Hari ini adalah selasa, Keyra datang ke sekolah lebih awal dari biasanya karena hari ini ini ia mendapatkan giliran untuk piket kelas. Untuk pertama kalinya pada hari ini, ia membuka pintu kelas yang masih dengan rapat tertutup, menyalakan lampu dan tak lupa membuka tirai-tirai yang masih menutupi jendela kelasnya. Kemudian ia menaruh tas di atas kursinya dan bersiap untuk membersihkan kelas.
Mulai dari menghapus beberapa gores tinta yang masih terlihat di papan tulis hingga mulai menyapu bagian belakang kelas, belum satupun teman Keyra yang datang. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 07.00 tapi tak terdengar sedikitpun suara langkah kaki teman-temannya . Ini sangat janggal, padahal biasanya sebelum tepat jam 7 pagi teman – teman Keyra sudah hadir, bahkan berusaha datang lebih pagi untuk bisa bermain dilapangan sebelum jam pelajaran dimulai.
Seketika muncul banyak pertanyaan dikepala Keyra.
Untuk memecahkan semua pertanyaan itu akhirnya keyra memutuskan untuk keluar dari kelasnya dan berupaya mencari informasi dengan bertanya ke kelas yang tepat berada disamping kelasnya. Keyra mengetuk pintu kelas yang masih rapat tertutup, kelasnya tampak tak berpenghuni, lampunya masih mati, dan jendelanya juga masih tertutup rapat dengan tirai.
Beberapa kali sudah Keyra mengetuk pintu kelas itu dan tak satu pun ada sahutan dari empunya kelas. Keyra terkejut melihat lapangan sekolah yang juga masih kosong -melompong, tak satu pun kendaraan terparkir di sana, tak ada juga satpam yang biasanya menjaga di pos depan. Karena masih merasa janggal, Keyra berjalan menyusuri kooridor kelas dan yang di dapatnya masih sama tak satu pun pintu terbuka, lampu kelasnya juga belum ada yang menyala. Tidak cepat untuk putus asa, Keyra pun berjalan menuju ruang guru, namun Keyra kembali dikejutkan oleh keadaan, tak satupun guru berada di sana, lampunya juga mati dan pintunya rapat terkunci.
Apa yang sebenarnya terjadi? Ini bukanlah hari libur, tanggal di kalender juga bukan tanggal merah. Ada yang tidak beres, Keyra berlari menuju kelasnya kembali dan berharap teman – temannya sudah hadir di sana.
Setelah sampai di kelas, Keyra masih tidak melihat siapa pun di sana, keadaan kelas masih sama seperti pertama kali Keyra memasukinya. Sapu yang tadi Keyra pakai masih terlihat disudut depan kelas, Keyra memang belum sempat menaruhnya ke sudut belakang. Keyra menggenggam sapu tersebut dan menaruhnya ditempat semula dan tiba –tiba saja...
“praaaank..” sebuah cermin yang tergantung disamping lemari tempat Keyra meletakkan sapu itu terjatuh begitu saja. Padahal tak ada sedikit pun bagian dari cermin itu yang tersenggol oleh Keyra. Keyra mendekat ke tempat terjatuhnya cermin tersebut, berniat untuk membersihkan semuanya. Satu demi satu serpihan itu terkumpul ditangan kanan keyra hingga tak ada lagi ruangan yang cukup untuk mengumpulkan serpihan itu ditangannya yang begitu mungil. Keyra berbalik, melangkah menuju tempat sampah untuk membuang serpihan tersebut.
Satu dua langkah terlampau dan “JLEEB” tiba-tiba Keyra hilang begitu saja dilangkah ketiganya. Semuanya terlihat gelap, serpihan cermin ditangan Keyra juga ikut mengilang. Keyra seperti memasuki dimensi yang berbeda, samar – samar dari kejauhan terdengar gelak tawa teman –teman Keyra.
Tak ada yang bisa dilihat di sini, semua tampak gelap dan hampa, suara lonceng besar terdengar nyaring di telinga keyra bersamaan dengan tawa teman-temannya yang volumenya semakin meningkat memenuhi kepalanya. Mata Keyra yang tadinya terpejam, perlahan dibuka, entah dari mana asalnya sebuah cahaya terang bersinar tepat dihadapannya.
Sekejap kegelapan tersebut menghilang, tempat yang hampa tadi berubah menjadi depan gerbang sekolah Keyra. Keyra berdiri tepat didepan lapangan sekolah, saat ini ia melihat teman-temannya yang sedang asyik bermain. Tapi sebentar, ini sama persis dengan yang ia alami kemarin, ‘hmm mungkin hanya perasaanku saja’ gumamnya dalam hati, Keyra melanjutkan langkahnya, ia memasuki kelas dan melihat semua teman-temannya hadir di sana, dengan sendirinya lengkungan bulan sabit mengembang jelas di wajah keyra.
Keyra menaruh ranselnya di kursi tempat ia duduk, tak lama pak guru pun masuk kedalam kelas, memecah keheningan didalamnya dengan ucapan salam. Para murid dengan penuh semangat menjawab salam dari pak guru yang sekaligus menjadi wali kelas di kelas itu. Keyra heran kenapa wali kelasnya yang harus memasuki kelas pada jam pelajaran pertama, padahal hari ini tidak ada sama sekali materinya di jadwal pelajaran.
“sebelum memulai pelajaran dihari senin ini, silahkan berdoa menurut kepercayaan masing – masing” ucap pak Gerald tegas. Keyra semakin binggung karena ini terasa seperti ia berada di hari yang sama seperti di hari kemarin. Pak Gerald mulai menulis materi yang akan beliau ajar di papan tulis, dengan kebiasaanya yang mencantumkan hari dan tanggalnya terlebih dahulu. Kali ini keyra tidak diam saja, ia mengoreksi penulisan tanggal yang ditulis oleh wali kelasnya tersebut.
“pak maaf, hari ini tanggal 1” ujarnya. Semua murid dikelas termasuk wali kelasnya juga memperhatikan Keyra heran. “Kay, orang bener kok sekarang tanggal 31” bisik Naira teman sebangku Keyra.”lanjut aja pak” ucap Naira kepada pak Gerald dengan sangat energetik. Keyra tak membalas apapun, ia hanya terdiam dan kembali memperhatikan kejanggalan di hari ini.
Keyra melewati hari yang sangant aneh hari ini, semunaya seakan mimpi, ia merasa seperti kembali ke sehari sebelumnya. Ia menceritakan semuanya keteman sebangku dan teman-teman dekatnya dikelas, namun, tak satupun mereka percaya terhadap ucapan Keyra dan menganggap itu hanya sebatas halusinasi Keyra saja. Keyra lagi-lagi kembali terdiam memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang.
Keyra mengingat sesuatu, hari ini setelah istirahat usai salah satu teman Keyra membawa sebuah batu kecil berbentuk segitiga, berwarna hijau tua temannya bilang bahwa batu itu adalah warisan keluarganya dan merupakan batu ajaib yang dapat mengabulkan segalanya yang ia mau.
Keyra dengan penasaran merebut batu itu dan berkata “ untuk melenyapkan semua orang yang ada di sekolah ini”mohon Keyra pada batu milik temannya itu. Teman- teman nya yang lain terkejut mendengar perkataan Keyra barusan.
Keyra hanya tertawa geli dan bilang kalau itu hanya sebatas gurauan. Semua teman Keyra ikut tertawa, karena tidak satupun dari mereka yang menghilang,seperti apa yang dikatan oleh teman Keyra pemilik batu itu. Mereka semua akhirnya mengejek teman Keyra yang karena ucapannya tentang batu tersebut, karena yang ia bilang hanyalah kebohongan dan semuanya menganggap itu sebuah lelucon.
Keyra terkejut sendiri setelah kembali mengingat apa yang terjadi kemarin, ini semua adalah salahnya. Salahnya yang berbicara sembarangan pada batu kecil berbentuk segitiga berwarna hijau tua milik temannya. Keyra duduk di kursinya dan menyesali perbuatannya.