru dengan membungkuk, saat ia hendak duduk tiba-tiba
"Eliza" ucap sang guru, gadis yang merasa namanya dipanggil pun menoleh sambil meringis menunjukkan deretan giginya yang rapih
"Eeh, ibu" ucapnya
"Ibu, ibu, kenapa kamu telat lagi?" ucap guru itu
"Tadi, tadi itu bu, eum-..."
"Permisi" ucap seorang pria seraya membuka pintu, Eliza tau betul suara itu, ia lalu mengalihkan pandangannya pada pintu, dilihatnya seorang pria tampan bertubuh tegap berdiri didekat pintu dengan satu tangannya dimasukkan pada saku celananya, ketampanan dan aura dingin dari pria itu membuat oara kaum hawa meleleh, semua wanita dibuat cengo oleh ketampanannya, Eliza menghampiri pria itu seraya mengamati nya dengan seksama dari atas hingga bawah, lalu berseru "Nah ini! ini bu penyebeb saya telat tadi" ucapnya sambil menunjuk pria itu dengan telunjuknya
"Heh elo yang nabrak gue kan tadi dikoridor?!" tanyanya dengan nada tidak ramah, namun tak kunjung dijawab oleh pria itu, pria itu malah berjalan melewatinya menuju guru yang sedari tadi berdiri memperhatikannya
"Maaf bu saya telat" ucap pria itu dingin
"Kamu, kamu anak baru itu kan?" ucap guru itu, dan dijawab anggukkan oleh pria itu
"Perkenalkan nama saya Arya Pramudja" ucap lelaki itu memperkenalkan diri
"Mengapa kamu telat?" tanya guru itu
"Tadi saya menemui kepala sekolah terlebih dahulu bu" jawabnya bohong
"Baiklah, lain kali jangan diulangi apalagi ini hari pertamamu disekolah ini, bersikaplah dengan baik" ucap guru itu "Dan silahkan duduk" lanjutnya
"Ah ibu baik banget makasih bu" sahut Eliza, yang berjalan mendahului Arya dan hendak duduk namun gurunya segera menarik kerah baju belakang Eliza dan membuatnya berjalan mundur
"Ibu gak nyuruh kamu duduk, tapi Arya" ucapnya sambil menatap tajam kearah Eliza, Arya menyunggingkan senyum licik seraya menatap gadis didepannya lalu ia berjalan melewatinya dan duduk dibangku paling belakang.
"Ih ibu gak adil ih! kan saya tadi udah bilang saya telat karena dia! masa saya dihukum dia enggak sih!" protesnya sambil menunjuk kearah Arya
"Gak ada alasan! udah sekarang kamu berdiri didepan sampai jam pelajaran ibu usai!" tegasnya, Eliza pun akhirnya pasrah dan menuruti perintah sang guru.
***
Jam pelajaran kini telah usai, sekarang waktunya istirahat, nampak gadis bernama Eliza itu kini tengah berkumpul bersama kedua temannya dikantin sekolah.
"Ih kesel banget gue, sial banget sih gue hari ini tahu gak!" gerutunya yang masih tersulut emosi karena kejadian tadi pagi
"Udah lo yang sabar aja ya" ucap salah satu temannya
"Sabar sabar! awas aja ya kalau misalnya gue ketemu tuh cowok lagi gue pites-pites tulang hatinya ih" ucapnya seraya meninju-ninjukan tangannya "Mana tadi pak Nabas nge hukum gue juga, terus oake bilang gue kebanyakan makan terasi makannya gue suka malu-maluin ih gemes deh gue sama pak Nabas rasanya gue oengen deh tuh cabut jambul khatilistiwa nya yang nyungging diatas kepalanyaa iihh" lanjutnya seraya mengepalkan tangannya gemas
"Ekhem" tiba-tiba terdenar deheman seorang pria dibelakang Eliza, kedua teman Eliza menoleh kearah lalu meringis ketakutan, mereka mencoba memperingati Eliza agar berhenti mengoceh dengan isyarat matanya, Eliza yang tak mengerti tak menghiraukan mereka
"Kalian pada kenapa sih? kalian cacingan ya?" ucapnya polos, kedua temannya itu masih saja memperingatkannya namun tatapan tajam dari pria itu membuat nyali mereka menciut
"Euh El, El k-kita ke toilet dulu ya" ucapnya gemetar, merak berdua pun bangkit laku berlari kecil meninggalkan Eliza
"Woy! pada kenapa si?! toilet kan disana wooy budeg!" teriaknya, tiba-tiba sebuah jari mencolek colek bahunya, membuat gadis itu kegelian "Ih apaan si ni" ucapnya tanpa menoleh kebelakang sembari menggerak-gerakkan bahunya, namun jari itu tak hentinya mencolek bahu Eliza membuat gadis itu kesal lalu bangkit dan menoleh kebelakangnya seraya mengangkat kepalan tangannya hendak melayangkan tinjuan pada orang dibelakangnya, namun tatapan tajam dari orang itu menghentikannya "Eh, pak Nabas, udah lama pak?" ucap nya meringis, pak Nabas menjiwir telinga gadis itu dengan tatapan mata tajam
"Bagus ya kamu, tadi kamu mau lakuin apa? ayo lakuin sekarang lakuin!" ucap pak Nabas kesal
"Ngelakuin apa ya pak? saya lupa duh, tar dulu pak saya mikir-mikir dulu ya, tapi lepasin dulu dong pak, tar kuping saya copot ini" ucapnya memelas
"Gak ada! ayo ikut saya!" tegasnya sembari menyeret gadis itu keluar area kantin
"Duh mati gue!" gumamnya, gadis itu menoleh kebelakang lalu berkata "Hai buu, bu Fitrii" ia melambaikan tangannya seolah ada seseorang
"Hah? bu Fitri" gumam pak Nabas, ia sontak melepaskan tangannya dari tekinga Eliza lalu menoleh kearah belakangnya yang ternyata tak ada siapapun sementara gadis itu kini telah kabur menjauh dari pandangannya saat ia menoleh kembali kearah Eliza "ELIZAAA!" pekiknya kesal.
***
Eliza terus saja berlari menghindari amukan gurunya itu tanpa memperhatikan jalan, sampai-sampai ia kembali menabrak seseorang
"Iiih siapa si yang nabrak gue!" gerutunya, ia menoleh kearah orang yang menabraknya dengan mata melotot kesal "Lo! ih lo tuh kenapa sih kayak nya hobi bangett nabrak gue, jangan- jangan lo sengaja kali ya nabrakin diri lo ke gue!" gerutunya sembari mendorong tubuh pria kekar itu
"Heh, lo tuh bego apa bodoh sih, jelas-jelas dari tadi pagi sampai sekarang lo yang nabrak gue, kok jadi lo yang marah sih" ucap pria itu dingin seraya menyentil dahi gadis itu
"Eh nyolot ya lo, ngajak gue berantem lo? belum pernah lo rasain pukulan dari Shamsonwati kayak gue?" tantang Eliza seraya mengangkat kedua lengan bajunya, namun pria itu tak menghiraukan ocehan gadis didepannya itu, ia malah memilih berjalan meninggalkan gadis itu "Hey! Woy! uuuu dasar pengecut lo!" pekiknya
"Woy El!" ucap seorang wanita seraya menyentuh bahu Eliza suaranya sangat familiar ditelinga gadis itu, ia menoleh keasal suara dengan tatapan membunuh, membuat nyaki kedua gadis itu menciut seketika
"Kenapa lo ninggalin gue tadi?!" tanyanya dengan nada tidak ramah, kedua wanita itu meringis kikuk
"Maaf El, abisnya kita takut sih" ucap salah satu temannya yang lain
"Lo gak solidaris" balas Eliza merajuk sembari melipat kedua tangannya didada
"Hayoh lo Man, dia marah" ucap Thalita
"Lo sih" ucap Manda
"Lo juga sama tolol" balas Thalita
"Eh El, tadi lo ngapain sama anak baru ganteng itu?" tanya Amanda
"Eh iya, jangan-jangan lo ada apa-apa ya sama dia?" goda Thalita
"Dih amit-amitt deh najis banget gue punya hubungan sama dia iww" ucap Eliza dengan raut wajah jijik
"Lo jangan gitu sama dia, tar jatuh cinta tahu rasa lo" ledek Amanda
"Idih ogah bangeet dah, yang ada dia tuh yang jatuh cinta sama gue" ucapnya seraya mengibas-ngibaskan rambutnya, terdengar suara tawa meledek dari arah belakang Eliza, membuat ketiga gadis remaja itu menoleh keasal suara, dilihatnya tiga gadis sedang berjalan kearah mereka dengan gaya angkuhnya
"Lo kalau mimpi jangan ketinggian dong" ucap salah satu dari mereka yang diduga ketua geng dari mereka, salah satu geng terpopuler disekolah itu yang suka sekali membully, tapi tentu tak mempan bagi Eliza yang mempunyai keperibadian bar-bar itu
"Iya ya, lo nyadari diri dong El, udah jelas cantikan Kania dibandingin lo, Kania itubudah cantik, kaya, punya bodygoals lagi" sahut teman dari gadis bernama Kania itu dengan senyum meledek
"Iya sih cantik, tapi sayang ja***y" sahut Amanda "Upss haha, Sory keceplosan" lanjutnya dengan nada meledek
"Eh enak aja lo bilang kta Ja***y" seru Kania tersulut emosi seraya mendorong Amanda
"Eh lo jangan dorong-dorong temen gue kayak gitu dong" ucap Eliza tak terima sambil membalas Kania mendorongnya hingga menghantam dinding
"Woaah beraninya lo ya sama kita" ucap teman Kania yang bernama Nina itu, teman Eliza yang merasa tak terima membalas mereka sampai terjadi pertengkaran seru antara The Girls geng dan teman-teman Eliza, mereka saling menjambak rambut dan mencakar wajah dikoridor itu, semua siswa dan siswi mulai berkerumun menyaksikan oertengkaran itu seraya menepuk tangannya mendukung salag satu dari mereka, Arya yang tak sengaja lewat kedalam kerumunan itu merasa penasaran dan mendekat, ia menerobos masuk kedalam kerumunan itu saat melihat orang yang dikenalnya berada disana, lalu ia menarik lengan gadis itu menjauj dari kerumunan, penampilan gadis itu sudah jauh dari kata rapih, rambut acak-acakkan, luka goresan dipipi ditambah dengan baju yang robek, Arya membawa gadis itu kebelakang sekolah, gadis itu tersadar sedang dibawa seseorang segera menepis lengan pria dihadapannya
"Apa-apaan sih lo!" ucapnya ketus sambil menatap tajam kearah pria itu, pria itu tak menghiraukan gadis itu, ia melepas jas seragam yang melekat ditubuhnya lalu menutupi tubuh gadis itu yang bagian bajunya robek, Eliza tersentak dengan perlakuan pria itu, posisi mereka kini seolah saling berpelukan, manik mata mereka saling betemu, jantung keduanya terasa berdegup begitu kencang, waktu seakan terhenti saat itu, sampai akhirnya deheman dari pria dihadapannya menyadarkan lamunannya, sonta Eliza mendorong tubuh Arya menjauh darinya, ada rasa gugup dan kikuk dalam dirinya saat menatap Arya sedekat itu, begitupun juga Arya, namun dengan segera ia menetralkan perasaannya.
"Baju lo robek, lagian lo mau lebih malu nanti saat disana?" ucap Arya dingin
"Eh maksud lo apa lebih malu?" ucap eliza bingung
"Lo gak nyadar juga? tindakan lo tadi itu cuma bikin malu doang tahu gak" balasnya sambil memutar bola matanya malas
"Ih lo tuh nyebelim banget sih!" gerutunya gemas, ia hendak melangkahkan kakinya menjauh dari pria dihadapannya tapi tangan kekar pria itu menanhannya, gadis itu mengehentikan langkahnya dan menatap pria itu bingung.
"Luka di pipi lo harus diobatin, ayo" ucapnya seraya menarik paksa lengan Eliza yang terus meronta meminta dilepaskan, Arya membawa Eliza ke ruang UKS dan mengobati lukanya, setelah selesai mereka pun kembali kekelasnya dan mengikuti pelajaran sampai selesai.
***
Pagi berganti siang, siang berganti malam, waktu telah menunjukkan pukul 20.00 WIB nampak seorang pria kini tengah terduduk ditepi ranjang sambil membaca buku favoritnya seraya menyenderkan punggungnya pada dinding yang ditahan dengan bantal, ketukan pintu tiba-tiba terpaksa membuatnya menghentikan aktivitasnya, ia melangkahkan kakinya untuk membuka pintu, dilihatnya seorang wanita setengah baya berdiri didepannya dengan membawa segelas susu ditangannya seraya menyunggingkan senyum manisnya
"Mama" ucap pria itu, seraya mempersilahkan ibunya masuk
"Sayang, mama mau bicara sama kamu" ucap Wanita itu
"Ngomong ya ngomong aja sih ma" balasnya seraya mengambil alih gelas susu dari ibunya lalu berjalan mendahului ibunya kearah ranjang king size nya
"Mama sama papa mau jodohin kamu" ucap sang ibu tanpa basa-basi membuatnya terkejut dan tersedak
"Uhuk uhuk" Sang ibu segera menghampriri putranya sambil menepuk tengkuk lehernya pelan
"Kalau minum itu pelan-pelan" ucapnya
"Mama gak serius kan?" ucap pria itu, sang ibu menyentuh bahu putranya lalu merebahkan bokongnya disamping putra tercintanya itu
"Mama serius nak, sebentar lagi kamu lulus sekolah, dan kamu masih belum memperkenalkan kekasih pada mama?" ucapnya
"Tapi Ma, Arya, Arya punya kekasih!" sahutnya spontan, pernyataan itu membuat sang ibu senang dan sangat nerantusias
"Benarkah?" tanya Nani semangat
"I-iya" sahutnya
"Baiklah Arya jika memang benar, mama mau besok kamu harus membawa gadis kamu itu kesini ya?" ucap Nani
"T-tapi ma-"
"Yasudah sekarang kamu tidur ya, dan bersiap untuk besok" ucap Nani, kemuadian ia pergi meninggalkan putra nya itu yang kini tengah kebingungan
"Gimana caranya gue vawa cewek? punya oacar juga nggak aduh tapi kalau gue gak bawa pacar mama sama papa pasti bersikeras nge jodohin gue" gumam Arya "Aaargh" pekiknya frustasi sambil mengacak-ngacak rambutnya.
Pria itu bangkit dari duduknya kemudian meraih kunci mobilnya dan pergi meninggalkan rumah itu dengan kecepatan tinggi.
Sementara dilain sisi seorang gadis kini tengah duduk didepan salah satu ruangan dirumah sakit, ia nampak seperti orang ketakutan sedari tadi ia menggigit kukunya dengan perasaan cemas, terlihat jelas raut wajah khawatir itu diwajahnya yang pucat, keringat dingin mengalir dipelipisnya, sampai tiba akhirnya seorang donter keluar dari ruangan dan berkata "Keluarga pasien?"
"Saya dok" sahutnya "Bagaimana keadaan ibu saya?" tanyanya
"Kondisi pasien sangat kah buruk, kita harus segera melakukan tindakan pada pasien, karena jika tidak itu akan membahayakan nyawa pasien" ucap doter itu menjelaskan
"Lakukan apa saja untuk ibu saya dok" pintanya, tanpa disadari ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka seraya bergumam
"Gadis itu? untuk apa dia disini?"
"Tentu kami akan melakukan yang terbaik bagi pasien tapi, harap segera lunasi administrasinya karena itu sudah prosedur rumah sakit" ucap dokter itu lalu pergi meninggalkan gadis itu, Hatinya begitu hancur, fikirannga begitu berkecamuk, bagaimana bisa ia dapatkan uang banyak untuk biaya pengobatan sang ibu? menjual diri? oh sungguh tak mungkin, ia terduduk lemas seraya menunduk menutupi wajahnya, tiba-tiba seseorang mengulurkan saputangan dihadapannya, gadis itu kemudian menoleh kearah orang yang memberi saputangan itu, keningnya tiba-tiba berkerut keheranan "Arya?" ucapnya lirih, ya benar sekali orang itu adalah Arya, ia mengalami kecelakaan kecil tadi karena mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi sehingga ia kehilangan keseimbangan dan menabrak pohon "Lo ngapain disini?" tanya Eliza tanpa menerima saputangan dari Arya
"Hapus dulu air mata lo" ucapnya dengan nada dingin, sontak ia segera meraih saputangan itu dan menghapus air matanya "Gue tadi ada kecelakaan kecil makannya gue kesini, dan gue lihat lo disini lagi nangis" ucapnya menjelaskan "Dan maaf, tadi gue gak sengaja dengar pembicaraan lo sama dokter, ibu lo sakit ya?" lanjutnya
"Ibu gue tadi jatuh dikamar mandi" balas Eliza ketus
"Permisi" ucao dokter yang baru saja datang "Saya akan segera melakukan operasi pada pasien" ucapnya membuat Eliza terkejut
"Tapi dok, saya kan-"
"Baiklah saya akan segera membawa ibu anda keruamg operasi; maaf waktu kami tak banyak pasien harus segera mendapat penanganna lanjut" ucapnya lalu memindahkan ibu Eliza keruang operasi; gadis itu mengalihkan pandangannya pada pria yang kini masih berada didepannya "Jangan bilang lo yang udah bayarin semuanya" ucapnya penuh penekanan
"Udah lo gak usah khawatir, gue ikhlas kok" ucap Arya dengan santainya
"Lo fikir semua bisa didapatkan dengan uang? bisa dibeli dengan uang? gua gak terbiasa memelas sama orang, dan gue juga gak suka berhutang budi sama orang, apalagi lo jadi lebih baik sekarang lo tarik seluruh administrasinya, gue bisa cari uang sendiru!" ucap gadis itu
"Lo gak bisa egois gitu, lo jangan angkuh dong, ibu lo butuh pertolingan pertama dan lo masih mikirin gengsi lo" ucap Arya
"Bukannya gue mikirin gengsi gue, lo tahu kan sekarang kondisi keluarga gue, gue tahu ibu gue butuh pertolongan pertama, tapi gue gak bisa ganti uang lo, dan gue gak mau punya hutang budi sama lo" ucap gadis itu tegas, Arya teringat akan permintaan ibunya tadi, tersirat senyuman licik dibibir Arya saat menatap Eliza
"Lo gak perlu ganti uang itu, dan kalau pun lo gak mau punya hutang budi sama gue, lo bisa bayar itu, lo mau kan bantuin gue?" ucap Arya, Eliza mengernyitkan dahinya bingung "Gue mau lo jadi pacar pura-pura gue!" lanjutnya, membuat Eliza tersentak matanya membelalak sempurna
"Lo bercanda? gue jadi pacar pura-pura lo? dih ogah banget" tolaknya
"Oke kalau lo gak mau, gue bisa tuntut lo atas kasus pemerasan" ancam Arya
"Heh pemerasan apaan? gue gak meres lo ya bahkan sepederpun gak pernah!" elak gadis itu
"Lo lupa biaya administrasi ibu lo? dan gue minta sekarang lo bayar itu kalau nggak gue laporin lo kepolisi!" ancamnya
"Ck yaudah iya oke! gue mau jadi pacar boongan lo!" ucapnya pasrah "Tapi lo harus janji dengan begitu semuanya clear" lanjutnya dan dijawab anggukkan oleh Arya
"Besok gue jemput lo, tulis nomor lo, biar gue gampang hubungin lo" ucapnya seraya menyerahkan ponselnya kearah Eliza, Eliza pun menerimanya dan mulai mengetikkan nomornya disana, lalu memberikannya kembali pada Arya, Arya tersenyum penuh kemenangan lalu berkata "Gue tunggu lo besok" ia pun berlalu pergi meninggalkan Eliza yang masih mendengus kesal.
Keesokan paginya, Eliza kini tengah bersama kedua sahabatnya yang sudah ditelponya dari kemarin malam untuk menemani ibunya karena hari ini ia ada janji dengan Arya
"Gue titip ibu gue sebentar ya, soalnya gue ada urusan" ucap Eliza
"Udah lo tenang aja, kita bakal jagain ibu lo baik-baik kok" balas Amanda
"Emang lo mau pergi kemana?" tanya Thalita
"Eum, gue, anu gue mau-"
"Udah si Tha lo tuh kepo banget sih" potong Amanda "Udah mending sekarang lo barangkat tar telat lagi" lanjutnya, Eliza pun mengangguk lalu pergi keluar dari ruangan itu, gadis itu menusuri jalan koridor rumah sakit dengan perasaan gugup, ia takut akan apa yang nanti akan dilakukan Arya padanya nanti, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk tertera nama disana "Manusia Kulkas" dengan segera ia menekan tombol hijau disana sehingga panggilanpun tersambung
"Hallo!" ucapnya ketus
"....."
"Iya iya! tunggu ini gue bentar lagi sampe diparkiran"
"....."
"Dimana lo? ini gue udah diparkiran?"
Tiba-tiba klakson mobil didepannya berbunyi sampa membuatnya kaget, perlahan kaca jendela mobil itu terbuka nampak seorang pria yang begitu dikenalnya kini tengah duduk dikemudi mobil itu dengan gaya coolnya, wajah yang begitu tampan tak pernah hilang walau tertutupi lacamata hitam yang bertengger manis dimatanya, pakaian casual yang sumgguh sangat cocok ditubuhnya celana jeans hitam yang dipadukan dengan kaos putih dan jaket biru dongker melekat sempurna ditubuhnya, membuat gadis itu melongo pangling dengan penampakan dihadapannya itu
"Buseet yaampun gak nyangka ni Maung bisa cakep banget gini yatuhan" batinnya dengan mata tak henti-hentinya memandang Aryan, sampai bunyi klakson menyadarkan lamunannya
Tin...Tin...
"Ah?" ucapnya kikuk
"Cepet masuk! waktu kita gak banyak!" ucapnya dengan ada tidak ramah, Eliza pun menuruti perintah Arya masuk kedalam mobilnya dan kemudian ia melajukannya pada sebuah mall terbesar yang ada dijakarta
"Ngapain kita kesini?" tanya Eliza setelah sampai di Mall itu
"Mancing" jawab Arya asal "Udah ikut aja sih!" titahnya, Eliza pun pasrah dan mengikuti Arya dari belakang
"Saya mau ini, ini, ini juga, terus ini, ini, itu, dan yang ini!" ucap Arya seraya menunjuk satu persatu barang dress yang menggantung sempurna "Kita ke tempat make up" ucapnya sambil menyeret paksa lengan Eliza
"Iiih! gak usah diseret-seret juga sih! gue bisa jalan sendirii ih!" gerutunya seraya memukul mukul lengan Arya yang terus menyeretnya, tapi usahanya sia-sia ia malah menatap tajam kearah Eliza, membuat gadis itu menunduk takut.
"Mas sama mbaknya lucu ya pacarannya" ucap salah satu pelayan mall itu, memnuat mereka berdua saling berpandangan dan tersenyum kikuk.
"Tapi bak kita-..."
"Ah iya bak makasih, habisnya pacar saya menggemaskan sekali, saya jadi pengen nerkam dia" tukas arya seraya menatap tajam kearah Eliza yang melongo mendengar penuturan terakhir dari Arya, rasanya ia ingin sekali mencekik pria dihadapannya
"Wah semoga langgeng sampai pelaminan ya" ucap pelayan itu lagi
"Iya bak makasih!" balas Eliza dengan senyum dipaksakan sambil menatap tajam Arya, kemudia ia berjalan keluar mendahului Arya
"Maaf ya bak, pacar saya cemburuan soalnya, dia gak suka kalau lihat saya ngobrol sama wanita lain kecuali dia sama ibu saya" ucap Arya berbohong, kemudian ia menyusul Eliza yang mulai merajuk yang kini sedang duduk didalam mobil sambil melipat kedua tangannya didada, Arya pun segera masuk kedalam mobil dan menatap Eliza yang cemberut
"Kenapa lo marah?" tanya Arya datar
"Abisnya lo ngapain tadi sama si mbaknya?" ucapnya kesal
"Kenapa? lo cemburu? lo udah jatuh cinta kan sama gue?" goda Arya, membuat mata Eliza membulat sempurna
"Enak aja! gak ya gue gak peduli lo mau deket sama siapa juga, lagian ngapain juga gue cemburu? kita kan cuma pacaran boongan" sahut Eliza
"Terus kalau gak cemburu kenapa lo marah gak jelas kayak gini?" ucap Arya tak mau kalah
"Habisnya tadi ngapain lo bilang segala gue itu kuci dan menggemaskan saking menggemaskannya lo mau nerkam gue! maksudnya apa hah?! gue malu tahu!" ocehannya
"Hahahaaha tapi kan lo emang lucu" ucap Arya spontan membuat gadis itu menunduk malu, Arya meraih dagu gadis itu agar menatapnya, manik mata mereka saling bertemu, Arya menatap gadis cantik dihadapannya itu yang akhir-akhir ini menjadi pengganggu fikirannya, perlahan ia mendekatkan wajahnya dengan Eliza sehingga jarak antara mereka terhapus, detak jantung mereka saling beradu mafas hangat dari satu sama lain begitu terasa namun tiba-tiba
Tin...tin...
Klakson mobil menyadarkan mereka, sontak Eliza mendorong tubuh kekar Arya hingga terantuk atap mobil
"Aduh! sakit tau!" gerutunya sambil mengusap kepalanya yang terantuk
"Maaf, udah ayo cepet jalan!" ucap Eliza kikuk
"Lo kenapa? malu ya?" goda Arya
"Apaan sih! udah ah ayo jalan!" seru Eliza, Arya pun menyunggingkan senyumnya lalu melajukan mobilnya membelah jalanan untuk pergi kesuatu tempat, tak ada pembicaraan yang terjadi antara mereka berdua suasana begitu henung dimobil itu, Eliza hanya sibuk menatap lalu lintas jalanan yang nampak tak terlalu ramai, sedangkan Arya sibuk mengemudikan mobiknya sambil sesekali melirik kearah Eliza lalu tersenyum.
Tak lama setelah itu mobil berhenti tepat didepan sebuah bangunan bertuliskan Beauty salon, Eliza memperhatikan sekeliling, lalu mengalihlam pandangannya pada Arya, Arya pun mengangguk mereka lun turun dan masuk kedalam salon itu.
***
Kini waktu yang ditungu-tunggu telah tiba, Eliza kini telah nampak cantik dengan balutan mini dress berwarna dusty pink dengan rambut pirangnya yang diikat setengah, dan make up yang terlihat sangat natural menambah kesan kecantikkan gadis itu malam ini, disampingnya Arya sudah siap dengan jad Biru dongkernya ditanbah celana biru dongker dan dipadukan dengan kaus putih polos melekat sempurna ditubuh atletisnya, ia menggenggam tangan Eliza yang sedari tadi memperhatikan bangunan rumah besar didepannya yang tak lain adalah rumah Arya, seorang wanita setengah baya yang terlihat cantik membuka pintu rumah dan menatap keduanya dengan perasaan bahagia, wanita itu kemudian memandangi Eliza dengan seksama dari atas hingga bawah, kemudian berbisik pada Arya "Gadis mu cantik" Arya tersenyum lega akhirnya tahap pertama telah selesai
"Sayang anak cantik mari masuk, tante sudah memasak makanan spesial untuk kalian" ucap Nani ramah seraya mengandeng Eliza masuk kedalam rumah, mereka melakukan makan malam itu, sampai akhirnya waktu makan malam selesai, dan Eliza pun membantu Nani membereskan piring
"Hey apa yang kau lakukan? kau duduk saja disana bersama Arya dan Papa nya" ujar Nani
"Tidak tante, biarkan Eliza membantu lagipula Eliza terbiasa melakukan ini" balas Eliza sopan
"Ah kamu manis sekali nak, selain cantik ternyata kau baik dan rajin Arya tak salah memilihmu" puji Nani membuat Eliza tersipu malu, setelah selesai membersihkan piring, mereka berbincang bincang sampai akhirnya Eliza pulang.
"Tante terima kasih atas jamuannya ya, maaf Eliza merepotkan" ucapnya, lalu ia menciumi punggung tangan kedua orang tua Arya bergantian "Kalau begitu El pamit ya tante, Assalamu'alaikum" ucapnya
"Arya nganterin Eliza dulu ya mah pah" pamit Arya seraya menciumi punggung tangan ayah dan ibunya, lalu menggandeng tangan Eliza menaiki mobilnya lalu melajukannya meninggalkan rumah kediaman Arya menuju kerumah sakit tempat ibunya dirawat.
***
Hari demi hari berganti, ibu Eliza pun kini sudah pulang dari rumah sakit, dan mulai kembalu berjualan, begitupun hubungan Eliza dan Arya yang semakin dekat, walau Eliza kadang masih suka galak terhadap Arya, tapi jauh dilubuk hatinya ia sebenarnya menyimpan rasa pada Arya
"Bu, El pamit pergi sekolah dulu ya" ucap Eliza seraya meraih tas punggungnya
"Hati-hati ya nak" ucap sang ibu, Eliza pun mengangguk lalu pergi berjalan untuk pergi kesekolahnya, sepanjang perjalanan gadis itu terus bersenandung ria, sampai akhirnya langkahna terhenti saat mobil sedan berwarna hitam berhenti menghadang jalannya, pintu mobil itu perlahan terbuka, kaki jenjang yang nampaknya milik seorang wanita itu keluar dari mobip tersebut, perlahan ia mulai menampakkan wajah cantiknya, dengan menggunakan seragan sekolah lain dengan yang dikenakan Eliza, ditambah rambutnya yang curly dibiarkan terurai begitu saja, tinggi semampai dengan menggunakan high hills dengan ukuran hak sekitar 5 cm, ditambah polesan pewarna bibir yang sangat mencolok, membuat Eliza malah ingin tertawa melihatnya, gadis itu kemudian menghampiri Eliza dengan gayanya yang elegan dan anggun.
"Eh buset ni orang siapa sih ya? cakep sih, tapi masa mau sekolah modelannya kayak badut ancol sih" batin Elliza sambil menckba menahan tawanya
"Lo yang namanya Eliza?" tanya wanita itu
"Iya gue sendiri, sory lo siapa ya, kayaknya gue gak pernah mesentaksi online atau jasa badut ancol deh" ucap Eliza polos
"Apa lo bilang? badut ancol? lo bilang gue badut ancol? lo gak tahu siapa gue?" ucap wanita itu kesal, Eliza menggeleng seraya berkata "Nggak, dan gak mau tahu, udah ya permisi gue telat" ia hendak melangkahkan kakinya, namun gadis itu sengaja menengkas kaki Eliza sampai membuat gadis itu tersungkur jatuh keaspal, dan membuatnya terluka
"Ups maaf sengaja" ucap wanita itu sembari tertawa meledek, Eliza menatap gadis dihadapannya itu dengan tatapan penuh amarah, ia lalu bangkit dan membersihkan seragamnya yang kotor
"Maksud lo apa tadi nengkas gue gitu hah?!" bentak Eliza sambil mendorong bahu gadis itu
"Beraninya ya lo dorong gue, lo gak tahu siapa gue? Gue Kimberly Aurora, putri pemilik perusahaan Tisue terbesar dikota ini" ucapnya dengan bangga
"Ck cuma putrinya kan? bukan milik lo! lagian ngapain sih lo? kurang kerjaan ya lo sampai ngehadang jalan gue kayak gitu? lagi pula yah gue gak kenal sama lo tahu gak" ucap Eliza
"Tapi gue kenal sama lo, lo cewek yang udah rebut calon tunangan gue ARYA" ucapnya sambil menekan kata Arya "Lagian gue heran deh kenapa Arya bisa suka sama gadis bar-bar dan abstrack kayak lo, udah jelas-jelas cantikkan gue kemana-mana" ucap Kimberly sombong
"Cantik darimananya mbak? Hello lo buta ya? lo lihat dong penampilan lo pantes aja Arya gak suka dan ilfiel sama lo dandanan lo aja kayak badut ancol tahu gak, gimana dia gak ilfiel, lo mau kesekolah apa mau nge bon**n?" ucap Eliza meledek, gadis bernama Kimberly itu nampak kesal mendengar penuturan dari Eliza, tangannya hendak melayangkan tamparan kepipi Eliza, namin dengan segera ia mencekal tangan gadis itu, lalu memutarnya
"Dengerin gue baik-baik, gue gak takut sama lo, apalagi lo orangnya cuman bisa berlindung dibawah ketek emak bapak lo, jadi jangan songong sama gue kalau gak mau tangan lo yang lentik ini gue patahin" ucap Eliza ketus, lalu ia mendorong tubuh Kimberly hingga gadis itu menghantam mobilnya, lalu Eliza melanjutkan perjalanannya kesekolah yang sempat tertunda tadi dengan wajah tanpa dosanya.
"Awas aja lo Eliza! lo akan menyesal berurusan sama gue!" umpay gadis itu lalu menaiki kembali mobilnya dan segera melajukannya.
***
"Eh El, baju lo kenapa kotor gini?" ucap Amanda ketika melihat sahabatnya datang dengan pakaian lusih dan kotor
"Jangan-jangan dia abis nge bo***n lagi hahhahaa" sahut Kania dengan nada meledek
"Eh lo kalau ngomong tuh dijaga ya, mulut lo tuh perlu di permak kali ya biar bener" ucap Eliza kesal "Masih pagi juga udah bikin masalah aja lo sama gue, samaannya tuh kayak si badut ancol" lanjutnya menggerutu
"Hah?!badut ancol?!siapa tuh?!" seru Thalita dan Amanda bersamaan
"Dia it-..."
"Selamat pagi murid-murid" ucap pak Nabas yang baru saja masuk, menghentikan pembicaraan Eliza dengan kedua sahabatnya
"Dah tar ajadeh gue cerita, si botak dateng" ucap Eliza malas, pak Nabas memperhatikan kesekeliling seraya berkata "Bagus, semuanya terlihay rapih dan bersih" saat ia melihat kearah Eliza, tatapannya berubah ia lalu menghampiri Eliza dan bertanya "Eliza kenapa pakaian kamu kotor dan lusuh begitu"
"Eum anu pak, s-saya ha-...."
"Maklum pak, habis ngebo***n dia" sahut The Girly gengs
"Woy kalau ngomong tuh dijaga ya!" bentak Eliza sambil menggebrak meja membuat pak Nabas terkejut
"Kenapa gak terima kan? emang benerkan omongan omongan gue, lo habis ngebo***n buat bayar biaya sekolah?" ucap Kania dengan mada meledek, membuat emosi Eliza semakin membludak ia raih buku tebal nya lalu ia lemparkan kearah Kania tepat mengenai wajahnya
"Awh yaampun" ringis gadis itu kesakitan
"Cukup! Cukup!" lerai pak Nabas, namun tak dihiraukan oleh Eliza, gadis itu kemudian menghampiri Kania dan menjambak rambutnya seraya berkata "Lo kau mulu loe gue permak biar rapih dan bagus, sebelum lo ngehina gue lo ngaca diri dulu dong, kepribadian lo jauh lebih baik gak dari gue" desisnya, Kania memegangi rambutnya kesakitan lalu melepas paksa lengan Eliza dari rambutnya dan mendorongnya sampai ia tersungkur, Kania kemudian menghampiri Eliza dengan gaya sombongnya
"Jelas gue lebih baik dari lo, lo itu cewek kampung yang bar-bar dan gak punya sopan santun" ucapnya penuh penekanan, sambil menyamakan posisinya seperti Eliza yang terduduk karena tersungkur, Eliza mendorong balik tubuh Kania sampai keningnya itu terantuk meja dan berdarah, akhirnya terjadi lagi pertempuran sengit antara mereka, Eliza bagai singa lapar yang dipenuhi amarah, semua orang hanya diam membisu sampai akhirnya pak Nabas bertindak
"Apa yang kalian lihat! cepat lerai pertengkaran mereka!" tegas pak Nabas, Arya segera bangkit karena tak tahan juga sedari tadi hanya menonton, pria itu lalu memeluk tubuh Eliza dari belakang untuk menghentikan serangannya, namun Eliza terus meronta minta dilepaskan
"Lepas!Lepasin gue!" tegasnya
"Lo tenang El, tenang atau ini akan jadi masalah buat lo, inget soal kondisi ibu lo El inget" bisik Arya menenangkan, perlahan emosi dari Eliza mulai mereda, ia melemah dalam pelukan Arya yang terus memeluknya erat sambil sesekali menciumi pucuk kepala Eliza
"Wuaaah menamg banyak tuh si Arya" ucap lelaki gendut botak bernama Tobi "Udahan napa sih Ya itu bini gue kenapa lu peluk-peluk gitu" lanjutnya memelas, Arya menatap kearah Tobi tajam lalu bangkit sambil membantu Eliza bangkit, ia membopong tubuh gadis itu
"Pak, saya izin bawa Eliza ke UKS" pamit arya dan langsung dijawab anggukkan oleh pak Nabas, Arya pun membawa Eliza ke UKS dan mengobati luka lengannya akibat cakaran Kania
"Awh perih tahu" lirih Eliza
"Iya maaf gue pelanin nih" ucap Arya dengan dingiinnya sambil terus menekan-nekan luka Eliza dan meniupinya, Eliza menatap Arya lekat tersirat senyuman dibibir ranum gadis itu, Arya yang merasa dirinya diperhatikan menatap balik gadis dihadapannya itu dengan tatapan sendu "Lagian lo ngapain sih berantem kayak tadi" ucap Arya
"Ya lo lihat sendirikan sikap Kania sama gue, gue kan orangnya emosian,lagipula kenapa lo peduli sama gue?" sahut Eliza
"Gue kan pacar lo" balas Arya
"Pacar boongan ya inget BOONGAN" ucap gadis itu
"Lagian lo juga udah tahu ada guru juga masih aja, gila yak lo?" maki Arya
"Lo tuh niat ngobatin gak sih? ngoceh mulu dah" seru Eliza
"Ini gue juga lagi ngobatin, bolor mata lo?" sahutnya "Tuh dah beres udah yuk ke kelas" ucapnya setelah selesai membersihkan luka gadis itu.
"Jangan lah kita pulang aja" pinta Eliza memelas, sontak membuat Arya kaget
"Apa? lo gila ya? jam sekolah belum selesai lo ngajakin pulang?" shock nya
"Yaudah si bolos sekali aja gak papa kali buat lo, gue aja yang sering bolos santuy aja" ucap Eliza dengan entengnya
"Gak ya gak ada! kita balik kekelas sekarang!" tegas Arya, namun gadis itu tetap pada pendiriannya, ia malah mengancam akan membuat keributan lagi jika sampai kembali kekelasnya, Arya pun merasa lelah membujuk gadis itu dan akhirnya ia menyerah "Oke oke, kali ini aja!" ucap Arya, membuat Eliza senang, akhirnya mereka kabur lewat gerbang belakang sekolah, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka, sementara di kelasnya, pak Nabas masih menantikan kedatangan Arya dan Eliza yang sudah satu jam setengah ini belum juga kembali dari UKS
"Aduh mereka berdua kok lama ya di UKS, atau jangan-jangan?" ucap pak Nabas
"Shut Eliza pasti udah kabur sama Arya" bisik Amanda
"Ah yang bener lo?" ucap Thalita ikut berbisik
"Iyalah, biasanya kan dia gitu kalau udah buat onar karena takut dihukum ya kabur pasti, lo Lihat aja ya bentar lagi dia pasti kirim pesan ke gue" ucap Amanda yakin
"Iya sih, tapi masa Arya ikutan kabur juga sih" ucap Thalita
"Si Eliza pasti ada ngancem dia buat nemenin dia kabur" balasnya.
Enam jam sudah berlalu mereka berdua tak kunjung kembali kekelas, pelajaran pun telah usai, semua siswa siswi pun sudah pulang kerumah masing-masing, sementara Arya dan Eliza mereka kini tengah makan bersama diwarung bakso favorit Eliza dan kedua sahabatnya, gadis itu telah menghabiskan dua mangkuk bakso, dan ini mangkuk ketiganya, Arya menatap tak percaya gadis dihadapannya serakus itu
"Ck ck ck" decaknya sambil menggelengkan kepala
"Kuenapa?" ucapnya dengan mulut penuh
"Gila lo makan udah tiga mangkuk lho itu"
"Udah deh laper gue, abis ini yang terakhir ya udah ini kita pulang" ucap Eliza meringis, kuah baso yang Eliza makan meleber kesudut bibirnya tangan Arya tergerak mengusap sudut bibir gadis itu, membuat gadis itu tersentak dan menghentikan aktivitas mengunyahnya
"Kalau makan tuh pelan-pelan nanti keselek, apalagi kalo ngeliatin gue kayak gitu" ucap Arya membuat gadis itu semakin salah tingkah
"Lagian lo ngapain sih deket-deket sana gue sampe segitunya udah gitu pake merhatiinn bibur gue lagi, kenapa mau lo cium?" gerutunya
"Ih GR banget lo, gue cuma mau bilang tuh digigi lo ada cabe nyangkut" ucapnya dengan tawa puas, Eliza merasa malu segera memperhatikan dirinya dari layar ponselnya
"Ah masa sih?" ucapnya seraya berkaca dilayar ponselnya dan benar saja ternyata ada cabai merah nyangkut digiginya "Duh malu sendiri kan gue" batin gadis itu seraya menutupi wajahnya dengan tangan kirinya.
Sementara dilain temat kedua sahabatnya kini tengah berjalan melewati jalanan kecil nan sempit dengan pemandangan yang masih asri itu
"Kira-kira Eliza dibawa kemana ya sama Arya sampai belum pulang segala?" ucap Thalita yang baru saja pulang dari rumah Eliza untuk mengantarkan tasnya Eliza
"Ya mana gue tahu" sahut Amanda seraya matanya berkeliling menatap setiap sudut jalan, manik matanya berhenti menatap sepasang kekasih yang nampak sedang berbahagia dengan saling menjambak rambut.
***
Keesokan harinya seperti biasa Eliza menjalani hari-harinya dengan bersekolah, gadis itu kini tengah berkumpul bersama kedua sahabatnya dimeja guru, tiba-tiba kedatangan Tobi yang heboh mengacaukan keseruan mereka
"Eh eh guys guys guyys" ucapnya lebay
"Heh jin tomang, lo kenapa sih ganggu tahu gak" ucap Eliza kesal
"Yaampun ayang beb, tungguin dengerin cerita gue niih, denger-denger sekolah kita bakal kedatangan siswa baru lagi tauu" ucapnya
"Masa sih? bukannya sebentar lagi kita ujian ya? kok masih nerima aja siswa baru" ucap Thalita heran
"Ye Tha sekarang mah apa-apa pake uang tahy" celetuk Amanda
"Nah bener tuh pasti dia sogok deh ketua yayasan nya" sahut Tobi "Eh tapi Btw nih ya, katanya murid barinya cewek lo, cakep bener lagi, jadi mohon maap ya sebelumnya buat lo para wanita terutama lo ayang bep nya gue nanti kalau misalnya ayang Tobi ini beralih hati sama dia" ucapnya lebay
"Dih sono aja jauh-jauh lo" sahut Eliza sambil menoyor kepala Tobi, dan ia juga mendapat seruan sorak dari para siswi
"Ih kalian kok pada gitu sih, pas gue berpaling aja baru tahu rasa lo pada" ucapnya merajuk
"Woy woy! guru dateng guru dateng!" ucap salah seorang siswa heboh, sontak Eliza dan kawannya segera turun dari meja guru dan segera duduk ketempatnya, tak lama kemudian seorang guru muda yang cantik yang dikenal dengan nama Fitri itu masuk dengan seorang gadis cantik berambut hitam lebat curly, yang nampak tak asing dimata Eliza
"Badut itu" gumam Eliza namun masih terdengar oleh Amanda dan Thalita yang berada dibelakangnya
"Hah? badut? mana badut?" sahut Thalita spontan, gadis itu memandang kearah Eliza dengan senyum licik dibibirnya sembari memainkan rambutnya
"Iiww geli gue" Eliza bergidik ngeri
"Murid-murid hari ini sekolah kita kedatangan siswa baru lagi, silahkan perkenalkan diri kamu" ucap Bu Fitri
"Kim?" gumam Arya
"Hallo perkenalkan nama gue Kimberly Aurora, gue pindahan dari SMA Taruna Bakti, alasan gue pindah ke Colours schooling adalah karena demi tunangan gue Arya" ucapnya dengan senyum liciknya, membuat semua orang terperanjat terutama Arya, ia menatap tajam gadis itu yang sedang tersenyum manis kearahnya
"Hah? gak salah tuh El? dia ngaku jadi tunangan Arya? bukannya dia cowok lo? lok lo santuy gitu sih nanggepinnya, kalau gue diposisi lo yah udah gue cakar muka tuh cewek" gerutu Thalita
"Yaudah sih toh Arya juga gak ngakuin dia, lagian ya mana mau dia sama modelan badut ancol kayak dia" ucap Eliza dengan santainya
"Baiklah Kim silahkan kamu duduk disampung Eliza" ucap bu Fitri
"Ekhem bu, maaf kenapa ibu nyuruh tuh badut ancol duduk samping saya ya? ibu mau tulang dia remuk semua gara-gara saya?" ucap Eliza dengan santai namun penuh penekanan.
"Eh lo gak boleh gitu sama calon bini gue" sahut Tobi
"Lo mau sama tuh badut anncol Tob? sana embat sana" ucap Amanda
"Shuut" ucap bu Fitri melerai "Eliza kamu gak boleh gitu, Kim ini teman kamu jadi kamu harus bersikap baik sama dia, biarin dia duduk disamping kamu" bujuk bu Fitri
"Kapan temenannya bu? orang saya gak ngerasa punya temen modelan badut kek dia, semua temen saya itu manusia beneran bukan manusia jadi-jadian kayak dia" ledeknya dengan tawa puas, dam disambut tawa oleh semua orang, sehingga membuat Kimberly kesal
"Sialan, tuh cewek! beraninya dia menghina Kimberly Aurora awas lo Eliza gue bakala balas perbuatan lo!" umpatnya kesal.
Jam pelajaran telah selesai kini waktunya seluruh siswa Colours Schooling istirahat, nampak kantin kini dipenuhi oleh singa-singa lapar yang sedang menyantap makanan dengan lahapnya
"Eh El, si Arya kemana?" ucap Amanda
"Tahu, bukan urusan gue juga tuh" sahutnya sambil mengunyah bakso yang dipesannya, sementara dikejauhan nampak seorang gadis menatap Eliza dengan tatapan tak suka dan penuh kebencian
"Permisi?" ucap gadis dibelakangnya seraya menyentuh bahu gadis itu, gadis itu menoleh kepemilik suara
"Ya? lo temen sekelas gue kan?" ucapnya
"Ya kenalin gue Kania, dan ini temen-temen gue, disini kita geng terpopuler, apa girls?" seru Kania
"The Girly gengs" seru kedua temannya
"Gue Kimberly" ucap gadis itu
"Gue perhatiin lo kayaknya gak suka ya sama Eliza?" ucap Kania
"Ya dia udah beraninya mempermalukan gue tadi, ditambah dia ngerebut Arya dari gue" ucap Kimberly kesal
"Pas kalau gitu, kita juga gak suka sama dia, dia tuh orangnya caper iww males deh" sahut Kania "Eum gimana kalau lo gabung geng kita? sekalian biar lo cepet hits disekolah ini? kita balas perbuatan Eliza bareng-baremg gimana?" lanjutnya, Kimberly nampak berfikir sejenak, lalu kemudian mengangguk yakin
"Oke gue setuju! jadi apa rencana lo?" ucap Kimberly, Kania segera berbisik pada Kimberly, dan gadis itu hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya
"Ide bagus, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui" gumamnya seraya tersenyum licik.
Bel tanda masuk telah berbunyi, semua siswa kembali berhambur memasuki kelas mereka masing-masing untuk mengikuti pelajarannya kembali, sungguh hari yang membosankan bagi mereka jika terus-terus seperti itu setiap harinya, namun tidak bagi kelas XII A 2 kelas terbar-bar dan ternakal diantara kelas lain, tapi walau begitu juga mereka merupakan kelas terkocak dari yang lainnya, semua ocehan dan ke bar-bar-an Eliza selalu membuat suasana kelas berwarna, walau pun guru selalu pusing menghadapi kenakalan gadis satu itu tapi tak walau begitu Eliza merupakan satu-satunya siswa tercerdas dan jenius di selurih angkatan, ke bar-bar ran dan kenakalan gadis itu tak mempengaruhi kecerdasan dan kepintarannya berbeda dengan siswa nakal lainnya sudah nakal bodoh lagi😂
"Baik murid-murid apa ada yang ingin ditanyakan?" ucap bu Vira setelah ia selesai menjelaskan, Eliza mengacungkan tangannya tinggi "Silahkan Eliza" semua orang menoleh kearah Eliza
"Saya cuman mau bilang bu saya mau ketoilet hhe" ucapnya sambil meringis, bu Vira memutar bola matanya malas, pasalnya gadis itu selalu saja berlaku seperti itu saat ia mengajar
"Yasudah silahkan" Eliza bangkit dari kursinya lalu berjalan melewati gurunya itu; dan saat didekat pintu ia menghentikkan langkahnya, dan menoleh kearah gurunya lalu kearah teman-temannya dan berkata "WEY BRO LO PADA MAU IKUT KAGAK?" serunya, sontak hampir semua siswa lelaki bangkit dan hendak mengikuti Eliza tapi langkahnya terhenti saat Eliza berkata "Tapi boong hahahahaha" ia tertawa heboh sendiri, sedangkan yang lainnya menatapa kearah Eliza konyol
"Garing ya?" lirih Eliza, ia pun kembali melangkah kearah bangkunya dan merebahkan bokongnya kembali "Sory bu, saya gabut" ucapnya datar, sonta semua orang menatapnya tak percaya? bagaimana bisa dia mempermainkan pelajaran seperti itu?
"EELIIZAA" geram bu Vira, ia menarik nafasnya dalam dalam guna menyetabilkan emosinya yang naik akibat murid bar-bar satu ini "Untung aja kamu pintar" lanjutnya lembut
"Oh jelas dong" ucapnya membanggakan diri
"Baiklah jika tak ada yang ditanyakan, sampai disini pertemuan kita hari ini, berhubung jam pelajaran hampir selesai jadi silahkan kalian pulang" ucapnya, tapi sebelum bu Vira mengatakan itu gadis bar-bar itu telah mengendap-ngendap pergi keluar
"Eliza mana?" tanya Amanda
"Tahu mana ya dia? perasaan tadi dia disini deh" sahut Thalita bingung
"Wooy! gua disini!" seru gadis itu dari luar seraya melambaikan tangannya, kedua temannya itu keheranan bagaimana bisa dia sudah berada diluar? mereka berdua pun segera menghampiri gadis bar-bar itu
"Woy, lo kok cepet banget keluarnya? perasaan tadi masih didalem deh"ucap Thalita
"Yaampun Tha, lo kenal gue udah berapa lama sih?" ucap Eliza kelimpungan
"Bentar gue hitung dulu" sahut Thalita seraya menghitung menggunakan jarinya, sontak membuat Amanda ingin tertawa melihat kepolosan temannya Thalita
"Bodo lah, Man udah yuk kita cabut" ucap Eliza seraya berjalan mendahului Amanda dan diikuti oleh Amanda di belakangnya meninggalkan Thalita yang masih sibuk berhitung, Thalita yang sadar temannya telah pergi malah celingukkan mencari keberadaan mereka
"Woooy tungguin guee!" pekiknya seraya melambaikan tangannya lalu berlari menyusul kedua sahabatnya itu keparkiran sekolah "Kalian kenapa ninggalin gue sih!" gerutunya dengan nafas ngos-ngosan
"Hai" sapa Arya yang baru saja datang, dan dibalas senyuman oleh Eliza
"Hai ganteng" ucap Thalita centil
"Kebiasaan deh Lo Tha gak bisa lihat orang bening dikit" cibir Amanda
"Ye syirik aja lu" sahutnya "Eh Arya kesini pasti mau ngajakin Thalita pulang bareng ya?" ucapnya dengan nada manja seraya menyenggol-nyenggol tangan Arya sambil memainkan rambutnya dan berkedip manja
"Ah gue, mau ke Eliza" balas Arya membuat Thalita kesal mengerucutkan bibirnya seperti bebek
"Ngapain? ada masalah sama gue?" sahut gadis itu ketus
"Gak boleh jutek-jutek lo sama gue, nanti jatuh cinta beneran tahu rasa lo" bisik Arya ditelinga Eliza, membuat Eliza sontak mendorong tubuh pria itu
"Dih amit-amit deeh!" serunya
"Lo pada bisik-bisik apaansih?" tanya Thalita penasaran
"Lo bisa gak sih Tha gak usah kepo sama urusan orang sekali aja?" tanya Amanda
"Ye suka-suka dong wleek" balasnya sambil menjulurkan lidahnya
"Gue pinjem Eliza dulu ya, biar nanti gue anterin dia" ucap Arya seraya menarik paksa lengan Eliza
"Eh woy lo mau bawa gue kemana? ih lepasin gak! eh lo budek ya woy kulkaas!" celotehnya seraya memukul mukul punggung tangan Arya agar dilepaskan, namun tak kunjung jua dilepaskan, pria itu malah memaksa gadis itu masuk kedalam mobilnya
"Masuk" titahnya dingin
"Gak!" serunya
"Masuk!" ucap Arya dengan tatapan tajam
"Lo budek ya? gue GAK MAU!" bantahnya
"Udah cepet masuk!" serunya tegas seraya mendorong tubuh Eliza paksa membuat gadis itu terantuk atap mobil
"Aduh! sakit tau" ringisnya, setelah Eliza masuk, pria itu kemudian menaiki kursi kemudi dan melajukan mobilnya membelah jalanan lalu lintas yang memang saat itu sepi
"Ih lo tuh suka banget sih ya maksa orang! lagian ini mau kemana lagi? ini kan bukan jalan kerumah gue!" celotehnya tak henti-henti
"Lo bisa diem gak sih? lo mau mulut lo itu gue lakban?!" serunya membuat gadis itu diam seketika, pria itu mengajaknya kesebuah restoran mewah yang nampak sepi tanpa pengunjung, dilihatnya didepan pintu seorang wanita parubaya bersama pria parubaya disampingnya menyambutnya hangat
"Kita ngapain disini" bisik Eliza
"Udah ikutin aja!" seru Ardan berbisik pula
"Eh calon menantu mama udah dateng" ucap Nani seraya membelai lembut dagu Eliza, yang terperanjat mendengar penuturan ibu Arya, Menantu? bagaimana bisa apa lagi ini? fikirnya
"El, kami disini mau ngomong sama kamu" ucapnya lagi
"Ma gak enak, ngomong nya didalam aja" potong pria parubaya disampingnya
"Eh iya mama lupa pa" ringis Nani, mereka pun masuk kedalam restoran itu dan memesan makanan
"Jadi begini El, tante sama om mau kalian segera bertunangan" ucap Nani, sontak membuat keduanya tersedak kaget
"T-ttunangan tante?" ucap Eliza gugup dan dijawab anggukkan oleh Nani
"Mah apa gak terlalu cepat?" sahut Arya
"Kenapa memangnya? bukannya lebih ceoat lebih baik?" ucap sang ayah
"Bagaimana mereka melangsungkan tunangan kalau diantara mereka gak ada hubungan?" ucap seorang wanita yang datang tiba-tiba memotong pembicaraan keluarga itu, semua orang menoleh keasal suara, dilihatnya wanita cantik bertubuh mungil dengan rambut hitam panjang yang digerai, dan polesan make up yang sangat tebal
"Kimberly?" lirih Arya dan Eliza
"Hallo tante" sapanya seraya berjalan kearah keluarga Arya
"Kim, kamu disini? saya kan sudah booking tempat ini untuk acara keluarga" ucap ayah Arya
"Tante sama om pastu heran ya kenapa Kim bisa ada disini? tapi itu semua gak penting yang terpenting sekarang tante gak bisa membuat Arya tunangan sama gadis kampung ini" ucap Kimberly
"Maksud lo apa si Kim? Eliza nama dia Eliza bukan gadis kampung!" seru Arya
"Ups ya siapapun namanya yang jelas dia kampungan ya kan El?" ucapnya dengan nada meledek
"Maksud kamu apa ya Kim?" tanya Nani heran
"Jadi tante belum tahu? kalau mereka itu sebenarnya pura-pura PACARAN" ucap Kimberly gamblang
"Gak! gak mungkin lah, Arya gak mungkin bohong sama kita" elak Nani
"Tepat sekali, Kim tahu tante gak bakal percaya gitu aja sama Kim, tapi Kim punya bukti pengakuan bahwa mereka pacar boongan" ucapnya seraya memberikan rekaman suara saat Eliza dan Arya di UKS hari itu, hati Nani begitu tersakiti, tega-teganya putra tercintanya itu membohonginya dan suaminya
"Ma, Arya bisa jelaskan ma" ucap Arya memohon
"Apa lagi yang mau dijelaskan? semua nya sudah jelas! dan kamu, pergi kamu dari sini! pergi" ucap Nani emosi dengan air mata yang mengalir deras
"Ma, tenang ma, Eliza, saya mohon kamu pergi dulu" ucap ayah Arya lembut
"Heh lo gak denger apa? pergi lo!" seru Kimberly, hati Eliza begitu hancur, mengapa disaat ia mulai terbiasa akan kehadiran Arya semuanya malah hancur begini? ia pun lari dari sana dengan air mata mengalir
"Eliza!" pekik Arya sembari hendak mengejarnya namun tangannya dicekal oleh Kimberly "Lepasin gue!" tegasnya sambil menepis kasar lengan Kimberly lalu mengejar Eliza
"Aryaa!" pekik Nani
"Ma udah, biarkan mereka selesaikan masalah mereka lebih baik kita pulang saja" ucap broto, Nani pun mengangguk pasrah lalu pergi meninggalkan restoran itu yang tertinggal hanyalah Kimberly yang sedang menyunggingkan senyum liciknya
"Tunggu kejutan gue selanjutnya Eliza, ini akibatnya lo berani berurusan sama Kimberly Aurora" gumamnya.
Sementara Arya terus saja mengejar Eliza yang makin menjauh, hujan turun dengan derasnya sore itu seakan mengerti akan apa yang terjadi pada kedua insan yang mulai saling jatuh cinta
"El" lirih pria itu saat telah menjangkau tangan Eliza, Eliza menoleh lalu segera menepisnya
"Lepasin gue!" tegasnya "Apa lagi?semua udah berakhir diantara kita! semua sudah hancur! perjanjian antara kita sudah berakhir sampai sini!" tegas Eliza dengan air mata yang tak hentinya mengalir bersamaan dengan air hujan
"Tapi El-..."
"Mulai sekarang kita gak ada hubungan apa-apa lagi, dan gue tegasin sama lo, lo jauhin gue, mulai sekarang, dan lo fokus urusin tunangan lo Kimberly sibadut ancol itu!" tegas Eliza laly berlari kembali pergi meninggalkan Arya yang kini tengah terduduk lemah dibawah guyuran hujan yang deras sembari berteriak frustasi
"Aaarghhhhh" pekiknya sambil mengacak-ngacak rambut nya "Kenapa? kenapa El? kenapa disaat gue mulai mencintai lo, semua nya malah harus terjadi? apakah gak ada sedikit celah dihati lo buat gue selama kita bersama dulu?" lirih pria itu.
Sementara dilain sisi, Eliza pulang dengan keadaan basah kuyup dan mata yang sembab, gadis itu segera masuk kedalam kamarnya tanpa menyapa sang ibu yang sedari tadi menunggu kedatangannya
"Eliza kenapa? gak biasanya dia kayak gitu" gumam Mora, ia berjalan kearah kamar sang putri untuk mengecek kondisinya, ia mengetuk pintu kamarnya dan berkata "El, kamu kenapa? kamu baik-baik aja kan?"
"El baik-baik aja kok bu, El cuman cape El mau istirahat, ibu tinggalin El dulu ya" ucapnya sedikut berteriak gadis itu kini tengah terduduk dibawah tepi ranjangnya sambil memeluk kedua kakinya dan meneluspkan kepalanya pada kadua kakinya dengan menangis tersedu "Kenapa? kenapa gue harus terlibat urusan asmara sama Arya kenapa?!" pekiknya frustasi, ia mendonggakkan kepalanya menatap kearah bingkai foto yang terpajang rapi diatas nakas, foto kebersamaannya bersama Arya dulu saat ia pergi ke wahana permainan hari itu, Gadis itu menatap lekat foto itu dan memeluknya sambil tudur meringkuk, sampai akhirnya gadis itu terlelap masuk kedalam mimpinya.
***
Tak terasa waktu cepat berlalu rasanya baru saja ia memejamkan matanya, kini ia harus kembali membuka matanya karena cahaya mentari yang menerobos masuk menyilaukan mengganghi tidurnya, pria itu mengerjap seraya menyempurnakan pandangannya, pandangan yang aneh, ruangan ini berbeda dengan nuansa kamarnya, ia bangkit dari tidurnya lalu memegangi kepalanya yang terasa sakit, disekeliling ranjang banyak botol minuman berserakan disana, ia mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi padanya malam tadi, semakin dia mengingatnya semakin ia merasakan sakit dikepalanya yang dia ingat ia tak pulang kerumah orang tuanya melainkan keapartemen tempat biasanya ia membawa teman-temannya, ia raih ponselnya yang berada disaku celananya lalu menekan salah satu momor dan menelan tombol panggilan hingga panggilan terhubung
"Bawain baju seragam gue" ucapnya langsung mematikan sambungan ponselnya sepihak, ia pun beranjak dari kasur dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Lain hal nya dengan gadis bar-bar satu ini, kini wajahnya kembali ceria pagi ini ia seakan lupa apa yang telah terjadi padanya semalam, ia sibuk menata makanan dimeja untuknya sarapan, Mora yang melihat perubahan sikap anaknya itu tidak merasa aneh karena memang begitulah dia
"Sayang, ibu ada orderan banyak banget hari ini, jadi maaf mungkin ibu nanti pas kamu pulang gak ada dirumah" ucap sang ibu seraya mendudukkan dirinya disalah satu kursi meja makan tersebut
"Syukur dong bu, El ikut seneng dengernya, Ah bu, El udah telat, El berangkat dulu ya" pamitnya sambil mencium punggung tangan ibunya lalu meraih roti berisi selai coklat yang ia siapkan tadi dan pergi kesekolah.
Sesampainya disekolah, ia merasa bingung dengan tatapan para siswa siswi yang menatapnya tak seperti biasa padahal ia sudah menyapa ramah
"Mereka kenapa ya?" gumam Eliza heran
"El" sapa Arya yang datang berlawanan arah dari arah Eliza, Eliza hanya membalasnya dengan senyuman malas tanpa mau menatapnya, lalu melangkahkan kakinya namun tangan kekar milik pria itu lagi-lagi menahan langkahnya
"Maaf bisa lepasin gak? gue gak mau terjadi salah paham antara lo sama tunangan lo" ucap Eliza
"Tapi gue cin-..."
"Eh ternyata bener ya Eliza itu cewek murahan, udah tau Arya tunangan orang masih aja di pepet gak tahu malu banegt sih" ucap siswa A
"Eh iya ya, nyesel deh gue dulu pernah ngejar-ngejar dia" sahut siwa B
"Eh maksud kalian apa?!" seru Eliza
"Halah gak usah munafil deh lo jiji gue lihat tampang munafik lo itu"ucap siswa C
"Eh udah, tar singanya ngamuk lagi, yuk" ucap siswi A, lalu semua siswa tadi berjalan menghindari Arya dan Eliza
"Lo lihat sendiri kan tadi? gimana mereka mencomooh gue? jadi gue harap sekarang lo ngerti! lepasin gue!" tegasnya sambil menepis kasar lengan Arya.
Pelajaran telah dimulai, empat jam sudah berlalu namun bel tanda istirahat belum juga berbunyi, semua siswa telah jenuh mendengar ocehan para guru, sampai akhirnya suara yang mereka tunggu-tunggu itu akhirnya berbunyi membuat mereka berjingkak kegirangan dan berhamburan keluar kelas dengan segera mendahului guru, memang kelas terbar-bar begitu wk
"El kantin kuy" ucap Amanda
"Hai El" ucap Kimberly dengan nada ramah
"Tumben bener si badut ramah" ledek Amanda
"Oh ya El, gue cuman mau bilang, manti ada kejutan buat lo" ucap Kim dengan senyun penuh makna lalu berlalu pergi begitu saja
"Dih gak jelas banget suh tuh anak!" seru Eliza kesal, Eliza pun keluar bersama teman-temannya hendak kekantin, namun kerumunan dikoridor mading lebih menarik perhatian mereka bertiga
"Eh ada apaan tuh rame-rame?" ucap Thalita heboh
"Ye mana kita tahu, kesana aja nyok!" sahut Eliza, mereka lalu berjalan bersamaan menuju kerumunan itu
"Apa ibu gak pernah ngajarin anak ibu sopan santun hah? sampai dia menjadi anak nakal dan pembangkang begitu, apalagi dia tega merenggut kebahagiaan orang lain" ujar salah seorang wanita yang begitu familiar dimata Eliza, rasa penasaran Eliza dkk semakin besar, mereka menerobos kerumunan itu dengan paksa, dan betapa terkajutnya gadis itu melihat wanita yang begitu ia sayangi tersungkur lemah dilantai dan dilempari kertas oleh seluruh siswa
"Ibu!" serunya, ia lalu mensejajarkan posisinya dengan ibunya diikuti kedua sahabatnya dan memeluk sang ibu erat
"Lihat lihat, anak kurang ajar nya datang" ucap Kania dengan nada meledek
"Ini dia, anak ibu penjual kripik singkong, heh El lo gak malu ya? lihat ibu lo kerja keras banting tulang, sementara lo disini enak-enakan oamer ketenaran dengan memanfaatkan kekayaan tunangan orang? apa ibu lo yang kampungan ini gak pernah ngajarin lo sopan santun?" ucap Kimberly, membuat Gadis itu naik pitam dan mengepal lengannya kesal
Plak
sebuah tamparan keras mendarat dipipi Kimberly, meninggalkan bekas kemerahan dikulit putih mulusnya itu, mata Eliza nampak berkaca-kaca, nampaknya akan terjadi pertarungan hebat kembali antara Eliza dan Kimberly
"Maksud lo apa ha!" bentak Eliza "Berani banget lo permaluin ibu gue didepan semua orang kayak gini?! berani banget lo udah ngeraguin didikan orang tua gue?! berani lo!" sentak Eliza yang semakin dipenuhi Amarah, kedua sahabat Eliza pun membawa ibu Eliza menjauh dari sana "Mau lo apa sih?! jangan mentang-mentang jarena selama ini gue diem dengerin semua penghinaan lo, lo jadi seenaknya gini sama gue! lo bolh ngehina gu tapi gak dengan ibu gue!" tegasnya
"Kenapa lo gak terima pemabalasan gue? emang benerkan ibu lo itu gak bener jadi wajarlah kalau anaknya gak bener, setau gue sih lo itu anak haram dari hasil pekerjaan ibu lo nge*****y" ucap Kimberly, membuat Eliza semakin emosi, ia raih pot bunga disampingnya lalu ia lemparkan kearah Kimberly hingga menghantam kepalanya, hingga begitu banyak darah segar mengelir dikepalanya, dan ia pun jatuh tak sadarkan diri, Seketika Eliza melemah ketika melihat banyak darah mengalir dari Kimberly, Arya yang menyaksikan kejadian itu segera mendekat dan menyeret Eliza menjauh dari kerumunan, sementara Kinberly ia segera dilarikan kerumag sakit agar mendapatkan penanganan lebih lanjut.
"Lo itu apa-apaan sih El!" bentak Arya "Li nyadar gak sih sikap lo itu udah keterlaluan, kebarbaran lo itu mencelakai orang lain tau gak" lanjutnya
"Apa urusan ya sama lo! ini bukan urusan lo! lo kalau gak tahu apa-apa diem jangan berlaku belagak sok tahu!" balas Eliza tak kalah tegas
"Gue ngelakuin ini sebagai pacar lo! gue gak mau lo ngebahayain diri lo sendiri, tindakan lo kali ini bakalan membuat lo di keluarin dari sekolah dan lo gak bisa ikut ujian"
"Gue gak peduli! dan pacar? pacar apa yang lo maksud, lo tahu betul kan hubungan antara kita udah berakhir! lagian itu juga cuman pacar boongan kan? gak lebih! jadi stop urusin urusan gue!" tegas Eliza lalu pergi meninggalkan Arta yang masih memaku disana.
***
Enam tahun kemudian...
Enam tahun sudah waktuku berlalu sejak kejadia disekolah tempo hari, beruntung sekolah memberi ku kesempatan dan tidak mengeluarkanku akibat tindakan bar-bar ku dulu, dan lebih beruntungnya lagi orang tua Kimberly tak menuntutku atas kebutaan yang dialami putrinya, rasanya aku rindu suasana ini, kota ini, negara ini termasuk orang-orang disini sungguh waktu terasa cepat sekali berlalu, dulu aku hanyalah anak bar-bar dari seorang ibu penjual kripik simgkong, kini sekarang aku mampu menunjukkan pada dunia bahwa aku bisa, aku merintis usahaku sendiri samoai akhirnya aku menjadi seperti ini, tapi semua ini tak luput dari do'a dan kerja keras ibuku sehingga aku bisa duduk dikursi kebesaranku sekarang
"Permisi bu, ada orang yang ingin bertemu dengan anda" ucap sekretarisku bernama Rika
"Siapa?"
"Dia mengaku teman ibu, dan sudah membuat janji dengan ibu" balas Rika
"Baiklah suruh mereka masuk, oh dan ya Rika tolong atur jadwal meeting sata hari ini" ucapku
"Hari ini ibu ada meeting dengan direktur perusahaan F corp bu" ucap Rika
"Hanya itu?" ucapku dan dijawab anggukan olehnya, Rika kemudia keluar untuk mempersilahkan para tamuku ku masuk
"Elizaaa!" pekik seorang wanita yanh suaranya sangat familiar sekali, aku kemudian mebalik kursi kebesaranku menghadap kearah mereka, yang nampak kini tengah membawa satu bayi masing-masing nya
"Hai bagaimana kaba lo, udah lama banget gak ketemu" ucap temanku lainnya
"Gue baik Man, dan seperti yang lo lihat" ucap ku, Man? kalian pasti bertanya-tanya siapa mereka, ya mereka adalah kedua sahabatku semasa SMA dulu Thalita dan Amanda, kini mereka telah menikah dan masing-masing mempunyai satu orang anak, sedangkan aku? aku masih berharap adanya cinta yang akan terbalaskan "Wah anak lo udah gede ya"
"Yaiyalah kan gue kasih makan dia nasi buka makanan burung!" sahut Amanda asal
"Eh lo gimana udah punya calon belum" ledek Thalita
"Calon apa?" tanyaku heran
"Yaampum kayak nya presdir muda kita yang bar-bar dan cerdas ini berubah jadi lemot deh sejak ditinggal sama cinta pertamanya" ucap Amanda
"Apaan sih lo, eh Man sekarang lo banyak berubah ya, lo jadi kayak Thalita sejak jadi emak emak, suka banget ngoceh" ucapku polos
"Gila aja, gue gak kayak lo ya hidup itu perlu ada perubahan biar ada makna rasan dan warnanya gitu lho" balasnya
"Eh denger-denger juga ya si Arya belum nikah lo, acara nikahan dia sama Kimberly sibadut ancol kesayangan lo itu batal katanya" ucap Thalita, sebenarnya ada rasa sakit dihatiku ketika nama Kimberly disebut, bukan sakit karena ia merenggut cinta pertmaku melainkan karena aku masih merasa bersalah atas kejadian enam tahun lalu, tapi aku mencoba menetralkan semuanya didepan mereka
"Kenapa sampai batal?" tanyaku
"Gue gak tahu pasti ya, tapi yang gue denger Kimberly itu udah hamil duluan, dan orang yang menghamili Kimberly juga datang kepesta pernikahan mereka dan mengatakan semuanya" ucap Thalita menjelaskan dan aku hanya mengangguk-nganggukkan kepala sambil beroh ria
"Masih ada kesempatan nih" ucap Amanda, dan aku hanya tersenyum menanggapi, waktu yang kuhabiskan bersama mereka cukup lama sampai aku hampir terlupa dengan pertemuan ku, aku kemudian pamit terlehih dahulu kepada kedua sahabatku, kemudian aku pergi ketempat yang sudah ditentukan dengan klien ku itu, ku dudukan diriku disalah satu ruangan tertutup direstoran itu seraya memangku kedua kakiku, lama aku menunggu tapi klien ku itu tak kunjung datang, karena bosan aku membaca majalah yang ada disana, aku baca majalah itu dengan gaya anggun ku, sampai akhirnya sapaan dari seseorang mengehentikkan aktivitasku
"Maaf saya terlambat" cicit orang itu, suara itu, suara itu terdengar begitu familiar ditelingaku "Dia? apakah mungkin benar dia?" batinku, perlahan aku turun majalah yang kubaca tadi sehingga sedikit demi sedkikit wajahku mulai terlihat dan "Ekhem baik tak apa, bisa kita segera mulai meeting nya?" ujarku Formal, pria itu tersentak ketika melihatku, ada rasa bahagia bercampur sedih dihatinya
"Kau? kau terlihat semakin cantik bahkan sekarang kau terlihat lebih dewasa" batinnya tak henti-henti memandangku sampai akhirnya teguran dariku menyadarkannya
"Maaf tuan apa yang kau lihat? bisakah kita mulai meeting nya sekarang?"
"Ah iya tentu" jawabnya kikuk, pria itu kemudian mengeluarkan proposalnya dan menjelaskan semuanya dengan detail, memakan waktu sekitar 45 menit baginya menjelasjan segalanya hingga selesai
"Saya suka dengan proyek ini, dan sepertinya ini akan sangant menguntunngkan, baik saya setuju bekerja sama dengan perusahaan anda" ucapku mantap
"Apakah kau yakin nona? kau tak ingin memikirkannya terlebih dahulu?" tanya pria dihadapanku ini
"Mengapa? aka kau tak senang dengan keputusanku?" tanyaku sedikit kesal
"Ah tidak, aku sangat senang bisa bekerja sama dengan perusahaan besar seperti anda" ucap lelaki itu
"Baiklah tuan Arya karena meeting sudah selesai saya pamit terlebih dahulu" pamitku lalu berlalu meninggalkan Arya yang masih mematung dengan tatapan tak percaya
"Setelah sekian lama kau pergi dariku, keyakinan akan kembalinya dirimu tak salah, tapi masihkah aku ada dihatimu?" lirih Arya
***
"Eh El, nanti malam lo datang ya keacara reuni SMA Colours Schooling" ucap Thalita
"Boleh tuh, udah lama jugak gak ngumpul bareng iya gak?" sahutku "Panitia siapa aja?"
"Nah kebeneran panitianya itu gue Manda sama Tobi" ucap Thalita
"Tobi si gendut itu?" ucapku tak percaya, dan dijawab anggukan oleh nya
"Mending lo siap-siap, nanti malam bakal ada yang jemput lo buat pergi kehotel XXx" ucap Thaliita, akupun menuruti perintahnya untuk bersiap untuk menghadiri pesta nanti malam
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 Kinu aku sudah siap pergi kehotel itu, dengan balutan mini dress hitam selutut, dipadukan dmegan high heels nerwarna putih dan mini bag berwarna putih, ditambah dengan rambut yang diikat sanggul berbentuk bunga dan dihiasi oleh jepitan bunga, kini aku berdiri didepan pintu rumahku menunggu mobil jemputanku datang, tak butuh waktu lama aku menunggunyasebuah mobil sedan bwrwarna putih datang dan berhenti tepat didepanku, tanpa menunggu dipersilahkan masuk akupun segera masuk dan duduk disamling kursi kemudi, betaoa terkejutnya aku kala menoleh kesamping ku tepatnya dikursi kemudi priia yang begitu aku kenali, pria yang pernah mengisi hari-hari ku itu ternyata tang menjemputku, balutan jas hitam dipadukan celana hitam ditambah kaus putih kesukaanya dan rambut tertata rapih semakin menambah aura kedewasaan pria ini, betapa katuh hatinya aku melihatnya tak ada perbincangan antara kami selama perjalanan, hanya sesekali aku mencuri pandangan kearahnya, ia memberhentikan mobilnya tiba-tiba, kulihat sekeliling yang tak nampak sepi tak ada cahaya dan tak ada bagunan disana
"Dimana hotelnya?" tanyaku, namun seperti biasa ia tak menjawab pertanyaanku sungguh menyebalkan pria itu malah memaksaku turun dan mengikutinya, akupu pasrah karena aku tahu akan percuma saja jika dilawan, ia membawaku kesebuah danau yang indah yang telah dihiasi bunga, tak lama kemudia alunan musik merdu mengiringi kebersamaan kami malam itu
"Lo ngapain sih bawa gue kesini?" tanyaku heran, ia tak menjawab pertanyaanku, ia kemudian bertepuk tangan dan Bum
betapa terkejutnya aku lampu menyala dengan indahnya, semua orang- irang terdekatku, sahabatku, ibuku, dan orang tua Arya ada disini menyambut kami
"Kau masih tak mengerti?" tanyanya, dan kujawab dengan gelengan, ia kemudian mengerahkan pandanganku kearah sebrang danau yang sudah ndah dengan hiasan lampu berbentuk love bertuliskan "I Love You Eliza" hatiku begitu terharu dengan semua ini, pria itu kemudian merogoh sesuatu dari saku celananya kemudian tunduk didepanku seraya menyerahkan cincin yang ia ambil dari sakunya tadi sersya berkata "Lama sudah aku menantimu selama ini, perjuangan pahit manis nya cinta telah aku rasakan bersamamu dulu, cerita cinta yang dulu belum usai, kita rajut kembali hari ini Eliza Angela Laura, maukah kau menikah denganku?" ucapnya panjang lebar, sungguh aku terharu aku tak menyangka malam ini akan menjadi malam terindah bagiku, cintaku, akhirnya terbalaskan penantian ku selama ini tak terbuang sia-sia, sesungguhnya jika kita yakin akan keajaiban cinta apapun yang mustahil terjadi akan terjadi.
The End......