Radithia Dzaky, kerap di sapa sebagai Radit. Lelaki berusia 18 tahun ini duduk di bangku SMA kelas 3. Radit sangat populer, namun bukan kebaikan yang menjadikannya populer. Namun karna sikap berandalnya yang sudah pada tingkat akut! Bahkan setiap hari, namanya hampir tidak pernah absen dari daftar buku BK.
Bahkan Bu Lastri, yang menjabat sebagai guru BK dan memiliki sebutan Banteng Seruduk karna kegarangannya pun menggeleng-gelengkan kepalanya jika harus mengurusi mahluk bernama Radithia Dzaky tersebut.
Pagi ini Radit baru saja tiba di sekolah pukul 08.00 pagi. Padahal sebagai murid normal, ia harusnya datang pukul 06.30 karna harus mengikuti upacara bendera, karna hari ini adalah hari senin. Memang tidak banyak sekolah SMA yang selalu upacara di setiap hari senin.
Namun karna tujuan upacara sendiri adalah untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagai warna negara Indonesia yang baik, kepala sekolah SMA Sejati ini menerapkan upacara pada setiap hari senin. Itu juga bertujuan untuk membiasakan sikap tertib, displin, dan bertanggung jawab kepada para murid agar datang tepat waktu.
Namun karna Radit bukanlah siswa yang tertib, disiplin dan bertanggung jawab seperti siswa pada umumnya! Murid abnormal seperti Radit ini sangat suka terlambat dan bahkan selalu melewatkan upacara Bendera di setiap hari senin.
“Stop!” ucap seorang satpam, menghalangi jalan Radit. Dan tentu saja Radit langsung mendengus kesal melihat pak brewok, alias pak Malik yang merupakan satpam yang setia menjaga gerbang masuk sekolahnya.
“Kenapa sih pak? Radit kan mau masuk atuh” ucap Radit dengan nada malas. Pak Malik menggoyang-goyangkan tongkat satpamnya.
“Sudah jam berapa ini?! Kenapa baru datang. Kamu itu selalu terlambat kalau waktunya upacara” omel Pak Malik memulai kutbah pagi yang sudah menjadi jadwal pribadinya setiap bertemu dengan Radit saat hari Senin.
Radit dengan malas malah duduk bersila di atas aspal dan dengan khitmat mendengarkan setiap perkataan Pak Malik.
“Yee.. malah duduk disitu kamu! Bediri. Pulang sana, ini sudah sangat terlambat kalau kamu mau masuk sekolah!” ucap Pak Malik mengusir Radit.
Bukannya sedih, Radit malah semangat 45 saat mendengar perintah dari satpam berewok tersebut.
“Oke pak! Karna Radit adalah orang yang penurut dan santuy, kalau gitu Radit balik dulu. Assalamuallaikum bapak Malik yang ganteng dan berbudi cepak” ucap Radit dan segera berlari meninggalkan sekolah.
Namun sayang sekali jika aksi mengambil langkah seribu itu langsung gagal karna ia tak sengaja menubruk seorang bocah perempuan yang sedang berdiri di belakangnya. Brukk...
Radit dan gadis itu jatuh duduk bersamaan. Pak Malik langsung kaget dengan menampakan ekspresi jeleknya. “Gak papa non? Sini bapak bantu berdiri” ucap Pak Malik membantu siswi perempuan tersebut.
Sementara itu Radit langsung bangun dari duduknya dan mendorong gadis itu hingga jatuh untuk kedua kalinya. Dan saat itulah kata ‘kasar’ muncul di benak gadis tersebut.
“Aduh.. sakit tau. Kenapa sih main dorong-dorong gitu?! Kayak ibu-ibu lagi rebutan barang obral aja, main dorongo-dorong segala!” omel gadis itu dan segera bangkit dari jatuhnya dan membersihkan roknya yang kotor terkena tanah.
“Heh bocah SD! Kamu itu yang main tabrak-tabrak orang. Mata kamu di mana hah?!” marah Radit dengan membentak gadis tersebut.
Tidak mau kalah. Gadis itu pun juga marah padanya. “Kamu itu yang gak punya mata! Emang aku gak kelihatan apa?! Dari tadi aku udah disini tau. Masa gak sadar kalo ada orang di belakang kamu sih, nyebelin banget”
“Iya gak kelihatan tuh.. kamu kependekan! Aku kira kamu anak SD sangking pendeknya. Eh ternyata anak SMA juga, seragamnya sama. Coba kalau kamu pakai baju bebas! Pasti aku udah panggil kamu adek deh” seru Radit mengejek.
Karna pusing dengan pertengkaran keduanya. Pak Malik langsung menyeret kedua anak tersebut untuk masuk ke ruang BK, bertemu langsung dengan Bu Lastri.
Kedua duduk bersebelahan, namun jaraknya sangatlah jauh. Bu Lastri langsung menghela nafasnya kasar saat pagi-pagi matanya sudah dibuat lecek karna melihat manusia bernama Radit tersebut. Abaikan saja Radit, ia tidak pernah melihat gadis yang duduk di sebelah Radit sebelumnya. Maka dari itu perhatian Leastri banyak tersita olehnya.
“Kamu murid baru? Kenapa terlambat?!” tanya Bu Lastri dengan nada yang tidak enak di dengar. Namun gadis itu hanya tersenyum kecil pada ibu guru galak yang sudah membuat pagi harinya menjadi suram.
“Maaf bu, saya baru selesai di rumah sakit. Saya sudah izin sama wali kelas saya lewat telfon tadi pagi. Mangkannya saya terlembat di hari pertama. Maaf bu..” ucap gadis itu dengan tersenyum takut.
Melihat itu Radit hanya mencemohnya dengan menirukan caranya meminta maaf. Namun Bu Lastri memberi pengertian kepadanya. “Baik. Kalau begitu kamu boleh kembali ke kelas. Tahu dimana kelas kamu?”
“Enggak bu”
Bu Lastri kembali menghela nafasnya kasar. “Kelas satu ada di lantai tiga. Kamu bisa lihat denah sekolah yang ada di koridor sekolah”
“Saya kelas tiga bu”
“Eh? Ibu kira kamu kelas satu?! Habis mungil gini badannya” ucap Bu Lastri tersenyum kecut. “Ya udah, kelas tiga ada di lantai satu. Kamu bisa pergi bersama Radit. Kamu masuk kelas sana, ibu males kalau pagi-pagi harus marah sama kamu” ucap Bu Lastri mengusir Radit dari ruangannya.
Akhirnya Radit dan gadis itu keluar dari ruang BK. Namun wajah Radit nampak tidak senang ketika gadis itu terus mengekorinya.
“Kamu kelas berapa sih? Jangan ngikutin aku mulu kayak anak ayam. Geli!” ucap Radit dengan menatap sengit gadis itu.
“Aku kelas IPS-3! Aku ngikut sampai lorong kelas aja kok” ucap gadis itu dengan penuturan yang sopan. Dan Radit sangat malas melihatnya, ternyata dia juga sekelas dengannya. Sungguh nasip yang sial untuk Radit.
🐤 🐤 🐤
“Selamat pagi anak anak” sapa pak Andri, selaku wali kelasnya. Di belakangnya ada seorang gadis yang mengekorinya.
Radit langsung nyinyir saat melihat wajahnya. Baginya, gadis itu sangat menyebalkan karna dia terlalu kalem.
“Kita kedatangan murid baru. Kamu, silahkan perkenalkan diri kamu” ucap pak Andri mengintruksikan.
Gadis itu pun mengangguk paham dan menunduk sopan sebelum memperkenalkan dirinya. “Hay.. namaku Salsabila Putri, kalian bisa panggil aku Salsa. Aku pindahan dari Bogor. Papaku punya peternakan sapi. Kalau kalian mau order, silahkan wa aku ya. Dan semoga kita bisa berteman dengan baik” ucap Salsa memperkenalkan dirinya, sekaligus mempromosikan usaha nya.
Teman teman kelasnya pun bersorak senang. Akhirnya mereka punya teman cewek yang lebih bening dari si ratu alay kelas IPA-2. Walau pendek, Salsa itu sangat sopan dan wajahnya cantik seperti boneka. Yang paling di sukai adalah, Salsa benar-benar seorang gadis yang kalem.
Karna itu murid laki laki yang mendominasi kelas IPS-3 itu langsung bersorak kegirangan saat menadapati teman sebening dan selucu Salsa.
“Sudah.. sudah..” ucap Pak Andri mencoba menenangkan para muridnya.
“Salsa, kamu bisa duduk di sebelah Radit!” Pak Andri menunjuk ke arah bangku yang berada di barisan paling belakang dan pojok di dalam kelas.
“Yah.. jangan pak! Radit belom jinak. Biar duduk di sebelah saya aja. Rat, pindah sebelah Radit sana kamu” ucap Hendra, mengusir teman sebangkunya yang bernama Ratna. Tentu saja Ratna menolaknya dengan sangat keras.
Salsa tersenyum kecil. Tentu saja itu terlihat sangat cantik bagi kaum Adam yang mempunyai mata normal. Bukan mata butek seperti milik Radit.
“Gak papa! Aku duduk di sebelah Radit aja. Dirumah papa punya binatang reptil kok, jadi aku udah biasa jinakin hewan buas” celetuk Salsa membuat teman temannya tergelak keras.
Sementara itu, Radit langsung menatapnya semakin sengit. Bahkan sekali pandang pun, Salsa tahu jika Radit sangat membencinya.
Salsa segera duduk di sebelah Radit dan pelajaran pagi pun segera di mulai.
🐤 🐤 🐤
Bel yang menandakan istirahat berbunyi. Salsa sudah duduk sendirian dari jam pelajaran ke 4. Entah kemana teman sebangkunya itu. Setelah ia pamit untuk pergi ke kamar kecil pada guru mapel, Radit tidak kunjung kembali ke kelas.
Dan sepertinya itu sudah biasa terjadi di kelas ini, karna melihat respon teman-teman kelasnya yang biasa saja saat melihat ketidak hadiran Radit di sana. Bahkan guru mapel pelajaran ke lima pun sepertinya sudah sangat biasa, melihat ketidak hadirian muridnya di dalam pelajarannya.
Yah, mungkin sebandel itulah seorang Radit hingga tidak ada yang peduli lagi dengan dirinya.
“Ayo makan siang! Kantin kita punya menu yang enak-enak loh” ucap siswi bernama Ratna, berjalan mendekati Salsa, bersama dengan beberapa siswi lainnya.
Salsa pun langsung tersenyum kecut padanya. “Maaf, aku mau ke kamar mandi. Kalian bisa duluan, nanti aku nyusul ya” ucap Salsa, menolak ajakannya dengan sopan. Setelah itu Salsa pun langsung bergegas keluar kelas.
Ia berlari secepat mungkin menghindari kerumunan yang ada. Ia berlari ke arah rooftop. Walau ada tulisan di larang masuk, tapi Salsa tetap saja memasuki kawasan tersebut.
Salsa berjalan ketepinya, tempat pagar yang terbuat dari kawat sebagai pembatas yang ada.
Salsa memandang pemandangan bangunan Kota Jakarta yang terlihat sangat padat. Jalanan tak pernah luput dari kemacetan. Kota dengan polusi dimana mana. Salsa menarik nafasnya berat.
“Kamu ngapain disitu?!” tanya Radit tiba-tiba, dengan judes.
Salsa pun segera menoleh dan menatap lelaki itu. Disela jarinya ada sebatang rokok yang masih mengeluarkan asap. Dan itu membuat kening Salsa berkerut samar.
“Kamu ngerokok?!”
“Kamu gak liat?!”
“Lihat!”
“Ya sudah”
Salsa pun diam. Ia tetap menjaga jarak dari Radit. Mereka diam di tempatnya masing masing dengan saling memperhatikan satu sama lain.
Salsa menarik nafasnya sesak. Matanya mulai berkaca kaca. Radit pun memicingkan matanya melihat raut wajah Salsa. “Kenapa kamu?” ketus Radit.
Dan Salsa hanya bisa menunjuk ke arah rokok Radit dan kemudian memukul-mukul dadanya beberapa kali.
Owh.. dia punya sesak nafas!
Batin Radit memperhatikan gerak geriknya. Setelah paham akan maksud Salsa. Radit segera menginjak rokoknya.
“Sorry.. gak tau!” ucap Radit tetap saja ketus.
Salsa mengangguk kecil dengan tersenyum samar. Salsa merogoh saku roknya, dan melemparkan sebuah permen lolipop pada Radit.
Radit menangkapnya. “Buat apaan? Kamu kira aku anak kecil?!” sembur Radit membuang permennya ke tanah.
Salsa langsung nampak sedih. Matanya terlihat sedikit merunduk, ia tidak berani menatap Radit. Ia mungkin merasa takut karna Radit selalu saja ketus padanya.
Radit menghela nafasnya kasar. “Buat apa?!” tanya Radit sekali lagi.
“Buat gantiin rokok kamu! Maaf jadi gak bisa ngerokok gara-gara ada aku” ucap Salsa kikuk. Ia tidak berani mengangkat kepalanya.
Radit menatapnya sejenak dan kemudian menghela nafasnya berat. Ia kembali memungut permen lolipop tersebut dan membuka bungkusnya. “Thanks..”
Mendengar itu Salsa langsung mengangkat kepalanya. Senyumnya langsung merekah ketika melihat Radit memakan pemberiannya. “Sama-sama”
“Enak?!” gumam Radit tanpa sadar setelah merasakan permen tersebut.
Senyum Salsa kembali merekah. “Enak kan?! Aku buat sendiri loh”
Radit menatapnya. “Owhh..”
Hanya itu respon Radit, namun Salsa sangat senang dengan itu. “Kalau mau lagi bilang aja. Pasti ku kasih kok”
“Hemm..”
🐤 🐤 🐤
Beberapa hari setelahnya..
Salsa berjalan memasuki sekolah. Banyak orang yang memandangnya. Memang nama Salsa sudah terkenal. Ia bahkan memiliki julukan si kurcaci cantik karna tubuh mungil dan wajah bonekanya.
Namun di depan gerbang tiba tiba beberapa lelaki menghadang jalannya. Wajah mereka seperti binatang buas yang sedang mengepung mangsanya.
Salsa sedikit mundur, namun untung saja ada Ratna yang langsung menolongnya. Teman sekelasnya itu langsung saja menyeretnya pergi dari hadapan para lelaki itu dan masuk kedalam kelas untuk bersembunyi.
“Kamu gak papa? Owh.. maaf, kayaknya aku megang kamu terlalu keras. Aku juga takut sih hehe” ucap Ratna merasa tidak enak melihat pergelangan tangan Salsa yang mungil itu memerah karna cengkramannya.
Salsa tersenyum manis sambik menatap pergelangan tangannya yang memerah. “Makasih. Kalau gak ada kamu, aku malah lebih bahaya kok! Makasih ya Ratna” ucap Salsa dengan tulus sambil menggenggam tangan Ratna lembut.
Ratna yang di perlakukan seperti itu, entah kenapa ia merasa malu dan tersipu. Ratna pun tersenyum kikuk sambil mengangguk. “Sama-sama”
Salsa pun segera kembali ke bangkunya untuk menyiapkan pelajaran pertama. Namun lagi lagi beberapa orang lelaki menghampirinya dengan wajah yang menyeramkan.
Trak..
Mereka melemparkan sebuah ponsel ke hadapan Salsa. Salsa yang tidak mengerti maksud mereka pun segera memandang mereka, walau pun dirinya merasa sangat takut.
Teman temannya juga hanya bisa menatapanya. Mereka juga takut dengan golongan lelaki tersebut. Mereka adalah preman sekolah mereka, dan mereka terkenal sanagt brandal dan sadis.
“Nomer hape lo” ucap salah seorang di antaranya, mungkin dia adalah pemimpinnya.
“Cepetan! Lelet amat lo” benataknya membuat Salsa langsung tersentak.
Salsa membulatkan matanya, kaget. Ia enggan melakukan apa permintaan mereka namun ia takut untuk melawan.
Salsa mengambil ponsel tersebut dan saat itulah Radit datang. Ia langsung duduk di sebelah Salsa tanpa menghiraukan kekacauan yang ada disekitarnya.
Salsa menatanya dengan harapan jika lelaki itu akan menolongnya. Namun sepertinya sia sia, Radit bahkan menganggapnya transparan dan memilih memejamkan matanya.
Brakk...
“Cepetan!”
Salsa kembali terkejut. Dengan tangan gemetaran ia memasukan nomor ponselnya. Dan ketika itu Radit menatapnya.
“PR Ekonomi kamu sudah? Nyontek!” celetuk Radit menatapnya dengan pandangan malas.
Salsa tergagap. Ia masih belum selesai memasukan nomor ponselnya. Dan ketika Radit berkata demikian, Salsa menjadi bingung harus berbuat apa dengan situasi ini. Bagi Salsa, Radit dan sekumpulan preman itu sama sama mengerikan hingga ia tidak berani memilih melakukan perintah siapa dulu di antara mereka.
“Kamu ngapain sih?” seru Radit tidak serantan melihat kebodohan Salsa.
“Masukin nomor ha...”
“Gak penting!”
Syuuunggg...
Salsa dan para pereman itu langsung melongo saat Radit melemparkan hape yang di pegang Salsa keluar jendela.
“Hape gue!” jerit preman itu langsung berlari keluar kelas.
Anak anak kelas juga sedang dalam fase terkejut melihat aksi Radit barusan.
“Permen!” ucap Radit membuat Salsa yang masih terkejut menjadi kebingungan lagi.
“Ya??”
“Aku mau permen” ulang Radid dengan menengadahkan tangan kanannya ke arah Salsa.
Setelah beberapa detik, Salsa pun tersadar dan langsung memeberikan sebuah kotak makan mini pada Radit.
“Cik...Aku mau permen bukan bekal anak SD!” ketus Radit nampak tidak senang.
“Itu permen!” ucap Salsa dan Radit langsung membukanya. Ia pun memakannya satu persatu dengan menggunakan garupu kecil.
“Enak” gumam Radit, lagi-lagi pipinya memerah karna melasakan sensasi manis yang meleleh di mulutnya. Dan itu membuat Salsa tersenyum senang.
“Makasih udah nolongin!”
“Hem.. besok, permen!” pinta Radit dengan nada ketus.
Salsa pun hanya mengangguk kecil mengiyakannya.
Jujur, karna Radit selalu ketus, itu membuat Salsa selalu tersenyum karena tingkahnya. Bisa di bilang Radit itu lumayan manis bagi Salsa. Dan diam-diam Salsa sudah menjuluki Radit sebagai sebutan Mr. Judes!