Namaku Raisa kalian bisa memanggilku Rai aku kelahiran Bandung, aku anak pertama dari dua bersaudara. Adikku bernama Raina dia lebih suka dipanggil Nana, kami tidak kembar hanya nama kami sajalah yang hampir sama.
Kami hidup dalam keluarga yang berkecukupan, Ayah bekerja sebagai seorang Dokter sedangkan Bunda bekerja sebagai seorang penyiar di sebuah Radio di Bandung.
Saat ini aku dan adikku sedang berkuliah di Universitas terbesar di kota Bandung, bersama kedua sahabatku Ananta dan Alena. Kami sudah bersahabat sejak jaman SMA, dan hingga sekarang persahabatan kami masih tetap utuh.
"Rai, kamu ada acara gak nanti sore" tanya Ananta tiba tiba saat kami sedang berdua di kantin
Adikku hari ini tak ada kelas jadi tidak datang ke kampus sedangkan Alexa belum juga datang
"Gak ada, kenapa emang? Nanta butuh bantuan Rai?" tanyaku penasaran
Tak biasanya Ananta menanyakan hal yang seperti ini padaku, apa dia menginginkan bantuanku atau apa?
"Emmm.. Anu" katanya ragu ragu
"Apa? Kok jadi gugup gitu? Nanta mau ngomong apa sih?" tanyaku yang mulai bingung dengan tingkahnya hari ini yang sedikit aneh
"Em.. Nanta mau ngajak Rai jalan" jawab nya setelah sepertinya berpikir keras
"Mau ngajak Rai jalan? Kemana?" tanyaku penasaran
Jalan? Dia mau mengajakku jalan kemana sore sore begini? Apa jangan jangan nanta mau...? Apasih Rai ngayal mulu
"Nanti juga Rai tahu, gimana mau apa gak?" Tanya Ananta kembali memastikan
"Yaudah iya, Rai mau" ucapku sambil tersenyum kearahnya
"Nanti Nanta jemput ke rumah ya?" aku mengangguk sebagai jawaban
____
Waktu menunjukkan pukul 16.00 saat ini aku dan Ananta sedang berada di sebuah tempat yang sangat indah sekali, udara yang sangat sejuk dengan hamparan sawah yang hijau.
Kami duduk di depan mobilnya menghadap ke sebuah perbukitan yang sangat hijau dengan banyak pohon yang menjulang tinggi.
"Ta, mau ngapain kita ke sini?" tanyaku sambil melihat pemandangan indah di sekitar
"Nggak ngapa ngapain, cuma mau ngajak Rai aja kesini" jawabnya sambil tersenyum ke arahku
Ini bukan kali pertama Ananta menatap ku, namun ini adalah kali pertama bagiku mendspatkan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan yang teduh dan menenagkan hati ku
"Kamu sering kesini?" tanyaku memecah keheningan
"Iya, kalau Nanta lagi banyak pikiran atau emang lagi gak mood suka ke sini. Di sini kan tenang, adem lagi jadi enak aja kalau diem di sini" jelasnya panjang lebar
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban! Memang benar yang dikatakan Ananta di sini adalah tempat tertenang untuk menjernihkan pikiran.
"Nanta yakin, gak ada yang mau Ananta bicarain sama Rai?" Ananta mengernyit
"Ya soalnya gak biasanya aja Nanta ngajak Rai keluar kalau gak ada sebabnya" tambah ku
Dia terlihat berpikir sejenak, seperti mempertimbangkan sesuatu. Hal itu justru membuatku penasaran atas apa yang akan dia katakan padaku?
"Rai yakin mau denger?" aku mengangguk sebagai jawaban "tapi jangan marah ya sama nanta" katanya kemudian
"Iya, apa sih? Jangan bikin Rai penasaran" kataku
"Ananta suka sama Raisa" ucap Ananta de ngan penuh keyakinan
Mendengar ungkapan itu aku menatapnya tak peracya! Apa Ananta baru saja mengungkapkan perasaan nya padaku?
"A-a-ananta suka sama Rai?" tanya ku memastikan
Dia hanya tersenyum kearahku lalu menganggukan kepalanya sebagai jawaban
"Sejak kapan?" tanyaku ingin tahu
Aku sudah menemukan jawaban atas ungkapan itu, jujur saja rasa penasaran ku kini sedang bergejolak
"Sejak jaman SMA, cuma Nanta gak yakin sama apa yang nanta rasain. Apalagi nanta kan waktu itu baru kenal sama Rai" jelas nya dengan nada suara lembut
Aku menyunggingkan senyum kearannya
"Nanta mau jawaban jujur Rai gak?" tanyaku
"Iyalah" jawabnya bersemangat menatap kearahku penuh harapan
"Rai, sebenernya sejak pertama kali ketemu sama Nanta juga punya perasaan yang sama. Tapi Rai takut dengan apa yang Rai akan hadapin nantinya" jelas ku sambil tersenyum kearah nya
Jujur saja sejak pertama kali bertemu dengan Ananta aku sudah jatuh hati pada nya, namun nyaliku tak pernah tumbuh jika itu soal hati.
"Jadi Rai...?" tanya Nanta tak percaya
Aku menganggukan kepala sebagai jawaban atas tanya Ananta walaupun dia tak melanjutkan ucapannya
"Iya, Rai mau jadi pacarnya Ananta" aku kembali meyakinkan nya yang masih tak percaya itu.
____
Sejak adanya ungkapan cinta itu aku dan Nanta semakin dekat dan memper erat tali cinta kami, aku pernah merasa sakit dengan yang terdahulu sedangkan dia juga juga sama. Kami hanyalah sepasang insan manusia yang sedang menata masa depan bersama, dengan kebahagiaan tanpa ada air mata.
"Masalalu biarkan menjadi pelajaran yang sangat berharga, karna tanpa adanya masa lalu tak akan ada masa depan"
~ Ananta & Raisa ~
"Bagus ya, diajak ngomong dari tadi malah ngelamun lagi nih bocah" ucapan itu berhasil menyadarkan ku dari lamunan
"Apasih Len" ucapku kesal sambil menarik gelas minum ku
"Gue lagi minta saran non, gue harus terima apa enggak si Ali?" tanya Alena bingung
"Nah lo beneran suka gak sama Ali, apa jangan jangan lo cuma jadiin Ali pelampiasan karna lo abis putus sama Vero aja?" Aku menanggapi
Dia tak langsung menjawab, kubiarkan saja dia dengan pikirannya dulu. Sahabatku yang satu ini paling gila soal cinta, mudah menerima dan juga mudah melepaskan tanpa memikirkan jika ada hati yang tersakiti dibaliknya.
"Gak ada akhlak ya emang jadi cowok" kesalku begitu melihat Ananta yang baru saja datang langsung meminum minumanku
Dia tak menjawab hanya cengar cengir tak jelas, sedang aku hanya menghela nafas pelan melihat tingkahnya itu
"Galak banget hari ini" gumamnya
"Dari mana aja jam segini baru nongol batang idungnya" tanyaku tanpa memperdulikan pertanyaan nya barusan
"Pertama aku bangunnya kesiangan, kedua tadi kerumah kamu tapi kata Nana udah berangkat, trus yang terakhir Len lu di tungguin Ali di taman belakang" jelasnya panjang lebar
"Sekarang?" tanya Alena
"Minggu depan?" singkat Ananta
Alena melihat ke arahku seolah meminta jawaban atas pertanyaan nya tadi
"Percaya aja sama diri sendiri" ucapku sambil tersenyum
Ia terlihat sedikit ragu namun akhirnya dia mengangguk sebagai jawaban
"Ya udah buruan" kataku dan Ananta bersamaan
Alena meninggalkan kami menuju taman belakang kampus untuk menemui Ali, sedangkan aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabat karibku itu
"Kapan sih tuh anak bisa jadi bener" aku menggumam
"Kalo udah ketemu pawang yang pas" jawab Nanta santai
"Tiga tahun bahkan hampir empat tahun masih aja gitu" tambah ku
"Yang namanya manusia itu kan punya perjalanannya masing masing, ya biarin aja dia belajar sama apa yang udah dia lakuin selama ini. Nanti ada waktunya dia bakal berubah" jawab Ananta serius
"Kapan?"
"Waktu dia udah nemuin apa yang dia cari"
"Emang apa yang dia cari?" tanyaku dengan polosnya
"Ya mana aku tahu sayang" ucapnya sambil menjewer pipiku gemas
"Anggap aja dia lagi nyari cowok yang bener bener sayang dan setia sama dia" tambahnya lagi
"Tumben hari ini kamu ngomongnya bener" Candaku
"Emang selama ini aku ngomongnya gak bener gitu?" protesnya
"Iya, kebanyakan ngayal mulu" ledekku sambil tertawa
"Udah suka ngeledek ya sekarang, awas aja nanti" katanya sambil memenet hidung ku
"Sakit tahu" ucapku sambil cemberut
"Sakit ya" Ananta mengelus hodungku yang memerah karena ulahnya
"Biar tambah mancung" kekehnya
"Mana bisa yang ada makin masuk nih idungnya" jawab ku masih mempertahankan cemberutku
Terkadang apa yang kita mau tak selama nya akan didapatkan, dan yang harus kita lakukan jika itu terjadi hanyalan meminta kepada sang pemberi segalanya
~ Alena ~