Aku menangis lagi waktu terbangun di rumah sakit. Kulihat Mas Danang tersenyum sambil menggenggam tanganku. Aku memang sensitif. Meski pening, langsung saja kecurigaanku menyala.
"Bilang sejujurnya Mas... Dedek selamat nggak?!" kataku dengan nada nyaris membentak. Andai tidak dalam keadaan lemas, pasti suaraku sudah seperti polisi menginterogasi penjahat. Pekerjaan suamiku.
Dia mengernyit memandangku, mengeratkan genggamannya, lalu perlahan mengelus kepalaku. Aku jadi jengah dan bergerak menolaknya. Mas Danang tampak bingung denganku.
"Hei kamu ini... sudah, kamu istirahat saja," katanya menenangkan.
Tapi aku tak bisa diperintah. Aku masih merengek dengan sisa-sisa kekuatanku usai bertarung melahirkan tadi malam. Mas Danang makin bingung melihatku. Dia meminta adiknya keluar mencari dokter, dan tak lama wanita berseragam putih itu pun datang.
Sang dokter tersenyum padaku untuk menenangkan, lantas tak lama kemudian memberikan suntikan yang membuatku terlelap kembali.
Jika mengingat kejadian itu aku tersenyum-senyum sendiri. Waktu itu aku sangat panik. Aku menyangka sekali lagi kami kehilangan calon bayi kami. Padahal ini sudah ke sembilan kalinya aku hamil. Sungguh menyedihkan.
Aku kali pertama hamil dua bulan setelah menikah. Wah betapa senangnya kami. Terutama ibu mertua. Maklum, Mas Danang anak satu-satunya, sementara kami menikah di usianya yang sudah 35 tahun. Jadi, bisa dibayangkan betapa rindu orang tuanya untuk menimang bayi.
Waktu aku hamil, orang tuanya bela-belain meminta seorang desainer untuk mendesain kamar kosong di rumah kami. Ibu mertua ingin memberi hadiah berupa kamar mandi bayi. Dia memberikannya sebagai 𝑠𝑢𝑟𝑝𝑟𝑖𝑠𝑒, dan juga karena sudah lama gemas ingin rumah Mas Danang ada kamar bayinya.
Aku sih menurut dan senang saja. Sebagai perempuan, istri dan menantu, aku merasa tersanjung. Bahagia rasanya karena di dalam rahimku sedang berkembang seorang penerus Sastrokusuma, keluarga suami.
Tetapi, Yah... ternyata kebahagian itu tak lama. Segera saja harap-harap cemasku berakhir karena setitik darah di celana dalamku. Tak lama kemudian, aku keguguran.
Masih ingat rasanya mertuaku merangkul aku.
"Nggak apa-apa Din... kan masih bisa berusaha lagi? Sudah biasa. Sudah direlakan saja, belum rezekinya," kata ibu mertuaku, menenangkan hati.
"Tapi Bu... sudah terlanjur bikin kamar bayi..." kataku.
"𝑌𝑎 𝑜𝑟𝑎 𝑜𝑝𝑜-𝑜𝑝𝑜 𝑡ℎ𝑜... kan bisa menunggu," bantah ibu mertua dengan logat bahasa Jawanya yang kental.
Beliau meyakinkan aku untuk bersabar dan terus berikhtiar sembari berdoa. Beliau kusadari menjadi lebih dari sekadar mertua. Bagiku dia menjadi seperti ibu kandungku. Maklum aku sudah piatu sejak duduk di bangku SMP.
Kamar bayi itu menganggur, menanti kehadiran penghuni kecilnya. Ibu sengaja memberinya dominasi warna 𝑡𝑜𝑠𝑐𝑎 dan biru laut. Bukan karena sangat berharap cucunya kelak laki-laki. Namun karena menurutnya biru itu warna yang elegan bagi siapa saja.
Setelah keguguran pertama yang kujalani di usia kehamilan ke delapan minggu, aku lebih berhati-hati.
Beberapa bulan berlalu, aku kembali hamil. Senang rasanya.
Kali ini kucoba untuk tidak terlalu senang. Sengaja kurahasiakan dari ibu karena aku tidak ingin beliau terlalu berharap. Aku juga khawatir si 𝑏𝑎𝑏𝑦 kembali berpulang. Yah, ternyata benar.
Di usia kehamilan 10 minggu, si bayi luruh ke bumi. Aku kembali keguguran. Aku menangis panjang, dan tak mampu berkata-kata.
Mas Danang dengan sabar menenangkan aku. Sementara ibu mertua agak sewot karena tidak segera mengetahuinya. Kami memang sengaja tidak memberitahunya karena biasanya beliau panik dan heboh.
Ah, sedihnya. Maunya melewati masa ini dengan lebih tenang, malah berabe jadinya. Rupanya ibu mertua benar-benar sewot hingga tidak menyapa kami sekitar tiga bulan. Kami sebagai anak terus berusaha memperbaiki hubungan dengannya.
Selanjutnya, aku jadi sangsi apakah aku kalau hamil lagi aku bisa mempertahankan kehamilanku? Jika memikirkannya, aku jadi paranoid sendiri.
Pernah suatu ketika aku merasa putus asa dan jadi takut hamil. Karenanya aku jadi dingin menghadapi Mas Danang, malah cenderung menghindar. Untung saja dia memahami aku.
Yang bikin sebal, dia ujung-ujungnya meminta aku menjalani pengobatan alternatif. Lagi-lagi dia menunjukkan usahanya untuk segera punya anak.
"Kita main ke pengobatan alternatif yuk sayang..." katanya suatu ketika.
Aku mengernyit. Langsung saja rasa sebal menjalar ke seluruh dadaku.
"Untuk minta doa, atau obat? Sudahlah... anak itu urusan kita dengan Allah. Aku nggak mau kita terlalu memaksakan diri. Yang penting kita sudah berusaha. Aku nggak mau pengobatan yang nggak jelas. Aku hanya mau minum obat dari dokter! Katanya, sudahlah santai saja. ternyata Mas sepertinya malah nggak santai?!" cercaku, bersikukuh.
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
Teman-teman yang dibawah ini sambungan cerita yg diatas ya🙂🙂
Mas Danang menghela napas panjang.
"Ya sudah... santai aja ya. Aku nggak maksa kok...."
Tak lama aku hamil lagi. Kali ini kurasa bebannya menjadi lebih berat secara fisik maupun mental.
Secara mental, aku harus melawan trauma keguguran yang aku alami. Sedangkan secara fisik, ibunda Mas Danang kembali sibuk mengunjungi kami. Dia datang dengan aneka obat alternatif yang bikin aku pusing.
Aku berusaha dengan berbagai cara untuk menolaknya. Selain takut justru mengganggu kandungan, aku memang hanya percaya pada dokter. Selalu kupura-pura meminum obat pemberian mertua. Padahal segera kubuang.
Tetapi, akhirnya aku kembali mengalami keguguran. Rasa sedihnya tak terkira. Ibunda mertua juga merasa bersalah.
Dia pasti juga takut ini akibat ulahnya. Jika memikirkan itu hingga saat ini pun aku jadi merasa bersalah dengannya. Pasalnya aku keguguran itu bukan karena obat-obatan yang dia berikan untukku.
Dilema. Aku tentu saja sulit memberitahukan hal sebenarnya ke beliau. Kalau kuberitahukan, aku khawatir dia jadi benci ke diriku yang menolak kebaikannya. Sungguh serba salah.
Kadang tebersit tanya di hatiku, apakah obat-obatannya sebaiknya aku minum saja? Sayangnya, aku tidak bisa melawan nurani. Aku memang hanya percaya pada obat dari dokter.
Akhirnya, delapan kali aku harus menjalani keguguran. Di kehamilan ke tujuh dan delapan, rasanya aku sudah menyerah. Sering aku bisikkan kepada bayi di kandunganku:
"Adek kecil... Mama harap kamu bisa betah tinggal di sana, lahirlah sesuai waktu. Mama rindu ingin memeluk kamu. Bersabarlah ya... tetapi jika Tuhan memanggilmu untuk kembali, sampaikan salam ke Dia ya... Sampaikan, Mama sebenarnya ingin sekali memeluk kamu. Karena itu segerakanlah turunkan satu anak untuk Mama..."
Kata dokter, kondisi psikis ibu hamil sangat memengaruhi kandungannya. Entah apakah depresi akibat trauma keguguran membuat kandunganku jadi lemah. Hingga akhirnya di kehamilan ke sembilan, Mas Danang berinisiatif lebih keras untuk membuatku bersemangat.
Setiap ada kesempatan, dia mengajakku salat berjamaah dengannya dan berdoa bersama.
Tidak hanya saat salat, doa kami panjatkan dengan sungguh-sungguh setiap ada kesempatan. Bahkan ketika suamiku dinas keluar kota pun dia meneleponku untuk berdoa bersama.
Satu hal, aku melihat suamiku menjadi pribadi yang lebih saleh. Aku bangga karena beberapa waktu lalu dia mendapat penghargaan sebagai polisi yang paling aktif mengalahkan kampanye anti penyuapan.
Selain banyak berdoa, di kehamilan ke sembilan ini aku memutuskan untuk keluar dari pekerjaanku.
Aku putuskan untuk bekerja dari rumah saja, jika keadaannya telah mendukung. Aku ingin lebih banyak beristirahat, agar si kecil dalam kandunganku bisa bertahan.
Mas Danang memang tidak pernah melarang aku bekerja, asalkan teratur dan tidak menyita terlalu banyak waktu. Kali ini, dia tidak bisa menyembunyikan kelegaannya karena aku berhenti bekerja.
"Biarlah aku saja yang mencari nafkah. Nanti kamu kan bisa bisnis di rumah. Mas seneng pokoknya, kamu bisa lebih banyak beristirahat..." katanya.
Oleh dokter, aku diminta untuk bedrest. Yah tentu saja aku turuti. Ibunda mertua mencarikan aku pembantu untuk menemaniku dan mengerjakan pekerjaan rumah.
Akhirnya, kehamilan kami menginjak minggu terakhir bulan ke delapan. Duh, senangnya hatiku. Meski begitu aku juga berusaha selalu ikhlas kalau-kalau bayiku ini dipanggil sebelum waktunya.
Hingga di pemeriksaan terakhir, dokter memutuskan sebaiknya aku segera menjalani bedah caesar. Dia khawatir bayi dalam kandunganku akan bernasib sama seperti kakak-kakaknya. Segera aku mengiyakan sarannya.
Mas Danang mengambil cuti dari kantor, dan menyiapkan segalanya. Ibu mertuaku juga datang, tak sabar menyambut kelahiran cucu pertamanya. Wah, rasa senang sekaligus cemas menguasai hatiku.
Bagaimana kalau si baby tak bisa bertahan?
Mas Danang memahami ketakutanku.
"Sudahlah sayang... air mata ada waktunya berhenti mengalir. Berdoa sajalah, ikhlaskan dan pasrahkan... jangan mau dimakan oleh kesedihan dan ketakutan. Anak itu dari Allah. Kalau memang bukan rezeki kita, seberat apapun berusaha pasti akan diambilnya. Begitupun sebaliknya," katanya.
Dia langsung mengajakku kembali berdoa. Aku pun meredakan segala kesuntukan dengan banyak menyebut nama-Nya. Duh, hati kabat-kebit tak keruan menjelang dipindah ke meja operasi. Namun syukurlah, kekuatan doa menenangkan aku.
Si kecil akhirnya diangkat dari rahimku. Sungguh pengalaman yang ajaib. Ada sesuatu yang hidup yang selama ini kami rindukan keluar dari tubuhku. Tangisnya kencang sekali. Laki-laki.
Mas Danang memelukku.
Aku menjalani beberapa hari perawatan di rumah sakit. Bahkan pada beberapa hari itu aku masih sering terbangun dengan panik.
Aku langsung menjerit dan menangis karena secara mental masih merasakan trauma-trauma kehilangan bayi. Mas Danang memakluminya. Memang, menyembuhkan seorang yang paranoid itu butuh kesabaran.
Di hari-hari pertama, dokter mengintervensi dengan memberikan obat penenang. Namun lama-kelamaan, Mas Danang lebih sigap menghadapiku. Begitu aku membuka mata, dia langsung membawa kabar gembira tentang bayi kami. Jadi, aku tak sempat menjadi panik.
Lama setelah peristiwa itu, aku pun tahu Mas Danang berkonsultasi dengan seorang dokter spesialis kejiwaan untuk menanganiku.
Pada intinya, menangani perempuan dengan trauma pengalaman kehilangan bayi sepertiku harus penuh dengan kesabaran. Aku butuh untuk didampingi dan dibesarkan hatinya. Sebisa mungkin, sejak dini.
Mas Danang langsung menunjukkan foto-foto si kecil di inkubator setiap kali aku membuka mata di ranjang rumah sakit.
Rasa lega langsung merayapi hatiku. Meski bercampur aduk dengan kekhawatiran lain. Misalnya, apakah si kecil bisa bertahan. Syukurlah kata dokter bayiku kuat dan tidak memiliki masalah.
Hingga beberapa hari setelah melahirkan aku masih belum bisa bertemu dengannya. Tetapi, aku lega karena dia ada. Dia bertahan. Tuhan akhirnya memilihnya dan mengirimkannya untuk kami.
Terima kasih Tuhan... rasanya kini aku menjadi wanita yang sempurna!
"Ketabahan akan selalu berbuah kebahagiaan ketika kita sanggup dengan ikhlas menjalaninya dan tetap bersemangat menyongsong masa depan yang kita yakini akan gemilang bersama orang-orang yang kita sayang"
~TAMAT~